SUMPAH IBLIS YANG MENAKUTKAN

Oleh: Said Yai, M.A.

Siapa di antara kita yang tidak mengenal Iblis. Iblis adalah musuh utama bagi manusia. Iblis pernah bersumpah kepada Allah untuk menyesatkan manusia. Sumpah Iblis tersebut sangat menakutkan. Oleh karena, pada tulisan ini penulis akan membahas dua ayat di dalam Al-Qur’an berkaitan dengan ini, yaitu Surat Al-‘A’raaf ayat ke-16 dan 17. Setelah penulis menulis lafaz ayat dan artinya, maka penulis sebutkan tafsir ringkas, penjabaran ayat dan kesimpulan. Demikian, mudahan bermanfaat.

Lafaz Ayat

Allah subhanallahu wa ta’ala berfirman:

(قَالَ فَبِمَا أَغْوَيْتَنِي لَأَقْعُدَنَّ لَهُمْ صِرَاطَكَ الْمُسْتَقِيمَ (16) ثُمَّ لَآتِيَنَّهُمْ مِنْ بَيْنِ أَيْدِيهِمْ وَمِنْ خَلْفِهِمْ وَعَنْ أَيْمَانِهِمْ وَعَنْ شَمَائِلِهِمْ وَلَا تَجِدُ أَكْثَرَهُمْ شَاكِرِينَ (17

“(16) Iblis menjawab: ‘Karena Engkau telah menghukumku tersesat, maka saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan-Mu yang lurus, (17) kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur.” (QS Al-A’raaf: 16-17)

Tafsir Ringkas

Sebelum kedua ayat ini Allah subhanallahu wa ta’ala berfirman:

(وَلَقَدْ خَلَقْنَاكُمْ ثُمَّ صَوَّرْنَاكُمْ ثُمَّ قُلْنَا لِلْمَلَائِكَةِ اسْجُدُوا لِآدَمَ فَسَجَدُوا إِلَّا إِبْلِيسَ لَمْ يَكُنْ مِنَ السَّاجِدِينَ (11

قَالَ مَا مَنَعَكَ أَلَّا تَسْجُدَ إِذْ أَمَرْتُكَ قَالَ أَنَا خَيْرٌ مِنْهُ خَلَقْتَنِي مِنْ نَارٍ وَخَلَقْتَهُ مِنْ طِينٍ (12) قَالَ فَاهْبِطْ مِنْهَا فَمَا يَكُونُ لَكَ أَنْ تَتَكَبَّرَ فِيهَا فَاخْرُجْ إِنَّكَ مِنَ الصَّاغِرِينَ (13) قَالَ (أَنْظِرْنِي إِلَى يَوْمِ يُبْعَثُونَ (14) قَالَ إِنَّكَ مِنَ الْمُنْظَرِينَ (15

“(11) Sesungguhnya Kami telah menciptakan kalian, lalu Kami bentuk tubuh kalian, kemudian Kami katakan kepada para malaikat: ‘Bersujudlah kalian kepada Adam’, maka mereka pun bersujud kecuali iblis. Dia tidak termasuk orang-orang yang bersujud. (12) Allah berfirman: ‘Apakah yang menghalangimu untuk bersujud (kepada Adam) di waktu Aku menyuruhmu?’ Iblis pun menjawab, ‘Saya lebih baik daripadanya. Engkau ciptakan saya dari api sedang dia Engkau ciptakan dari tanah.’ (13) Allah berfirman: ‘Turunlah kamu dari surga itu; karena kamu sudah sepantasnya tidak menyombongkan diri di dalamnya, maka keluarlah, sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang hina. (14) Iblis menjawab: “Beri tangguhlah saya sampai waktu mereka dibangkitkan. (15) Allah berfirman: ‘Sesungguhnya kamu termasuk mereka yang diberi tangguh.’.” (QS Al-A’raaf: 11-15)

Kemudian Allah subhanallahu wa ta’ala katakan, “Iblis menjawab: ‘Karena Engkau telah menghukumku tersesat,” yaitu Engkau menjadikanku sebagai orang yang tersesat, “maka saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan-Mu yang lurus,” yang dimaksud dengan ‘mereka’ adalah Nabi Adam dan keturunannya, dan yang dimaksud dengan ‘jalan-Mu’ adalah agama Islam, karena dia adalah jalan yang lurus yang bisa mengantarkan kepada ke-ridha-an Allah ta’ala.

“Kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka.” Iblis ingin mengepung (dari segala penjuru) dan menghalangi mereka untuk menempuh jalan yang lurus, sehingga mereka tidak selamat dan binasa sebagaimana Iblis binasa. “Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur.” Ini adalah perkataan Iblis kepada Allah ta’ala yang menyatakan bahwa Engkau (ya Allah) tidak akan mendapati sebagian besar dari anak Adam sebagai orang yang bersyukur kepada-Mu dengan beriman, bertauhid dan taat kepada-Mu karena usaha penyesatan yang akan saya lakukan.”[1]

Kemudian Allah subhanallahu wa ta’ala mengatakan:

(قَالَ اخْرُجْ مِنْهَا مَذْءُومًا مَدْحُورًا لَمَنْ تَبِعَكَ مِنْهُمْ لَأَمْلَأَنَّ جَهَنَّمَ مِنْكُمْ أَجْمَعِينَ (18

“Allah berfirman: ‘Keluarlah kamu dari surga itu sebagai orang terhina lagi terusir. Sesungguhnya barang siapa di antara mereka mengikuti kamu, benar-benar Aku akan isi neraka Jahannam dengan kalian semuanya.’.” (QS Al-A’raaf: 18)

PENJABARAN AYAT

Firman Allah ta’ala:

قَالَ فَبِمَا أَغْوَيْتَنِي

Iblis menjawab: ‘Karena Engkau telah menghukumku tersesat,

Arti (أَغْوَيْتَنِي)/’karena Engkau telah menghukumku tersesat’ adalah (أَضْلَلْتَنِي)/’Engkau telah menjadikanku tersesat. Ini sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma[2].

Para ulama berselisih pendapat dalam mengartikan potongan ayat ini. Di antara pendapat-pendapat yang disebutkan adalah sebagai berikut:

  1. Perkataan (فَبِمَا أَغْوَيْتَنِي) di kalangan ahli bahasa Arab (Ahlun-nahwi) adalah sumpah (al-qasam). Dan sumpah di dalam bahasa Arab bisa menggunakan huruf baa’ yang dikasrahkan (بِ). Sehingga perkataan (فَبِمَا أَغْوَيْتَنِي) seperti perkataan (فَبِإِغْوَائِكَ إِيَّاي) yang berarti, “Demi perbuatan-Mu yang telah menjadikanku sesat.”
  2. Dia adalah pertanyaan, yang berarti, “Dengan alasan apa Engkau menjadikanku sesat?”
  3. Dia adalah alasan Iblis menyesatkan manusia, yang berarti, “Karena Engkau telah menjadikanku sesat.” Inilah yang banyak digunakan dalam Al-Quran terjemahan di Indonesia.
  4. Dia adalah balasan atas perbuatan Allah yang telah menjadikan Iblis sesat, yang berarti, “Sebagaimana Engkau telah menjadikanku sesat.”
  5. Dan disebutkan pendapat yang lainnya.[3]

Allaahu a’lam, pendapat pertama didukung dengan dalil dari Al-Qur’an. Allah subhanallahu wa ta’ala berfirman:

قَالَ فَبِعِزَّتِكَ لَأُغْوِيَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ

“Iblis menjawab: ‘Demi kekuasaan-Mu! Aku akan menyesatkan mereka semuanya.’.” (QS Shaad: 82)

Di dalam ayat ini Iblis bersumpah dengan kekuasaan/keperkasaan Allah.

Bagaimana mungkin Allah-lah yang menjadikan Iblis tersesat?

Mungkin ada yang bertanya, bagaimana mungkin Allah-lah yang menjadikan Iblis tersesat? Padahal Allah subhanahu wa ta’ala tidak memiliki sifat kekurangan. Maka pertanyaan tersebut dijawab, bahwa kehendak (iraadah) Allah ada dua, yaitu: Iraadah Kauniyah dan Iraadah Syar’iyah. Iraadah Kauniyah adalah kehendak Allah yang diinginkan oleh Allah untuk terjadi di alam semesta dan tidak mengharuskan hal tersebut disukai oleh Allah ta’ala, sedangkan Iraadah Syar’iyah adalah keinginan Allah yang Allah sukai, tetapi tidak mengharuskan hal tersebut terjadi. Semua ini terjadi karena hikmah dan keadilan Allah. Allah-lah yang mengetahui segala hikmahnya jika kita tidak mengetahui hikmahnya dan Allah Maha Adil dengan seluruh yang Allah lakukan. Ini merupakan sifat Allah yang sempurna. Hamba-hamba-Nya-lah yang akan diminta pertanggungjawaban mereka di hadapan Allah, dan Allah tidak akan diminta pertanggungjawaban.

Oleh karena itu, Imam Al-Qurthubi rahimahullah menegaskan hal ini di dalam tafsirnya[4], beliau berkata:

مذهب أهل السنة أي أن الله -تعالى- أضله وخلق فيه الكف، ولذلك نسب الإغواء في هذا إلى الله -تعالى- وهو الحقيقة، فلا شي في الوجود إلا وهو مخلوق له، صادر عن إرادته -تعالى-. وخالف الإمامية والقدرية وغيرهما شيخهم إبليس الذي طاوعوه في كل ما زيّنه لهم، ولم يطاوعوه في هذه المسألة, ويقولون: أخطأ إبليس، وهو أهل للخطأ حيث نسب الغواية إلى ربه، تعالى الله عن ذلك. فيقال لهم: وإبليس وإن كان أهلا للخطأ فما تصنعون في نبي مكرم معصوم، وهو ونوح -عليه السلام- حيث قال لقومه: {وَلا يَنْفَعُكُمْ نُصْحِي إِنْ أَرَدْتُ أَنْ أَنْصَحَ لَكُمْ إِنْ كانَ اللَّهُ يُرِيدُ أَنْ يُغْوِيَكُمْ هُوَ رَبُّكُمْ وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ}.

“Madzhab Ahlissunnah menyatakan bahwa Allah ta’ala yang telah menjadikannya tersesat dan menciptakan pada dirinya kekufuran. Oleh karena itu, di tempat ini perbuatan menjadikan Iblis sesat disandarkan kepada Allah ta’ala. Dan inilah yang benar. Tidak ada sesuatu apapun yang ada kecuali dia adalah ciptaan Allah ta’ala yang berasal dari kehendak Allah ta’ala. Aliran Al-Imamiyah, Al-Qadariyah dan aliran selain keduanya telah menyelesihi syaikh (guru mereka), yaitu Iblis, yang mana mereka mentaati Iblis di setiap apa yang Iblis hiasi untuk mereka, tetapi tidak mentaatinya di dalam permasalahan ini. Mereka berkata, “Iblis telah berbuat kesalahan. Dan dia memang sering salah, karena dia telah menyandarkan kesesatan kepada Rabb-nya. Maha suci Allah dari hal tersebut.” Maka kita katakan kepada mereka (aliran-aliran sesat tersebut), taruhlah iblis (memang demikian), dia benar-benar sering berbuat kesalahan, lalu bagaimana pendapat kalian (wahai aliran-aliran sesat) tentang perkataan Nabi yang mulia lagi ma’shuum (terjaga dari kesalahan), yaitu Nabi Nuh ‘alaihissalam, beliau telah berkata kepada kaumnya:

وَلا يَنْفَعُكُمْ نُصْحِي إِنْ أَرَدْتُ أَنْ أَنْصَحَ لَكُمْ إِنْ كانَ اللَّهُ يُرِيدُ أَنْ يُغْوِيَكُمْ هُوَ رَبُّكُمْ وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ

“Dan tidaklah bermanfaat kepada kalian nasihatku jika aku hendak memberi nasihat kepada kalian, sekiranya Allah hendak menyesatkan kalian. Dia adalah Tuhan kalian, dan kepada-Nya-lah kalian dikembalikan.” (QS Huud: 34)

Firman Allah ta’ala:

لَأَقْعُدَنَّ لَهُمْ صِرَاطَكَ الْمُسْتَقِيمَ

Maka saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan-Mu yang lurus

Jika diterjemahkan secara makna perkata, maka terjemahan di atas adalah, “Saya akan benar-benar duduk untuk mereka di jalan-Mu yang lurus,” maksud duduk di jalan adalah terus-menerus berada di jalan tersebut untuk menghalangi mereka.  Dan Ini adalah sumpah Iblis untuk menyesatkan manusia. Iblis benar-benar akan menghalang-halangi umat manusia untuk menuju jalan Allah yang lurus.

Arti (صِرَاطَكَ الْمُسْتَقِيمَ) /jalan-Mu yang lurus adalah seluruh jalan menuju kebenaran dan keselamatan sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Katsir rahimahullah.[5]

Disebutkan beberapa tafsir tentang arti potongan ayat ini, akan tetapi tafsir yang tepat adalah sebagaimana yang telah disebutkan dan ini didukung oleh hadits berikut ini:

عَنْ سَبْرَةَ بْنِ أَبِى فَاكِهٍ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ: (( إِنَّ الشَّيْطَانَ قَعَدَ لاِبْنِ آدَمَ بِأَطْرُقِهِ, فَقَعَدَ لَهُ بِطَرِيقِ الإِسْلاَمِ, فَقَالَ: “تُسْلِمُ وَتَذَرُ دِينَكَ وَدِينَ آبَائِكَ وَآبَاءِ أَبِيكَ؟” فَعَصَاهُ فَأَسْلَمَ. ثُمَّ قَعَدَ لَهُ بِطَرِيقِ الْهِجْرَةِ, فَقَالَ: “تُهَاجِرُ وَتَدَعُ أَرْضَكَ وَسَمَاءَكَ؟ وَإِنَّمَا مَثَلُ الْمُهَاجِرِ كَمَثَلِ الْفَرَسِ فِى الطِّوَلِ.” فَعَصَاهُ فَهَاجَرَ ثُمَّ قَعَدَ لَهُ بِطَرِيقِ الْجِهَادِ, فَقَالَ: “تُجَاهِدُ فَهُوَ جَهْدُ النَّفْسِ وَالْمَالِ فَتُقَاتِلُ فَتُقْتَلُ فَتُنْكَحُ الْمَرْأَةُ وَيُقْسَمُ الْمَالُ.” فَعَصَاهُ فَجَاهَدَ.)). فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم-: ((فَمَنْ فَعَلَ ذَلِكَ …((كَانَ حَقًّا عَلَى اللَّهِ -عَزَّ وَجَلَّ- أَنْ يُدْخِلَهُ الْجَنَّةَ

Diriwayatkan dari Sabrah bin Abi Faakih radhiallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Sesungguhnya setan duduk untuk menghalang-halangi seorang anak Adam dari berbagai jalan. Setan duduk menghalangi jalan untuk masuk Islam. Setan berkata, ‘(Apakah) kamu masuk ke dalam Islam dan kamu tinggalkan agamamu, agama bapak-bapakmu dan agama nenek moyangmu?’ Anak adam tersebut tidak mentaatinya, kemudian dia masuk Islam. Kemudian setan pun menghalangi jalan untuk berhijrah dan dia berkata, ‘(Apakah) kamu akan berhijrah dan kamu meninggalkan bumi dan langitmu[6]? Sesungguhnya perumpamaan orang yang berhijrah adalah seperti kuda yang diikat dengan tali[7].’ Kemudian anak Adam tesebut tidak mentaatinya dan terus berhijrah. Kemudian setan duduk untuk menghalangi jalan untuk berjihad. Setan berkata, ‘(Apakah) kamu akan berjihad? Jihad itu adalah perjuangan diri dan harta. Engkau berperang, dan nanti kami terbunuh, istrimu akan dinikahi (orang lain) dan hartamu akan dibagi-bagi.’ Kemudian anak tersebut tidak mentaatinya, kemudian terus berjihad.” Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Barang siapa yang melakukan hal tersebut, maka Allah berkewajiban untuk memasukkannya ke dalam surga…”[8]

Dengan demikian kita memahami bahwa Iblis akan menggoda manusia di semua jalan yang bisa mendekatkan diri kepada Allah subhanallahu wa ta’ala.

Firman Allah ta’ala:

ثُمَّ لَآتِيَنَّهُمْ مِنْ بَيْنِ أَيْدِيهِمْ وَمِنْ خَلْفِهِمْ وَعَنْ أَيْمَانِهِمْ وَعَنْ شَمَائِلِهِمْ

Kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka.

Pada ayat ini Iblis berjanji akan mendatangi anak manusia dari seluruh penjuru. Iblis juga berjanji akan menghiasai kebatilan sehingga umat manusia terjerumus ke dalamnya. Allah subhanallahu wa ta’ala berfirman di dalam Al-Qur’an:

قَالَ رَبِّ بِمَا أَغْوَيْتَنِي لَأُزَيِّنَنَّ لَهُمْ فِي الْأَرْضِ وَلَأُغْوِيَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ

“Iblis berkata: ‘Ya Tuhanku, karena Engkau telah menghukumku tersesat, pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan maksiat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya.” (QS Al-Hijr: 39)

Arti “mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka.”

Para ulama berbeda pendapat dalam menafsirkan potongan ayat ini, di antara pendapat yang disebutkan adalah sebagai berikut:

  1. Dari muka maksudnya adalah “Saya akan menyesatkan mereka perkara akhirat mereka.”; Dari belakang maksudnya adalah “Saya akan menjadikan mereka cinta dunia.”; Dari kanan maksudnya adalah “Saya akan membuat syubhat pada perkara agama mereka.”; Dari kiri maksudnya adalah “Saya akan membuat mereka suka melakukan perbuatan maksiat.” Ini adalah pendapat Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma yang diriwayatkan dari ‘Ali bin Abi Thalhah darinya.
  2. Dari muka maksudnya adalah “Dari sisi dunia mereka.”; Dari belakang maksudnya adalah “Urusan akhirat mereka.”; Dari kanan maksudnya adalah “Dari sisi kebaikan-kebaikan mereka.”; Dari kiri maksudnya adalah “Dari sisi keburukan-keburukan mereka.” Ini juga pendapat Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma yang diriwayatkan dari ‘Ali bin Abi Thalhah dan Al-‘Aufi darinya.
  3. Dari muka maksudnya adalah “Iblis akan mengabarkan kepada mereka bahwasanya tidak ada hari kebangkitan, begitu pula surga dan neraka.”; Dari belakang maksudnya adalah “Urusan dunia dan Iblis akan menghiasi dan mengajak mereka untuk mengejar dunia.”; Dari kanan maksudnya adalah “Dari sisi kebaikan-kebaikan mereka, Iblis akan menghambat mereka.”; Dari kiri maksudnya adalah “Iblis akan menghias-hiasi keburukan dan kemaksiatan kepada mereka serta mengajak dan memerintahkan untuk melakukannya.” Ini juga pendapat Qatadah rahimahullah yang diriwayatkan dari Sa’id bin Abi ‘Arubah darinya, begitu pula pendapat Ibrahim An-Nakha’i dan Al-Hakam bin ‘Utaibah rahimahumullah.
  4. Dari muka maksudnya adalah “dimana mereka bisa melihatnya.”; Dari belakang maksudnya adalah “Dimana mereka tidak bisa melihatnya.” Ini adalah pendapat Mujahid rahimahullah.
  5. Dan disebutkan tafsiran yang lain.[9]

Imam Abu Ja’far Ath-Thabari rahimahullah mengatakan, “Pendapat yang lebih tepat menurutku adalah pendapat yang mengatakan bahwa arti dari ini adalah ‘Kemudian saya akan benar-benar mendatangi mereka dari segala sisi kebenaran dan kebatilan, kemudian saya akan menghalangi mereka dari kebenaran dan saya akan memperindah kebatilan untuk mereka. Hal ini dikarenakan potongan ayat ini datang setelah firman Allah ta’ala: ‘Maka saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan-Mu yang lurus.’.[10]

Mengapa Iblis tidak mendatangi dari sebelah atas mereka?

Diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhua bahwasanaya beliau berkata, “Dan Allah tidak mengatakan ‘dan dari atas mereka,’ karena rahmat (kasih sayang) Allah diturunkan dari atas mereka.’.”[11]

Firman Allah ta’ala:

وَلَا تَجِدُ أَكْثَرَهُمْ شَاكِرِينَ

Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur.

Imam Ath-Thabari rahimahullah mengatakan, “Sesungguhnya Iblis mengatakan, ‘Engkau, Wahai Rabb-ku! Tidak akan mendapatkan sebagian besar anak Adam bersyukur kepada-Mu atas kenikmatan yang telah Engkau berikan kepada mereka, seperti: pemuliaan-Mu terhadap bapak mereka, Adam, berupa perintah-Mu kepada para malaikat untuk bersujud kepadanya dan pengutamaan Adam dariku. …Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma menyatakan bahwa arti syaakiriin (orang-orang yang bersyukur) pada ayat ini adalah muwahhidiin (orang-orang yang bertauhid).”[12]

Bagaimana Iblis bisa mengetahui hal tersebut?

Iblis tidaklah mengetahui hal tersebut, tetapi perkataannya tersebut dibangun di atas prasangka saja, dan ternyata seperti itulah yang terjadi.

Imam Al-Baghawi mengatakan, “Dikatakan bahwa Iblis telah berprasangka dan ternyata benar. Allah ta’ala berfirman:

وَلَقَدْ صَدَّقَ عَلَيْهِمْ إِبْلِيسُ ظَنَّهُ فَاتَّبَعُوهُ إِلَّا فَرِيقًا مِنَ الْمُؤْمِنِينَ

“Dan sesungguhnya iblis telah dapat membuktikan kebenaran sangkaannya terhadap mereka lalu mereka mengikutinya, kecuali sebahagian orang-orang yang beriman.” (QS Saba’: 20)

Sebagian ulama tafsir mengatakan bahwa Iblis mengetahui hal tersebut dari Malaikat. Akan tetapi, pendapat ini tidak didukung dengan dalil.[13]

Siapakah yang bisa selamat dari penyesatan yang dilakukan oleh Iblis?

Allah subhanallahu wa ta’ala berfirman di dalam surat lain yang mirip dengan ayat yang sedang kita bahas ini:

(قَالَ فَبِعِزَّتِكَ لَأُغْوِيَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ (82) إِلَّا عِبَادَكَ مِنْهُمُ الْمُخْلَصِينَ (83) قَالَ فَالْحَقُّ وَالْحَقَّ أَقُولُ (84) لَأَمْلَأَنَّ جَهَنَّمَ مِنْكَ وَمِمَّنْ تَبِعَكَ مِنْهُمْ أَجْمَعِينَ (85

“(82) Iblis menjawab: ‘Demi kekuasaan Engkau, aku akan menyesatkan mereka semuanya, (83) kecuali hamba-hamba-Mu yang mukhlas di antara mereka.’ (84) Allah berfirman: “Maka yang benar (adalah sumpah-Ku) dan kebenaran itulah yang Ku-katakan. (85) Sesungguhnya Aku pasti akan memenuhi neraka Jahannam dengan jenis kamu dan dengan orang-orang yang mengikuti kamu di antara mereka kesemuanya.’.” (QS Ash-Shaad: 75-85)

Pada ayat ini, Iblis mengetahui bahwa dia tidak akan bisa menyesatkan hamba Allah yang disifatkan dengan Al-Mukhlashin atau di dalam qiraah lain Al-Mukhlishin. Jika dibaca Al-Mukhlishin maka mereka adalah orang-orang yang mengikhlaskan (memurnikan) ketaatan dan tauhid kepada-Mu. Dan jika dibaca Al-Mukhlashin maka mereka adalah orang-orang yang Engkau jadikan mereka sebagai orang yang engkau ikhlaskan mereka untuk bertauhid kepadamu dan yang Engkau pilih.[14]

 Allah subhanallahu wa ta’ala juga berfirman:

إِنَّ عِبَادِي لَيْسَ لَكَ عَلَيْهِمْ سُلْطَانٌ إِلَّا مَنِ اتَّبَعَكَ مِنَ الْغَاوِينَ (42) وَإِنَّ جَهَنَّمَ لَمَوْعِدُهُمْ أَجْمَعِينَ (43(

(42) Sesungguhnya hamba-hamba-Ku tidak ada kekuasaan bagimu terhadap mereka, kecuali orang-orang yang mengikut kamu, yaitu orang-orang yang sesat. (43) Dan sesungguhnya Jahannam itu benar-benar tempat yang telah diancamkan kepada mereka (pengikut-pengikut syaitan) semuanya. (QS Al-Hijr: 42-43)

Doa agar dijaga oleh Allah di segala penjuru

Jika kita mengetahui bahwa Iblis dan setan sebagai pengikutnya akan menggoda kita di empat penjuru, maka sudah sepantasnya kita membiasakan diri untuk meminta perlindungan dan penjagaan dari Allah agar Iblis dan setan tidak menguasai kita.

Di antara doa yang diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah yang diriwayatkan dari Jubair bin Abi Sulaiman bin Jubair bin Muth’im rahimahullah, bahwanya dia berkata:

سَمِعْتُ ابْنَ عُمَرَ يَقُولُ : لَمْ يَكُنْ رَسُولُ اللهِ صَلَّى الله عَليْهِ وسَلَّمَ يَدَعُ هَؤُلاَءِ الدَّعَوَاتِ حِينَ يُمْسِي ، وَحِينَ يُصْبِحُ :

“Saya mendengar Ibnu ‘Umar radhiallahu ‘anhuma berkata, ‘Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah meninggalkan doa-doa ini ketika sore dan ketika pagi:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْعَفْوَ وَالْعَافِيَةَ فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ ، اللَّهُمَّ أَسْأَلُكَ الْعَفْوَ وَالْعَافِيَةَ فِي دِينِي وَدُنْيَايَ وَأَهْلِي وَمَالِي ، اللَّهُمَّ اسْتُرْ عَوْرَاتِي ، وَآمِنْ رَوْعَاتِي ، وَاحْفَظْنِي مِنْ بَيْنِ يَدَيَّ ، وَمِنْ خَلْفِي ، وَعَنْ يَمِينِي ، وَعَنْ شِمَالِي ، وَمِنْ فَوْقِي ، وَأَعُوذُ بِكَ أَنْ أُغْتَالَ مِنْ تَحْتِي.

Ya Allah! Sesungguhnya aku memohon kepada-Mu pengampunan dan keselamatan (afiat) di dunia dan di akhirat. Ya Allah! Sesungguhnya aku memohon kepada-Mu pengampunan dan keselamatan (afiat) pada agama, dunia, keluarga dan hartaku. Ya Allah! Tutupilah auratku (aibku), amankanlah ketakutanku dan jagalah aku dari sisi depanku, belakangku, kananku, kiriku, atasku. Dan saya berlindung kepadamu dari ditenggelamkan (di bumi) dari arah bawahku.”[15]

Doa ini disunnahkan dibaca setiap hari di waktu pagi dan petang.

KESIMPULAN

  1. Iblis telah bersumpah untuk menyesatkan manusia sampai hari kiamat nanti.
  2. Allah-lah yang telah menjadikan Iblis sesat dan menanamkan kekufuran di dalam hatinya. Ini semua karena hikmah dan keadilan Allah subhanallahu wa ta’ala.
  3. Iblis akan menyesatkan dan menghalangi-halangi manusia untuk menempuh seluruh jalan kebenaran dan keselamatan dan Iblis akan memperindah kebatilan kepada manusia sehingga mereka terjerumus ke dalamnya.
  4. Akan banyak orang yang mengikuti penyesatan Iblis dan kita dianjurkan untuk meminta perlindungan dan penjagaan kepada Allah dari Iblis dan pasukannya.

Demikian tulisan ini. Mudah-mudahan bermanfaat dan mudah-mudahan Allah subhanallahu wa ta’ala melindungi kita dari seluruh penyesatan yang dilakukan oleh Iblis dan pasukannya kepada kita semua. Amin.

 

 

Footnotes:

[1] Lihat Aisar At-Tafaasiir hal. 442.

[2] Lihat Tafsiir Ath-Thabari XII/332.

[3] Lihat Tafsiir Ath-Thabari XII/334, Tafsiir Al-Baghawi III/218, Tafsiir Al-Qurthubi VII/174 dan Tafsiir Ibni Katsiir III/394.

[4] Tafsiir Al-Qurthubi VII/175.

[5] Tafsiir Ibni Katsiir III/394.

[6] Maksudnya adalah tempat tinggal dan kampung halamannya.

[7] Maksudnya adalah hijrah akan menghalangi untuk berniaga dan kembali ke tanah asal. Dan hijrah sangatlah berat.

[8] HR An-Nasaai no. 3134. Hadiits ini dinyatakan shahiih oleh Syaikh Al-Albani dalam Ash-Shahiihah no. 2979.

[9] Lihat Tafsiir Ath-Thabari XII/338-341, Tafsiir Al-Baghawi III/218, Tafsiir Al-Qurthubi VII/176 dan Tafsiir Ibni Katsiir III/394.

[10] Tafsir Ath-Thabari XII/341.

[11] Tafsir Ath-Thabari XII/341.

[12] Tafsir Ath-Thabari XII/342.

[13] Lihat Fathul-Qadiir III/20.

[14] Lihat Tafsiir Al-Baghawi IV/381.

[15] HR. Ibnu Majah no. 3871. Hadiits ini dinyatakan shahiih oleh Syaikh Al-Albani dalam Takhriij Al-Kalim Ath-Thayyib no. 27.

 

DAFTAR PUSTAKA

  1. Aisarut-Tafaasiir li kalaam ‘Aliyil-Kabiir wa bihaamisyihi Nahril-Khair ‘Ala Aisarit-Tafaasiir. Jaabir bin Musa Al-Jazaairi. 1423 H/2002. Al-Madinah: Maktabah Al-‘Ulûm Wal-Hikam.
  2. Al-Jaami’ Li Ahkaamil-Qur’aan. Muhammad bin Ahmad Al-Qurthubi. Kairo: Daar Al-Kutub Al-Mishriyah.
  3. Jaami’ul-bayaan fii ta’wiilil-Qur’aan. Muhammad bin Jariir Ath-Thabari. 1420 H/2000 M. Beirut: Muassasah Ar-Risaalah.
  4. Ma’aalimut-tanziil. Abu Muhammad Al-Husain bin Mas’uud Al-Baghawi. 1417 H/1997 M. Riyaadh: Daar Ath-Thaibah.
  5. Tafsiir Al-Qur’aan Al-‘Adzhiim. Isma’iil bin ‘Umar bin Katsiir. 1420 H/1999 M. Riyaadh: Daar Ath-Thaibah.
  6. Taisiir Al-Kariim Ar-Rahmaan Fi Tassiir Kalaamil-Mannaan. Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. Beirut: Muassasah Ar-Risaalah.
  7. Dan lain-lain. Sebagian besar telah tercantum di footnotes.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*