Pondok Pesantren Darul Qur'an Wal-Hadits Martapura OKU

Keutamaan Ikhlas

KEUTAMAAN IKHLAS

KEUTAMAAN IKHLAS

Sebagai akhlak mulia yang teragung, ikhlas mempunyai banyak keutamaan. Hamba mana saja yang beramal dengan ikhlas karna Allah semata akan merasakan manisnya iman.

  1. Wasiat Allah kepada Rasulullah.

Semenjak mengutus para nabi dan rasul kemuka bumi ini, Allah sudah mewasiatkan supaya mereka menikhlaskan seluruh ibada hanya kepada dia, srmata-mata untuknya dan akhlak adalah satu-satunya.

شَرَعَ لَكُمْ مِّنَ الدِّيْنِ مَا وَصّٰى بِه نُوْحًا وَّالَّذِيْٓ اَوْحَيْنَآ اِلَيْكَ وَمَا وَصَّيْنَا بِه اِبْرٰهِيْمَ وَمُوْسٰى وَعِيْسٰى اَنْ اَقِيْمُوا الدِّيْنَ وَلَا تَتَفَرَّقُوْا فِيْهِۗ

Artinya; “Diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu (Muhammad) dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa yaitu tegakkanlah agama (keimanan dan ketakwaan) dan janganlah kamu berpecah belah di dalamnya.’ ( Qs. Asy-Syura 42 :13).

  1. Inti dakwah para rasul

Syaikhul islam ibnu Taimiyyah Rahimahullah menjelaskan; ikhlas dalam beragama kepada Allah adalah memilih satu agama saja yang di terimanya, yaitu yang di bawa para rasul, dari yang pertama hingga terakhir. Agama yang dengannya semua kitab suci di turunkan dari langit, dan itulah agama yang di sepakati kebenarannya dari langit, dan itulah agama yang di sepakati kebenarannya oleh panutan kaum beriman sepanjang sejarah manusia. Ikhlas inilah inti dakwah para nabi. Allah memerintahkan setiap hamba dari umat terdahulu hingga uamt terakhir agar berbegang teguh pada satu ajaran, mengikhlaskan agama untuk dia semata.

  1. Mendapat penjagaan dan pembelaan Allah.

Al-Munawi, didalam Faidhul Qodir, menerangkan bahwa umat islam sebenernya tergolong oleh kaum lemah mereka. Sebab orang yang lemah itu lebih ikhlas dan khusu’dalam beribadah, serta lebih tawadu’ dihadapan Allah. Hal iru karna hati mereka tidak terpukau oleh silaunya dunia, dan jiwa mereka bersih dari hal-hal yang bisa memutus hububgan hamba dengan Allah. Pada kondisi demikian, keinginan mereka terfokus pada satu hal saja, yakni mencari ridhonya. Dengan begitu kesucian amal-amal mereka terjaga, sehingga doa-doa mereka pun selalu diijabahinya.

Jadi jika hamba telah mencapai tangga keihklasan dalam seluruh aktifitas, niscaya Allah senantiasa menyertainnya, di mana pun dia berada. Lantas, adakah sesuatu yang pantas ditakutinya tatkalah berada dalam lindungannya?

اَلَيْسَ اللّٰهُ بِكَافٍ عَبْدَه

Artinya: “Bukankah Allah yang mencukupi hamba-Nya?” (Qs.Az-Zumar 39: 36).

  1. Salah satu syarat diterimanya amal.

Semua amal seorang hamba di dunia pasti dihisab kelak, serta setiap orang akan dihadapkan dengan dua pertanyaan terkait amalannya: untuk siapa dia beramal, dan bagaimana melaksanakannya.

Pertama: Apakah dia beramal dengan ikhlas karna Allah? Atau dia beramal karna ingin pamer kebaikan di hadapan sesama manusia?  Ataukah dia beramal karna terpaksa demi menghindari celaaan orang lain jika tidak melakukannya?

 Kedua: Apakah pelaksanaan amal tersebut olehnya sudah sesuai dengan tutunan rasulullah?  Atau tidak demikian?

  1. Membersikan hati dengki

keikhlasan itu ibarat air jernih yang membaduh mata hati. Dengan keikhlasan, seseorang akan bisa memurnikan kalbunya dari sifat dengki dan sifat khianat. Inilah mengapa ia menjadi sumber bagi kebahagiaan.

  1. Mendatangkan kedamaian bagi hati.

Allah Subhanahu Wata’ala berfirman:

لَقَدْ رَضِيَ اللّٰهُ عَنِ الْمُؤْمِنِيْنَ اِذْ يُبَايِعُوْنَكَ تَحْتَ الشَّجَرَةِ فَعَلِمَ مَا فِيْ قُلُوْبِهِمْ فَاَنْزَلَ السَّكِيْنَةَ عَلَيْهِمْ وَاَثَابَهُمْ فَتْحًا قَرِيْبًاۙ

Artinya:  “Sungguh, Allah telah meridai orang-orang mukmin ketika mereka berjanji setia kepadamu (Muhammad) di bawah pohon, Dia mengetahui apa yang ada dalam hati mereka lalu Dia memberikan ketenangan atas mereka dan memberi balasan dengan kemenangan yang dekat.” (QS. Al-Fath 48: 18).

 

Allah mengetahui apa yang ada dalam hati mukminin beruoa keikhlasan dan ketulusan niat, juga kesungguhan hati dalam menepati baiat yang di berikan kepada Rasulullah, maka Allah memberi ketenangan dan ketentraman dalam hati orang beriman ini, sebagai buah nyata dari keikhlasan serta ketulusan niat mereka.

Keikhlasan melahirkan kedamaian bagi hati, lantad ia menjalar ke seluruh anggota tubuh, hingga dari ujung rambut hingga ujung kaki ikut merasakan ketenangan. Inilah yang mengantarkan orang-orang mukmin kepada ke khusuan jiwa di hadapan sang pencipta. Itulah alasan mdngapa ketenangan batin diibaratkan sebagai pakaian kebesaran para mukhlisin (orang-orang yang ikhlas).

Dengan keikhlasan, seseorang bdnar-benar merasakan kerenangan hidup tanpa dikejar rasa takut maupun was-was. Sinar keikhlasan akan menyikap tanda-tanda dan hakikat keimanan sehingga akan menyikap tanda-tanda dan hakikat keimanan sehingga dia akan maupun memilih antara yang haq dan yang batil, antara hidayah dan kesesatan, serta antara keragu-raguan dan kemantapan hati.

Ketenangan yang lahir dari keikhlasan membuat hati kita menjadi hidup dan bercahaya. Dengan sinar kedamaian, hati mampu menyingkap kegelapan yang terselubung. Dengan energinya hati terlatih untuk teguh dalam memegang azam. Hati yang tenang akan menumbuhkan kewaspadaan dan kepandaian yang nyaris sempurna. Seiring dengan itu pula, pemiliknya bangkit dari keterlenaan yang panjang. Dalam kondisi demikian, dia merasakan nikmatnya berlaku jujur, memandang segala sesuatunya secara objektif, dan mampu memblokir jalan menuju perbuatan dosa.

  1. Menguatkan jiwa

Sejatinya, keikhlasan yang di munculkan baik itu melalui perkataan maupun perbuatan akan melahirkan kekuatan yang amat besar dakam jiwa pemiliknya. Sungguh keikhlasan membebaskan hasrat seseorang dari di perbudak oleh materi kepada harapan pribadi agar mencapai ridho Allah semata dalam beramal shalih. Sebenarnya, orang yang tamak atau rakus kepada harta, juga kedudukan, dan kehormatan adalah orang yang jiwanya benar-benar rapuh.

  1. Mewariskan pemahaman, ilmu, dan hikmah

Dengan keikhlasan Allah akan membukakan pintu-pintu pemahaman, ilmu, dan cahaya hikmah kepada hambah hingga ia dapat membedahkan antara kebenaran dan kebatilan. Kemampuan membedakan ini merupakan berkah dari keikhlasan, yakni hatinya menjadi bersih dari ambisi-ambisi duniawi yang menghalanginnya dari ilmu dan pemahannya. Keberdihan hati yang terwujud dari keikhlasan ini pun menjadi modal berharga bagi seorang hamba guna menghafal ilmu-ilmu syariat yang di pelajarin serta memahami dalil-dalil syar’i yang telah di hafal.

  1. Membuahkan amal yang berkesinambungan.

Hanya orang yang ikhlas yang di mudahkan dalam menjaga amal-amalannya. Dengan keikhlasan itu, amalnya akan berkesinambungan. Sebab seorang yang beramal bukan atas dasar keikhlasan, tetapi untuk memuaskan hawa nafsu atau mencari ketenaran di hadapan orang lain, mereka semangatnya akan mengendur saat kondisi yang ada tidak sesuai harapan. Bahkan, tidaj jarang dia pun berhenti beramal secara total karena ketidak sesuaian tersebut.

Berbeda hanya dengan orang yang beramal hanya demi mencari ridha Allah. Orang ini tidak akan memperlambat langkahnya, apalagi sanpai menghentikannya di tengah jalan. Sebab yang menjadi tujuannya adalah dzat yang selalu hadir di hadapannya, yang ia tidak pernah lengah serta tidak akan pernah lenyap darinya. Sungguh, “wajah” Allah semata yang akan tetap ada ketika sfmua makhluk telah tiada.

  1. Niat ikhlas dan sungguh-sungguh berbuah pahala walaupun belum sempat diamalkan.

Dengan niat yang ikhlas dan juga kesungguhan diri untuk mewujudkan suatu amal sholih, seorang mendapat limpahan pahala dari Allah meski belum sempat mewujudkannya. Hamba yang bertekad untuk mengerjakan sholat malam, dan dia menyiapkan segala sesuatunya dengan ikhlas, tetapi karena suatu hal dia tidak terjaga, maka dia tetap mendapat pahala atas niat dan keikhlasannya.

  1. Dicintai penghuni langit dan bumi.

Allah Subhanahu Wata’ala berfirman:

إِنَّ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَعَمِلُوا۟ ٱلصَّٰلِحَٰتِ سَيَجْعَلُ لَهُمُ ٱلرَّحْمَٰنُ وُدًّا

Artinya: “Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh, kelak Allah Yang Maha Pemurah akan menanamkan dalam (hati) mereka rasa kasih sayang (dalam hati mereka) “. (QS. Maryam 19: 96).

Ibnu Katsir Rahimahullah berkata: ” melalui ayat ini Allah memberi tahu kita bahwa dia akan menanamkan di dalam hati hamba-hamba yang shalih (yaitu yang amal mereka di ridhoi olehnya serta sesuai dengan petunjuk rasul)  cinta dan kasih sayang. Sungguh, apa yang di janjikan Allah itu pasti terjadi.

  1. Terjaga dari kuasa syaiton.

Orang yang ikhlas, terlindungi dari kungkungan syaiton yang terkutuk, sebab mereka mengantungkan hati kepada Allah semata. Dengan demikian, Allahlah yang menjadi penolong dan sekaligus mdnjafi wali mereka dalam situasi dan kondisi apa pun, sehingga syaiton yang telaknat tidak akan bisa menguasai jiwa mereka.

  1. Mengeluarkan dari kesulitan dan duka.

Keutamaan ikhlas di buktikan oleh umat sebelum kita. Mereka diselamatkan dari kesulitan berkat amal shalih yang dilakukan dengan penuh keikhlasan. Kisag mereka ini di tuturkan sendiri oleh Rasulullah.

  1. Menghafuskan dosa dan menyelamatkan dari siksa.

Allah Subhanahu Wata’ala berfirman:

اِنَّكُمْ لَذَاۤىِٕقُوا الْعَذَابِ الْاَلِيْمِ ۚ وَمَا تُجْزَوْنَ اِلَّا مَا كُنْتُمْ تَعْمَلُوْن .اِلَّا عِبَادَ اللّٰهِ الْمُخْلَصِيْنَ

Artinya: “Sungguh, kamu pasti akan merasakan azab yang pedih.Dan kamu tidak diberi balasan melainkan terhadap apa yang telah kamu kerjakan,tetapi hamba-hamba Allah yang dibersihkan (dari dosa).” (QS. Ash-Shaffat 37: 38-40).

Oleh sebagian ahli qiraat, ayat di atas dibaca dengan lafadz al-mukslashin, yakni orang yang mentauhidkan Allah. Sementara oleh sebagian qari lainnya ia dibaca dengan lafadz al-mukhslishin, yakni orang yang ikhlas.

  1. Dijamin akan menjadi penghuni surga.

Ikhlas merupakan jalan utama menuju keridhaan dan kecintaan Allah. Dengan keduanya seorang hambah akan mendapat kemenangan berupa surganya.

  1. Memperoleh ridha Allah.

Salah satu buah dari keikhlasan adalah keridhaan Allah. Inilah balasan yang sangat mulia teruntuk hambaj yang ikhlas. Setelah berhasil meraih keridhoannya, hamba tersebut akan merasa tercukupi dari hal-hal yang lainnya. Sungguh, keridhaan Allah baginya merupakan nikmat terbesar di dunia dan tujuan termulia para penduduk surga.

REFERENSI:

Diringkas dari buku: Ensiklopedi Akhlak Salaf.

Karya: Ummu Ihsan dan Abu Ihsan al-Atsari.

Diringkas oleh: LIA MAULANA (pengajar ponpes Darul Qur’an Wal-Hadits OKUTimur).

Baca juga artikel:

Lebih Dekat Dengan Akad Salam (Bagian II)

Perhatian Salaf Terhadap Sunnah Nabi 

Be the first to comment

Ajukan Pertanyaan atau Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.