Pondok Pesantren Darul Qur'an Wal-Hadits Martapura OKU

Beriman Kepada Taqdir

Iman Kepada Taqdir

Prolog

Beriman kepada takdir memiliki kedudukan yang sangat tinggi dalam Islam, karena beriman kepada takdir termasuk salah satu rukun iman yang enam. Tidak akan benar iman dan Islam seseorang kecuali bila beriman kepada takdir yang baik dan buruk.

Beriman kepada takdir adalah meyakini bahwa Allah Ta’ala telah menciptakan segala ketentuan bagi seluruh makhluk yang telah Allah Ta’ala ketahui dan sesuai hikmah yang Dia kehendaki[1]. Atau meyakini bahwa ilmu Allah Ta’ala meliputi segala sesuatu. Hal itu telah Allah Ta’ala tulis, serta telah terjadi atas kehendak-Nya. Dan meyakini bahwa Allah Ta’ala telah menciptakannya[2] Jadi tidak ada sesuatupun yang terjadi maupun yang tidak terjadi melainkan Allah Ta’ala telah mengetahuinya, atas kehendak-Nya dan Allah Ta’ala telah mencatat, serta menciptakannya dengan hikmah yang sangat sempurna.

Sangat banyak dalil yang menunjukan bahwa Allah Ta’ala telah menentukan takdir atas seluruh makhluk-Nya, diantaranya adalah firman-Nya:

إِنَّا كُلَّ شَيْءٍ خَلَقْنَاهُ بِقَدَرٍ

“Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran. (QS. Al-Qomar: 49)

Di dalam ayat yang lain, Allah Ta’ala berfirman:

وَخَلَقَ كُلَّ شَيْءٍ فَقَدَّرَهُ تَقْدِيرًا

“Dia telah menciptakan segala sesuatu, dan Dia menetapkan ukuran-ukurannya (takdir) dengan sebaik-baiknya”. (QS. Al-Furqôn: 70)

Di dalam sebuah hadits dari Jabir bin Abdillah rodhiyallahu ‘anhu beliau berkata: “Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam  bersabda:

لَا يُؤْمِنُ عَبْدٌ حَتىّ يُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَ شَرِّهِ مِنَ الله، وَ حَتَّى يَعْلَمَ أَنَّ مَا أَصَابَهُ لمَ ْيَكُنْ لِيُخْطِئَهُ، وَ أَنَّ مَا أَخْطَأَهُ لمَ يَكُنْ لِيُصِيْبَهُ.

“Tidaklah seorang hamba beriman sehingga ia beriman kepada takdir baik dan buruknya dari Allah Ta’ala, sehingga dia meyakini bahwa apa yang menimpanya tidak akan luput darinya, dan apa yang luput darinya tidak akan pernah menimpanya.” (HR. Tirmidzi)[3] 

Dalam sebuah riwayat diceritakan bahwa Walid putra salah seorang sahabat yang mulia Ubadah bin Shomit, berkata: “Aku menemui Ubadah dan beliau sedang sakit yang aku kira akan menyebabkan kematian beliau, maka aku berkata: “Wahai ayah tolong berwasiatlah kepadaku dan bersungguh-sungguhlah dalam berwasiat untukku. Maka beliau (Ubadah) berkata: “Tolong dudukkan aku, maka tatkala mereka telah mendudukannya, beliau berkata: “Wahai anakku sesunguhnya engkau tidak akan pernah merasakan lezatnya iman, dan tidak sampai pada hakikat mengenal Allah Ta’ala sampai kamu beriman kepada takdir baik dan buruknya. Walid berkata: “Wahai ayah bagaimana aku bisa mengetahui apa itu takdir yang baik dan apa yang buruk?” Beliau menjawab: “Engkau meyakini bahwa apa yang luput darimu tidak akan menimpamu, dan apa yang menimpamu tidak akan luput darimu. Wahai anakku sesungguhnya aku telah mendengar dari Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنّ أَوَّلَ مَا خَلَقَ الله تَعَالَى الْقَلَمَ، ثُمَّ قَالَ : اكْتُبْ، فَجَرَى بِتِلْكَ السَّاعَةِ بِمَا هُوَ كَائِنٌ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَة.ِ

“Sesungguhnya pertama kali yang Allah Ta’ala ciptakan adalah pena, kemudian Dia berfirman kepadanya : “Tulislah!” Maka seketika itu bergeraklah pena itu menulis segala sesuatu yang akan terjadi hingga hari kiamat.

Dalam riwayat Tirmidzi dikatakan: “Kemudian Allah Ta’ala berfirman kepada pena tersebut: Tulislah!”. Pena itu berkata: “Wahai Tuhanku, apakah yang hendak aku tulis?” Allah Ta’ala berfirman: “Tulislah apa saja yang akan terjadi!”. Maka seketika itu bergeraklah pena itu menulis segala sesuatu yang akan terjadi hingga hari kiamat.” (HR Tirmidzi & Ahmad)[4]

Para ulama juga telah bersepakat atas wajibnya beriman kepada takdir baik dan buruk yang datang dari Allah Ta’ala. Imam Nawawi berkata: “Sangat banyak dalil-dalil qoth’i dari Al-Qur’an ataupun Al-Hadits dan ijma’ sahabat serta para ulama dari kalangan salaf maupun kholaf atas kewajiban menetapkan takdir Allah Ta’ala[5]. Ibnu hajar juga berkata: “Madzhab salaf secara keseluruhan mengimani bahwa segala sesuatu telah ditakdirkan oleh Allah Ta’ala”.[6]

Beriman Kepada Takdir Allah Ta’ala Mencakup Empat Perkara[7]

  1. Al-‘Ilmu (Pengetahuan),

Yaitu mengimani dan meyakini bahwa Allah Ta’ala Maha Tahu atas segala sesuatu baik secara global maupun terperinci, yang telah terjadi maupun yang akan terjadi baik itu termasuk perbuatan-Nya sendiri atau perbuatan makhluk-Nya, atau segala sesuatu yang terjadi di alam semesta. Tak ada sesuatupun yang tersembunyi bagi-Nya. Sebagaimana Allah Ta’ala juga mengetahui makhluk-Nya sebelum Allah Ta’ala menciptakan mereka. Allah Ta’ala mengetahui rejeki mereka dan ajal, serta perbuatan mereka, diamnya atau geraknya mereka. Sangat banyak dalil yang menunjukan perkara ini, diantaranya firman Allah Ta’ala:

عَالِمِ الْغَيْبِ ۖ لَا يَعْزُبُ عَنْهُ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ فِي السَّمَاوَاتِ وَلَا فِي الْأَرْضِ وَلَا أَصْغَرُ مِنْ ذَٰلِكَ وَلَا أَكْبَرُ إِلَّا فِي كِتَابٍ مُبِينٍ

Demi Tuhanku Yang Mengetahui yang ghoib, sesungguhnya kiamat itu pasti akan datang kepadamu. Tidak ada tersembunyi daripada-Nya sebesar zarroh pun yang ada di langit dan yang ada di bumi dan tidak ada (pula) yang lebih kecil dari itu dan yang lebih besar, melainkan hal tersebut telah tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh)”. (QS. AS-Saba: 3)

Allah Ta’ala juga berfirman:

وَعِنْدَهُ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لَا يَعْلَمُهَا إِلَّا هُوَ ۚ وَيَعْلَمُ مَا فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ ۚ وَمَا تَسْقُطُ مِنْ وَرَقَةٍ إِلَّا يَعْلَمُهَا وَلَا حَبَّةٍ فِي ظُلُمَاتِ الْأَرْضِ وَلَا رَطْبٍ وَلَا يَابِسٍ إِلَّا فِي كِتَابٍ مُبِينٍ

“Dan pada sisi Allah Ta’ala-lah kunci-kunci semua yang ghoib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji-pun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfudz)” (QS. Al-An’am: 56)

  1. Penulisan Takdir

Artinya mengimani bahwa Allah Ta’ala telah menuliskan ketetapan segala sesuatu dalam lauhul mahfuzh. Dalil yang menjelaskan perkara ini diantaranya adalah firman Allah Ta’ala:

أَلَمْ تَعْلَمْ أَنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا فِي السَّمَاء وَالْأَرْضِ إِنَّ ذَلِكَ فِي كِتَابٍ إِنَّ ذَلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ

“Apakah kamu tidak mengetahui bahwa sesungguhnya Allah Ta’ala mengetahui apa saja yang ada di langit dan di bumi; bahwasanya yang demikian itu terdapat dalam sebuah kitab (Lauh Mahfuzh). Sesungguhnya yang demikian itu amat mudah bagi Allah Ta’ala”. (QS.Al-Hajj:70)

Imam Muslim meriwayatkan dalam kitab Shohihnya dari sahabat Abdulloh bin Amr bin ‘Ash berkata: “saya mendengar Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

كَتَبَ الله مَقَادِيْرَ الْخَلَائِقِ قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ السَمَاوَاتِ وَ اْلأَرْضَ بِخَمْسِيْنَ أَلْفَ سَنَةٍ.

“Allah Ta’ala telah menuliskan takdir bagi seluruh makhluk lima puluh ribu tahun sebelum menciptakan langit dan bumi”. (HR. Muslim)

  1. Al- Masyiah (Kehendak)

Yaitu mengimani bahwa segala sesuatu tidaklah terjadi kecuali atas kehendak Allah Ta’ala, apa yang Allah Ta’ala kehendaki terjadi pasti terjadi, dan apa yang tidak dikehendaki-Nya untuk terjadi maka tidak akan pernah terjadi. Tidak ada gerakan maupun diamnya sesuatu, hidayah maupun kesesatan kecuali terjadi atas kehendak Allah Ta’ala. Hal ini dinyatakan jelas dalam Al-Qur’an. Allah Ta’ala berfirman :

وَرَبُّكَ يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ وَيَخْتَارُ

Dan Tuhanmu menciptakan apa yang Dia kehendaki dan memilihnya. (QS. Al-Qoshosh: 68)

وَلَوْ شَاء اللّهُ مَا اقْتَتَلُواْ وَلَـكِنَّ اللّهَ يَفْعَلُ مَا يُرِيدُ

“Seandainya Allah Ta’ala menghendaki, tidaklah mereka berbunuh-bunuhan. Akan tetapi Allah Ta’ala berbuat apa yang dikehandakinya”. (QS. Al–Baqoroh: 253)

Dalam ayat–ayat tersebut Allah Ta’ala menjelaskan bahwa apa yang diperbuat oleh manusia itu terjadi dengan kehendak-Nya. Imam Muslim meriwayatkan dalam Shohih-nya dari Abdulloh bin Amr bin Al-‘Ash, bahwa beliau mendengar Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

إِنَّ قُلُوبَ بَنِي آدَمَ كُلَّهَا بَيْنَ إِصْبَعَيْنِ مِنْ أَصَابِعِ الرَّحْمَنِ كَقَلْبٍ وَاحِدٍ يُصَرِّفُهُ حَيْثُ يَشَاءُ

Sesungguhnya hati-hati anak adam semuanya diantara dua jari dari jari-jari Ar-Rahman seperti satu hati, Dia membolak-balikannya sesuai dengan kehendakNya.” (HR. Muslim)[8]

Selain itu banyak pula ayat-ayat yang menunjukkan bahwa apa yang diperbuat Allah Ta’ala adalah dengan kehendak-Nya juga, diantaranya firman Allah Ta’ala:

وَلَوْ شِئْنَا لَآتَيْنَا كُلَّ نَفْسٍ هُدَاهَا

“Dan kalau kami menghendaki niscaya akan kami berikan kepada tiap–tiap jiwa petunjuk (bagi) nya”. (QS. As-Sajdah: 13)

وَلَوْ شَاء رَبُّكَ لَجَعَلَ النَّاسَ أُمَّةً وَاحِدَةً

“Jikalau Tuhanmu menghendaki, tentu Dia menjadikan manusia umat yang satu”. (QS. Huud: 118)

Oleh karena itu, tidaklah sempurna keimanan seseorang kepada takdir kecuali dengan mengimani bahwa kehendak Allah Ta’ala meliputi segala sesuatu. Tak ada yang terjadi kecuali dengan kehendak-Nya. Tak mungkin ada sesuatu yang terjadi di langit ataupun di bumi tanpa dengan kehendak Allah Ta’ala.

  1. Al–Kholq (Penciptaan)

Yaitu mengimani bahwa Allah Ta’ala saja pencipta segala sesuatu baik dzatnya, sifatnya, gerak dan diamnya. Segala sesuatu selain Allah Ta’ala baik yang ada di langit dan di bumi penciptanya tiada lain kecuali Allah Ta’ala. Sangat banyak dalil yang menunjukan kepada perkara ini, diantaranya firman Allah Ta’ala:

اللَّهُ خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ ۖ وَهُوَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ وَكِيلٌ

Allah Ta’ala menciptakan segala sesuatu dan Dia memelihara segala sesuatu”. (QS. Az-Zumar: 62)

Allah Ta’ala juga berfirman,

وَاللَّهُ خَلَقَكُمْ وَمَا تَعْمَلُونَ

Padahal Allah Ta’ala-lah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat itu”. (QS. Ash-Shôffât:96 )

Jadi segala sesuatu yang ada di langit ataupun di bumi penciptanya tiada lain adalah Allah Ta’ala. Beriman kepada takdir seperti yang telah dijelaskan diatas tidak menafikan akan adanya kehendak bagi makhluk, karena Allah Ta’ala tetap memberikan bagi mereka kebebasan untuk berkehendak dan memilih, sehingga mereka dapat menentukan apa yang ingin mereka lakukan, dan meninggalkan apa yang tidak ingin mereka lakukan. Baik hal itu dalam kebaikan maupun keburukan. Akan tetapi kehendak makhluk terjadi atas kehendak Allah Ta’ala juga. Allah Ta’ala berfirman:

لِمَنْ شَاءَ مِنْكُمْ أَنْ يَسْتَقِيمَ. وَمَا تَشَاءُونَ إِلَّا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ

“(Yaitu) bagi siapa di antara kalian yang mau menempuh jalan yang lurus. Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah Ta’ala, Tuhan semesta alam.” (QS. At-Takwîr: 28]

Dan Firman Allah Ta’ala:

إِنَّ هَذِهِ تَذْكِرَةٌ فَمَنْ شَاءَ اتَّخَذَ إِلَى رَبِّهِ سَبِيلًا

“Sesungguhnya ini adalah suatu peringatan. Maka barangsiapa yang mau maka dia akan menempuh jalan (yang menyampaikannya) kepada Rabbnya”. (QS. Al-Muzammil: 19)

Ringkasnya, kita harus mengimani dan mengamalkan seluruh dalil – dalil baik dari al-Quran maupun sunnah yang menunjukan bahwa ilmu Allah Ta’ala meliputi segala sesuatu, dan Allah Ta’alalah yang telah menciptakan segala sesutu tersebut dan telah mencatatnya, tidak terjadi kecuali dengan kehendaknya. Sebagaimana kita juga harus meyakinin seluruh dalil yang menunjukan bahwa memiliki kehendak untuk melakukan sesuatu atau tidak melakukannya, yang baik atau yang buruk karena semua itu telah ditetapkan oleh Allah Ta’ala.

Tidak Boleh Beralasan Dengan Takdir untuk Berbuat Maksiat

Seorang hamba tetap diperintahkan untuk berusaha dan bersungguh-sungguh dalam beramal. Melakukan sebab-sebab yang bisa mengantarkannya pada kebaikan dan kebahagiaan dan meninggalkan apa saja yang dapat mendatangkan kesengsaraan didunia maupun diakhirat kelak. Justru dengan tetap melakukan usaha–usaha tersebut dengan tetap mengimani takdir adalah merupakan kesempurnaan iman dia kepada takdir Allah Ta’ala, karena dia telah mengamalkan seluruh dalil-dalil yang menunjukan hal tersebut. Diantara dalil-dali yang menyuruh kita untuk tetap berusaha dan beramal adalah firman Allah Ta’ala.

Apabila telah ditunaikan sholat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah Ta’ala dan ingatlah Allah Ta’ala banyak-banyak supaya kamu beruntung”. (QS. Al-Jumu’ah: 10)

Allah Ta’ala juga berfirman yang artinya: “Maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebahagian dari rezeki-Nya”. (QS. Al-Mulk: 15).

Dan masih banyak lagi dalil-dalil yang memerintahkan kita untuk berbuat dan usaha, seperti dalam berdoa, sholat, zakat, puasa, haji, dll. Yang semua itu bisa mendatangkan keridoan Allah Ta’ala. Jadi tidak ada celah sedikitpun bagi seorang hamba untuk berdalil dengan takdir demi melegalkan hawa nafsunya untuk melakukan pelanggaran hukum-hukum Allah Ta’ala (syari’at).

Beralasan dengan takdir seperti ini adalah alasan yang batil dan tidak dapat diterima. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata: “Tidak seorangpun diperbolehkan untuk berdalih dengan takdir dalam melakukan maksiat, dan ini adalah menurut kesepakatan kaum muslimin dan agama-agama yang lain serta orang yang berakal, karena jika hal itu dibolehkan maka setiap orang akan melakukan yang terlintas dibenaknya, membunuh jiwa, atau mencuri atau berbagai macam kerusakan dimuka bumi kemudian dia berdalil dengan takdir (untuk membebaskan dirinya dari hukuman)”.[9]

Semoga Allah Ta’ala memberikan taufiq-Nya kepada kita semua untuk beriman kepada takdir-Nya dengan benar. Wallôhu a`lam bishshowâb.

[1] Syarh Al-Ushul Ats-Tsalatsah, Syaikh Muhammad bin Sholih Utsaimin (Hal. 111).

[2] Al-Iman bil Qodho’ wal Qodar , Syaikh Muhammad bin Ibrohim Al-Hamd (Hal. 36)

[3] HR. Tirmidzi (No. 2144). Hadits shohih, dishohihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Silsilah Ash-Shohihah (No. 2439)

[4] Dikeluarkan oleh Imam Ahmad (5/317) dan Tirmidzi (No. 4155). Syaikh Al-Albani berkata setelah melihat jalur periwatannya: “Hadits ini adalah hadits shohih tanpa ada keraguan sedikitpun”. Hasyiyah Misykat Al-mashôbîh, (1/34).

[5] Syarh Shohih Muslim oleh Imam An-Nawawy (1/155)

[6] Fathul Bari (11/287).

[7] Muhktashar Al-Iman bil Qodho’ wal Qodhar , Syaikh Muhammad bin Ibrohim Al-Hamd (Hal. 12–15), dengan ringkasan, lihat juga Syarh Al-Ushul Ats-Tsalatsah, Syaikh Ibnu Utsaimin (Hal. 111 – 112).

[8] HR. Muslim (No. 2654)

[9] Dinukil dari kitab Mukhtashar Al-Iman Bilqodho’ wal Qodar (Hal. 32)


Sumber: Majalah Lentera Qolbu, tahun ke-4 Edisi ke-9

Sumber gambar: kitamuslim1.wordpress.com

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.