Pondok Pesantren Darul Qur'an Wal-Hadits Martapura OKU

BEKAL MENUJU AKHIRAT (BAGIAN 1)

bekal menuju akhirat

BEKAL MENUJU AKHIRAT – Segala puji hanya milik Allah Azza Wajalla yang telah memberikan kehidupan dunia ini kepada kita, sadarkah anda bahwa kehidupan saat ini merupakan kehidupan yang sementara dan masih ada kehidupan yang haqiqi? sadarkah anda bahwa kehidupan didunia ini merupakan kehidupan yang penuh dengan ujian dan cobaan? Apabila anda menyadarinya sudahkah anda mempersiapkan bekal untuk menuju kehidupan akhirat? Maka pada tulisan ini sedikit perkara yang bisa kami paparkan sebagai bekal kehidupan akhirat kelak. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah limpahkan kepada Nabi Muhammad Sallalahu Alaihi Wasallam, para keluarganya, sahabat-sahabatnya dan orang-orang yang mengikutinya hingga akhir zaman, diantara tanda kesempurnaan iman seseorang ialah mengimanini adanya hari kiamat, hari kebangkitan yang mana pada hari itu tidaklah bermanfaat lagi harta, anak-anak yang kita miliki, pada hari ini seseorang lari dari saudaranya, lari dari ibu dan bapaknya, dari istri dan anak-anaknya, pada hari ini setiap orang memiliki kesibukan tersendiri dan tidak bisa saling tolong -menolong, pada hari ini setiap orang hanya bisa tertolong dengan amalan shalihnya.

Allah Subhanahu Wata’ala berfirman:

يَوْمَ لَا يَنْفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ (88) إِلَّا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ (89) [الشعراء 88-89]

Artinya: “Pada hari tidak bermanfaat lagi harta dan anak-anak (88) kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih (89)”. (QS. Asy-Syu’ara’: 88-89)

Allah Subhanahu Wata’ala berfirman:

يَوْمَ يَفِرُّ الْمَرْءُ مِنْ أَخِيهِ (34) وَأُمِّهِ وَأَبِيهِ (35) وَصَاحِبَتِهِ وَبَنِيهِ (36) لِكُلِّ امْرِئٍ مِنْهُمْ يَوْمَئِذٍ شَأْنٌ يُغْنِيهِ (37) [عبس : 34 – 37]

Artinya: “pada hari itu manusia lari dari saudaranya (34) dan dari ibu dan bapaknya (35) dan dari istri dan anak-anaknya (36) setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang menyibukkannya (37)”.  (QS. Abasa: 34-37).

Para pembaca yang semoga dirahmati Allah Azza Wajalla, sejatinya kita hidup didunia ini sedang melakukan perjalanan menuju kehidupan akhirat ingatlah nasihat Rosulullah kepada  ibnu umar beliau bersabda: “Hiduplah kamu di dunia seakan-akan seperti orang asing, atau seperti seorang pengembara. “Ibnu ‘Umar lantas berkata kepada sahabat yang lain“Jika engkau berada di petang hari, janganlah tunggu sampai datang pagi. Jika engkau berada di pagi hari, janganlah tunggu sampai datang petang. Manfaatkanlah waktu sehatmu sebelum datang sakitmu. Manfaatkanlah pula waktu hidupmu sebelum datang matimu.” (HR. Bukhari, no. 6416)

Allah Azza wajalla memerintahkan hamba-hambanya untuk berbekal sebagaimana Allah berfirman:

وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى وَاتَّقُونِ يَا أُولِي الْأَلْبَابِ (197) [البقرة : 197]

Artinya: “dan berbekallah kalian, sungguh sebaik-baik bekal adalah taqwa, dan bertakwalah kepada-Ku hai orang-orang yang berakal” (QS. Al-Baqarah: 197)

Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata, “Bekal yang sebenarnya harus dipenuhi di dunia dan di akhirat adalah bekal takwa, ini adalah bekal yang harus dibawa untuk menuju negeri akhirat yang kekal nan abadi. Bekal ini dibutuhkan untuk menggapai kehidupan yang sempurna dan penuh kelezatan yaitu negeri akhirat, Siapa saja yang meninggalkan bekal ini, perjalanannya akan terputus dan akan mendapatkan berbagai kesulitan, bahkan ia tak bisa sampai pada negeri orang yang bertakwa (yaitu surga).” (Taisir Al-Karim Ar-Rahman: 92)

Allah Subhanahu Wata’ala berfirman:

يَا بَنِي آدَمَ قَدْ أَنْزَلْنَا عَلَيْكُمْ لِبَاسًا يُوَارِي سَوْآتِكُمْ وَرِيشًا وَلِبَاسُ التَّقْوَى ذَلِكَ خَيْرٌ ذَلِكَ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ لَعَلَّهُمْ يَذَّكَّرُونَ (26) [الأعراف : 26]

Artinya: “Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutupi auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian takwa itulah yang paling baik. Yang demikian itu adalah sebahagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah, mudah-mudahan mereka selalu ingat”. (QS. Al-A’raf: 26).

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin menjelaskan bahwa pakaian itu ada dua macam yaitu: pakaian dzahir (pakaian yang tampak) dan pakaian maknawi (pakaian yang tidak tampak). Pakaian dzahir yaitu yang menutupi aurat dan ini sifatnya primer. Termasuk pakaian dzahir juga adalah perhiasan yang disebut dalam ayat di atas dengan (riisya) yang berarti perhiasan. Pakaian maknawi adalah pakaian takwa, dan Pakaian ini lebih baik daripada pakaian dzahir.

Setelah menyebutkan dua macam pakaian di atas, Syaikh Ibnu ‘Utsaimin menjelaskan, “ apabila pakaian takwa lebih baik daripada pakaian lahir maka sepatutnya bagi manusia dia berfikir, Kita dapati bahwa orang-orang begitu semangat sekali memperhatikan kebersihan pakain zdahir, Jika ada kotoran yang menempel di pakaiannya, maka ia akan mencucinya dengan air dan sabun sesuai kemampuannya, Namun untuk pakaian takwa, kebanyakan manusia tidak memperhatikannya. Padahal Allah berfirman bahwa pakaian takwa itu lebih baik, dan ini merupakan isyarah bahwa lebih utama untuk memperhatikan pakaiaan takwa dari pada lebih perhatian terhadap pakaian dzahir, karna pakaian takwa itu lebih penting.

Maka sepantasnya bagi manusia memperhatikan pakaian takwa ini, yang dengannya dia bertakwa kepada Allah Azza wa Jalla, dan hendaknya senantiasa berfikir tentang perbuatan buruk dan maksiat yang dilakukannya, dan ketahuilah bahwa membersihkan dosa dan maksiat lebih mudah dari pada membersihkan noda pakaian dzahir, membersihkan noda pada pakaian dzahir butuh modal materi dan mendatangkan pelayan, namun untuk membersihkan noda pakaian batin urusannya sangat mudah, sebagaimana Allah berfirman yang artinya: “Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain daripada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui”. (QS. Ali-imran : 135). Maka dengan  taubat dan istinghfar Allah mengampuni dosa-dosa yang telah berlalu ”. (Syarh Riyadh Ash-Shalihin, 4: 266-267)

Diantara bekal-bekal yang dapat kita usahakan antara lain

  1. Beriman dan beramal shalih

Beriman kepada Allah Azza wajallah merupakan suatu keharusan bagi seorang hamba, bahkan beriman kepada Allah merupakan pondasi utama dalam keimanan, dengan adanya iman yang benar pada jiwa seseorang akan membuahkan amal sholih, dan apabila terkumpul iman dan amal solih pada jiwanya akan menumbuhkan kehidupan yang baik didunia maupun di akhirat kelak, dan  Allah masukkan surga serta diberikan rezeki yang tidak terbatas. Bahkan orang yang beriman dan beramal sholih akan mendapatkan pahala yang berlipat ganda sebagaimana Allah Azza wa Jalla berfirman:

وَمَا أَمْوَالُكُمْ وَلَا أَوْلَادُكُمْ بِالَّتِي تُقَرِّبُكُمْ عِنْدَنَا زُلْفَى إِلَّا مَنْ آمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا فَأُولَئِكَ لَهُمْ جَزَاءُ الضِّعْفِ بِمَا عَمِلُوا وَهُمْ فِي الْغُرُفَاتِ آمِنُونَ (37) [سبأ : 37]

Artinya: “Dan sekali-kali bukanlah harta dan bukan (pula) anak-anak kamu yang mendekatkan kamu kepada Kami sedikit pun; tetapi orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal (saleh, mereka Itulah yang memperoleh balasan yang berlipat ganda disebabkan apa yang telah mereka kerjakan; dan mereka aman sentosa di kamar-kamar (dalam surga).” (QS. Saba’: 37).

Allah Subhanahu Wata’ala berfirman:

مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ (97) [النحل : 97]

Artinya: “barang siapa yang mengerjakan amal sholih, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sungguh kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sungguh kami akan berikan balasan kepada mereka pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan”. (QS. AN-Nahl:97).

Allah Subhanahu Wata’ala berfirman:

وَمَنْ يَعْمَلْ مِنَ الصَّالِحَاتِ مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَأُولَئِكَ يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ وَلَا يُظْلَمُونَ نَقِيرًا (124) [النساء : 124]

Artinya: “Barang siapa yang mengerjakan amal-amal saleh, baik laki-laki maupun wanita sedang ia orang yang beriman, maka mereka itu masuk ke dalam surga dan mereka tidak dianiaya walau sedikit pun.” QS. An-Nisa’: 124).

Allah Subhanahu Wata’ala berfirman:

وَمَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَأُولَئِكَ يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ يُرْزَقُونَ فِيهَا بِغَيْرِ حِسَابٍ (40)  [غافر : 40]

Artinya: “dan barang siapa yang beramal sholih baik dari laki-laki maupun perempuan dan dia beriman, maka bagi mereka masuk surga, merka mendapat rezeki didalamnya tanpa terbatas”. (QS. Ghafir: 40).

  1. Mengajarkan Ilmu

Ilmu disini yaitu ilmu yang bermanfaat, ilmu yang sesuai dengan Al-qur’an dan As-Sunnah, ilmu yang bisa mengantarkan seseorang agar paham tentang agama islam, mengenal Allah Azza wa Jalla, mentauhidkan Allah dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun. Ilmu yang dengannya bisa membedakan yang benar dengan yang salah, bisa membedakan yang halal dengan yang haram, dengan mengajarkan ilmu seseorang akan mendapatkan pahala yang terus mengalir, dan mengajarkan ilmu agama merupakan sebaik-baik profesi, contoh orang yang mengajar ilmu tajwid, ilmu membaca Al-qur’an, mempelajari dan mengajarkan Al-Qur’an, mereka akan terus mendapatkan pahala walaupun mereka telah meninggal.

Rosulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:

إذا مات الإنسان انقطع عنه عمله إلا من ثلاثة إلا من صدقة جارية أو علم ينتفع به أو ولد صالح يدعو له” (صحيح مسلم :1631)

Artinya: “Jika manusia itu mati, maka akan putus amalannya kecuali dari tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, anak sholih yang mendo’akan orang tuanya.” (HR. Muslim no. 1631)

Rosulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:

خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ

Artinya: “sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar al-qur’an dan mengajarkannya”. (HR Bukhari: no 5202).

Termasuk orang yang mengajarkan ilmu adalah orang yang berdakwah dijalan Allah Azza wa jalla sesuai dengan petunjuk Nabi Sallallahu alaihi wa Sallam, Allah menyanjung Para pendakwah dan menyatakan bahwa dakwah kepada Allah merupakan sebaik-baik perkataan.

Allah Shallallahu Alaihi Wasallam berfirman:

وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلًا مِمَّنْ دَعَا إِلَى اللَّهِ وَعَمِلَ صَالِحًا وَقَالَ إِنَّنِي مِنَ الْمُسْلِمِينَ (33) [فصلت : 33]

Artinya: “Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh dan berkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri?” (QS. Fushilat:33).

  1. Membangun masjid

Membangun masjid merupakan perbuatan yang sangat baik karena Masjid merupakan tempat yang paling dicintai oleh Allah, tempat yang diperintahkan disebut Nama-nama Allah, tempat dilaksanakanya shalat, membaca, mempelajari dan mengkaji Al-Qu’an, membangun masjid merupakan sedekah jariyyah yang pahalanya akan terus mengalir walaupun orang yang membangunnya telah meninggal, bahkan Allah akan membalas yang lebih baik bagi orang yang membangun masjid yaitu berupa bangunan rumah di Surga.

Rosulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:

مَنْ بَنَى مَسْجِدًا يَبْتَغِى بِهِ وَجْهَ اللَّهِ بَنَى اللَّهُ لَهُ مِثْلَهُ فِى الْجَنَّةِ.

Artinya: “barang siapa membangun masjid dengan mengharapkan wajah Allah Azza wa Jalla[1],Allah bangunkan rumah semisalnya disurga” (HR. Bukhari: 450 dan muslim :7661)

Rosulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda yang artinya: “Jika manusia itu mati, maka akan putus amalannya kecuali dari tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, anak sholih yang mendo’akan orang tuanya.” (HR. Muslim no. 1631)

Para pembaca yang semoga dirahmati Allah, akhirnya kita memohon kepada Allah agar memberikan taufiq dan hidayah-Nya kepada kita sehingga kita bisa mengamalkan amal-amal shalih sebagai bekal menuju kehidupan akhirat, insyaallah bekal-bekal menuju akhirat bagian Dua akan segera menyusul, barokallahu fiikum jamiian.

 

[1] (ikhlas, mengharapkan pahala dari Allah Azza wa Jalla)

Sumber artikel:

  • Al-fawaid al-mantsurah, abdur-rozzaq bin abdil muhsin al-badr, dar al-munghni.
  • Syarhu riyadish-shalihin, syaikh Muhammad ibnu utsaimin, dar al-wathan tahun 1426 hijriyah.

Penulis : Abu Abdirrahman (jupriyanto) [pengajar ponpes Darul Qur’an Wal hadits oku timur].

 

BACA JUGA:

Be the first to comment

Ajukan Pertanyaan atau Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.