Pondok Pesantren Darul Qur'an Wal-Hadits Martapura OKU

APAKAH ENGKAU MEMILIKI BEBERAPA ORANG PUTRI?

PUTRI

 

APAKAH ENGKAU MEMILIKI BEBERAPA ORANG PUTRI? Sesungguhnya mereka termasuk diantara pintu-pintu surga dan merupakan sebab-sebab masuk ke dalamnya, juga sebagai penghalang dari adzab. Namun, dengan syarat engkau memperbaiki (membaguskan) interaksi dengan mereka dan hendaknya memperlakukan mereka sebagaimana yang Allah Ta’ala perintahkan.

 

Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda,

 

مَنْ كَنَ لَهُ ثَلَاثُ بَنَاتٍ فَصَبَرَ عَلَيْهِنَّ, وَ أَطْعَمَهُنَّ, وَسَقَهُنَّ, وَكَسَاهُنَّ مِنْ جِدَتِهِ كُنَّ لَهُ حِجَابًا مِنَالنَّارِ يَوْم

القِيَامَةِ

Artinya:

“Barangsiapa yang memiliki tiga orang putri, lalu ia bersabar atas mereka, memberi mereka makan, minum, dan pakaian dari usaha kerasnya, maka mereka akan menjadi penghalang baginya dari api neraka pada hari Kiamat kelak.[1]

 

Hal itu dapat terwujud jika ia mendidik mereka diatas syariat Allah, mengajari mereka agama, pemeliharaan diri, menjaga kesucian, dan berjilbab, juga ia senantiasa merasa diawasi oleh Allah dalam mengurus mereka. Khususnya pada masa sekarang ini, hendaknya diketahui siapa kawan dan teman dekat mereka, memberikan nasihat kepada mereka dan bermusyawarah. Apa yang baik untuk mereka maka diterapkan, meskipun mereka tidak menyukainya. Dan apa yang mengandung keburukan bagi mereka, maka ditolak dan disingkirkan, meski mereka menyukai dan menginginkannya. Karena pemborosan merupakan salah satu tabiat perempuan dan seorang ayah bermuamalah dengan putri-putrinya hanyalah dengan apa yang Allah Ta’ala ridhai. Jika engkau melakukan hal itu maka kabar gembira untukmu, berupa surga.

Perkara ini tidak mudah, karena orang yang memiliki anak perempuan berada di tapal batas yang agung (dia seumpama orang yang berjaga di daerah perbatasan dengan daerah musuh). Sekiranya setiap ayah menegakkan kewajibannya di hadapan Allah terhadap putri-putrinya, niscaya kita tidak akan melihat sejumlah besar wanita yang tergelincir dan terfitnah saat ini. Yang akhirnya, mereka menjadi permainan di tangan orang-orang jahat dan hamba syahwat. Orang-orang tersebut membolak-balikkan para wanita ini sekehendak mereka. Maka, keburukan dan bala manakah (yang lebih dahsyat) yang menimpa kita disebabkan kurangnya perhatian kita terhadap pendidikan anak-anak perempuan kita?

Sesungguhnya kesibukan seseorang dalam mendidik putri-putrinya dan membaguskan pendidikannya, itu lebih baik daripada keliling negeri untuk berdakwah, menuntut ilmu, berdagang, atau yang lainnya, jika tidak ada yang menegakkan hal itu selainnya. Karena hal tersebut hakikatnya merupakan kewajibannya, dan melakukannya lebih wajib daripada dakwah dan menuntut ilmu, karena keduanya merupakan fardhu kifayah. Dan perbuatannya tersebut termasuk bab menyibukkan diri dengan hal penting dari yang lebih penting.[2]

Dahulu para salafus shalih mencarikan untuk anak-anak mereka segala hal yang dapat memperbaiki akhirat mereka, tidak sekedar memberi makan dan menggemukkan mereka layaknya binatang ternak, sebagaimana yang dilakukan sebagian orang di zaman sekarang ini.

Said bin Al-Musayyib Rahimahullah, salah seorang pemuka tabi’in, ia menikahi putri Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu. Ia seorang pemimpin dalam hal keilmuan, zuhud dan riwayat, hingga ketenarannya meliputi ufuk. Keadaan buruk menimpanya berupa ujian bersama khalifah Bani Umayyah bernama Abdul Malik bin Marwan terkait baiat.

Said memiliki seorang putri. Abdul Malik ingin meminangnya untuk putranya yang bernama Al-Walid. Namun, Said menolak pinangan tersebut, sampai-sampai Abdul Malik mencambuknya seratus kali cambukan dan menyiram nya dengan sewadah air dihari yang sangat dingin.

Kemudian, suatu ketika Said kehilangan salah seorang muridnya. Ketika muridnya itu datang kepadanya, ia pun menanyakan tentang sebab keterlambatannya. Muridnya tersebut lantas mengabarkan kepadanya bahwa istrinya telah meninggal dunia. Said lantas menawarkan kepadanya untuk menikah. Muridnya berkata, “siapakah yang mau menikahkanku sementara aku hanya memiliki dua atau tiga dirham?” Said berkata, “Aku” maka tidaklah berlalu malam melainkan istrinya telah berada di rumahnya. Tidakkah engkau melihat orang yang menginginkan akhirat? Demikianlah, jika tidak seperti itu, maka hendaknya para ayah menangisi diri mereka sendiri.

Apakah engkau mengira anak gadis tersebut murah di mata ayahnya atau hina baginya? Sekali-kali tidak, sungguh dunia telah datang sambil berlutut kepada putrinya tersebut. Namun, ia menolaknya dan memilih akhirat ketika Said (bapaknya) ia menikahkannya dengan seorang penuntut ilmu yang taat dari salah seorang muridnya, yang ia mengenal dan mengetahui seluk-beluk mereka. Lalu apa yang terjadi setelah itu?

Muridnya tersebut berkata, “Lalu aku masuk menghampirinya. Maka aku dapati ia adalah gadis yang paling cantik, paling hafal akan kitab Allah, paling mengetahui sunnah Rasulullah ﷺ, dan paling mengerti hak suaminya. “

Tidakkah engkau melihat sifat-sifat tersebut? Tidaklah Abdul Malik datang dan memiliki kepentingan kepada orang yang enggan membaiat kedua putra melainkan karena kemuliaan tersebut.

Lalu bagaimana selanjutnya? Muridnya tersebut berkata,” setelah berlalu satu bulan aku mengunjunginya (Said) maka ia menanyakan keadaanku dan putrinya, lantas akupun mengabarkan kepadanya bahwa aku dalam kondisi baik. Said berkata memberi wejangan, “Jika engkau menemukan hal yang meragukanmu (berupa akhlak yang buruk pada istrimu), maka pukullah ia (hingga kembali taat kepadamu).” Tak lupa ia memberiku dua puluh dirham.”[3]

Dimanakah para ayah yang beranggapan bahwa memberi bantuan kepada menantu sebagai pelecehan, perendahan diri, dan ketergantungan? Tidakkah mereka mencontoh Said bin Musayyib? Sesungguhnya Said memberikan bantuan itu bukan semata-mata untuk menantunya, tetapi untuk putrinya. Ia ingin agar kehidupan agama putrinya tetap lempeng, terjaga kemuliaan dan kesuciannya.

Berbeda sekali dengan apa yang dilakukan oleh sebagian orang di zaman ini, yang lebih memilih menikahkan putrinya dengan orang berharta (tanpa memperdulikan aspek agamanya). Alih-alih menjaga putrinya, ia malah menjerumuskannya. Ia pamerkan putrinya di hadapan khalayak ramai, bahkan memaksanya untuk melakukan kejahatan dan kemaksiatan. Sehingga (dengan itu) ia telah menyeret putrinya menuju sejelek-jelek tempat menetap, yaitu neraka.

Hal itu dilakukan hanya untuk mengejar dunia dan segala kenikmatannya. Padahal, dunia dan segala kenikmatannya ini hampir-hampir (sebentar lagi) akan berakhir. Lalu yang tersisa hanya akibat (berupa penyesalan dan kerugian) dari perbuatannya tersebut.

Wahai yang memiliki keutamaan, sesungguhnya urgensi mendidik anak merupakan perkara yang besar, kebanyakan orang meremehkan hal itu. Ini karena mereka belum tertimpa malapetaka sebagai akibatnya dan karena Allah dengan karunia-Nya memberikan penjagaan-Nya langsung pada anak-anak mereka. (penjagaan ini) bukan karena kesungguhan bapak-bapak mereka dalam mendidik mereka. Namun mungkin karena kebaikan yang kedua orang tua mereka lakukan dahulunya, atau mungkin juga kebaikan yang dilakukan oleh pendahulu orang tua mereka tersebut (kakek dan nenek dan terus ke atas) di sisi Allah. Oleh karena itu, Allah membalas kebaikan sebagai gantinya denga penjagaan terhadap anak keturunannya.

Telah datang riwayat terkait tafsir surat Al-Kahfi,

 

وَأَمَّا الجِدَارُ فَكَانَ لِغُلَمَيْنِ يَتِيْمَيْنِ فِى المَدِيْنَةِ وَكَانَ تَحْتَهُ, كَنْزُ لَّهُمَا وَكَانَ أَبُوْهُمَا صَلِحًا فَأَرَادَرَبُّكَ أَيَبْلُغَآ

أَشُدَّهُمَا وَيَسْتَخْرِجَا كَنْزَ هُمَا رَحْمَةًمِّنْ رَّبِّكَ

Artinya:

“Dan adapun dinding rumah itu adalah milik dua anak yatim di kota itu, yang di bawahnya tersimpan harta bagi mereka berdua, dan ayahnya seorang yang shaalih. Maka Tuhanmu menghendaki agar keduanya sampai dewasa dan keduanya mengeluarkan simpanan itu sebagai rahmat dari Tuhanmu. (QS. Al-Kahfi:82).

 

Dari Ibnu Abbas Radhiyallahu Anhuma , bahwa keduanya dijaga karena keshalihan ayah keduanya, dan tidak disebutkan karena keshalihan keduanya.

Dari Muhammad bin Ja’far, bahwa jarak antara keduanya dengan nenek moyang yang karenanya kedua anak tersebut dijaga adalah tujuh keturunan ke atas.[4]

Lihatlah semoga Allah menjagamu sesungguhnya bukanlah sebuah keharusan, bahwa keshalihan seorang anak lantaran keshalihan dan didikan orang tua. Berapa banyak kita jumpai anak-anak yang keshalihannya berada di puncak tinggi sedangkan orang tuanya dalam keterpurukan akhlak, begitu pun sebaliknya.

Maksudnya, meski gal itu telah ditetapkan, tapi tidak selayaknya orang tua menjadikannya sebagai alasan untuk melegalkan rasa malasnya dan melonggarkan pengawasan terhadap anak-anaknya tanpa mendidiknya, “Hidayah itu milik Allah, jika Allah hendak memberi hidayah kepadanya maka ia pun akan mendapatkan hidayah tersebut.” Lalu ia memberikan contoh anak tetangga yang Allah memberi hidayah kepadanya setelah kesesatan tanpa pendidikan.

Ini adalah kesalahan besar. Tidak diragukan lagi bahwa segala sesuatu berada di tangan Allah. Akan tetapi engkau juga diperintah untuk bersungguh-sungguh dalam memberi pendidikan, setelah itu berjalanlah takdir Allah dengan apa yang telah ditetapkan sebelumnya dalam ilmu-Nya.

Sebab engkau tidak tahu, boleh jadi anak tetangga yang Allah berikan hidayah kepadanya, ia mendapatkan hidayah tersebut lantaran satu perkara yang engkau belum pernah lakukan sebelumnya (untuk anak-anakmu), dengan demikian engkau telah menyia-nyiakan mereka, mengundang bencana, dan jatuh pada penyesalan. Betapa ruginya rasa penyesalan itu ketika perasaan itu tidak bermanfaat lagi.

Secara lebih spesifik dari urgensi pendidikan bagi anak laki-laki, yaitu urgensi pendidikan bagi anak-anak perempuan, karena mereka diciptakan sangat lemah dan penuh kekurangan. Dan di zaman kita sekarang ini banyak sekali fenomena tipu daya dari para penyeru kenistaan dan kefasikan. Hal itu merupakan suatu perkara yang mudah menimpa para pemudi yang masih labil. Sebab utama dari ini semua adalah ketidakpedulian ayah dan ibu, kepercayaan buta pada si anak, dan meninggalkan begitu saja sebab-sebab kerusakan yang bersarang pada jiwa-jiwa putrinya tanpa mau menolak, memperingati, dan menasihati. Maka, apa yang bisa diharapkan dari jiwa-jiwa yang seperti ini kondisinya? Naudzubillah.

Semoga Allah Subhanahu Wata’ala  senantiasa memberikan kita ilmu dan bertanggung jawab dalam mendidik anak-anak kita sesuai pemahaman al-Qur’an dan sunnah Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallm, Aamiin.

 

REFERENSI:

Sumber: Buku yang  berjudul Kiat Sukses Membentuk Karakter dan Jati diri/ Ahmad bin Shalih Az-Zahrani; penyunting: Team Darus Sunnah.

Diringkas oleh: Lailatul Fadilah (pengajar ponpes Darul Qur’an Wal Hadits OKU Timur)

 

[1] HR. At-Tirmidzi di dalam Kitab Al-Birr wa Ash-Shilah.

[2]  Hal ini tentu jika ada dua hal yang saling bertentangan. Maksudnya, jika ia sibuk berdakwah dan menuntut ilmu, lalu melalaikan pendidikan anak-anak perempuannya. Tak diragukan lagi bahwa safar untuk dakwah dan menuntut ilmu adalah sebuah keutamaan, bukan hal yang pokok. Sebab menuntut ilmu yang wajib atau berdakwah bisa dilakukan di negeri sendiri dan lingkungan tempat tinggalnya sendiri.

[3] Lihatlah kisahnya di dalam As-siyar (4/233)

[4] Tafsir Ibnu Jarir (8/268)

Baca Juga Artikel:

Andai Aku Tidak Menikah Dengannya (Bagian 6)

Bercanda pun Ada Adabnya

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.