Pondok Pesantren Darul Qur'an Wal-Hadits Martapura OKU

Aku Bukanlah yang Terbaik

aku bukanlah yang terbaik

Aku Bukanlah yang Terbaik

 

Belajar Memahami Kekurangan Setiap Pasangan

Segala puji bagi Allah Subhanahu Wata’ala, kita memuji-Nya dan meminta pertolongan, pengampunan, dan petunjuk-Nya. Kita berlindung kepada Allah Subhanahu Wata’ala dari kejahatan diri kita dan keburukan amal kita. Barang siapa yang mendapat dari petunjuk Allah Subhanahu Wata’ala maka tidak akan ada yang menyesatkannya, dan barang siapa yang sesat maka tidak ada pemberi petunjuk baginya. Aku bersaksi bahwa tidak ada Illah yang berhak diibadahi dengan benar selain Allah Subhanahu Wata’ala dan bahwasanya Nabi Muhammad Shallalahu Allaihi Wasallam adalah hamba dan Rasul-Nya.

 

Awalnya semua terasa indah. Namun, ketika badai mulai menyapa  batu karang ujian mulai menghadang, petir-petir kemarahan menyambar, awan pekat menyelimuti, akhirnya tangis pilu mengiris hati pun meledak tidak terbendung. Itulah manis pahit kehidupan. Semuanya harus diterima sebagai sunnatullah. Kadang kita menangis dan kadang kita tertawa. Semua itu berada dibawah kehendak Allah Subhanahu Wata’ala .

 

“Tak ada gading yang tak retak.” mungkin peribahasa ini sudah sering terlintas ditelinga kita. Kandungan peribahasa ini sering kita jumpai dalam kehidupan kita, apalagi dalam kehidupan berumah tangga yang penuh dengan problem.

 

Kehidupan berumah tangga akan indah jika masing-masing anggotanya mendapat ketentraman. Sementara itu, ketentraman akan terwujud jika sesama anggota keluarga saling menghargai dan memahami tugas masing-masing. Namun tatkala hal tersebut tidak ada, maka lubang kehancuran ada di depan mata.

 

Istri Adalah Belahan Jiwa Suami

Allah Subhanahu Wata’ala  telah menggariskan bagi setiap laki-laki untuk mencintai wanita. Seorang laki-laki yang masih bujang ketika punya keinginan kuat untuk membina rumah tangga, tentu ia akan menaruh harapan yang besar kepada calon istrinya. Dia berharap dan berdo’a agar rumah tangganya penuh dengan kedamaian, ketentraman dan kebaikan ketika hidup bersama. Allah Subhanahu Wata’ala berfirman :

ومن آياته أن خلق لكم من أنفسكم أزواجا لتسكنوا إليها وجعل بينكم مودة ورحمة إن في ذلك لأيات لقوم يتفكرون

Artinya:

“Dan diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dan jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tentram kepadanya, dan dijadika-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berikir. (QS. Al- Ruum:21)

 

Al-Syaikh Abdurrahman al-Said Rahimahullah berkata, “Allah Subhanahu Wata’ala menyebutkan bahwa pernikahan termasuk sebab-sebab yang mendatangkan rasa cinta dan sayang. Dengannya seorang suami mendapatkan kesenangan dari istrinya, kelezatan, manfaat dengan adanya anak dan mendidik anak, dan perasaan tentram kepadanya. Engkau tidak akan mendapati permisalan indah dalam perasaan cinta dan sayang seperti sepasang suami dan istri. Demikianlah, betapa besarnya harapan suami kepada istri tercinta pilihannya. Maka wahai para istri, sambutlah harapan suamimu dengan penuh kehangatan dan kesadaran diri akan agungnya cita-cita mulia ini.

 

Kekurangan Adalah Sifat Asli Manusia

 

Ya, tidak ada manusia yang sempurna di dunia ini, karena yang Maha Sempurna hanyalah Allah Subhanahu Wata’ala  semata. Allah Subhanahu Wata’ala  berirman:

وخلق الإنسان ضعيفا

“Dan manusia dijadikan bersiat lemah”(QS. An-Nisa:28)

 

Dosa dan sebagainya. Rasulullah Shalallaahu Alaihi Wasallam bersabda:

كل بني آدم خطاء, وخير الخطائين التوابون

Setiap anak adam banyak berbuat salah. Dan sebaik-baik orang yang berbuat salah

Adalah yang bertaubat”[1]

 

Ini adalah sunnatullah yang telah digariskan pada setiap manusia. Maka wahai para suami, betapapun besarnya harapanmu kepada istrimu yang merupakan belahan jiwamu, ingatlah bahwa istrimu juga manusia. Istrimu manusia biasa yang tidak lepas dari kekurangan. Dan tak lepas dari sifat-siat kewanitaan, maka janganlah engkau berharap tinggi bahwa istrimu paling sempurna, paling segalanya sehingga ketika engkau mendapatinya berbuat salah engkau akan kecewa berat dan menyesal. Renungilah hadits berikut ini, wahai para suami:

كمل من الرجال كثير, ولم يكمل من النساء : إلا آسية امرأة فرعون , ومريم بنت عمران

“Laki-laki yang sempurna banyak, sedang diantara kaum wanita tidak ada yang sempurna kecuali  Asiyah istri Fir’aun dan Maryam binti Imraan.”[2]

 

Janganlah engkau mimpi di siang bolong bahwa istrimu seperti khodijah atau ‘Aisyah jika dirimu saja bukan Rasulullah. Janganlah engkau mimpi istrimu seperti Fatimah jika engkau tidak seperti ‘Ali ibn Abi Thalib Radhiyallahu Anhu. Ini perlu disadari agar engkau berkaca diri sebelum menilai istrimu sendiri. Demikian pula engkau wahai para istri, suamimu adalah imam dalam rumah tanggamu. Terimalah kekurangan yang ada padanya dengan lapang dada, toh dia adalah jodoh yang telah Allah Subhanahu Wata’ala  pilihkan untukmu dan engkau menerimanya. Bersikaplah dewasa dengan memahami tugas masing-masing, Insya Allah kekurangan yang ada bisa teratasi. Bi’idznillah.

 

Tidak Mengeluh

Salah satu kekurangan wanita adalah sering mengeluh dan kurang pandai bersyukur. Rasulullah Shalallaahu Alaihi Wasallam bersabda:

((أريت النار فإذا أكثر أهلها النساء يكفرن)) قيل : أيكفرن بالله؟ قال: (( يكفرن العشير, ويكفرن الإحسان , لو أحسنت إلى إحداهن الدهر , ثم رأيت منك شئا, قالت ما رأيت منك خيرا قطا))

“Telah diperliatkan Neraka kepadaku, ternyata mayoritas penghuninya adalah wanita, mereka telah kufur (ingkar)!” ada yang betanya, apakah mereka kufur (ingkar) kepada Allah Subhanahu Wata’ala ? “Rasulullah Shalallaahu Alaihi Wasallam menjawab, “Tidak. Namun mereka mengingkari kebaikan suami. Sekiranya kalian senantiasa berbuat baik kepada salah seorang dari mereka sepanjang hidupnya, lalu ia melihat sesuatu yang tidak berkenan, ia (istri durhaka itu) pasti berkata, “saya sama sekali tidak pernah melihat kebaikan pada dirimu.’”[3]

Rasulullah Shalallaahu Alaihi Wasallam  juga mengatakan:

لا ينظر الله إلى امرأة لا تشكر لزوجها وهي لا تستغني عنه

“Allah Subhanahu Wata’ala tidak akan melihat seorang istri yang tidak mau bersyukur atas kebaikan suaminya padahal ia selalu butuh kepada suaminya.”[4]

 

Suami yang lelah setelah seharian mencari nakah keluarga, usahanya harus disyukuri oleh para istri. Janganlah istri selalu merasa kurang terhadap pemberian suami. Hendakknya istri bersyukur dan membisikkan kepada suaminya “Semoga Allah Subhanahu Wata’ala  membalas kebaikanmu dan memberkahi rezeki yang kita peroleh hari ini.”

 

Bila seorang suami mendengar ucapan ini, akan semakin cinta kepada istrinya. Namun bila yang ada istri bandingkan dengan suami orang lain, maka yang demikian dapat membuat sang suami kecewa dan malah membenci dirimu sendiri. Dan engkau wahai para suami, bersyukurlah terhadap istrimu. Dia adalah jodoh pilihan yang telah engkau terima. Ucapkanlah terimaksaih atas segala jasa baik yang telah dilakukan istri, dari mulai mengurus rumah, anak-anak, mengerjakan pekerjaan harian, melayani suami dan lain-lain dari tugas yang mulia.

 

Solusi memahami Kekurangan Pasangan

Rasulullah Shalallaahu Alaihi Wasallam telah memberikan resep jitu agar rumah tangga kita tidak berantakan hanya gara-gara kurang saling memahami kekurangan setiap pasangan. Tiada jalan terbaik dalam memahami kekurangan masing-masing pasangan kecuali dengan mengikuti sabda-sabda Nabi yang berbunyi:

لا يفرك مؤمن مؤمنة إن كره منها خلقا رضي منها آخر

Janganlah laki-laki mukmin membenci wanita mukminah (istrinya). Sebab jika ia membenci salah satu perangainya maka ia akan meyukai perangai yang lainnya.[5]

 

Imam An-Nawawi mengatakan, “Hendaknya seorang laki-laki jangan membenci wanita (istrinya), jika ia mendapati padanya ada perangai yang tidak disukai, maka pasti dia akan mendapati perangai lain yang dia senangi. Seperti misalnya, paras wajahnya kurang cantik tetapi dia taat beragama atau bagus akhlaknya, penyayang dan menjaga diri dan sebagainya.

 

Inilah resep mujarab yang telah diajarkan oleh Nabi kita yang mulia. Apa yang beliau  rumah tangga menjadi reda apabila masing-masing pasangan mau mengamalkan kandungan hadits ini. Istri yang melihat suaminya punya sifat pemarah, akan ridho dengan akhlak suaminya yang lain, seperti rajin beribadah, rajn mengikuti taklim, bersemangat mencari nafkah dan lain-lain. Dengan demikian keretakan dalam rumah tangga bisa ditambal dengan saling memahami kekurangan dan kelebihan masing-masing pasangan.

 

Bersabar dan Bersyukur

Dalam kehidupan keluarga, tidak dapat dipungkiri bahwa kita akan berhadapan dengan berbagai problem yang berkaitan erat dengan kelemahan/kekurangan dari masing-masing pasangan. Ini adalah bagian dari sunnatullah, setiap kita punya kelemahan disamping bahwa kita memiliki kelebihan/keistimewan yang tidak dimiliki oleh orang lain.

Demikian juga dengan kehidupan suami istri dalam keluarga. Kadang pada saat tertentu seorang suami yang harus bersabar dengan kelakuan istri yang kurang berkenan dihatinya, dan pada saat itu istri bersyukur karena memiliki suami yang sabar. Di lain kesempatan, giliran istri yang harus bersabar, melihat kekurangan/kelemahan suaminya. Mungkin inilah yang disyariatkan oleh Nabi kita dalam sabdanya yang artinya:

 

“Berilah nasihat kepada wanita (istri) dengan cara yang baik karena sesungguhnya wanita itu diciptakan dari tulang rusuk laki-laki yang bengkok. Sesungguhnya yang paling bengkok adalah sesuatu yang yang terdapat pada tulang rusuk yang paling atas. Jika hendak meluruskannya maka kalian akan mematahkannya sedang jika kalian membiarkannya maka ia akan tetap bengkok. Karena itu berilah nasihat kepada istri dengan baik.[6]

 

Sebagian dari ulama salaf berkata, “Ketahuilah bahwasanya tidak disebut akhlak yang baik terhadap istri hanya dengan menahan diri dari menyakitinya, namun dengan bersabar dari celaan dan kemarahanya. Inilah sebagian dari solusi dalam memahami perbedaan masing-masing pasangan. Maka hendaknya bagi setiap suami dan istri saling memahami tugas dan tanggung jawab masing-masing. Hendaknya mereka saling memahami kekurangan dan kelebihan masing-masing tidak berat sebelah. Wahai para suami dan istri bersyukurlah dan bersabarlah dalam mengarungi bahtera rumah tangga, demi terciptanya keluarga yang sakinah mawaddah wa rahmah.

 

Demikian artikel ini saya tulis, mudah-mudahan bermanfaat bagi penulis pribadi dan para pembaca pada umumnya dan mudah-mudahan ini menjadi amal jariyah untuk kita semua.

 

Diringkas dari  : BUNDEL MAJALAH AL-FURQON, edisi ke 7, Tahun ke-13

Diringkas oleh : Ayesa Artika A ( Staf Ponpes Darul Qur’an wal Hadits OKU Timur)

 

[1]HR. Ibn Majah: 4251. Dinilai hasan olehal-Syaikh al-Albani dalam Al-Misykas no. 2341

[2]HR. al-Bukhari: 3411, Muslim: 2431

[3]HR. al-Bukhari: 29, Muslim: 907

[4]HR. Al-Nasa’i

[5]HR. Muslim: 1469

[6]HR. al-Bukhari: 5186, Muslim: 1468

Baca Juga Artikel:

Kesempurnaan Iman Kepada Allah

Benarkah Cara Berislam Kita

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.