Pondok Pesantren Darul Qur'an Wal-Hadits Martapura OKU

Tauhidullah Hakikat Islam Part 1

Tauhidullah

Tauhidullah Hakikat Islam Part 1-Islam  itu rahmat bagi seluruh alam. itu statemen  yang sering sekali kita dengar titik namun Bagaimanakah Islam yang menjadi rahmat itu? Itulah yang ingin penulis Jelaskan pada kesempatan ini. tentunya sepanjang ilmu dan kemampuan yang Allah berikan kepada penulis dengan tidak menafikan kekurangan dan kesalahan yang berjalan sesuai dengan tabiat manusia.

 

Maka  dengan  senantiasa memohon Taufiq-nya dan inayah-nya penulis mulai penjelasan ini:

 

Diinul Islam adalah agama asal manusia

 

Itulah yang di maksud dengan fitrah dalam firman Allah subhanahu wa ta’ala dan sabda Suci nabi yang mulia Sallallahu Alaihi Wasallam di bawah ini. firman Allah  :

 

فَاَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّيْنِ حَنِيْفًاۗ  فِطْرَتَ اللّٰهِ الَّتِيْ فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَاۗ لَا تَبْدِيْلَ لِخَلْقِ اللّٰهِ ۗذٰلِكَ

الدِّيْنُ الْقَيِّمُۙ وَلٰكِنَّ اَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُوْنَۙ

 

Artinya:

Maka hadapkanlah wajahmu kepada agama yang Hanif ( tauhid). Fitri Allah, yang Allah telah menciptakan manusia atas dasar Fitrah tersebut. tidak ada perubahan pada ciptaan Allah. itulah agama yang lurus akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui” (QS.ar-Rum/30:33)

 

Tafsirnya: 

Yakni, Luruskanlah dirimu untuk senantiasa mentaatinya, Dan tetapkanlah dirimu dalam agama yang Allah telah syariatkan kepadamu, yaitu agama yang hanif, agama tauhid Islam, Yang disifatkan dengan sangat lurus dan sangat jauh dari segala macam kesyirikan. agama Islam itu lah yang Allah fitrahkan pada semua manusia. Imam Al Bukhari rahimahullah mengatakan, “Al Fitrah yakni al-islam.”

 

Al-hafizh Ibnu Hajar rahimakumullah mengatakan, bahwa pendapat yang paling masyhur tentang arti Fitrah adalah Islam. bahkan Al Imam Ibnu Abdil Bar Allah menegaskan, bahwa lafadz Fitrah dengan arti Islam telah dikenal oleh seluruh kaum Salaf. Dan , ahli ilmu tafsir telah ijma’ bahwa yang dimaksud dengan fitrah dalam firman Allah di atas adalah al-islam.

 

Kemudian Imam Ibnu qayyim rahimahullah telah memberikan kata putus, bahwa kaum Salaf tidak memahami lafaz Fitrah kecuali al-islam.

Adapun yang dimaksud dengan firman Allah : لَا تَبْدِيْلَ لِخَلْقِ اللّٰهِ

Ada dua tafsiran:

 

Pertama: Janganlah kamu mengganti ciptaan Janganlah kamu mengganti ciptaan Allah niscaya akan berubahlah manusia dari Fitrah mereka (Al Islam) Allah telah ciptakan mereka berdasarkan Fitrah tersebut.

 

Kedua: Tidak ada perubahan pada ciptaan Allah, yakni agama Allah. Bahwa Allah telah menciptakan semua manusia atas dasar agama Allah Al Islam sehingga Tidak seorangpun manusia melainkan dia lahir atas dasar agama Allah Al Fitrah yaitu Islam.

 

Ibnu Abbas, Ibrahim an-nakha’iy, Sa’id bin Jubair, Mujahid, Ikrimah, Qatadah, Bukhari  dan lain-lain ulama Salaf,  mereka menafsirkan firman Allah: لِخَلْقِ اللّٰهِ “Pada ciptaan Allah”

 

Ada ciptaan Allah dengan pada agama Allah azzawajal yakni, tidak akan ada perubahan pada agama Allah bahwa setiap manusia lahir atas dasar fitrah Islam.  Ibnu Abbas, Ibrahim an-nakha’iy, Sa’id bin Jubair, Mujahid, Ikrimah, Qatadah, Bukhari  dan lain-lain ulama Salaf,  mereka menafsirkan firman Allah:

 

ada ciptaan Allah dengan pada agama Allah  yakni, tidak akan ada perubahan pada agama Allah bahwa setiap manusia lahir atas dasar fitrah Islam.

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam sebagai penafsir dan mubayyin (yang menjelaskan) Al Qur’an bersabda :

 

Sesungguhnya Abu Hurairah radhiallahu Anhu pernah berkata: Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam telah bersabda,” Tidak seorangpun anak melainkan dilahirkan atas dasar fitrah. maka sesudah itu kedua orang tuanya lah yang menjadikannya Yahudi atau Nasrani atau majusi. sebagaimana binatang telah melahirkan binatang yang selamat anggota tubuhnya tanpa cacat, Apakah kamu melihat ada cacatnya? “.

 

Kemudian Abu Hurairah radhiallahu Anhu membaca ayat di atas:

Fitrah Allah yang Allah telah memfitrahkan manusia atas dasar Fitrah tersebut. tidak ada perubahan pada ciptaan Allah. itulah agama yang lurus “.  (HR. Bukhari( 1358, 1359, 1385, 4775 dan 6599 Muslim (2658)).

 

kemudian diantara dalilnya lagi Ialah hadits ‘Iyadh bin himar al-Mujasyi’iy yang telah disebutkan, Allah berfirman: “ Sesungguhnya aku telah takkan hamba-hambaku semuanya mereka dalam keadaan bertauhid. kemudian datanglah syithan pada mereka membawa pergi mereka dari agama tauhid mereka “. 

 

Diantara ilmu atau fiqih atau faedah yang dapat diambil yaitu:  Bahwa asal agama Manusia ialah agama tauhid Islam. inilah fitrah yang Allah telah menciptakan semua manusia yang lahir ke dunia, tidak ada perubahan lagi Fitrah agama Allah ini. itulah takdir Rabbul ‘alamin yang semuanya bermuara pada mentauhidkan Allah Azza wa Jalla.

 

1.Asal agama Manusia adalah tambah satu yaitu agama tauhid Islami.

2.Agama para nabi dan rasul adalah sama yaitu agama tauhid Islam.

  1. dakwahnya para nabi dan rasul adalah sama satu yaitu Allah Azza wa Jalla dan menjauhi dan lengkung tohru sebagaimana akan dijelaskan ciri salah kita ini Insya Allah ta’ala.

 

Karena itu Rabbul ‘alamin Allah memerintahkan manusia untuk menghadapkan wajah mereka kepada agama tauhid ini Islam. Yaitu sebagai agama asal mereka yang mereka telah menciptakan mereka berdasarkan agama tauhid ini. maka hendaklah mereka tetap berada didalamnya, memeluknya dan menganutnya. karena hanya agama Islam lah yang berjalan sesuai dengan fitrah dan tabi’at yang ada pada manusia.

 

Seandainya manusia itu dibiarkan saja tumbuh apa adanya tanpa pengaruh dari siapapun juga, kemudian diperkenalkan kepadanya diinul Islam,Percaya dia akan condong kepadanya mencintainya dan memeluknya dengan izin Allah, karena Islam adalah agama asal manusia.

 

Atau setelah memeluk agama selain Islam agama ahli kitab atau agama kaum musyrikin yang semuanya telah mengadakan penyembahan kepada selain Allah kemudian ia bersungguh-sungguh dengan penuh kejujuran mencari kebenaran yang hakiki. Dia membuang jauh-jauh takliq buta kepada bapak-bapak mereka, atau ‘ashabiyyah Yang telah berkarat di hati mereka, atau hawa nafsu yang dipertuhankan titik ia memikirkan, merenungkan, mempelajari tentang Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam am Apakah benar dia seorang Rasul? Apa yang dibawa oleh Nabi Islam ini? apakah Islam itu agama yang haq tanda tanya niscaya dengan Hidayah robbul ‘alamin dia akan melihat cahaya kebenaran dari Muhammad Sallallahu Alaihi Wasallam dan ajarannya yang bersinar dihadapannya. cara seperti inilah yang diajak oleh Rab mereka sebagaimana firman-Nya ada fasal kebenaran kenabian dan kerasulan Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam.

 

Inilah pada hakikatnya rahmat yang sangat besar yang di bawa oleh Nabi rahmat Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam  untuk mendakwahkan dan mengajak manusia kepada agama tauhid Al Islam sebagai ajaran agama manusia.

 

MANUSIA LAHIR DALAM KEADAH SUCI TANPA MENANGGUNG DOSA

 

Dalam Islam terdapat dua kaidah titik dari kaidah-kaidah syara’ (agama)yang berkaitan dengan dosa dan kebaikan:

  1. bahwa setiap manusia akan memikul dan menanggung dosanya masing-masing. Iya tidak akan menanggung dosa orang lain, Siapa pun orangnya, baik orang tua atau anaknya sendiri.
  2. bahwa setiap manusia tidak memperoleh kebaikan kecuali dari hasil usahanya sendiri.

 

Kaidah yang pertama terkandung dalam firman Allah Azza wa Jalla:

 

ألَّا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِزْرَ أُخْرَى

 

Artinya:

bahwasanya seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain. (QS.an-Najm/53:38)

 

Kaidah yang kedua terkandung dalam firman Allah:

 

وَأَن لَّيسَ لِلإِنسَٰنِ إِلَّا مَا سَعَىٰ

 

Artinya:

Dan, bahwasanya manusia tidak akan memperoleh kebaikan kecuali apa apa yang telah diusahakannya. (QS.an-Najm/53:39)

 

Kemudian sabda Nabi yang mulia Shallallahu Alaihi Wasallam:

 

مَنْ حَجَّ فَلَمْ يَرْفُثْ وَلَمْ يَفْسُقْ رَجَعَ كَمَا وَلَدَتْهُ أُمُّهُ

Artinya:

Dari Abu Hurairah radhiallahu Anhu Dia berkata dua Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam telah bersabda, “barangsiapa yang Haji dan dia tidak melakukan rafats dan tidak mengerjakan kefasikan niscaya dia akan kembali seperti pada hari dia dilahirkan ibunya (Hadits shahih riwayat Bukhari(1521, 1819 & 1820) dan Muslim (1350) dan yang lain)

 

Sabda Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam Pada bagian akhir, yang artinya, “ niscaya dia akan kembali seperti pada hari dia dilahirkan ibunya“. Yakni tanpa dosa!

 

Ini sangat tegas menjelaskan kepada umat akan keagungan, ketinggian dan kemuliaan ajaran Islam, bahwa setiap manusia dilahirkan oleh ibunya dalam keadaan suci tanpa dosa sedikitpun dan tidak menanggung dosa orang lain atau tegasnya tidak ada dosa warisan dalam Islam.

 

 

Referensi:

Ditulis oleh: Ustadz Abdul Hakim bin Amir Abdat dari Majalah As-Sunnah Edisi (03-04)/THN XVI/Sya’ban-Ramadhan 1433H/Juli-Agustus 2012M

Diringkas oleh: Bima Yoga Prasetiyo (Pegawai Ponpes Darul Qur’an Wal Hadist OKU Timur)

Baca juga artikel:

Puasa Bagi Ibu Hamil

Cara Selamat Dari Fitnah

Be the first to comment

Ajukan Pertanyaan atau Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.