Pondok Pesantren Darul Qur'an Wal-Hadits Martapura OKU

HIDUP ZUHUD ALA ORANG SHALIH

Hidup zuhud new

 

HIDUP ZUHUD ALA ORANG SHALIH-Zuhud tidak bisa diukur dengan banyak atau sedikitnya harta karena hakikat zuhud bukan dalam tampilan lahiriah melainkan ada di dalam hati seorang mukmin. Sangat banyak buku yang mengupas tentang zuhud. Sebut saja di antaranya karya Al-Imam Ahmad bin Hanbal, Waki’, Asad bin Musa, Abu Daud, Abu Hatim, Ibnu Abid Dunya, Al-Baihaqi, dan Ibnul Mubarak. Yang menarik adalah keberadaan Ibnul Mubarak di deretan tersebut.

Ibnul Mubarak termasuk ulama terkemuka sekaligus saudagar yang kaya raya. Kedalaman ilmunya tiada diragukan lagi. Kekayaannya pun tiada disangsikan lagi. Bagi orang yang belum memahami makna zuhud yang sebenarnya, gaya hidup Ibnul Mubarak terkesan bertentangan: di satu sisi beliau menulis kitab Az-Zuhd wa Ar-Raqaiq, sedangkan di sisi lain beliau dikelilingi oleh harta yang melimpah. Al-Musayyab bin Wadhih menceritakan, “Aku sedang duduk di dekat Abdullah bin Mubarak sewaktu seorang lelaki mendatanginya untuk meminta bantuan pelunasan utang Kemudian, Ibnul Mubarak menulis pesan kepada asistennya, ‘Jika kamu sudah menerima suratku ini dan membacanya, berikan uang 7.000 dirham kepada orang yang mengantarkan surat ini.’ Tatkala si asisten telah menerima surat dari Ibnul Mubarak dan dia pun membacanya, dia bertanya kepada orang yang mengantarkan surat tersebut, ‘Apa yang perlu kami bantu?’ Orang tersebut menjawab, ‘Tolong berikan saya uang 700 dirham.’ Si asisten berkata, ‘Anda benar. Ada kesalahan pada surat ini. Duduklah di tempat Anda sampai saya berikan uangnya. Akan tetapi, saya akan mengutus orang terlebih dahulu kepada Ibnul Mubarak untuk mengonfirmasi besaran uang yang sebenarnya untuk Anda.

Dengan harta yang sangat banyak, Ibnul Mubarak tak perlu berpikir panjang ketika ada orang yang meminta bantuannya. Bahkan, bisa jadi memang dia sengaja menulis 7.000 dirham – jauh lebih banyak dibandingkan permintaan orang yang meminta tolong tersebut – saking dermawannya Ibnul Mubarak.

Ali bin Fudhail menuturkan, “Aku pernah mendengar ayahku berkata kepada Ibnul Mubarak, ‘Anda menyuruh kami untuk hidup zuhud dan tidak banyak mengumpulkan harta, serta hidup apa adanya. Namun, kami justru melihat Anda memiliki harta perniagaan. Bagaimana ini?’ Dia (Ibnul Mubarak) menjawab, ‘Wahai Abu Ali, aku melakukan ini semata agar harga diri dan kehormatanku terjaga, serta untuk memudahkanku dalam mengerjakan ketaatan kepada Rabbku.’

Zuhud tidak bisa diukur dengan banyak atau sedikitnya harta karena hakikat zuhud bukan dalam tampilan lahiriah melainkan ada di dalam hati seorang mukmin.

“Para ulama menjabarkan secara luas tentang zuhud. Akan tetapi, definisi terbaik diungkapkan oleh Al-Hasan Al-Bashri Rahimahullah,

أَنْ تَكُونَ الدُّنْيَا فِي يَدِكَ لَا فِي قَلْبِكَ

‘Kamu meletakkan dunia di tanganmu, bukan di hatimu’.

Orang yang zuhud memiliki tiga hal di dalam hatinya:

  1. Orang yang zuhud benar-benar yakin bahwa rezeki setiap makhluk sudah dijamin dan ditetapkan oleh Allah .

Tidak ada seorang pun di muka bumi ini dapat menambahnya atau menguranginya. Allah Subhanahu Wata’ala berfirman,

وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الأرْضِ إِلا عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا

Artinya: “Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah -lah yang memberi rezkinya.” (QS. Hud: 6)

Allah Subhanahu Wata’ala  juga berfirman,

وَفِي السَّمَاءِ رِزْقُكُمْ وَمَا تُوعَدُونَ

Artinya: “Dan di langit terdapat (sebab-sebab) rezekimu dan terdapat (pula) apa yang dijanjikan kepadamu.” (QS. Adz-Dzariyat: 22)

Ia berikhtiar menjemput rezeki, tetapi di sisi lain dia yakin bahwa rezekinya datang bukan semata karena ikhtiarnya, melainkan karena jaminan dari Allah. Al-Hasan Al-Bashri mengatakan, “Salah satu bentuk lemahnya keyakinanmu terhadap Allah adalah engkau lebih meyakini harta yang di tanganmu daripada perbendaharaan yang ada tangan Allah.”

Jiwa yang zuhud akan mengantarkan seorang muslim kepada rasa ridha (menerima) dan qana’ah (merasa cukup) terhadap apa pun yang diberikan oleh Allah Ta’ala kepadanya. Dengan itulah dia mendapati arti kekayaan yang sesungguhnya.

Orang yang zuhud benar-benar yakin bahwa setiap musibah yang menimpanya merupakan ketetapan Allah yang baik untuknya. Dengan itu, rasa ridha muncul dalam dirinya.

Dia juga percaya bahwa pahala atas sikap ridhanya itu jauh lebih baik dibandingkan sesuatu yang telah lepas dari tangannya. Kualitas zuhud yang tinggi pada diri seorang hamba menjadikannya merasa ringan atas kesempitan yang ia alami, walaupun musibah itu dinilai berat dalam kacamata manusia. Betapa indahnya sabda Rasulullah,

عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ، إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ، وَلَيْسَ ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلَّا لِلْمُؤْمِنِ، إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ، فَكَانَ خَيْرًا لَهُ، وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ، صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ

Artinya: “Sungguh menakjubkan hidup seorang mukmin; semua urusannya adalah baik baginya. Hal ini tidak didapatkan kecuali pada diri seorang mukmin. Apabila ia mendapatkan kesenangan, ia bersyukur; yang demikian itu merupakan kebaikan baginya. Apabila ia tertimpa kesusahan, ia pun bersabar; yang demikian itu merupakan kebaikan baginya.” (HR. Muslim, no. 2999)

  1. Orang yang zuhud tidak “ambil pusing” dengan ucapan manusia, selama ia berada di jalan kebenaran. Ketika ia meniti jalan kebenaran, lantas orang lain mencacinya, ia tetap mantap dan tidak gamang dalam melangkah. Ketika ia beramal shalih, lalu orang lain memujinya, ia tidak congkak atas perbuatan baiknya tersebut. Demikianlah, ridha atau tidak ridhanya manusia bukanlah tolok ukur kebenaran. Dalam hadits riwayat Ibnu Hibban disebutkan,

مَنْ اِلْتَمَسَ رِضَا اللَّهِ بِسَخَطِ النَّاسِ رضي الله عنه وَأَرْضَى عَنْهُ النَّاسَ ، وَمَنْ اِلْتَمَسَ رِضَا النَّاسِ بِسَخَطِ اللَّهِ سَخِطَ اللَّهُ عَلَيْهِ وَأَسْخَطَ عَلَيْهِ النَّاسَ

Artinya: “Barang siapa yang mencari ridha Allah saat manusia tidak suka, Allah  akan meridhainya dan Allah akan membuat manusia yang meridhainya. Barang siapa yang mencari ridha manusia dan membuat Allah  murka, Allah  akan murka padanya dan membuat manusia pun ikut murka.” (HR. Ibnu Hibban)

Setelah kita melihat uraian demi uraian di atas, zuhud bukan masalah punya harta atau tidak punya harta, tetapi lebih ke arah:

  1. tidak meletakkan dunia di hati, dan
  2. menggunakan segala rezeki yang diberikan oleh Allah demi ketaatan kepadanya, baik rezeki itu berjumlah banyak maupun sedikit.

Berdasarkan itu, bisa dikatakan bahwa Mush’ab bin Umair, Ulbah bin Zaid, dan Abu Hurairah adalah orang yang zuhud. Abu Bakar, Utsman bin Affan, dan Abdurrahman bin Auf juga termasuk orang yang zuhud. Mereka dan para sahabat yang lain merupakan cermin zuhud yang sejati.

Sebaliknya, Jika rasa tamak terhadap dunia telah masuk ke hati seseorang, ia tak lagi bisa disebut zuhud, baik hidupnya berlimpah harta atau diimpit kemiskinan. Oleh sebab itu, bisa jadi ada orang yang kaya sekaligus zuhud karena ia meletakkan harta di tangannya saja, bukan di hatinya. Sebaliknya, bisa jadi ada orang yang fakir tetapi tidak bisa disebut zuhud karena batinnya sangat terikat dengan dunia.

Sikap berlebihan dalam hal pakaian, makanan, rumah, dan kendaraan biasanya mudah sekali untuk menjauhkan seorang muslim dari hidup yang zuhud.

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda,

اَلْبَذَاذَةُ مِنَ الْإِيمَانِ، الْبَذَاذَةُ مِنَ الْإِيمَانِ

Artinya: “Kesederhanaan adalah bagian dari keimanan. Kesederhanaan adalah bagian dari keimanan.” (HR. Ahmad di Az-Zuhd, no. 30 dan Al-Baihaqi di Syu’abul Iman, no. 5762)

Beliau Shallallahu Alaihi Wasallam juga bersabda,

مَنْ تَرَكَ الِّلبَاسَ تَوَاضُعًا لِلَّهِ وَهُوَ يَقْدِرُ عَلَيْهِ، دَعَاهُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَى رُؤُوسِ الْخَلَائِقِ حَتَّى يُخَيِّرَهُ مِنَ أيِّ حُلَلِ الْإِيمَانِ شَاءَ يَلْبَسُهَا

Artinya: “Barang siapa yang meninggalkan pakaian yang mewah karena tawadhu’ demi Allah , padahal dia mampu untuk memakainya, Allah  akan memanggilnya pada hari kiamat di hadapan seluruh makhluk-Nya. Kemudian dia dipersilakan untuk memilih perhiasan/pakaian yang diberikan kepada orang beriman yang ia ingin kenakan.” (HR. At-Tirmidzi, Hakim, Ahmad, dan Abu Nu’aim. Dinilai shahih oleh Syaikh Al-Albani dalam Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah, no. 718)

Biasakan diri dengan perkara yang sederhana agar hati lebih dekat kepada sikap zuhud. Seseorang mungkin mampu membeli rumah yang mewah, makanan yang mewah, dan kendaraan yang mewah. Akan tetapi, alangkah baiknya dia tidak membiasakan diri dengan hal tersebut. Jika dia selalu membiasakan diri dengan kemewahan, kesombongan akan masuk ke dalam hatinya tanpa dia sadari. Sesekali pakailah baju yang murah, gunakan kendaraan yang murah, dan semisalnya.

Seorang muslim hendaknya berpenampilan sederhana, demi melawan kesombongan diri dan menenangkan hati. Al-Hasan Al-Bashri berkata, “Hidup zuhud di dunia membuat hati dan badan menjadi tenang.” (Jami’ul ‘Ulum, 2:197)

Dalil-dalil dalam syariat ini tidak mungkin ada yang bertentangan. Allah  Al-Hakim menetapkan syariat zakat, infak, dan sedekah. Dia pula yang mewahyukan kepada Rasul-Nya ﷺ untuk mendidik kaum muslimin agar bersikap zuhud. Dia pula yang membagi rezeki kepada para hamba-Nya dengan adil: ada yang diberi kelapangan rezeki dan ada pula yang diuji dengan kesempitan ekonomi.

Semoga Allah  membimbing kita untuk hidup zuhud sebagaimana teladan dari para salafus shalih.

Referensi:

Ditulis oleh: Athirah Mustadjab dari Majalah HSI Edisi 30 Dzulhijjah 1442 H.

Diringkas oleh: Aryadi Erwansah (Staf Ponpes Darul Qur’an Wal Hadits OKU Timur).

Baca juga artikel:

Begini Seharusnya Menjadi Guru (Bagian 1)

Tawasul Yang Diperbolehkan

Be the first to comment

Ajukan Pertanyaan atau Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.