ETIKA PERGAULAN SEORANG MUSLIM MAUPUN MUSLIMAH

etika-pergaulan-seorang-muslim-maupun-muslimah

Segala puji hanyalah milik Allah Azza wajalla yang telah menciptakan manusia dan menurunkan Al-Quran sebagai petunjuk serta pedoman hidup bagi manusia, mengutus Nabi sebagai utusan dan panutan bagi hamba-hamba-Nya, mengajarkan etika pergaulan untuk memperkuat persaudaraan sesama muslim, agar terwujud akhlak yang mulia dan masyarakat yang islami, shalawat dan salam senantiasa tercurahkan kepada Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam.

Pergaulan, pertemanan, persahabatan didalam islam sangatlah penting, oleh karena itu tatkala mencari teman carilah teman yang bisa menjadikan kita orang yang bertaqwa kepada Allah Azza wajalla, yang bisa menuntun kita kejalan hidayah dan surga-Nya, sebagaimana Rosulullah menggambarkan berteman dengan orang sholih bagaikan berteman dengan penjual minyak wangi, orang yang berteman dengan penjual minyak wangi minimal dia mendapatkan aromanya, begitu juga orang yang berteman dengan orang yang shalih dia akan terpengaruh dengan akhlak yang mulia yang ada pada orang shalih atau dia akan mendapatkan ilmu dan nasihat darinya sehingga dia bisa menjadi orang yang berilmu dan baik akhlaknya, dan sebaliknya berteman dengan orang tolih bagaikan berteman dengan tukang pandai besi, orang yang berteman dengan pandai besi minimal dia mendapatkan aroma tidak sedap, maka begitu pula orang yang berteman dengan orang yang tolih, orang yang buruk ahlaknya akan terpengaruh dengan akhlak yang buruk yang ada padanya.

Rosulullah sallallahu alaihi wasallam bersabda:

مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالْجَلِيسِ السَّوْءِ كَمَثَلِ صَاحِبِ الْمِسْكِ وَكِيرِ الْحَدَّادِ لاَ يَعْدَمُكَ مِنْ صَاحِبِ الْمِسْكِ إِمَّا تَشْتَرِيهِ ، أَوْ تَجِدُ رِيحَهُ وَكِيرُ الْحَدَّادِ يُحْرِقُ بَدَنَكَ ، أَوْ ثَوْبَكَ ، أَوْ تَجِدُ مِنْهُ رِيحًا خَبِيثَةً.  رواه البخاري:2101 ـ

“Seseorang yang berteman dengan orang shalih dan orang yang jelek bagaikan berteman dengan pemilik minyak wangi dan pandai besi. Pemilik minyak wangi tidak akan merugikanmu; engkau bisa membeli minyak wangi darinya atau minimal engkau mendapat aromanya. Adapun berteman dengan pandai besi, jika engkau tidak mendapati badan atau pakaianmu hangus terbakar, minimal engkau mendapat baunya yang tidak enak.” (HR. Bukhari, no. 2101)

Para pembaca yang semuga dirahmati Allah, didalam pertemanan, pergaulan haruslah cermat dan teliti jangan sampai salah didalam berteman, bergaul apa lagi pada zaman yang penuh dengan berbagai macam media sosial seperti sekarang ini, betapa banyak korban dan kasus pembunuhan, pemerkosaan, perampokan disebabkan salah didalam memilih pergaulan dan pertemanan, terutama pergaulan dalam masalah agama, karena kebenaran agama seseorang ini akan menuntun dia pada aqidah yang benar, maka jika aqidahnya benar (sesuai dengan apa yang telah diperintahkan oleh Allah dan Rosul-Nya) maka akan benar pula amalannya, sebaliknya jika aqidahnya salah maka perbuatan, amalannya akan salah.

Contoh orang yang salah dalam aqidah:

Seseorang yang rajin melakukan sholat namun dia masih datang dan bertanya kepada dukun atau tukang ramal didalam perkara nghaib maupun yang bukan nghaib, maka shalat yang dia lakukan selama 40 malam tidak akan diterima oleh Allah, karena sejatinya orang yang daatang kepada tukang ramal dia percaya bahwa ada yang mengetahui perkara nghaib selain Allah, ini masuk kedalam permasalahan aqidah sehingga diketegorikan sebagai bentuk kesyirikan kepada Allah Azza wajalla.

Rosulullah bersabda:

« مَنْ أَتَى عَرَّافًا فَسَأَلَهُ عَنْ شَىْءٍ لَمْ تُقْبَلْ لَهُ صَلاَةٌ أَرْبَعِينَ لَيْلَةً ». ( صحيح مسلم : 5957)

“barang siapa yang datang kepada tukang ramal/dukun kemudian bertanya tentang sesuatu maka tidak akan diteriama sholatnya selama 40 malam” (HR. muslim:5957)

Para pembaca yang semoga dirahmati Allah, di antara etika didalam pergaulan, pertemanan dan persahabatan adalah:

  1. Berakhlak

Dengan adanya akhlak mulia inilah seseorang yang bergaul, berteman, bersahabat akan mendapatkan kenyaman, akan timbul rasa bersaudara rasa saling mencintai karena Allah dan berpisah karena Allah, tidak mencela teman-temannya atau menyakiti perasaan temannya.

Sebagaimana Rosulullah menasehati sahabat beliau untuk bergaul dengan akhlak yang baik, akhlak yang mulia.

Rosulullah bersabda:

اتَّقِ اللَّهَ حَيْثُ مَا كُنْتَ ، وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا ، وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ. رواه وأحمد: 169 , والترمذي :1987  )

“bertaqwalah kepada Allah dimanapun engkau berada, ikutilah keburukan dengan kebaikan niscaya kebaikan akan menghapus keburukan tersebut, bergaullah dengan manusia dengan akhlak yang mulia” (HR:Ahmad: 169, dan tirmidzi: 1987)

  1. Menutupi Aib-Aib teman-temannya.

Diantara adab, etika didalam pergaulan, pertemanan, persahabatan adalah saling menjaga Aib-aib satu sama lainnya, maka seorang muslim tidaklah pantas sibuk mencari kesalahan-kesalahan saudaranya, teman-temannya, akan tetapi sibuklah didalam mengintropeksi diri akan aib-aib dirinya sendiri. Jika melihat saudaranya, teman-temannya terjerumus pada dosa, maksiat hendaklah menolongnya, menasehatinya sehingga dia kembali bertaqwa kepada Allah, setelah itu tutupi aib saudaranya, teman-temannya.

Maka seorang muslim yang mengetahui etika, adab pergaulan ,persahabatan akan memaafkan kesalahan teman-temannya, adapun teman yang munafik maka ia akan mencari kesalahan-kesalahan dan berharap dapat menyaksikan teman-temannya terjerumus pada dosa dan kemaksiatan agar menjadi bahan celaan terhadap saudaranya atau temannya dihadapan kalayak umum.

Rosulullah bersabda tentang persaudaran seorang muslim:

الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ لاَ يَظْلِمُهُ ، وَلاَ يُسْلِمُهُ ، وَمَنْ كَانَ فِي حَاجَةِ أَخِيهِ كَانَ اللَّهُ فِي حَاجَتِهِ ، وَمَنْ فَرَّجَ عَنْ مُسْلِمٍ كُرْبَةً فَرَّجَ اللَّهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرُبَاتِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ ، وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ. ( رواه البخاري :2442 )

“seorang muslim dengan muslim lainya adalah bersaudara, tidak boleh mendhaliminya, tidak boleh menyerahkan kepada orang yang akan menyakitinya, barang sipa yang memperhatikan kebutuhan saudaranya, maka Allah akan memperhatikan kebutuhannya, barang siapa yang melapangkan kesulitan seorang muslim, niscaya Allah akan lapangkan kesulitan-kesulitannya dihari kiamat, dan barang siapa yang menutupi aib-aib, kesalahan-kesalahan seorang muslim, niscaya Allah akan menutupi aib-aib, kesalahan-kesalahannya kelak di hari kiamat” ( HR. Bukhari: 2442)

  1. Menepati Janji.

Seorang muslim yang jujur ialah orang yang paling menepati janji terhadap Robnya, keluarganya, saudara-saudaranya bahkan kepada seluruh manusia.

Menepati janji kepada Allah dengan memenuhi dan menjalankan semua perintah-Nya, kewajiban-kewajiban serta menjahui apa yang dilarang-Nya, selalu mendekatkan diri kepada-Nya dengan ketaatan-ketaatan yang mampu dilakukannya.

Menepati janji kepada keluarganya dengan menjaga kehormatannya, menjaga hak dan kewajibannya, mengawasinya tatkala masih hidup dan mendoakannya setelah wafat.

Menepati janji kepada saudaranya bahkan kepada seluruh manusia dengan menasehatinya tatkala melihat saudaranya terjatuh kepada dosa dan maksiat.

sufyan at tsauri pernah berkata:

janganlah engkau berjanji kepada temanmu dengan satu janji kemudian engkau mengingkarinya, sebab dengan hal itu engkau telah mengganti sebuah kecintaan menjadi kebencian.

 

Sumber artikel:

  • adabu ash-shuhbati bayna al-akhwati al-muslimati, abu maryam majdi fathi sayyid.
  • Adabu al-usyrah wadikru ash-shuhbah wal ukhuwah, abul barokat badrudin Muhammad al-ghazi

Disusun oleh: Ustadz Jupriyanto (Pengajar Ponpes Darul-Qur’an Wal-Hadits OKU Timur)

 

Artikel Lainnya:

Tak Kenal Maka Tak Sayang

Hadits Jabir tentang Qurban Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.