TAK KENAL MAKA TAK SAYANG

tak-kenal-maka-tak-sayang

Tak Kenal Maka Tak Sayang – Saya yakin masing-masing kita memiliki hobi. Dan sangat besar kemungkinan kesukaan satu orang dibanding yang lainnya akan berbeda-beda. Ada yang hobi olahraga,  ada yang hobi membaca, ada yang hobi kuliner, dan lain-lain.  Di setiap item global di atas pun akan beragam lagi macam-macamnya. Olahraga misalnya,  ada yang hobinya berenang,  berkuda,  bermain sepak bola,  tenis meja,  basket, dan lain-lain. Tidak sedikit orang yang rela menyambung nyawa demi memuaskan hobinya tersebut. Sebagaimana yang dilakoni oleh ‘penggila’ mendaki gunung.

Pertanyaannya, apa yang Anda rasakan saat menjalani hobi tersebut? Tentu saja merasa senang,  nikmat,  dan seakan-akan tidak mau berhenti kan?

Namun, tahukah Anda bahwa senikmat apa pun  seluruh hobi di atas, itu bukanlah puncak kenikmatan?

Ternyata di sana ada suatu kenikmatan dunia, siapa pun yang belum mencicipinya sebelum dia meninggalkan dunia yang fana ini, sungguh dia adalah orang yang paling merugi. Bahkan kata para ulama,  mereka adalah orang miskin yang paling miskin. Apa kenikmatan tersebut?

Mari kita temukan jawabannya dalam pemaparan yang disampaikan oleh Imam Ibn Rajab rahimahullah (w. 795 H). Beliau menerangkan, sebagian orang arif berkata, “Penduduk dunia yang paling miskin adalah orang-orang yang meninggalkan dunia dalam keadaan belum pernah merasakan sesuatu yang ternikmat di dalamnya”, mereka ditanya,  “Apakah itu?”. Jawab mereka,  “Mengenal Allah!”. (Jâmi’ al-Ulûm al-Hikam hal. 354-355).

Ya,  puncak kenikmatan di dunia adalah ma’rifatullah,  atau mengenal Allah ta’ala.

Imam Ibn Rajab rahimahullah mendefinisikan makrifatullah sebagai “ilmu yang paling utama adalah tentang Allah, yakni : ilmu mengenai nama-nama,  sifat-sifat dan perbuatan-perbuatan-Nya. Ilmu itu akan mendorong pemiliknya untuk mengenal Allah, takut, cinta,  hormat dan mengagungkan-Nya,  bertawakal,  bersabar menjalani ketetapan-Ny,  ridha pada-Nya dan tersibukkan dengan-Nya,  bukan dengan makhluk-Nya.” (Waratsah al-Anbiyá’ Syarh Hadîts Abî ad-Dardâ’ sebagaimana dalam Majmû’ah Rasâ’il Ibn Rajab I/41)

Di lain kesempatan,  beliau menambahkan bahwa tingkatan hamba mengenai Allah ada dua level :

Pertama : Level umum

Yakni mengenali-Nya dalam arti yakin, percaya dan beriman kepada-Nya.  Level ini bersifat umum bagi seluruh kaum mukminin.

Kedua : Level khusus

Yakni kecenderungan hati hamba secara total kepada Allah. Menghabiskan waktu untuk-Nya. Merasa nyaman bersama-Nya. Tenang ketika mengingat-Nya. Malu dan segan kepada-Nya. Ini level khusus yang dijalani oleh orang-orang yang arif. Sebagian mereka berkata,  “penduduk dunia yang paling miskin adalah orang-orang yang meninggalkan dunia dalam keadaan belum pernah merasakan sesuatu yang ternikmat didalamnya. ” Mereka ditanya,  “Apakah itu? “. Jawab mereka,  “Mengenal Allah”. (Jâmi’ al-‘Ulûm wa al-Hikam, hal. 354-355).

Sesungguhnya kewajiban pertama yang diwajibkan Allah kepada mahluk-Nya adalah mengenal Allah subhanallahu wa ta’ala. Apabila manusia mengenal Allah,  maka mereka akan beribadah kepadanya dengan sebenar-benarnya ibadah,  Allah berfirman :

فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ

Artinya : “Maka ketahuilah, bahwa tidak ada tuhan (yang haq) melainkan Allah.” (Q.S Muhammad: 19)

 

Buah Manis Mengenal Allah

Mengenal Allah adalah sebuah keniscahyaan yang harus dipenuhi setiap hamba. Namun kewajiban itu bukan hanya sekedar kewajiban yang tidak membawa keuntungan!  Sebaliknya mengenal Allah itu menghasilkan berbagai buah manis yang akan kita nikmati. Diantara buah manis tersebut :

Buah Pertama : Dengan Mengenal Allah Hidup Terasa Nyaman

Seorang hamba tidak akan menggapai kebahagiaan dan kebaikan kecuali bila ia mengenal Allah ta’ala. Bilamana makrifatullah itu tidak ia miliki, sejatinya hewan ternak lebih nyaman hidupnya dibanding dia di dunia. Dan lebih selamat kelak di akhirat. Demikian keterangan yang disampaikan sebagian ulama.

Seringkali hidup terasa tidak nyaman adalah saat dirundung masalah atau tertimpa musibah. Bahkan tidak jarang orang yang memilih mengakhiri hidupnya dengan menempuh jalan pintas,  alias bunuh diri.

Orang yang mengenal Allah tidak akan memilih jalan konyol tersebut. Sebab dia sadar sesadar-sadarnya bahwa Allah itu maha bijaksana dalam segala ketetapan-Nya. Allah lebih tahu apa yang terbaik untuk kita, bukqn hanya dalam aturan hidup,  namun juga dalam garis kehidupan kita.

Mengapa Allah lebih tahu apa yang terbaik untuk kita dibanding kita sendiri? Sebab dialah yang menciptakan kita!  Dan sang pencipta tentu lebih mengerti tentang detil ciptaannya.

أَلَا يَعْلَمُ مَنْ خَلَقَ وَهُوَ اللَّطِيفُ الْخَبِيرُ

Artinya : “Apakah Allah Yang menciptakan itu tidak mengetahui (yang kamu lahirkan atau rahasiakan); dan Dia Maha Halus lagi Maha Mengetahui?“. QS. Al-Mulk (67): 14

Ketetapan Allah didasarkan pada ilmu Allah yang maha luas. Adapun rencana yang manusia rancang, berdasarkan ilmunya yang amat terbatas. Jadi,  mengapa kita bersikeras untuk tetap bersikap sok tahu? Pendek kata,  hamba yang mengenal Allah dengan benar,  tidak akan pernah berprasangka buruk kepada-Nya.

Syaikh Shalih Alu Syaikh hafidzahullah dalam kitab beliau at-Tamhid menjelaskan,  “Siapapun yang memahami dengan baik sifat-sifat Allah,  tidak akan mungkin terlintas dibenaknya prasangka buruk kepada Allah atau mencela-Nya”.

Ketika seseorang tidak mengenal Allah,  hidupnya selalu diwarnai keluhan, atau hidup seakan menjadi beban. Menghadapi masalah keburu putus asa duluan,  sebab lelah mencari solusi yang tidak kunjung ketemu. Padahal bila dia mengenal Allah,  niscahya dia akan sadar bahwa bagi Allah itu tidak ada yang tidak mungkin, semuanya serba mungkin, semuanya serba mudah,  di hadapan kekuasaan dan kebesaran Allah ta’ala.

Jadi,  dengan mengenal Allah,  hidup seorang insan pasti terasa nyaman. Sebaliknya orang yang tidak mengenal Allah, niscahya hidupnya akan berantakan, sempit dan tidak tenang.

Allah ta’ala berfirman :

نَسُوا اللَّهَ فَأَنْسَاهُمْ

Artinya : “Mereka melupakan Allah. Sehingga akibatnya Allah pun menjadikan mereka lupa terhadap diri mereka sendiri”. QS. Al-Hasyr (59): 19.

Mereka lupa dan tidak tahu mana yang baik dan mana yang buruk untuk diri mereka. Sehingga hidup mereka menjadi tanpa arah dan tujuan.

Buah Kedua : Dengan Mengenal Allah Kita Akan Mencintai-Nya

Imam al-Hasan al-Bashry rahimahullah (w. 110 H) berkata,

“من عر ف ربه احبه”

Artinya : “Barang siapa mengenal Allah; niscahya dia akan mencintai-Nya“. Diriwayatkan oleh Ibn Abi Dun-ya dalam al-Hamm wa al-Hazn.”

Ketahuilah bahwa salah satu motivasi terbesar yang mendorong kita agar semangat beribadah adalah perasaan cinta kepada Allah. Dan tidak mungkin kita bisa mencintai Allah bila kita tidak mengenal-Nya.

Buah Ketiga : Dengan Mengenal Allah,  Kita Menjadi Takut Kepada-Nya

Allah ta’ala berfirman :

إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ ۗ

Artinya : “Sesungguhnya yang takut kepada Allah hanyalah para ulama (yang mengenal Allah) “. QS. Fathir: 28.

Semakin tinggi ilmu pengetahuan seorang hamba tentang Allah, maka akan semakin tebal rasa takut dia kepada-Nya,  Demikian keterangan yang disampaikan oleh Ahmad bin ‘Ashim al-Anthâkiy rahimahullah (w. 215). Dinukil oleh al-Fairuzabady dalam Bashâ ir Dzawî at-Tamyîz (IV/52).

Sehingga orang yang paling takut kepada Allah adalah orang yang paling paham mengenali-Nya. Dialah nabi kita yang mulia,  Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.

Orang yang memiliki rasa takut kepada Allah,  memiliki ciri-ciri yang dengannya ia mudah dikenali. Diantaranya,  ia merasa enggan untuk berbuat maksiat kepada-Nya.

Buah Keempat : Mengenal Allah Merupakan Jalan Menuju Surga

Bila mengenal Allah merupakan puncak Kenikmatan,  maka siapapun yang telah menggapainya; dia akan merasakan kebahagiaan yang tiada taranya. Itulah surga Allah di dunia. Siapapun yang bercita-cita masuk surga Allah di akhirat,  maka dia harus melalui surga dunia tersebut.

Ibn Taimiyyah rahimahullah (w. 728 H)  menjelaskan, “Di dunia itu ada surga. Siapapun yang belum memasukinya,  niscahya ia tidak akan memasuki surga di akhirat”. (Dinukil oleh Ibn al-Qayyim dalam Madârij as-Sâlikîn I/452)

Menurut imam Ibn al-Qayyim rahimahullah, cara mengenal Allah itu bisa dilakukan melalui dua jalan (Cermati kitab al-Fawâ’id hal. 28) :

  1. Memahami dan meresapi al-Qur’an dan hadist.

Atau bisa diistilahkan dengan ayat-ayat syar’iyah (tanda-tanda keagungan Allah,  pada syari’at atau agama-Nya).

Di dalam kitab suci al-Qur’an bukan hanya terdapat perintah untuk membaca Al-Qur’an,  namun juga terdapat perintah untuk membaca al-Qur’an,  namun juga terdapat perintah untuk memahami dan mentadabburi isinya.

Begitu banyak dalil yang menunjukkan hal tersebut. Hingga Imam an-Nawawy (w. 676) berkata,  “Dalil-dalil yang menjelaskan hal itu terlampau banyak untuk dipaparkan semua. Terlalu jelas dan mahsyur untuk disebutkan. Hadist-hadist tentang itu amat banyak, begitu pula perkataan salaf”. (At-Tibyan fî Adab Hamalah al-Qur’an hal.  65-66)

Diantara ayat yang berisikan perintah tersebut, firman Allah ‘azza wa jalla,

أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ أَمْ عَلَىٰ قُلُوبٍ أَقْفَالُهَا

Artinya : “Tidaklah mereka menghayati al-Qur’an,  ataukah hati mereka telah terkunci?” QS. Muhammad(47): 24.

Setelah menjelaskan bahwa tujuan utama dan terpenting dditurunkannya al-Qur’an adalah agar ditadabburi dan dipahami, as-Sayuti (w. 911 H) menjelaskan makna dari tadabbur adalah,

“Menyibukkan hati untuk bertafakkur tentang makna yang ia baca, sehingga mengetahui makna tiap ayat. Mencermati perintah dan larangan yang dikandung olehnya, seraya berazam untuk menerimanya. Bila di masa lalu belum diamalkan maka ia memohon ampun dan istighfar.

Jika melewati ayat yang berisikan kasih sayang Allah, ia bergembiran dan memohon agar dikaruniainya.

Jika melewati ayat yang menceritakan azab Allah ia merasa takut dan memohon perlindungan kepada Allah darinya.

Jika melewati alat yang berisikan pensucian Allah, maka ia bersegera mensucikan dan mengagungkan-Nya.

Dan nika melewati ayat yang berisi perintah untuk berdoa, maka ia akan menghiba dan memohon.

(Al-Itqan fi Ulum al-Qur’an I/299-300)

 

  1. Merenungi Alam Semesta.

Atau yang biasa diistilahkan dengan ayat-ayat kauniyah (tanda-tanda keagungan Allah pada alam semesta atau seluruh makhluknya).

Yang dimaksud alam semesta adalah seluruh ciptaan Allah ta’ala. Keajaiban ciptaan-Nya menunjukkan betapa besar dan agungnya Allah ta’ala. Karena itulah,  dalam al-Fatâwa al-Hadîtsiyyah,  Ibn Hajar al-Haitamy rahimahullah (w. 974 H) berkata, “Jalan untuk mengenal Allah adalah dengan memperhatikan makhluk-makhkuk ciptaan-Nya. Andaikan ada jalan lain yang lebih mudah daripada itu,  niscaya jalan itubakak ditempuh oleh Nabi Ibrahim ‘alaihis salam“.

Keterangan ulama diatas memberikan pada kita sebuah pengertian,  bahwa mengenal Allah dengan cara merenungi keajaiban ciptaannya adalah sesuatu yang mudah,  sebab mengenal Allah atau biasa diistilahkan makrifatullah,  adalah salah satu kebutuhan primer yang amat mendasar dalam kehidupan seorang insan. Dengan mengenal Allah,  akam sempurnalah ibadahnya kepada Allah.

 

Diringkas dari buku :

  1. Tak kenal maka tak sayang (karya Abdullah Zaen, Lc,. MA.)
  2. Tafsir Al-Ursyr Al-Akhir dari Al-Qur’an Al-Karim (karya Sunan Al-Kubra)

Diringkas oleh :

Anggara Pratodi (Pengajar Ponpes Darul-Qur’an Wal Hadits OKU Timur)

 

Artikel Lainnya:

Perintah Memelihara Sunnah Dan Etikanya

Hinanya Hati yang Keras

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.