APA TUJUAN HIDUP KITA?

Semua manusia ingin bahagia, inilah tujuan hidup semua orang. Dan semua orang tahhu bahwa untuk menggapai kebahagiaan tersebut diperlukan pengorbanan. Hanya saja manusia sering keliru dalam mencari jalan menuju kebahagiaan.

Banya orang yang menempuh jalan hidup yang menurutnya mengantarkan kepada kebahagiaan, padahal justru jalan yang diambilnya adalah jalan yang membawanya kepada kebinasaan. Celakanya, semakin jauh mereka menempuh jalan tersebut, semakin jauh pula mereka dari jalan yang mengantarkan kepada kebahagiaan yagn sebenarnya.

Banyak orang menyangka kebahagiaan ada pada harta. Karenanya, mereka berbondong-bondong mencari berbagai sumber harta dengan bersusah payah dan menguras tenaga. Setelah memperoleh harta, tapi tetap saja hati mereka tetap gundah gulana dan tidak tenteram. Selalu ada saja yang membuat hatinya gelisah, pemicunyapun kadang beragam, bias dari anak, istri, dan terkadang dari usaha tempat menimba harta.

Banyak orang menyangka pangkat dan kekuasaan adalah sumber kebahagiaan. Itu karena orang-orang yang memiliki pangkat dan kekuasaan terlihat begitu bahagia. Mereka pergi dijemput, pulang diantar. Ketika mereka menghendaki sesuatu, mereka tinggal memesan. Dan ketika mereka memerintah, perintahnya tidak pernah ditentang! Padahal setelah diselidiki, setelah kita menembus dinding istana mereka, terdengarlah keluh kesah mereka, dan ternyata mereka belum bias menemukan kebahagiaan hakiki.

Jadi, apa sebenarnya kebahagiaan yang sesungguhnya? Kebahagaiaan seperti apa yang dicari oleh manusia? Siapakah sebenarnya orang-orang yang berbahagia itu? Dan sarana apa sajakah yang dapat digunakan untuk mencapai kebahagiaan tersebut?

Perlu disadari bahwa manusia diciptakan oleh Allah. Maka, Dialah yang paling mengetahui seluk beluk manusia, termasuk tentang sebab bahagia atau sengsara. Sama halnya dengan sebuah produk, tentu saja pembuatnya yang mengetahui tentang produk tersebut.

Dalam hal ini Allah subhanahu wata’ala berfirman:

(( ألايعلم من خلق وهو اللطيف الخبير )) سورة الملك : ١٤

“Apakah (pantas) Allah yang menciptakan itu tidak mengetahui? Dan Dia Mahahalus, Maha Mengetahui.” (Q.S. Al-Mulk [67]: 14)

Dalam al-Qur’an dan syariat Islam, kebahagiaan yang hakiki dapat dicapai dengan cara mengaplikasikan penghambaan diri kepada Allah. Orang yang bahagian adalah orang yang berhasil menjadi hamba Allah. Dan dalam hal ini, sarana kebahagiaan itu adalah semua sarana yang telah disediakan oleh Allah subhanahu wata’ala dalam meniti jalan penghambaan diri kepada-Nya.

Dengan tujuan penghambaan diri inilah merupakan tujuan utama diciptakannya jin dan manusia. Karena ubudiyah kepada Allahlah ditegakkannya langit dan dibentangkannya bumi. Karena penghambaan diri inilah diturunkannya Kitab-Kitab dan diutusnya para rasul.

Allah subhanahu wata’ala berfirman:

(( وما خلقت الخن والإنس إلا ليعبدون )) سورة الذاريات : ٥٦

“Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” (Q.S. Adz-Dzaariyat [51]: 56)

Orang yang berpaling dari penghambaan kepada-Nya, dialah orang yang sengsara. Allah subhanahu wata’ala berfirman:

(( ومن أعرض عن ذكري فإن له معيشة ضنكا ونحشره يوم القيمة أعمي )) سورة طه : ١٢٤

“Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sungguh, dia akan menjalani kehidupan yang sempit, dan Kami akan mengumpulkannya pada hari Kiamat dalam keadaan buta.” (Q.S. Thaha [20]: 124)

Allah juga berfirman:

(( … ومن يعرض عن ذكرربه يسلكه عذابا صعدا )) سورة الخن : ١٧

“… Dan barangsiapa berpaling dari peringatan Rabbnya, niscaya kan dimasukkan-Nya ke dalam adzab yang sangat berat.” (Q.S. Al-Jin [72]: 17)

Allah subhanahu wata’ala yang menentukan takdir semua makhluk, tidak ada yang dapat mengubahnya selain Dia. Allah yang menentukan kebaikan dan keburukan, kebahagiaan dan kesengsaraan, kaya dan miskin, laki-laki dan perempuan. Manusia tidak dapat melawannya.

Jika Allah menetukan kemiskinan kepada seseorang, maka tidak ada seorangpun yang bias membuatnya kaya. Ketika Allah menentukan kesengsaraan bagi seseorang, maka tidak ada satu pun yang dapat membuatnya bahagia.

Bila demikian, kemana manusia hendak lari? Kemana manusia hendak berteduh dan bernaung dari takdir yang tak dapat diubah kecuali atas seizin-Nya? Kemana manusia hendak bersandar dari sesuatu urusan yang tidak berada di tangannya?

Orang-orang yang berpikir tentu akan bernaung kepada Dzat yang telah mentakdirkan segala sesuatu. Karena hanya dalam naungan-Nya ia akan merasakan ketenangan. Hanya dengan menyandarkan diri kepada-Nya, dia akan memperoleh kebahagiaan. Hanya dalam kepasrahan kepada-Nya, akan sirna segala kecemasan dan kesedihan.

Bagaimana mungkin seorang hamba Allah tidak bahagia, bukankah jejak-jejak kasih saying Allah begitu tampak dalam takdir kehidupannya? Bagaimana ia tidak tenang, bukankah semua takdir yang ia suka atau yang ia benci merupakan sarana untuk menggapai ridha dan cinta-Nya?

Bagaimana mungkin seorang hamba-Nya akan merasakan kesedihan dan ketakutan, karena sebelumnya ia telah diajarkan cara menghadapinya: bersabar ketika sengsara, bersyukur saat bahagia. Sehingga kesulitan dan kesusahan hidup yang dirasakannya tidak akan menyebabkannya berputus asa; kebahagiaannya tidak akan membawanya kepada kesombongan.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah pernah menuturkan bahwasanya dia telah merasakan hakikat kebahagiaan ini: “Apa yang dapat dilakukan musuh-musuhku? Surga ada di dadaku, kemanapun aku pergi dan dimanapun aku berada, ia tetap bersamaku. Sekiranya mereka memenjaraknku, maka penjara bagki adalah khalwat. Sekiranya mereka mengusirku, maka pengusiran itu bagiku menjadi tamasya. Sekiranya mereka membunuhku, maka terbunuhnya diriku adalah syahid di jalan Allah.”

Bahkan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, manusia yang paling sempurna penghambaan dirinya kepada Allah subhanahu wata’ala, juga ditakdirkan ujian yang berat dalam berdakwah. Yaitu meninggalnya dua orang yang selama ini menjadi pembela dan penopang dakwah beliau: Khadijah, istri belia dan Abu Thalib, paman belia. Ini membuat kaum Quraisy semakin meningkatkan permusuhannya kepada beliau. Mereka mengultimatum Rasulullah agar menghentikan dakwahnya, bahkan berani mengusir beliau dari kampung halamannya, Makkah al-Mukarramah.

Al-Qur’an menyebutkan bahwa orang yang berbahagia adalah orang yang menjalankan perintah Allah subhanahu wata’ala. Allah subhabahu wata’ala berfirman:

(( قدأفلح المؤمنون {١} الذين هم في صلاتهم خشعون {٢} والذين هم عن اللغو معرضون {٣} والذين هم للزكوة فعلون {٤} والذين هم لفروجهم حفظون {٥} إلا على أزوجهم أو ما ملكت أيمنهم فإنهم غيرملومين {٦} فمن ابتغى وراء ذلك فأوللىك هم العادون {٧} والذين هم لأمنتهم وعهدهمرعون {٨} والذين هم على صلوتهم يحافظون {٩} )) سورة المؤمنون : ١–٩

“Sesungguhnya beruntung orang-orang yang beriman, (yaitu) orang yang khusyuk dalam shalatnya, dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tidak berguna, dan orang yang menunaikan zakat, dan orang yang memelihara kemaluannya, kecuali terhadap istri-istri mereka atau hamba sahaya yang mereka miliki; maka sesungguhnya mereka tidak tercela. Tetapi barangsiapa mencari dibalik itu (zina, dan sebagainya), maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas. Dan (sungguh beruntung) orang yang memelihara amanat-amanat dan janjinya, serta orang yang memelihara shalatnya.” (Q.S. Almu’minuun [23]: 1-9)

Allah subhanahu wata’ala berfirman:

(( الم {١} ذلك الكتب لاريب ث فيه ث هدى للمتقين {٢} الذين يؤمنون بالغيب ويقيمون الصلوة ومما رزقنهم ينفقون {٣} والذين يؤمنون بمآ أنزل إليك ومآ أنزل من قبلك وبالأخرة هم يوقنون {٤} أولىك على هدى من ربهم صلى وأولىك هم المفلحون {٥} )) سورة البقرة : ١–٥

“Alif Lam Mim. Kitab (al-Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa, (yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, melaksanakan shalat, dan menginfakkan sebagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka, dan mereka yang beriman kepada (al-Qur’an) yang diturunkan kepadamu (Muhammad) dan (Kitab-Kitab) yang telah diturunkan sebelum engkau, dan mereka yakin akan adanya akhirat. Merekalah yang mendapatkan petunjuk dari Rabbnya, dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (Q.S. Al-Baqarah [2]: 1-5)

Sebaliknya, Allah subhanahu wata’ala menyebutkan orang yang melanggar perintah-Nya adalah orang yang merugi.

Allah berfirman:

((…… والذين ءامنوا بالبطل وكفروا باالله أولىك هم الخسيرون {٥٢} )) سورة العنكبوت : ٥٢

“…. Dan orang yang percaya kepada yang batil dan ingkar kepada Allah, mereka itulah orang-orang yang merugi.” (Q.S. Al-Ankabut [29]: 52)

(( الذين ينقضون عهدالله منم بعد ميثقه ويقطعون مآ أمرالله به أن يوصل ويفسدون فى الأرض ج أولىك هم الخسيرون {٢٧} )) سورة البقرة : ٢٧

“(yaitu) orang-orang yang melanggar perjanjian Allah setelah (perjanjian) itu diteguhkan, dan memutuskan apa yang diperintahkan Allah untuk disambungkan dan berbuat kerusakan di bumi. Mereka itulah orang-orang yang merugi.” (Q.S. Al-Baqarah [2]: 27)

 

Daftar Pustaka:

Naro, Armen Halim. 2016. Untukmu Yang Berjiwa Hanif. Jakarta: Pustaka Imam Asy-Syafi’i

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.