Pondok Pesantren Darul Qur'an Wal-Hadits Martapura OKU

SEMUA TENTANG CINTA

SEMUA TENTANG CINTA

 

SEMUA TENTANG CINTA-Berkaitan definisi cinta, Al-Imam Ibnul Qayyim Rahimahullah berkata, “tidaklah ada batasan cinta yang lebih jelas daripada kata cinta itu sendiri. Definisi yang disebutkan tentang cinta tidak menambah jelas, bahkan malah membuat nya makin rumit. Maka tidak bisa dilukiskan hakikatnya secara jelas, kecuali dengan kata cinta itu sendiri”.

  • CINTA KEPADA ALLAH

Termasuk hak persaudaraan didalam Islam, hendaknya diantara kita dan sesama muslim, terjalin tali cinta karena Allah bukan karena kepentingan dunia.

Jika persaudaraan dan persahabatan dilandasi karena Allah maka persahabatan tersebut akan langgeng.

Adapun jika persahabatan karena kepentingan dunia maka cinta dan persahabatan tersebut akan pudar dan sirna.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman :

الا خلاء يومئذ بعضهم لبعض عدو إلا المتقين

Artinya: “Teman-teman akrab pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain kecuali orang-orang yang bertaqwa.” (QS. Az-Zukhruf [43]: 67)

Hal ini terjadi karena persahabatan dan cinta mereka di dunia bukan karena Allah sehingga pada hari kiamat, persahabatan tersebut berubah menjadi permusuhan.

Rasulullah sallallahu ‘alaihi  wasallam bersabda:

ثلاث من كن فيه وجد حلاوة الإيمان أن يكون الله و رسوله أحب إليه مما سوهما وأن يحب المرء لا يحبه إلا لله و أن يكره يعود في الكفر كما يكره أن يقذف في النار

Artinya: “Ada tiga perkara yang tidak terdapat pada diri seseorang maka dia akan mendapati manisnya iman: (1). jika dia lebih mencintai Allah dan Rasulnya daripada selain keduanya; (2). mencintai seseorang tidaklah lain karena Allah; (3). jika dia benci kembali pada kekafiran setelah Allah menyelamatkan dia darinya sebagaimana dia benci kalau dilemparkan ke dalam neraka.” (HR. Muslim)

Inilah yang yang disebut hakikat keimanan.

  • BENCI KARENA ALLAH

Manusia tidak ada yang sempurna (kecuali para nabi dan rasul serta orang-orang yang dikehendaki oleh Allah) pada diri seseorang terkumpul pekarangan yang baik dan yang buruk. Maka dari itu, jika melihat saudara kita sesama muslim bersalah, bencilah dia karena Allah. Sikap yang benar adalah kita mencintai nya karena dia berbuat ketaatan dan kita membencinya karena dia berbuat dosa.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata,” apabila terkumpul pada diri seseorang perbuatan baik, buruk dan dosa, ketaatan dan kemaksiatan, Sunnah dan bid’ah maka dia berhak untuk mendapat perlakuan simpati dan cinta sesuai dengan kadar kebaikannya, dan berhak mendapat perlakuan benci dan permusuhan sesuai kadar kejelekannya. Maka dari itu, pada diri seseorang bisa terkumpul perbuatan yang dapat memuliakannya atau menghinakannya. Seperti seseorang pencuri yang miskin, dia berhak dipotong tangannya karena mencuri dan berhak mendapat bantuan dari Baitul mal untuk memenuhi kebutuhannya karena dia miskin. Ini pokok keyakinan yang  telah disepakati oleh ulama ahlussunah wal jama’ah. Yang menyelisihi pokok ini adalah orang-orang khawarij, mu’tazilah, dan yang sejalan dengan mereka.”

  • ALLAH DAN RASUL NYA YANG LEBIH BERHAK

Kita sepakat bahwa cinta Allah dan Rasul harus lebih diutamakan daripada cinta kepada siapapun.

Allah Subhanahu Wata’ala berfirman:

قل إن كنتم تحبون الله فاتبعونى يحييكم الله ويغفر لكم ذنوبكم والله غفور رحيم

Artinya: “Katakanlah, “jika  kamu ( benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah maha pengampun lagi maha penyayang.” (QS Ali Imran [3]: 31)

  • CINTA YANG TIDAK BOLEH DIBAGI

Cinta kepada Allah termasuk di dalam ibadah bahkan rukun ibadah. Al-Imam Ibnul Qayyim berkata, “ibadah akan terkumpul (padanya) dua perkara yang pokok: (1) puncak kecintaan dan (2) puncak perendahan diri dan tunduk kepada -nya maka tidak dikatakan beribadah kepada-nya. Dan barangsiapa tunduk tetapi tidak mencintai-nya tidak dikatakan orang yang beribadah kepada-nya sampai dia beribadah dengan cinta dan ketundukan.

Karena termasuk ibadah, cinta ini tidak boleh dibagi kepada selain Allah.

Barangsiapa memalingkan rasa cintanya kepada selain Allah, maka dia telah terjatuh ke dalam kesyirikan, yaitu menyamakan selain Allah dengan Allah dalam halkecintaan.

  • CINTA YANG FITRI

Yaitu perasa cinta yang bersifat kodrati, yakni yang Allah jadikan sebagai pembawaan di dalam diri setiap manusia. Seperti cinta kepada lawan jenis, cinta kepada anak-anak, cinta kepada istri, dan sebagainya. Cinta semacam ini adalah cinta yang wajar, tidak tercela, asalkan tidak mengalahkan cinta kepada Allah dan Rasulnya dan tidak menyibukkan diri dari tujuan hidup manusia, yaitu beribadah.

Allah Subhanahu Wata’ala berfirman:

زين للناس حب الشهوات من النساء والبنين والقنطير المقنطرة من الذهب والفضة و الخيل المسومت والا نعم و الحرث ذلك متع الحيوة الدنيا والله عنده حسن مئاب

Artinya: “Dijadikan indah pada pandangan manusia cinta kepada apa-apa yang diingini, yaitu wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak, dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah lah tempat kembali yang baik (surga).” (QS. Ali- Imran [3]: 14)

Bahkan cinta dan sayang kepada istri termasuk di dalam kesempurnaan nikmat Allah yang dianugerahkan kepada para hamba-nya.

  • SALAHKAH BILA KITA JATUH CINTA?

Disaat menginjak usia baligh, ada rasa kecenderungan untuk senang/suka dengan lawan jenis. Bahkan sebagian orang jatuh dalam kondisi yang namanya kasmaran dan jatuh cinta. Kondisi seperti ini adalah normal, termasuk cinta yang Fitri yang telah ditakdirkan oleh Allah bagi semua manusia. Namun, ketika jatuh cinta, kita harus memilih satu dari dua jalan, jalan yang halal ataukah yang haram.

Jalan yang halal akan membawa kepada kebahagiaan dan kedamaian yang sempurna bagi laki-laki dan wanita, yaitu apabila kaki-laki dan wanita bersanding dengan jalan nikah yang sah. Dengan itu akan terjalin ikatan yang hakiki antara suami dan istri berdasarkan keimanan dan kasih sayang sehingga dorongan biologis nya akan tersalurkan pada jalan yang paling suci dan mulia seraya mendapat berkah dan pahala. Pada akhirnya, dari jalan ini akan dihasilkan keturunan-keturunan yang baik dan Sholih.

Adapun jalan-jalan yang dihembuskan oleh setan, yang bermuara pada nafsu bejat, seperti pacaran dan berzina, tidak lain hanya membuahkan kenikmatan semu dan membawa petaka di dunia dan akhirat. Terlebih bagi kaum wanita, merekalah yang mendapat banyak kerugian dan penyesalan darinya.

Jadilah engkau orang yang selalu berdoa agar dicintai oleh Allah.

Allahu A’lam…

REFERENSI:

Ditulis oleh : Abu Abdillah Syahrul fatwa bin lukmanحفظالله

Diringkas oleh : Dinda oktarinna ( pengajar ponpes Darul Quran Wal Hadits)

Sumber majalah Al Furqon edisi 3 tahun ke-15

Baca juga artikel:

Baca juga artikel:

Hukum Jual Beli dengan Uang Muka

Apa Hukum Wanita Safar atau Berpergian Jauh

Be the first to comment

Ajukan Pertanyaan atau Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.