Pondok Pesantren Darul Qur'an Wal-Hadits Martapura OKU

Cara Meraih Cinta Allah

CARA MERAIH CINTA ALLAH

CARA MERAIH CINTA ALLAH – Alhamdulillah segala puji bagi Allah rabb semesta alam, yang masih memberikan kepada kita banyak kenikmatan-kenikmatan yang sangat banyak sehingga kitab isa merasakan nikmat sampai saat ini.shalawat beserta salam tak lupa kita curahkan kepada Nabi kita, Nabi Muhammad yang telah membawa dari zaman kegelapan menuju zaman terang menderang, Amma ba’du.

SEBAB KE ENAM MENGHAYATI SEGALA KARUNIA DAN NIKMAT YANG TELAH DI BERIKAN OLEH ALLAH, BAIK NIKMAT LAHIR MAUPUN BATIN

Semakin dalam penghayatan seorang hamba akan karunia dan nikmat dari Allah Ta’ala, maka semakin besar pila cintanya kepada Allah Ta’ala. Hal itu karena:

Pertama: manusia di fitrahkan untuk mencintai dirinya, eksistensi dan kesempurnaanya. Sebaliknya, membenci kekurangan, kesengsaraan dan kematian. Hal itu seharusnya membuat manusia mencintai Allah Ta’ala dengan sepenuh hati, karena Allah lah yang telah menciptakan dan membuatnya ada, padahal sebelumnya dia bukan apa-apa. Allah lah yang memberinya kekuatan padahal sebelumnya dia adalah makhluk yang lemah. Allah lah yang memberinya keindahan rupa padahal sebelumnya dia hanya setetes air yang hina.

Kedua: Tabiat manusia adalah mencinyai orang yang berderma kepadanya, yang berlaku lemah lembut, serta membantunya dalam kesulitan. Jika manusia menghayati, dia akan tahu bahwa Allah lah satu satunya dzat yang selalu mengasihi dan menyayanginya tanpa batas,dengan segala nikmat dan karunia yang Dia berikan. Sekalipun nikmat tersebut datang melalui uluran tangan orang lain, namun pada hakikatnya itu semua bersumber dari Allah Ta’ala.

Ketiga: Orang dermawan di hormati dan di cinta oleh semua orang, bahkan oleh orang-orang yang belum pernah mendapatkan uluran tangannya. Oleh karena itu jika ada seorang pemimpin yang terkenal dengan sifat adil, santun dan mengasihi rakyatnya, hati kita merasa hormat dan cinta kepadanya, bahkan berharap untuk bisa mendapatkan Kebaikan darinya, meskipun dia berada di negeri lain yang jauh. Maka terlebih lagi dengan sang pencipta yang telah menciptakan kita dan memberikan karunia yang tak terhingga, seharusnya kita mencintainya lebih dari apapun.

Semakin banyak nikmat dan karunia Allah ta’ala seharusnya semakin besar dan tinggi cinta kita kepada Allah Ta’ala mak jika nikmay Allah itu tak terhingga, seharusnya cinta kita kepadanya tak mengenal batas. Allah Subhanahu Wata’ala berfirman:

وإن تعدوا نعمة الله لا تحصوها

Artinya: “Jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya”. (QS. Ibrahim/14: 34)

 

Ayat tersebut Allah turunkan dalam dua surat yang berbeda, yaitu surat Ibrahim ayat 34 (di atas) dan sutrat an nahl ayat 18. Penuntup dari dua ayat tersebut pun berbeda satu dengan yang lainya.

Dalam surat ibtahim ayat tersebut di tutup dengan firman Allah Ta’ala:

إن الإنسان  لظلوم كفار

Artinya: “Sesungguhnya manusia itu sangat dzalim dan sangat mengingkari nimat Allah.” (QS. Ibrahim/14: 34)

Sedangkan dalam surat an nahl ayat tersebut di tutup dengan firman Allah Ta’ala:

إن الله لغفور رحيم

Artinya: “Sesungguhnya Allah maha pengampun lagi maha penyayang”. (QS. N Nahl /16: 18)

 

Imam ar razi Rahimahullah menjelaskan dua ayat tersebut: jika di hayati, ada sebuah poin yang sangat penting, seakan akan Allah Ta’ala berfirman segala nikmat dan karunia yang kalina peroleh wahai manusia adalah bersumber dari Ku. Kalian menikmati karunia itu tanpa mensyukurinya, dan kalian gunakan untuk berbuat dzalim. Sedangkan aku memberi nikmat tersebut dengan penuh ampunan dan kasih sayang. Maka jika kalina dzalim aku ampuni dan jika kalian kufur aku kasihi dan sanyangi. Aku tau kalian lemah dan membangkang, mak kekurangan itu aku balas denga karunia dan pembangkangan itu aku balas dengan kasih sayang.

Salah satu bukti kemurahan Allah Ta’ala, bahwa manusia tidak di tuntuk untuk bisa menghitung semua nikmat yang Allah Ta’ala berikan, karena manusia tidak mungkin akan sanggup melakukanya. Kewajiban manusia adalah menghayati nikmat nikmat tersebut, mentadaburi dan mensyukuri sebatas yang dia mampu.

Pada hakikatnya menghayati dan mentadaburi nikmat itu sendir termasuk bentuk syukur nikmat,sehingga orang yang menghayati dan mentadabburi nikmat telah melakukan dua ibadah sekaligus,yaitu: syukur dan tadabbur. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya): “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malan dan siang terdapat tanda tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang berakal. (yaitu) orang orang yang mengingat Allah sambil berdiri, atau dalm keadaan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata).” Wahai rabb kami, tidaklah engkau menciptakan ini sia sia, maha suci engkau, lindunhilah kami dari azab neraka. (QS. Al Imran /3: 190: 191)

Contoh nikmat Allah Ta’ala paling nyata yang harus di tadabburi oleh manusia adalah proses penciptaan manusia itu sendiri. Bagaimana Allah ta’ala menciptakanya dari setetes air yang berisikan sari pati tanah lalu menanamnya dalam Rahim Wanita yang kokoh? bagaiman bisa janin yang tertutup rapat mendapatkan asupan makanan sampai ia lahir?, bagaimana janin itu ada yang terlahir sebagai laki laki maupun Wanita tanpa ada seorang pun yang bisa mengaturnya?, bagaimana Allah Ta’ala mengajari bayi yang baru terlahir untuk bisa minum dari air susu ibunya?, bagaimana air susu itu bisa menumbuhkan daging dan tulang-tulang?, hingga akhirnya bayi itu tumbuh menjadi manusia sempurna yang bisa melihat, berbicara dan melakukan segala aktivitasnya.

Dan masih banyak lagi nikmat serta karunia yang Allah Ta’ala berikan, yang membuat hamba merasa malu Ketika tidak bisa menghayati dan menyukurinya. Terlebih lagi jika tidak bisa menananmkan rasa cinta (kepada Allah) dalam hatinya.

SEBAB YANG KE TUJUH INKISARUL QOLBI (LULUHNYA HATI) DI HADAPAN ALLAH TA’ALA

Banyak sekali kata atau ibarat yang menunjukkan makna inkisarul qolbi, di antaranya adalah khusu’, tadzallul (merendahkan diri), iftiqar (perilaku yang menunjukkan bahwa dia sangat membutuhkan). Di antara kata kata ini, khusu’ adalah cakupan maknanya secara umum lebih mendekati makna inkisar di bandingkan dengan yang lainnya. Oleh karena itu, pada pembahasaan ini, kita lebih fokuskan pada pembahasan khusyu’.

PENGERTIAN KHUSYU’

Secara Bahasa: Khusyu’ secara Bahasa ialah rendah hati, tunduk dan tenang, terkadang juga bermakna; hancur dan pecah.

Secara istilah: Secara syar’i para salaf memiliki pengertian yang berbeda-beda, di antaranya:

-ketundukan hati di hadapan Allah Ta’ala.

– Tunduk dan patuh terhadap kebenaran indikasinya, mampu menerima nasehat yang awalnya dia selisihi.

– Redupnya gejolak syahwat, dan tenaganya gemuruh di dada, serta tumbuhnya rasa pengagungan di dalam hati.

Penegertian pengertian di atas semuanya menunjukkan bahwa khusyu’ tempatnya di dalam hati, kemudian menyebarkan pengaruh kepada anggota tubuh.

Di hati, khudyu’ dapat memberikan pengaruh pada diri seseorang. Ibnu qayyim rahimahullah menyebutkan bahwa khusyu’ yaitu perpaduan antara pengagungan, rasa cinta , dan ketundukan.

Khusyu ialah suatu keadaan yang ada pada seseorang yang sedang mendekatkan diri kepada Allah. Saat itu , seorang di tuntut untuk dalam semua keadaan, bukan hanya Ketika shalat. Meskipun shalat merupakan tempat terlihatnya pengaruh dari khusyu’, karena khusyu’ meruakan ruh dari shalat seseorang, serta sebaik-baik adap yang ia harus ia perhatikan di dalam shalatnya. Maka khusyu’ selalu berkaitan baik di dalam maupun di luar shalat. Adapun jika seseorang lali dalam sepanjang waktu, namun ian ingin mendapatkan kekhusyu’an di dalam shalat maka ini sangat mustahil dia dapatkan. Karenanya Allah Ta’ala berfirman (yang artinya): sesungguhnya beruntung orang orang yang beriman. (yaitu) orang yang khusyu’ dalam shalatnya. (QS. Al mu’minun/23: 1-2).

Karena mereka telah mewujudkan keimanan terlebuh dahulu, baru kemudia mereka merasakan khusyu’ di dalam hati, lalu muncullah pengaruh dalam shalat mereka, serta pada ibadah-ibadah lain yang di sebut di ayat selanjutnya, iman mujahid mengatakan: “orang orang yang khusyu’ adalah orang-orang mukmin yang sesungguhnya.”

Para pendahulu kita dalam generasi pertama umat ini telah memberikan contoh yang sempurna tentang kekusyu’an di hadapan Allah, di anatranya iayah apa yang di ceritakan tentang Abdullah bin Zubair Radiya Allah huanhuma apa yang sedang melaksanakan shalat terlihat seperti tiang, karena saking khusyu’nya. Dn Ketika ia sujud, burung burung hinggap di punggungnya.

Sesungguhnya mereka telah mendirikan shalat dengan sebenar benarnya sehingga hiduplah hati hati mereka dan ketenangan serta kebahagiaan yang mereka dapatkan, sebagaimana sabda Nabi: ((dan di jadikan shalat sebagai ketenangan hatiku).

Kesimpulannya, yang saya ambil dari pelajaran dari pembahasaan ini adalah Allah ta’ala maha adil atas segala hal. Dan di dalam ibadah -ibadah kita seharusnya kita sebisa mungkin untuk khusyu’ karena khusyu’ adalah sebab di terimanya amal ibadah kita.

REFERENSI:

  • al-Qur’anul karim, Mushaf Utsmani
  • Al-Ahadits An-Nabawiyyah
  • Beberapa kitab Aqidah Tauhid

Ditulis oleh: Supan jaya (ustadz pengabdian DQH)

Baca juga artikel:

Tawakkal Hanya Kepada Allah

kumpulan berbagai ceramah singkat dan kajian Islam

 

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.