Pondok Pesantren Darul Qur'an Wal-Hadits Martapura OKU

SEMUA NAMA ALLAH TA’ALA BAIK

SEMUA NAMA ALLAH BAIK

 

SEMUA NAMA ALLAH TA’ALA BAIK-Segala puji bagi Allah, kita memuji-Nya dan meminta pertolongan, pengampunan dan petunjuk-Nya. Kita berlindung kepada Allah dari kejahatan diri kita dan keburukan amal kita. Barang siapa mendapat petunjuk dari Allah maka tidak ada yang menyesatkannya, dan barang siapa yang sesat maka tidak ada pemberi petunjuknya baginya. Aku bersaksi bahwa tiada Illah yang berhak di ibadahi dengan benar melainkan Allah dan bahwa Muhammad adalah Hamba dan Rasulnya. Ammaa ba’du

Allah banyak memuji di dalam Al-Qur’an Al-Karim, nama-nama-Nya yang mulia dan menyifatinya dengan kebaikan. Allah mengulang penyifatan-Nya tersebut didalam Al-Qur’an dalam empat tempat. Allah Subhanahu Wata’ala berfirman:

ولله الأسماء الحسنى فدعوه بها وذر الذين يلحدون في أسمئه سيجزون ما كانوا يعملون

Artinya: “Hanya milik Allah asma-ul husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asma-ul husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-nama-Nya. Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. Al-A’raf: 180)

الله لآإله إلا هو له الأسمآء الحسنى

Artinya: “(Dialah) Allah, tidak ada tuhan selain Dia, yang mempunyai nama-nama yang terbaik.”

 (QS. Taha: 8)

هو الله الخالق البارئ المصور له الأسمآء الحسنى يسبح له ما في السموت والأرض وهو العزيز الحكيم

Artinya: “Dialah Allah Yang Menciptakan, Yang Mengadakan, Yang Membentuk Rupa, Yang Mempunyai Nama-Nama Yang Paling baik. Bertasbih kepada-Nya apa yang ada di langit dan dibumi. Dan Dia-lah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. Al-Hasyr: 24)

Didalam ayat-ayat ini, ada penyifatan tentang nama-nama-Nya dengan kebaikan, maksudnya nama-nama tersebut sampai kepada puncak kesempurnaan dan kebaikan, tidak ada yang lebih baik darinya dari segala segi. Bahkan nama-nama tersebut memiliki kebaikan yang sempurna secara mutlak, dikarenakan dia adalah nama-nama yang terbaik dan termulia.

وله المثل الأعلى في السموت والأرض

Artinya: “Dan bagi-Nyalah sifat yang Maha Tinggi dilangit dan dibumi,” (QS. Ar-Ruum:27)

Maksudnya, yang sempurna dan yang agung dalam dzat, nama, dan sifat-Nya. Oleh karena itu, nama-nama Allah adalah sebaik-baiknya nama dan tidak ada yng lebih baik darinya. Tidak ada yang menyamai, menandingi, serta menyerupai maknanya. Adapun mengartikan (menerjemahkan) nama Allah dengan Bahasa atau kata yang lain, tidak akan sama dengan kata asalnya, tetapi hal tersebut hanya sekedar untuk mendekatkan kepada pemahaman, dikarenakan kesempurnaannya dalam makna dan lafadz nya. Dikarenakan lafadz dan makna nya yang baik, sebagaimana sifat-sifat-Nya Maha Sempurna. Nama-nama-Nya tersifati dengan kebaikan semuanya, tidak ada nama-Nya yang tidak baik, karena itu adalah nama-nama yang terpuji. Allah Ta’ala dikarenakan keagungan, kesempurnaan, kemuliaan, dan keibdahan-Nya tidak lah dinamakan, melainkan dengan nama-nama yang baik, sebagaimana Dia tidak disifati, melainkan dengan sebaik-baiknya sifatdan tidak disanjung, kecuali dengan sebaik-baiknya sanjungan.

Nama-nama Allah, semuanya baik dikarenakan dia menunjukkan sifat yang sempurna dan agung bagi-Nya. Adapun jika nama itu baik, akan tetapi tidak menunjukkan akan sifat yang sempurna, maka itu bukanlah nama Allah. Nama yang tidak menunjukkan akan sifat yang sempurna, kemungkinan menunjukkan akan kekurangan atau terbagi menjadi sifat terpuji dan sifat yang tercela. Hal ini bukanlah termasuk nama allah. Semua nama allah itu harus berdasar dalil dan menunjukan akan sifat kesempurnaan dan kemuliaan Allah ta’ala. Nama-nama Allah semuanya baik ditinjau dari sis makna dan hakikatnya bukan hanya dari lafaznya, karena jika hanya dari lafaznya tanpa makna tidaklah bisa dikatakan baik, dan tidak dapat menunjukkan pujian dan kesempurnaan. Hal tersebut akan menjadikan nam Allah yang menunjukan kekerasan, kemurkaan, dan siksa boleh diganti dengan namayang menunjukan akan kasih sayang dan kebaikan, atau sebaliknya. Semisal, Ya Allah sesunguhnya aku telah mendzalimi diriku, maka ampunilah aku, karena engkau sangat pedih siksamu atau Ya Allah berilah aku, karena engkaulah yang dsapat mencegah dan menggenggam, dan lain sebagiannya, dari ucapan yang kurang tepat.

Oleh karena itu,  setiap nama Allah menunjukkan akan makna kesempurnaan dan tidak menunjukkan akan nama yang lain. Ar-Rahmaan, menunjukkan akan sifat kasih sayang, Al-Aziz, menunjukkan akan sifat kemuliaan, Al-Khaliq menunjukkan akan sifat penciptaan, Al-Karim menunjukkan akan sifat kedermawanan, Al-Muhsin menunjukkan akan sifat kebaikan, dan lain seterusnya. Meskipun semua nama tersebut menunjukkan akan dzat yang satu yaitu Allah Ta’ala. Ditinjau dari sisi dzat, maka nama-nama tersebut satu maknanya, tetapi jika ditinjau dari sifat, maka maknanya berbeda-beda sesuai dengan penunjukkan setiap nama.

Al-‘Allamah Ibnu Al-Qoyyim Rahimahullah berkata, “semua nama Allah Ta’ala menunjukkan akan nama-nama yang terpuji. Seandainya hanya menunjukkan akan lafadznya saja tanpa makna tidaklah menunjukkan akan pujian. “Allah Ta’ala telah menyifati semua dengan kebaikan. Allah Ta’ala berfirman, “Hanya milik Allah asma-ul husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asma-ul husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran (menyebut) nama-nama-Nya. Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. Al-A’raaf: 180)

Nama-nama itu tidak menunjukkan akan kebaikan jika hanya menunjukkan akan lafadz tanpa menunjukkan akan kesempurna sifat-sifatnya.

Oleh karena itu, Ketika Sebagian orang arab mendengar seseorang membaca:

والسارق والسارقة فاقطعوا أيديهما جزاء بما كسبا نكالا من الله

Artinya: “Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri potonglah tangan keduanya (sebagai) pembalasan dari apa yang mereka kerjakan dan sebagai siksaan dari Allah.” (QS. Al-Maidah: 38)

Kemudian orang tersebut mengakhirinya dengan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” orang arab itu mengatakan, “Yang terakhir ini bukanlah kalamullah.” Orang yang membaca tersebut mengatakan, “Apakah engkau mendustakan Kalamullah?” Dia berkata, “Tidak, tetapi itu bukanlah kalamullah, orang itu membaca lagi, (والله عزيز حكيم) Maka orang arab itu berkata, “Engkau benar (sekarang), Dia Maha Mulia, maka Dia menghukumi dan (memerintahkan) untuk memotong (tangan pencuri), seandainya ia mengatakan, “Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” tidaklah Dia memerintahkan untuk memotong (tangan pencuri). Oleh karena itu, jika ayat tentang rahmat diakhiri dengan nama yang menunjukkan akan azab atau sebaliknya, maka tidak lah tepat pengungkapannya.” Oleh sebab itu sesungguhnya berdo’a kepada Allah dengan nama-nama-Nya yang diperintahkan dalam Firman-Nya, “Maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asma’ul husna itu,” tidak akan terwujud kecuali dengan memahami makna nama-nama tersebut. Karena jika orang tersebut tidak memahami makna-makna nya, mungkin Ketika ia berdoa menyebut nama Allah bukan pada tempatnya, seperti mengakhiri permintaan rahmat dengan nama yang berkaitan dengan azab atau sebaliknya. Hal ini akan merusak ucapan dan ketidak tepatan dalam pengungkapan. Barang siapa yang merenungkan doa-doa yang berada dalam Al-Qur’an dan Sunnah Nabi, makai a akan mendapati bahwa tidaklah doa tersebut diakhiri, melainkan dengan nama-nama Allah yang baik dan masih memiliki keterkaitan dengan doa tersebut. Allah Ta’ala berfirman,

ربنا تقبل منا إنك أنت السميع العليم

Artinya: “Ya Rabb kami terimalah daripada kami (amalan kami), sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. All-Baqarah: 127)

ربنا ءامنا فاغفرلنا وارحمنا وأنت خير الرحمين

Artinya: “Ya Rabb kami, kami telah beriman, maka ampunilah kami dan berilah kami rahmat dan Engkau adalah Pemberi rahmat Yang Paling Baik.” (QS. Al-Mukmin:109)

ربنا افتح بيننا وبين قومنا باالحق وأنت خير الفتحين

Artinya: “Ya Rabb kami, berilah keputusan antara kami dan kaum kami dengan hak (adil) dan Engkaulah Pemberi Keputusan yang sebaik-baiknya.” (QS. Al-A’raf: 89).

Demikianlah yang ada dalam setiap doa-doa yang tercantum dalam Al-Qur’an dan Sunnah.

Sesungguhnya pengenalan seorang muslim terhadap sifat-sifat Allah yang tercakup dalam nama-nama-Nya yang baik, bisa menambahkan pengagungan, pemuliaan, dan semangat dalam memahami makna-makna nya yang mulia dan kandungannya yang agung serta menjauhkannya dari kesesatan orang-orang yang menyimpang, takwil orang-orang yang berada diatas kebathilan, dan dari prasangka orang-orang yang jahil.

Dari sini bis akita simpulkan pelajaran dan buah yang bisa dipetik dari penyifatan bagi nama-nama Allah, dalam poin-poin berikut ini:

  • Nama-nama tersebut menunjukkan akan sebaik-baiknya nama dan semulia-mulianya sifat. Allah Ta’ala adalah dzat yang tersifati dengan kemuliaan, kesempurnaan, dan keindahan.
  • Didalam nama-nama Allah tersebut terkandung pengagungan, pemuliaan, pembesaran, dan penampakan akan keagungan, pujian, kesempurnaan, kemuliaan, dann kebesarannya.
  • Setiap nama Allah menunjukkan akan sifat kesempurnaan baginya. Oleh karena itulah, dia disebut dengan Al-Husna (yang paling baik), dan sifat-sifatnya semua adalah sifat kesempurnaan, kemuliaan, dan perbuatan-perbuatannya penuh dengan hikmah, rahmat, kebaikan, dan keadilan.
  • Tidak ada satu nama pun yang mengandung kejelekan atau kekurangan. Kejelekan tidak boleh disandarkan kepadanya. Tidak ada satu pun kejelekan yang masuk kedalam zat, sifat, maupun perbuatannya, maka tidak boleh disandarkan kepdanya, baik dalam perbuatan maupun sifat.
  • Sesungguhnya Allah memerintahkan hambanya untuk berdo’a dengan nama-nama-Nya, dalam firman-Nya, “Maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asma’ul husna itu,” doa ini mencakup doa ibadah dan doa mas’alah (permintaan). Hal ini adalah semulia-mulianya ketaatan dan pendekatan kepad-Nya.
  • Sesungguhnya Allah menjanjikan surga-Nya bagi orang yang mengamalkan Al-Asma’ Al-Husna secara hafalan, pemahaman, dan pengamalan yang sesuai dengan kandungannya. Ini merupakan berkah dari nama-nama Allah. Taufik itu hanya milik Allah.

Allahu ‘Alam Bishawaab…

Referensi:

Diringkas oleh :  Ayesa Artika A, dari kitab terjemahan FIKIH ASMA’UL HUSNA karya Prof. DR. Abdurrazaq bin Abdul Muhsin Al-‘Abbad Al-Badr, penerbit DARUSS SUNNAH, 2017

Baca juga artikel:

Kiat-Kiat Hijrah Dari Kemaksiatan Dan Istiqomah Dalam Ketaatan

Donasi Pelebaran Masjid Abi Bakr Ash-Shidiq Ponpes Darul-Qur’an Wal-Hadits OKU Timur

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.