Pondok Pesantren Darul Qur'an Wal-Hadits Martapura OKU

HUKUM TENTANG HAID, ISTIHADHAH DAN NIFAS

HUKUM HAID, ISTIHADHAH, NIFAS

Hukum tentang Haid, Istihadhah dan Nifas

(Part 1)

Segala puji bagi Allah yang Maha menakdirkan dan Maha Memberi petunjuk. Dia menciptakan manusia berpasang-pasangan antara lelaki dan perempuan, dari setetes air mani. Aku bersaksi bahwa tiada ilah yang berhak diibadahi kecuali Allah semata yang tidak ada sekutu bagi-Nya.

Segala puji bagi-Nya di dunia dan akhirat. Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya, yang telah diangkat ke langit lalu melihat tanda-tanda Rabb-nya Yang Mahabesar. Semoga shalawat dan salam tercurah atasnya, keluarga, para sahabatnya dan Para ulama.

Hukum tentang Haid

Haid secara bahasa adalah “sesuatu yang mengalir.” Menurut syariat, haid adalah “darah yang keluar dari dalam rahim wanita pada waktu-waktu tertentu, bukan karena sakit atau musibah.”

Allah menjadikan darah haid sebagai bawaan bagi anak wanita. Allah menciptakannya di dalam rahim sebagai makanan bagi anak yang masih berada di dalamnya ketika masa hamil, lalu ia berubah menjadi air susu setelah kelahirannya. Jika seorang wanita belum hamil atau menyusui, maka darah ini tidak punya saluran. Ia keluar pada waktu tertentu. Dikenal sebagai darah kebiasaan atau datang bulan (haid).

Umur Berapa Wanita Mulai Haid?

Kebanyakan wanita mengalami haid antara umur sembilan hingga 50 tahun.

Allah Subhanahu Wata’ala berfirman:

وآلّئى يئسن من آلمحيض من نّسآئكم إن آرتبتم فعدّتهنّ ثلاثة أشهر وآلّئى لم يحضن

Artinya: “Dan wanita-wanita yang tidak haid lagi (manopause) di antara wanita-wanitamu jika kamu ragu-ragu (tentang masa iddah-nya), maka masa iddah mereka adalah tiga bulan; dan begitu (pula) para wanita yang tidak haid.” (QS. Ath-Thalaq: 4)

Wanita yang tidak haid lagi (manopause) adalah yang telah berumur 50 tahun. Wanita yang belum haid adalah anak-anak kecil di bawah sembilan tahun.

Hukum bagi Wanita Haid

  1. Ketika ia sedang haid, diharamkan baginya berhubungan badan pada kemaluannya. Firman Allah Subhanahu Wata’ala:

ويسئلونك عن آلمحيض قل هو أذى فآعتزلوا آلنّسآء فى آلمحيض ولا تقربوهنّ حتّى يطهرن فإذا تطهّرن فأتوهنّ من حيث أمركم الله إنّ آلله يحبّ آلتّوّبين ويحبّ آلمتطهّرين.

Artinya: “Mereka bertanya kepadamu tentaang haid. Katakanlah: ‘Haid itu adalah suatu kotoran.’ Karena itu hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita di waktu haid; dan janganlah kamu mendekati mereka, sebelum mereka suci. Bila mereka telah suci, maka campurilah mereka itu di tempat yang di perintahkan Allah kepadamu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri.” (QS. Al- Baqarah: 222)

  1. Keharaman ini berlanjut hingga darah haid yang keluar itu berhenti dan ia mandi. Firman Allah Subhanahu Wata’ala:

ولا تقربوهنّ حتّى يطهرن فإذا تطهّرن فأتوهنّ من حيث أمركم الله.

Artinya: ‘’Dan janganlah kamu mendekati mereka, sebelum mereka suci. Apabila mereka telah suci, maka campurilah mereka di tempat yang diperintahkan Allah kepadamu.” (QS. AL-Baqarah: 222)

Dibolehkan bagi sang suami berhubungan dengan istrinya yang sedang haid, pada selain tempat keluarnya darah haid. Sabda beliau Shallallahu Alaihi Wasallam:

اصنعوا كلّ شيء إلاّ النّكاح.

Artinya: “Lakukanlah sekehendakmu terhadap istrimu kecuali nikah (bersetubuh pada kemaluannya)” (HR. Muslim)

  1. Wanita haid dilarang dan diharamkan melakukan shalat dan puasa selama masa haid. Jika ia tetap berpuasa dan shalat, maka hal itu tidak sah baginya. Sabda beliau Shallallahu Alaihi Wasallam:

أليس إذا حاضت المرأة لم تصلّ ولم تصم.

Artinya: “Bukankah bila seorang seorang wanita sedang haid, maka ia tidak shalat dan tidak pula berpuasa.”  (Muttafaq ‘alaih)

Jika wanita haid telah suci (dari haidnya), maka ia mengqadha puasanya tapi tidak mengqadha shalatnya, Aisyah Radhiyallahu Anha berkata:

كنّا نحيض على عهد رسول الله فكنّا نؤمر بقضاء الصّوم ولا نؤمر بقضاء الصّلاة.

Artinya: “Ketika kami sedang haid pada masa Nabi, kami diperintahkan untuk mengqaadha puasa dan tidak diperintahkan mengqadha shalat.” ( Muttafaq ‘alaih)

Perbedaannya adalah, bahwa shalat merupakan ibadah yang berulang-ulang, sehingga tidak diwajibkan untuk mengqadhanya, karena terdapat kesempitan (waktu) serta kesulitan dalam mengqadhanya. Berbeda hal dengan puasa. Wallahu a’lam.

  1. Wanita haid diharamkan menyentuh mushaf tanpa ada alas. Allah Subhanahu Wata’ala berfirman:

لّا يمسّه, إلّا آلمطهّرون.

Artinya: “Tidaklah menyentuhnya kecuali orang-orang yang disuciaan.” (QS. Al-Waqi’ah: 79)

Terdapat pula dalam surat yang dikirim Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam kepada Amr bin Hazm:

لايمسّ المصحف إلاّ طاهر.

Artinya: “Tidak boleh menyentuh mushaf kecuali orang yang telah bersuci (berwudhu).” (HR. An-Nasai dan yang lainnya)

Hal ini menyerupai hadits mutawatir, karena banyak diterima oleh manusia.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata, “Madzhab imam yang empat berpendapat, tidak boleh menyentuh mushaf kecuali orang yang telah bersuci.”

Tentang wanita haid yang membaca al-Qur’an tanpa menyentuh mushaf, maka para ulama berselisih pendapat dalam masalah ini. Pendapat yang lebih berhati-hati (aman), sesungguhnya ia tidak membaca al-Qur’an kecuali dalam keadaan darurat, misalnya jika ia takut lupa pada hafalannya. Wallahu ‘alam.

  1. Diharamkan bagi wanita haid melakukan thawaf di Ka’bah.

Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda kepada Aisyah yang sedang haid:

افعلي ما يفعل الحاجّ غير ألاّ تطوفي بالبيت حتّى تطهري.

Artinya: “Lakukanlah seperti apa yang dilakukan seseorang yang sedang berhaji, selain thawaf di Ka’bah hingga kamu suci.” ( Muttafaq ‘alaihi)

  1. Diharamkan baagi waanita haid berdiam di dalam masjid.

Sabda beliau Shallallahu Alaihi Wasallam:

إنّي لا أحلّ المسجد لحائض ولا لجنب.

Artinya: “Aku tidak menghalalkan bagi orang yang haid dan junub masuk ke masjid.” (HR. Abu Daud)

Dalam riwayat lain:

إنّ المسجد لا يحلّ لحائض ولا جنب.

Artinya: “Sesungguhnya masjid itu tidak halal bagi orang yang haid dan junub.” (HR. Ibnu Majah)

Wanita dibolehkan melewati masjid tanpa singgah di dalamnya.

Aisyah meriwayatkan, Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:

ناوليني الخمرة من المسجد. فقلت: إنّي حائض, فقال: إنّ حيضتك ليست بيدك.

Artinya: “Bawakan kepadaku tikar itu dari masjid.” Maka Aisyah berkata: “Sesungguhnya aku sedang haid.” Lalu Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda: “ Sesungguhnya haid kamu tidak terletak di tanganmu.” Dalam al-Muntaqa dikatakan, “Diriwayatkan oleh al-Jamaah kecuali al-Bukhari” (1/40)

Wanita haid boleh berdzikir, dengan membaca tahlil, takbir, tasbih dan doa-doa yang lain, serta berwirid yang disyariatkan ketika pagi dan petang serta ketika akan tidur maupun bangun. Ia juga tidak dilarang membaca buku, seperti tafsir, hadits dan fiqih.

Hukum ash-Shufrah dan al-Kudrah

  • Ash-Shufrah itu menyerupai nanah yang agak kekuning-kuningan.
  • Al-Kudrah, sesuatu seperti air kotor yang keruh.

Jika ash-Shufrah atau al-Kudrah keluar dari seorang wanita pada masa haid; maka ia termasuk haid dan berlaku baginya hukum-hukum haid yang telah dijelaskan sebelumnya. Tapi jika keluar di luar masa haid; maka ia tidak termasuk darah haid dan wanita itu suci. Ummu ‘Athiyah Radhiyallahu Anha berkata:

كنّا لا نعدّ الكدرة و الصّفرة بعد الطّهر شيئا.

Kami tidak menganggap al-kudrah serta ash-shufrah sebagai darah haid setelah suci ( dari haid).” (HR. Abu Daud)

Diriwayatkan oleh al-Bukhari tanpa lafazh:

بعد الطّهر

Setelah suci.” (HR. Bukhari)

Menurut ahli hadits, hadits ini dihukum marfu’, sebab ia dianggap sebagai ketetapan dari Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam.

Yang bisa dipahami dari semua ini bahwa al-kudrah dan ash-shufrah sebelum suci (dari haid), maka berlaku baginya hukum-hukum haid.

Apa Tanda Akhir Haid Seorang Wanita?

Hal itu bisa diketahui dengan terputusnya darah yang keluar dengan salah satu tanda berikut: Pertama, keluarnya al-Qasshah al-Baydha, yaitu cairan putih yang keluar setelah masa haid menyerupai air kapur. Kadang tidak berwarna putih dan kadang warnanya berbeda-beda antara wanita yang satu dengan lainnya sesuai keadaan wanita tersebut.Kedua, keringnya vagina, yaitu dengan memasukkan secarik kain atau kapas ke dalamnya, lalu setelah dikeluarkan ia dalam keadaan kering, dan tidak terdapat sesuatu pun, baik darah, al-kudrah atau ash-shufrah.

Apa yang Harus Dilakukan Seorang Wanita ketika Haidnya Berakhir?

Hendaknya wanita yang telah selesai darinhaidnya, mandi dan berminat untuk bersuci pada seluruh tubuhnya. Sabda Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam:

فإذا أقبلت حيضتك فدعي الصّلاة, وإذا أدبرت فاغتسلي وصلّي.

Artinya: “Jika telah datang haidmu maka janganlah kamu shalat, dan jika telah selesai (haidmu) maka mandilah dan shalatlah.” (HR. Al-Bukhari)

Tata cara bersuci dari haid adalah memulai dengan berniat menghilangkan hadats atau niat bersuci untuk shalat atau sejenisnya, lalu mengucapkan “Basmallah” lalu menyiramkan air keseluruh tubuhnya dan mengairi pangkal rambutnya serta tidak harus melepaskan jalinan atau sanggul rambutnya jika rambutnya disanggul, namun cukup mengairinya dengan air. Jika mrnggunakan daun bidara atau bahan pembersih lainnya dengan air maka itu lebih baik.

Disunnahkan untuk mengambil sedikit kapas yang telah diberi kesturi atau wewangian lainnya, lalu dioleskan pada kemaluannya setelah mandi. Karena Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam pernah memerintahkan hal itu kepada Asma’. (HR. Muslim)

Catatan: Jika wanita haid atau nifas suci sebelum terbenam matahari, maka ia wajib shalat Zhuhur dan Ashar pada hari itu.

Bagi wanita yang suci dari haid atau nifas sebelum terbitnya fajar, maka ia wajib menunaikan shalat Maghrib dan Isya pada malam itu. Sebab, waktu shalat yang kedua (Isya) adalah waktu bagi shalat yang pertama (Maghrib), ketika ada udzur.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rahimahullah berkata dalam al-Fatawa (22/434) “Maka dari itu, mayoritas ulama seperti Malik, asy-Syafi’i, Ahmad berpendapat, bila wanita haid telah suci pada akhir siang (sebelum matahari terbenam), maka ia (wajib) menunaikan shalat Zhuhur dan Ashar. Dan jika suci pada akhir malam (sebelum terbit fajar), maka ia tetap harus menunaikan shalat Maghrib dan Isya. Seperti dinukil dari Abdurrahman bin Auf dan Abu Hurairah serta Ibnu Abbas. Sebab, waktu itu berlaku bagi dua shalat ketika dalam kondisi udzur. Jika suci pada akhir waktu Zhuhur dan masih ada sedikit sisa waktu, maka ia menunaikan shalat Zhuhur sebelum Ashar tiba. Jika suci pada akhir malam dan masih ada sisa waktu Maghrib ketika dalam keadan udzur, maka ia shalat sebelum Isya (yaitu pada siswa waktu Maghrib)

Penutup

Demikianlah artikel saya buat semoga bermanfaat.

Referensi:

 

Penulis: Syaikh Shalih bin Fauzan bin Abdullah al-Fauzan

Penyusun: Abu Muhammad Asyraf bin Abdul Maqshud

Penerbit: Maktabah Adhwa’ as-Salaf, KSA.cet.1.1420H/1999M.

Edisi Indonesia: Fiqih Wanita

Penerjemah: Ahmad Taufik Arizal

Muraja’ah: Ahmad Yunus, M.Si (editor edisi revisi) Abu Khalid ISBN: 979-24-2671-7

Penerbit: Pustaka at-Tazkia Jl.Matraman Dalam II RT 016/08 No. 17B- Jakarta 10320, Cetakan kedua: Rajab 1442 H./ Februari 2021 M.

Diringkas oleh: SYAHLA AULIA ZAHRA

Baca juga artikel:

Semua Nama Allah Ta’ala Baik

Surga dan Neraka

 

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.