Pondok Pesantren Darul Qur'an Wal-Hadits Martapura OKU

Memenuhi Perintah Nabi

MEMENUHI PERINTAH NABI

 

MEMENUHI PERINTAH NABI

Hal ini tampak jelas pada kehidupan para Wanita shahabiyat yang mulia. Dalam hal ini mereka telah memberikan contoh yang terbaik dan telah mengukir lembaran-lembaran sejarah yang indah, sebagai pengamalan firman Allah yang Maha Benar, Maha Tinggi dan Maha Mulia:

يٰاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اسْتَجِيْبُوْا لِلّٰهِ وَلِلرَّسُوْلِ اِذَا دَعَاكُمْ لِمَا يُحْيِيْكُمْۚ وَاعْلَمُوْٓا اَنَّ اللّٰهَ يَحُوْلُ بَيْنَ الْمَرْءِ وَقَلْبِه وَاَنَّه اِلَيْهِ تُحْشَرُوْنَ

Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Penuhilah seruan Allah dan Rasul, apabila dia menyerumu kepada sesuatu yang memberi kehidupan kepadamu, dan ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dan hatinya dan sesungguhnya kepada-Nyalah kamu akan dikumpulkan.” (QS. Al-Anfal: 24)

Umar bin Syabah dan Al-Fakihi dalam buku “Akhbaru Mekkah’’ telah meriwayatkan dari Thariq bin Juraij dari ibnu abi husain ,bahwa nabi sallahuallaihi wassalam menulis surat kepada Suhail bin Amr,

Artinnya : “Apabila suratku ini sampai kepadamu pada malam hari, maka janganlah kamu menunggu pagi, atau apabila (suratku ini) sampai kepadamu pada siang hari maka  jangan kamu  menunggu sore, sehingga kamu mengirim kepadaku mereka kantung dari air zamzam.”

Selanjutnnya Ibnu Husain berkata, ”Kemudian isteri yang sama berasal dari dari bani Khuza’ah bernama Atsillah, ia adalah nenek Ayyub bin Abdullah bin Zuhair al-Asad meminta bantuan, “Mereka berdua mengisi dua kantong air itu, mereka belum berada di pagi harinya kecuali mereka telah selesai mengisinya, dan mereka meletakannya di dalam geriba. Kemudian Syuhail mengirim kedua kantong air itu dengan meletakkannya di atas unta pada malam hari ini juga.

KISAH SEBUAH KALUNG EMAS

Sikap berikut ini menunjukkan kepada kita satu contoh respon cepat para wanita shahabiyat trhaadap agama agama dan terhadap risalah yang dibawa oleh Rasulullah shalallahualaihi wa salam,serta ketundukan mereka yang sempurna terhadap segala aturan Allah. Tsauban rhadiyallahu ‘anhu dalam sebuah riwayat mengatakan, “Aku bersama Rasulullah masuk ke tempat Fatimah dimana pada saat itu ia telah mencopot sebuah kalung emas dari lehernya, ia berkata, ”Kalung ini dihadiahkan oleh Abu Hasan (Ali) kepadaku.” Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda, “Fatimah putri Muhammad memiliki kalung dari Neraka ? Kemudian beliau keluar. Akhirnnya Fatimah pun membeli seorang budak lelaki dengan kalung tersebut lalu memerdekakannya. Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam berkata,”Segala puji bagi Allah yang telah menyelamatkan Fatimah dari Neraka.”

Hadits ini diriwayatkan Ahmad dan lainnya dishahihkan oleh Al-Hakim dan di sepakati oleh adz-Dzahabi. Dishahihkan juga oleh al-Mundziri dalam at-Targhib wa at-Tarhib,ia berkata “Diriwayatkan an-Nasa’i dengan sanad yang shahih sebagaimana adz-Dzahabi telah menshahihkan dalam Mizan al-Tidal.

Dari hadits diatas, jelas bagi kita akan kesungguhan Rasulullah dalam menjaga dan menyelamatkan puterinya. Karena seperti yang telah diriwayatkan bahwa Rasulullah sendiri tidak bisa menyelamatkannya di akhirat nanti, maka beliau sangat bersungguh-sungguh dalam menasehatinya dan menunjukannya kepada jalan yang benar. Dan Fatimah adalah sebaik-baik orang yang melaksanakan perintah dan menunaikannya. Hadits di atas juga menunjukkan perintah dan kesungguhan seorang suami dalam mencintai dan menyayangi isterinya, serta sikapnnya yang membuat hati isterinya semakin mencintainya. Hal ini dapat dilihat dari perkataan Fatimah, “Kalung ini dihadiahkan oleh Abu Hasan kepada ku,” dan yang dimaksud ialah Ali radiallahu ‘anhu.

UMMU HUMAIDAH SENANTIASA MELAKSANAKAN SHALAT DI RUMAHNNYA

Agama Islam sangat menjaga dan melindungi kehormatan wanita. Maka dari itu Islam memerintahkan kepadanya untuk selalu menetap di dalam rumahnya, Allah Subhanahu Wata’ala berfirman:

وَقَرْنَ فِيْ بُيُوْتِكُنَّ

Artinya: “Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu.” (QS. Al-Ahzab: 33)

Islam juga menganjurkan kepadannya agar melaksanakan shalat di rumahnya dan menjelaskan bahwasanya hal itu lebih baik baginya dari pada shalat di masjid, demi menjaga kehormatan, kesucian diri dan kemuliaannya. Sikap berikut ini menggambarkan kepada kita sebuah akhlak yang mulia dari seorang shahabiyat dalam melaksanakan petunjuk nabi untuknnya, yaitu menunaikan shalat di rumah karena hal ini lebih afdhal baginya. Ath-Thabrani dan lainnya meriwayatkan dari Ummu Humaid istri Abu Hamid as-Sa’idi radhiallahu ‘anhu. Ummu Hamidah berkata, “Saya berkata kepada Rasulullah, “Wahai Rasulullah, para suami kami melarang kami shalat bersamamu (di masjid).” Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam berkata, “Shalat kalian di tempat tidur kalian lebih baik dari pada shalat kalian di kamar kalian, shalat kalian di kamar kalian lebih baik dari pada shalat kalian di rumah kalian, dan shalat kalian di rumah lebih baik daripada shalat berjamaah (di masjid).”

Hadits ini juga diriwayatkan dengan lafazh mufrad (kata tunggal, bukan jama) seperti yang terdapat di dalam riwayat Ahmad dan lainnya. Ummu Humaid menuturkan bahwasanya  ia pernah datang kepada Nabi dan berkata, “Wahai Rasulullah ! Sesungguhnya aku senang shalat (berjamaah) bersamamu.” Rasulullah berkata: “Aku tahu kamu senang shalat bersamaku, akan tetapi shalatmu di tempat tidurmu lebih baik daripada shalatmu di kamarmu, shalatmu lebih baik dari pada shalatmu di rumahmu, dan shalatmu di rumahmu lebih baik dari pada shalatmu di masjid kaummu, dan shalatmu di masjid kaummu lebih baik dari shalatmu di masjid.”

Perawi mengatakan, “Setelah itu ia meminta untuk dibangunkan tempat shalat pada bagian paling dalam dari rumahnya dan paling gelap. Ia senantiasa melaksanakan shalat  disitu hingga wafat.”

Tentang hadits ini, al-Haitsami di dalam Majma az-Zawa’id berkata, “Diriwayatkan oleh Ahmad, para perawinya adalah para perawi shahih kecuali Abdullah bin Suwaid al-Anshari, ia dinilai tsqiah (dinyatakan bahwa ia seorang perawi yang dapat di percaya) oleh Ibnu Hibban. Dalam Tuhfat al-Ahwadzi dikatakan, “Sanad riwayat Ahmad ini Hasan (baik).” Az-Zarqani dalam syarahnya terhadap Muwatha’, Imam malik menyebutkan, ”Hadits ini memiliki syahid (Pendukung) dari hadits Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu dalam riwayat Abu Daud.”

Perintah ini menjelaskan kepada setiap muslimah betapa kesungguhan seorang shahabiyah yang mulia ini untuk selalu mengamalkan Al-Qur’an dan sunnah Rasulullah. Sebab saat nabi menjelaskan kepadanya dan shalatnya di dalam rumah lebih baik baginya, ia tidak membantahnnya, tidak mengajukan proses dan juga tidak mengeluh. Ia telah mengetahui dengan seyakin-yakinnya bahwa Rasulullah tidak memerintahkan sesuatu kepadanya kecuali apa yang terbaik baginnya untuk dunia  dan agamanya.

Maka dari itu, kita dapat mengetahui kepatuhannya yang luar biasa kepada perintah Nabi ketika ia menutupi pintu rumahnya dan menjadikan tempat ibadah salah satu pojoknya yang gelap pada bagian yang paling dalam dari rumahnya, kemudian disitu ia melaksanakan shalat sampai ia menemui ajalnya menghadap Allah.

Nasehat Rasulullah bagi seorang shahabiyah yang mulia ini, yaitu agar ia menetap di rumahnya bahkan ketika dalam melaksanakan shalat adalah nasihat yang sungguh sangat mulia. Begitulah Rasulullah dalam memberikan bimbingan kepada umatnya, beliau tidak menyuruh kecuali menyuruh kebaikan dan beliau tidak melarang kecuali melarang perbuatan yang tidak baik dan bisa menimbulkan fitnah.

Ath-Thabrani dengan sanad hasan telah meriwayatkan bahwasanya Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda, “Perempuan itu aurat. Sungguh seorang perempuan keluar rumah dari rumahnya dengan keadan biasa saja, serta menyambutnya, setan berkata kepadanya,’ Kamu tidak akan melewati seseorang kecuali ia akan terpesona dengan dirimu. Dan sungguh seorang perempuan memakai pakaiannya, kemudian dikatakannya, “Ingin kemana kamu ? Ia menjawab, ’Aku ingin menjenguk orang sakit, melayat orang meningal dunia, atau shalat di masjid, “Tidak seorang perempuan pun  beribadah kepada Rabbnya yang sebanding dengan beribadah kepadanya dirumahnya.”

Wallahu ta’ala a’lam.

Referensi:

Ditulis oleh : Abdul Hamid bin abdul Rahman As-Shuhaibani
Diringkas oleh : Nyai Anita Sari
Diambil dari : Buku Meneladani Wanita Generasi Sahabat

Baca juga artikel:

Ritual-Ritual Persembehan di Sekitar Kita

Bersemangat Mengurus Anak Kecil 

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.