Pondok Pesantren Darul Qur'an Wal-Hadits Martapura OKU

Meraih Kemuliaan Dengan Sifat Malu

sifat malu

Meraih Kemuliaan Dengan Sifat Malu – Tidak diragukan lagi bahwa malu merupakan sifat yang mulia. Oleh karena itu syariat Islam menganjurkan seluruh hamba beriman agar berhias dengan sifat malu. Sifat malu merupakan pokok dari inti ajaran akhlak mulia di dalam agama Islam. Dan dengan akhlak malu ini pula keistimewaan Dienul Islam nampak pada umatnya. Disebutkan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda;

إِنَّ لِكُلِّ دِيْنٍ خُلُقًا وَخَلُقُ اْلإِسْلاَمِ الْـحَيَاءُ

Artinya: “Sesungguhnya setiap agama memiliki akhlak, dan akhlak Islam adalah malu.” (HR. Ibnu Majah dalam sunannya (4182), shahih)

Pengertian Malu

Disebutkan oleh beberapa ulama bahwa malu itu merupakan hakikat kehidupan seseorang. Karena unsur pembangunan diri setiap manusia adalah jasad tergantung pada kehidupan ruh bukan kepada jasad, sementara ruh itu hidup dengan sifat malu. Maka jika sifat malu tiada hakikatnya jasad itu pun tidak memiliki kehidupan.

Imam Ibnu Qoyyim belia mengatakan,  Al-Haya’ (Malu) merupakan pecahan dari kalimat al-hayat  ( Kehidupan ) hal itu karena hidupnya seseorang tergantung dengan kehidupan hatinya yang mendororng untuk berperangai dengan sifat malu. Sedikit sifat malu merupakan tanda matinya hati dan ruh, maka Ketika hatinya hidup, rasa malunya pun akan sempurna.

Malu juga merupakan pokok dari seluruh budi pekerti yang baik dan luhur. Jika ia ada pada seseorang hamba maka ia memperindah akhlak seseorang dan dengannya ia dimuliakan ,sebab sifat malu hakikatnya adalah kemauan untuk menahan diri dari semua akhlak tercela.

Al-Hafid ibnu Hajar mengatakan “ Beberapa ulama mengatakan, bahwa malu adalah asalnya menahan jiwa dari hal yang tercela karena takut mengerjakan sesuatu yang tercela. Dan ha ini bersifat umum, baik dalam perkara syariat maupun adat.

Kaum Wanita Dan Sifat Malu Yang Hilang

Islam merupakan satu-satunya agama. Satu-satunya ideologi samawi yang memuliakan kaum Wanita, Islam adalah agama yang mengangkat derajat, martabat, serta kedudukan kaum Wanita dari kerendahan kehinaan dan keterpurukan, sehingga tidak ada jalan meraih kemuliaan ketinggian harga diri dan kehormatannya selain mempelajari ajaran Islam dan mengamalkannya.

Fenomena yang nampak di masyarakat kaum muslimin saat ini, dan di hampir seluruh negeri di muka bumi, berupa kerusakan akhlak dan moral, kerusakan tatanan kehidupan pribadi, rumah tangga maupun masyarakat dan berbangsa, tidak lepas dari semakin buruknya akhlak kaum Wanitanya. Fenomena pergaulan seksual di berbagai kalangan, fenomena di berbagai kasus perselingkuhan di berbagai tempat dan kalangan , serta kerusakan nasab dan keturunannya, hancurnya rumah tangga, semakin hari semakin semarak kaum Wanita yang turut keluar dan berbaur dengan khalayak ramai kau laki-laki semakin banyak dan mewabah saja fenomena  kaum Wanita yang hanya menutup Sebagian saja aurat mereka dan membiarkan Sebagian besar auratnya tetap terbuka. Berbagai mas media, baik elektronik maupun cetak, semakin bebas mengeksploitasi kaum Wanita dan begitu mudahnya kaum Wanita dieksploitasi, meski dengan penampilan pugarnya dan fenomena-fenomena keburukan lainya adalah akibat dari semakin buruknya akhlaknya kaum Wanita.

Padahal sifat aslinya kaum Wanita adalah malu berbaur dengan laki-laki. Allah Subhanahu wata’ala mengatakan:

وَلَمَّا وَرَدَ مَاۤءَ مَدْيَنَ وَجَدَ عَلَيْهِ اُمَّةً مِّنَ النَّاسِ يَسْقُوْنَ ەۖ وَوَجَدَ مِنْ دُوْنِهِمُ امْرَاَتَيْنِ تَذُوْدٰنِۚ قَالَ مَا خَطْبُكُمَا  ۗقَالَتَا لَا نَسْقِيْ حَتّٰى يُصْدِرَ الرِّعَاۤءُ وَاَبُوْنَا شَيْخٌ كَبِيْرٌ

Artinya: “Dan ketika dia sampai di sumber air negeri Madyan, dia menjumpai di sana sekumpulan orang yang sedang memberi minum (ternaknya), dan dia menjumpai di belakang orang banyak itu, dua orang perempuan sedang menghambat (ternaknya). Dia (Musa) berkata, “Apakah maksudmu (dengan berbuat begitu)?” Kedua (perempuan) itu menjawab, “Kami tidak dapat memberi minum (ternak kami), sebelum penggembala-penggembala itu memulangkan (ternaknya), sedang ayah kami adalah orang tua yang telah lanjut usianya.” (QS. Al-Qashash: 23-24)

Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

فَسَقٰى لَهُمَا ثُمَّ تَوَلّٰىٓ اِلَى الظِّلِّ فَقَالَ رَبِّ اِنِّيْ لِمَآ اَنْزَلْتَ اِلَيَّ مِنْ خَيْرٍ فَقِيْرٌ

Artinya: “Maka dia (Musa) memberi minum (ternak) kedua perempuan itu, kemudian dia kembali ke tempat yang teduh lalu berdoa, “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku sangat memerlukan sesuatu kebaikan (makanan) yang Engkau turunkan kepadaku.” (QS. Al-Qashash: 24)

Sifat Wanita aslinya itu malu apabila terlihat meski sedikit saja dari uratnya karna dia hakikatnya adalah aurat itu sendiri, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:

اَلْمَرْأَةُ عَوْرَةٌ، وَإِنَّهَا إِذَا خَرَجَتْ مِنْ بَيْتِهَا اِسْتَشْرَفَهَا الشَّيْطَانُ، وَإِنَّهَا لاَتَكُوْنُ أَقْرَبَ إِلَى اللهِ مِنْهَا فِيْ قَعْرِ بَيْتِهَا

Artinya: “Wanita itu aurat, jika ia keluar dari rumahnya maka setan mengikutinya. Dan tidaklah ia lebih dekat kepada Allâh (ketika shalat) melainkan di dalam rumahnya”. (HR. Tirmidzi dalam sunannya)

Sifat aslinya siapa saja tidak mau dekat-dekat dengan tindak mesum dan tak senonoh dengan sembarang orang, selain pasangan suami istrinya yang sah, sebagaimana di dalam hadits bahwa hal itu tidak akan di senangi oleh siapa pun jika dilakukan seseorang kepada ibunya, bibinya, putrinya, dan saudari-saudarinya. Syuaib al-arnauth mengatakan bahwa sanadnya Shahih, perawinya terpercaya, mereka adalah para perawi Al-bukhari dan muslim. Semua itu menunjukkan bahwa berbagai fenomena di atas adalah benar-benar keburukan yang di tentang oleh syariat, akal sehat, dan adat kebiasaan yang baik.

Setelah di ketahui bahwa seluruh akhlak dan budi pekerti pokoknya adalah sifat malu, berarti fenomena yang ada itu merupakan perwujudan dari dekadensi kemerosotan sifat malu pada kaum Wanita khususnya, dan pada umat ini umumnya sehingga tidak ada jalan mengembalikan keadaan buruk tersebut menjadi  mulia dan keluhuran akhlak selain dengan dua acara Pertama :  dengan membangun Kembali sifat malu kaum Wanita dan umat secara umumnya, Kedua,  dengan menyadarkan kepada seluruh pihak baik para penguasa maupun rakyatnya ,para tuan maupun pegawainya, para guru maupun murid-muridnya, dan seluruh umat ini, khususnya kaum Wanita ,bahwa musuh Islam begitu gencar membuat jerat dan muslihat dengan di sebut iklan, film, sinetron, bacaan keluarga, hiburan, dunia fantastis, festival music, pentas seni, olah raga dan semacamnya. Sehingga semua pihak harus menyadarinya dan mengupayakan perbaikan-perbaikannya.

Bagaimana Meraih Sifat Malu

Alhafidz ibnu Rajab mengatakan bahwasanya malu itu ada dua:

Pertama :  Malu yang telah dimiliki sejak lahir, menjadi watak dan karakter seseorang tanpa usaha dari dirinya, inilah akhlak teragung yang Allah berikan kepada seorang hamba oleh karena itu Rasulillah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:

اَلْـحَيَاءُ لاَ يَأْتِيْ إلاَّ بِخَيْرٍ

Artinya: “Malu tidak mendatangkan sesuatu kecuali kebaikan.” (HR. Bukhari & Muslim)

Malu semacam ini dapat mencegah dari perbuatan jelek dan akhlak yang rendah mendorong berhias dengan akhlak mulia, dan ini semua termasuk dari buah keimanan.

Kami katakan bahwa malu yang bersifat tabiat ini telah di tegaskan di dalam sebuah hadits dari Asyajj abdul Qais Bahwasanya Rasulillah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:

إِنَّ فِيكَ خَلَّتَيْنِ يُحِبُّهُمَا اللَّهُ، الْحِلْمُ وَالْأَنَاةُ

Artinya: “Sesungguhnya Engkau mempunyai dua tabiat yang disukai oleh Allah dan Rasul-Nya, yaitu santun dan sabar.” Al-Mundzir bertanya,

يَا رَسُولَ اللَّهِ أَنَا أَتَخَلَّقُ بِهِمَا أَمُ اللَّهُ جَبَلَنِي عَلَيْهِمَا؟

“Wahai Rasulullah, memang aku berakhlak demikian atau Allah yang memberikan itu kepadaku?” Beliau menjawab:

بَلِ اللَّهُ جَبَلَكَ عَلَيْهِمَا

“Allah yang memberikan itu kepadamu.” Al-Mundzir berkata,

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي جَبَلَنِي عَلَى خَلَّتَيْنِ يُحِبُّهُمَا اللَّهُ وَرَسُولُهُ

“Segala puji milik Allah yang telah memberiku dua tabiat yang disukai oleh Allah dan Rasul-Nya.” (HR. Muslim no. 17, Abu Dawud no. 5225, dan At-Tirmidzi no. 2011).

Kedua : Sifat malu yang diraih dengan usaha. Sifat ini diraih dengan karena pengenalan terhadap Allah dengan ilmunya, menyadari keagungan dan kedekatan Allah kepada hambanya, pengawasannya terhadap mereka dan ilmunya terhadap segala curi pandang mata jalang dan apa yang tersimpan dalam dada, jenis ini termasuk buah keimanan yang paling tinggi, bahkan derajat Ikhsan paling tinggi.

Apabila sifat malu baik yang tabiat dan yang hasil usaha telah dicabut oleh seorang hamba, maka tidak akan ada yang dapat menghalanginya dari perbuatan jelek dan akhlak yang rendah lagi hina, jadilah dia seolah-lah orang yang tidak ada imannya lagi.

Ya Allah berikan kami taufikmu menuju anugerah sifat malu yang luhur. Amiin.

 

REFERENSI:

Di Tulis Oleh : Abu Ammar Al-Ghoyami

Di Ringkas Oleh : Anita Ummu Hilyah

Di Ambil Dari : Al-Mawaddah , Jumadal ula 1437 H

 

BACA JUGA :

 

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.