Pondok Pesantren Darul Qur'an Wal-Hadits Martapura OKU

Sahabat Nabi Muhammad Adalah Generasi Pilihan

SAHABAT ADALAH GENERASI TERBAIK

SAHABAT NABI MUHAMMAD ADALAH GENERASI PILIHAN – Sebelum kita menyimak kedudukan dan keadaan para Sahabat Nabi dalam pandangan Syi’ah, terlebih dahulu, kami paparkan pandangan Ahlussunnah wal Jama’ah tentang hal itu.

Sahabat para nabi dan rasul adalah manusia-manusia pilihan. Mereka dipilih Allah untuk meneladani dan membela dakwah para nabi dari hambatan dan rintangan. Pengorbanan mereka tidak dapat diragukan lagi. Sehingga tidak mengherankan bila mereka menjadi generasi paling unggul pada setiap masa.

Sahabat Nabi Nuh yang ikut serta dalam perahunya adalah generasi paling unggul dari umatnya. Sahabat Nabi Musa yang ikut serta bersama beliau ketika menyeberangi laut Merah adalah generasi paling unggul dari umatnya. Sahabat Nabi Isa yang dengan gagah membelanya dari makar musuh-musuh adalah generasi paling istimewa dari umatnya. Demikian pula halnya dengan Sahabat Nabi Muhammad mereka adalah generasi paling unggul dari umat Islam.

Nabi Shallallahu Alaihi wasallam bersabda,

ما من نبي بعثه الله في أمة قيلي إلا كان له من أمته حواريون وأصحاب يأخذون بسنته ويقتدون بأمره، ثم إنها تخلف من بعدهم خلوف يقولون ما لا يفعلون ويفعلون ما لا يؤمرون، فمن جاهدهم بيده فهو مؤمن، ومن جاهدهم بلسانه فهو مؤمن، ومن جاهدهم بقلبه فهو مؤمن، وليس وراء ذلك من الإيمان حبة خردل

Artinya: “Tidak ada seorang nabi pun yang diutus kepada suatu umat sebelum ku, kecuali ia memiliki pengikut dan Sahabat para yang setia, yang mengikuti ajarannya dan mematuhi perintahnya. Kemudian datang setelah mereka itu suatu generasi yang mengatakan sesuatu yang tidak mereka lakukan, dan melakukan sesuatu yang tidak diperintahkan. Barangsiapa memerangi mereka dengan tangannya, maka dia itu orang yang beriman, dan barangsiapa memerangi mereka dengan lisannya maka dia itu orang yang beriman, dan barangsiapa memerangi mereka dengan hatinya maka dia itu orang yang beriman. Setelah itu, tidak ada keimanan walau hanya sebesar biji sawipun.” (HR. Muslim)

Bahkan Sahabat-Sahabat Nabi Muhammad telah mendapat gelar sangat istimewa. Sahabat Nabi Muhammad telah dinyatakan oleh Allâh sebagai umat terbaik yang pernah terlahir ke dunia. Allah Ta’ala berfirman:

كُنْتُمْ خَيْرَ اُمَّةٍ اُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُوْنَ بِالْمَعْرُوْفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُوْنَ بِاللّٰهِ ۗ وَلَوْ اٰمَنَ اَهْلُ الْكِتٰبِ لَكَانَ خَيْرًا لَّهُمْ ۗ  مِنْهُمُ الْمُؤْمِنُوْنَ وَاَكْثَرُهُمُ الْفٰسِقُوْنَ

Artinya: “Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar serta beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka. Di antara mereka ada yang beriman, namun kebanyakan mereka adalah orang-orang fasik.” (QS. Ali Imran/3: 110).

Sejarah umat Islam telah membuktikan hal ini. Para Sahabat Nabi telah mengorbankan segala sesuatu yang mereka miliki guna mendakwahkan dan menyebarkan agama Islam. Dengan hati tulus dan amal shalih, mereka berhasil mewujudkan pertolongan Allâh dalam dunia nyata. Walaupun berjumlah sedikit dan dengan perlengkapan seadanya, mereka berhasil menundukkan dunia dan menanamkan agama Islam di berbagai penjuru dunia. Semua itu berhasil mereka capai tidak lebih dari tiga puluh tahun. Waktu yang sangat singkat bila dibanding dengan keberhasilan yang demikian luas dan cemerlang.

Berkat keikhlasan dan perjuangan mereka yang demikian besar, Allâh memberikan mereka balasan yang setimpal. Amalan mereka dilipatgandakan pahalanya, sampai-sampai tidak akan pernah ada seseorang selain mereka yang akan dapat menyamai kedudukan mereka di sisi Allah.

Dalam hadits nabi disebutkan:

لا تسبوا أصحابي، فلوا أنّ أحدكم أنفق مثل أحد ذهبا، ما بلغ مد أحدهم ولا نصيفه

Artinya: “Janganlah kamu mencela Sahabatku, karena andai kamu menginfakkan emas sebesar Gunung Uhud, niscaya pahalanya tidak akan menyamai pahala sedekah mereka yang berupa bahan makanan dan hanya sejumlah dua cakupan kedua telapak tangan, (bahkan) tidak juga menyamai pahala sedekah segenggam makanan”. (Muttafaqun ‘alaih)

Imam al-Baidhâwi asy-Syafi’i saat menjelaskan makna hadits ini, mengatakan, “Makna hadits ini, meskipun engkau menginfakkan emas sebesar gunung Uhud, engkau tidak dapat menyamai pahala dan keutamaan yang diperoleh oleh para Sahabat-meskipun mereka- hanya dengan menginfakkan makanan walau hanya sejumlah dua cakupan kedua telapak tangan atau satu cakupan saja. Sebab terjadinya perbedaan ini ialah, tingkat keikhlasan dan kejujuran yang jauh lebih besar yang menyertai sedekah para Sahabat”

Demikianlah keimanan umat Islam sepanjang sejarah tentang Sahabat Nabi Mereka 1 memuliakan para Sahabat, menjaga kehormatan mereka dan senantiasa mendoakan keridhaan untuk mereka. Bukan hanya sampai di situ, mereka  juga dijadikan sebagai teladan dalam memahami dan mengamalkan al-Qur ân dan Sunnah.

Allah Subhanahu Wata’ala berfirman:

وَالسّٰبِقُوْنَ الْاَوَّلُوْنَ مِنَ الْمُهٰجِرِيْنَ وَالْاَنْصَارِ وَالَّذِيْنَ اتَّبَعُوْهُمْ بِاِحْسَانٍۙ رَّضِيَ اللّٰهُ عَنْهُمْ وَرَضُوْا عَنْهُ وَاَعَدَّ لَهُمْ جَنّٰتٍ تَجْرِيْ تَحْتَهَا الْاَنْهٰرُ خٰلِدِيْنَ فِيْهَآ اَبَدًا ۗذٰلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيْمُ

Artinya: “Orang-orang yang terdahulu lagi pertama-tama masuk Islam diantara orang-orang Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang meneladani mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah, dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar”. (QS at-Taubah/9 100).

Pada ayat ini Allâh hanya menyebutkan tiga golongan manusia yang diridhai dan berhak masuk surga, yaitu: (1) orang-orang yang terdahulu masuk Islam dari kalangan Muhajirin, (2) orang-orang yang terdahulu masuk Islam dari kalangan Anshar, (3) orang-orang yang meneladani orang-orang yang terdahulu masuk Islam dari kalangan Muhajirin dan Anshar

Inilah salah satu hal yang mendasari umat Islam menjadikan para Sahabat Nabi sebagai teladan mereka dalam beragama. Sebagai imbalan atas keteladanan ini, umat Islam di sepanjang masa dan di manapun berada, mereka senantiasa berdoa kepada Allâh memohonkan ampunan dan keridhaan untuk para Sahabat. Setiap kali menyebut nama seorang Sahabat Nabi umat Islam setatu mengiringinya dengan doa: Radhiyallahu Anhu atau Radhiyallahu Anhum

رضي الله عنه أو رضي الله عنهم

Fenomena ini sebagaimana digambarkan dalam

firman Allah berikut ini:

والذين جاءو من بعدهم يقولون ربنا أغيـر لنا ولإخواننا الذين سبقونا بالإيمان ولا تجعل في قلوبناعلا للذين ءامنوا ربنا إنك رؤوف رحيم

Artinya: “Dan orang-orang yang datang setelah mereka (Muhajirin dan Anshar) mereka berdoa: “Ya Rabb kami, berilah ampunan kami dan saudara-saudara kami yang telah lebih dahulu beriman daripada kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian terhadap orang-orang yang beriman ada dalam hati kami Ya Rabb kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.” (QS al-Hasyr/59: 10).

Pada suatu hari Ali bin Husain Zainal Abidin -Imam keempat dalam konsep imamah agama Syiah- didatangi oleh sebagian orang yang berasal dari Iraq Selanjutnya mereka mencela Sahabat Abu Bakar, Umar dan Utsman Seusai mereka menumpahkan celaannya kepada ketiga Sahabat itu, Ali bin Husain berkata kepada mereka, “Tidakkah kalian kabarkan kepadaku, apakah kalian termasuk dari orang-orang Muhajirin terdahulu yang diusir dari kampung halaman dan dari harta benda mereka (karena) mencari karunia dari Allah dan keridhaan (Nya) dan mereka menolong Allah dan Rasul-Nya Mereka itulah orang-orang yang benar Merekapun menjawab, “Tidak Ali bin Hasan pun kembali bertanya: “Apakah kalian termasuk Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshar) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka mencintai orang yang berhijrah kepada mereka. Dan mereka tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (orang Muhajirin), dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin) atas diri mereka sendiri. Sekalipun mereka memerlukan (apa yang mereka berikan itu)” Mereka pun menjawab, “Tidak.” Selanjutnya Ali bin Husain berkata, “Adapun bila kalian telah berlepas diri dari pengakuan (bukan) termasuk dari kedua golongan itu, maka aku bersaksi bahwa kalian tidak termasuk dari golongan orang-orang yang Allâh nyatakan tentang mereka, Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshar), mereka berdoa: Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman. Segera keluarlah dari tempatķu, semoga Allah menimpakan (siksa) kepada kalian”.

Demikianlah sekelumit gambaran tentang keimanan dan etika umat Islam terhadap Sahabat Nabi. Dan selanjutnya, saya mengajak pembaca untuk bersama-sama mengamati keimanan dan etika agama Syi’ah terhadap para Sahabat Nabi.

Sahabat Nabi Muhammad Dalam Pandangan Ideologi Syi’ah

Untuk menggambarkan keimanan mereka, saya mengajak Anda untuk merenungkan beberapa poin berikut. Saya nukilkan dari beberapa referensi terpercaya agama Syi’ah.

Poin Pertama, Sepeninggal Nabi Muhammad Para Sahabat Menjadi Murtad.

Syaikh Muhammad Ridha al-Muzhafar, wafat tahun 1381H mengatakan, “Setiap orang yang meyakini bahwa al-Qur’an al-Karim adalah wahyu dari Allah, pengembannya tidak berkata-kata atas dasar hawa nafsu, sebagai juru selamat umat manusia, (maka) dia tidak akan ragu bahwa kejadian sejarah ini (wafatnya Nabi) merupakan pembatas antara dua fase yang berlawanan. Fase pertama penuh dengan kesungguhan menghadap kepada Allah dengan mengorbankan jiwa dan harta, sedangkan fase berikutnya (yaitu) fase berpaling membelakangi Allah. Dengan demikian, kita dihadapkan kepada fakta sejarah. Nabi telah meninggal, dan sudahbarang tentu seluruh umat Islam (aku tidak tahu kala sekarang) telah berpaling ke belakang (murtad)”.

Al-Kulaini dalam kitabnya, al-Kafi meriwayatkan dari Humran bin Aayun menuturkan, “Aku pernah berkata kepada Abu Ja’far (Muhammad bin Ali bin al Husain, wafat tahun 114), “Semoga aku senantiasa menjadi tebusanmu. Betapa sedikitnya jumlah kita. Andai kita semua berkumpul untuk melahap seekor kambing, niscaya kita tidak kuasa untuk menghabiskannya, maka Abu Ja’far pun menjawab: “Sudikah engkau aku ceritakan sesuatu yang lebih menakjubkan daripada itu ? Seluruh kaum Muhajirin dan Anshar telah pergi (murtad) kecuali tiga -beliau mengisyaratkan dengan tangannya-.”

Humran pun bertanya, “Lalu bagaimana halnya dengan ‘Ammar (bin Yasir)?”

Abu Ja’far menjawab: “Semoga Allah merahmati ‘Ammar Abul-Yaqzhan, ia telah berbaiat, lalu ia mati syahid.”

Humran pun berkata dalam hatinya, “Apakah (ada) yang lebih utama dibandingkan (dengan) mati syahid ?” Maka Abu Ja’farpun memandangku, lalu berkata, “Mungkin engkau menganggapnya sama dengan mereka bertiga? Mana mungkin? Mana mungkin?”

Al-Majlisi (wafat pada tahun 1111 H) membawakan satu riwayat yang dengan lebih tegas lagi menyatakan kemurtadan para Sahabat sepeninggal Nabi shallallahu Alaihi wassalam.

Dari Sudair, ia meriwayatkan dari Abu Ja’far (Muhammad bin Ali bin al-Husain), “Dahulu, sepeninggal Nabi seluruh manusia murtad selama satu tahun, kecuali tiga orang.”

As-Sudair pun bertanya, “Siapakah ketiga orang tersebut: al-Miqdad bin al-Aswad, Abu Dzar al-Ghiffari, dan Salman al-Farisi,” lalu dia berkata, “Mereka itulah orang-orang yang tetap kokoh dengan pendiriannya dan enggan untuk membaiat (Abu Bakar ash-Shiddiq, Pen.) hingga didatangkan Amirul-Mukminin (Ali bin Abi Thalib) dalam keadaan terpaksa, lalu beliaupun berbaiat.”

Syaikh Mufid (wafat tahun 413 H), juga meriwayatkan dari Abu Ja’far (Muhammad bin Ali bin al- Husain), “Seluruh manusia menjadi murtad sepeninggal Nabi, kecuali tiga orang: al-Miqdad bin al-Aswad, Abu Dzar al-Ghiffâri, dan Salman al Farisi, kemudian setelah itų manusia mulai menyadari, dan kembali masuk Islam.”

Pada riwayat lain, mereka menambah jumlah yang tidak murtad dan tetap mempertahankan keislamannya menjadi empat orang :

Mereka meriwayatkan dari Abu Ja’far, bahwa ia berkata, “Sesungguhnya tatkala Rasûlullâh meninggal dunia, seluruh manusia kembali kepada kehidupan jahiliyyah, kecuali empat orang saja, yaitu Ali, al-Miqdad, Salman dan Abu Dzar).”

Saudaraku, apa perasaan Anda tatkala membaca beberapa contoh riwayat yang termaktub dalam kitab-kitab terpercaya agama Syi’ah di atas?

Saya yakin, batin Anda menjerit, keimanan Anda menjadi berkobar ketika membaca riwayat riwayat itu? Betapa tidak ! Sahabat-Sahabat Nabi dinyatakan telah murtad, kecuali tiga orang saja.

Saudaraku, coba tenangkan perasaan Anda, lalu baca kembali dengan seksama riwayat-riwayat di atas. Tidakkah Anda mendapatkan hal yang aneh pada kedua riwayat tersebut? Pada riwayat tersebut dinyatakan bahwa yang tetap berpegang teguh dengan keimanan dan keislamannya hanya ada tiga orang. Dan pada riwayat lainnya dijelaskan maksud dari ketiga orang tersebut, yaitu:al-Miqdad bin al Aswad, Abu Dzar al-Ghifâri, dan Salman al-Farisi.

Bila demikian adanya, lalu bagaimana dengan Ali bin Abi Thâlib, Fathimah bintu Rasûlillah dan kedua putranya, yaitu al Hasan dan al-Husain? Mungkinkah mereka termasuk yang murtad, karena yang dinyatakan tetap berpegang dengan keislamannya hanyalah tiga, dan mereka semua tidak termasuk dari ketiga orang tersebut? Dan bagaimana pula kerabat Nabi lainnya, semisal: al-Aqil bin Abi Thalib, al-Abbas, dan lainnya ?

Demikianlah, fakta-fakta telah membuktikan,

bahwa agama Syi’ah dengan berbagai dongeng anehnya ingin menyanjung Ahlul-Bait, akan tetapi yang terjadi adalah sebaliknya. Mereka menjatuhkan nama baik Ahlul-Bait dan merendahkan kedudukannya.

Mungkin Anda berkata: Mungkin riwayat riwayat semacam ini telah ditinggalkan oleh agama Syi’ah pada zaman sekarang. Riwayat-riwayat itu hanya ada pada referensi mereka terdahulu.

Saudaraku, praduga seperti di atas ternyata kurang tepat, dikarenakan beberapa hal berikut :

(1) Riwayat-riwayat ini tetap termaktub dalam kitab-kitab referensi terpercaya agama Syi’ah tanpa ada upaya dari tokoh-tokoh mereka untuk mengingkarinya atau meluruskannya.

(2) Berbagai riwayat ini ternyata masih dinukilkan dan dibawakan oleh para penulis buku dari kalangan agama Syi’ah yang hidup pada zaman sekarang. Sebagai misal: Silahkan baca buku al-Imam Ali, halaman 490, karya Ahmad ar Rahmâni al-Hamadâni; dia adalah salah seorang penulis buku yang hidup pada zaman kita ini, dan mungkin sampai saat ini ia masih menghirup udara bebas, alias masih hidup. Juga silahkan baca buku Mu’jam Rijâlil-Hadits wa Tafshilu Thabaqâtir Ruwât, jilid 9/196 dan 19/346, karya as-Sayyid Abul-Qasim al-Musawi al-Khu’i (wafat tahun 1413 H).

Saudaraku, diantara yang membuktikan bahwa praduga Anda kurang tepat ialah beberapa ucapan al-Khumaini, sebagai berikut, “Sesungguhnya pada kesempatan ini, kami tidak berkepentingan dengan dua Syaikh (Abu Bakar dan Umar bin al-Khaththab), dan dengan perilaku keduanya yang nyata-nyata menyelisihi al-Qur’an, bermain-main dengan hukum Allah, menghalalkan dan mengharamkan sesuka hatinya, serta kelaliman mereka terhadap Fathimah putri Nabi dan seluruh putranya. Akan tetapi kami hanya ingin mengisyaratkan kepada kejahilan mereka tentang hukum-hukum Allah dan agama. Orang-orang bodoh, dungu, pendusta, lagi kejam -semacam mereka itu- tidak layak untuk duduk sebagai pemimpin atau dikategorikan sebagai Ulil Amri.”

Pada kesempatan lain, al-Khumaini juga berkata, “Berikut saya akan bawakan beberapa sikap Umar yang menyelisihi ayat-ayat al-Quran, untuk membuktikan bahwa sikap menyelisihi al Qur on menurut mereka (para Sahabat) adalah urusan sepele. Dan kami tekankan, bahwa mereka pasti akan menyelisihi al-Quran, andai al-Quran benar-benar membicarakan masalah al-Imamah (kepemimpinan)”

Saudaraku, setelah mengetahui tiga hal ini, masihkah Anda beranggapan bahwa riwayat riwayat di atas hanya ada pada zaman dahulu kala saja, adapun sekarang telah dilupakan?

Mungkinkah masih ada diantara kita yang beranggapan bahwa penganut Syi’ah zaman sekarang telah berubah, sehingga layak bagi kita untuk bergandengan tangan dengan mereka? Waallahu ‘alam semoga kita tidak termasuk orang di zaman ini.

Bersambung…

Referensi :

Ustadz Dr. Muhammad Arifin Badri,Lc, MA. (2014). Majalah As-Sunnah Edisi 09/Thn XVII/Rabiul Awwal 1435H/Januari 2014 M

Diringkas oleh   : Latifah Sania Kirani (Pengajar Ponpes Darul Qur’an Wal Hadits OKU Timur)

Baca juga artikel:

Amalan Yang Merugikan Mayat

Allah Akan Menjaga Al-Qur’an

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.