Pondok Pesantren Darul Qur'an Wal-Hadits Martapura OKU

Adab – Adab Murid Dalam Pelajaran

adab-adab murid dalam pelajaran

TENTANG ADAB-ADAB MURID DALAM PELAJARAN, BACAAN DI HALAQAH,

APA YANG DIPEGANG PADANYA BERSAMA SYAIKH DAN REKAN-REKANYA (BAGIAN I)

TADZKIROTUS SAMI’ WAL MUTAKALLIM. Segala puji hanya milik Allah Rabb semesta alam, sholawat dan salam semoga tercurahkan kepada utusan-Nya nabi kita Muhammad Shallallahu alaihi wassalam, sholawat juga untuk keluarga dan para sahabat beliau shallallahu alaihi wassallam serta orang yang mengikutinya hingga akhir zaman.

Pada pembahasan sebelumnya, telah kita bahas tentang adab tentang adab-adab penuntut ilmu bersama syaikhnya dan teladanya, apa yang wajib atasnya terkait dengan besarnya kehormatan syaikhnya. Yang mana pada bab tersebut kita telah membahas tentang bagaiman selayaknya seorang penuntut ilmu kepada syaikhnya agar bisa mendapatkan keberkahan yang banyak dari ilmu-ilmu yang dipelahari dari syaikh.

Sekarang tiba saatnya kita akan melanjutkan ke pembahasan yang baru. Pada pembahasan kali ini kita akan membahas tentang adab-adab murid dalam pelajaranya, bacaan di halaqah, apa yang dipegang padanya bersama syaikh dan rekan-rekanya.

Terdapat 13 kategori dalam membahas tentang adab-adab murid dalam pelajaranya, bacaan di halaqah, apa yang dipegang padanya bersama syaikh dan rekan-rekanya. Pada pembahasan kali ini kita akan membahas kategori 1 sampai 5 dan akan dilanjutkan kategori lainya di pembahasan selanjutnya. Hendaklah penuntut ilmu memahami akan adab ini agar bisa mendapatkan keberkahan ilmu yang dipelajari.

 

  1. Memulai dengan yang paling penting

Hendaknya seorang penuntut ilmu memulai kitab Allah yang mulia, menghafalnya dengan  baik, berusaha menguasai tafsirmya dan ilmu-ilmu yang berkenaan dengannya. Karena Al-Qur’an merupakan induk dan dasar-dasar segala ilmu, dan ilmu yang paling penting. Kemudian menghafal di setiap disipin ilmu sebuah ringkasan yang mengumpulkan kedua sisinya dari hadits dan ilmu-ilmunya, serta dua ilmu dasar, yaitu nahwu dan Sharaf.

Namun semua itu hendaknya tidak menyibukkannya dari mengkaji Al-Qur’an, mempertahankan hafalanya, dan menjaga wiridnya dari Al-Qur’an setiap hari atau beberapa hari atau setiap jum’at sebagaimana yang telah dijelaskan. Hendaknya berhati-hati dengan tidak melupakannya sesudah menghafalnya, karena ada hadits-hadits yang mengancam siapa yang melakukanya.

Hendaknya belajar syarah dari ringkasan-ringkasan yang dihafalnya kepada para syaikh, tidak bersandar pertama kali dalam hal ini kepada kitab-kitab, akan tetapi bersandar pada setiap disiplin ilmu kepada syaikh yang paling bagus pengajaranya untuknya, yang paling mempuni dan mengathui, yang paling menguasai kitab yang dia baca. Dan hal itu sesudah menimbang sifat-sifat yang telah dijelaskan seblumnya, yaitu agama, kesalihan, ketulusan dan lainya.

Jika syaikhnya dalam membaca dan mensyarah tidak mendapatkan murid lain bersaanya, maka tidak mengapa, jika tidak, maka hendaknya menjaga hati syaikh jika lebih diharapkan  manfaatnya, karena hal itu lebih bermanfaat baginya dan lebih memfokuskan hatinya atasnya.

Hendaknya mengambil hafalan dan syarah yang memungkinkannya dan sesuai dengan kondisi kemampuanya tanpa memperbanyak sehingga bosan, dan tanpa meremehkan sehingga tidak mewujudkan target dalam menuntut ilmu.

 

  1. Menjauhi Masuk ke Ranah Perbedaan Pendapat di Awal Langkah

Seorang penuntut ilmu tidak melibatkan diri dengan perbedaan pendapat di antara para ulama atau di antara manusia dalam perkara-perkara logika dan perkara-perkara syariat secara mutlak. Karena hal itu membingungkan pikiran dan mengacaukan akal, akan tetapi henaknya menguasai terlebih dahulu satu kitab di satu bidang ilmu atau beberapa kitab di beberapa bidang ilmu jika dia mampu dengan menggunakan satu metodeyang dipilihkan oleh syaikhnya untuknya.

Jika metode syaikhnya adalah menukil madzhab-madzhab dan perbedaan pendpat dan dia tidak mempunyai satu pendapat, maka Al-Ghazali Rahimahullah berkata,

فَليَحذَر مِنهُ، فَإِنَّ ضَرَرَهُ أَكثَرُ مِنَ النَّفعِ بِهِ

Artinya:

“Hendaknya menjauhinya, karena mudaratnya lebih besar dari pada manfaatnya.”

 

Pada awal Langkah menuntut ilmu, hendaknya tidak membaca berbagai macam kitab, karena hal itu membuang-membuang waktunya dan mengacaukan pikiranya, akan tetapi hendaknya memfokuskan diri ke satu kitab yang dia baca atau satu bidang yang dia ambil hingga mengasainya dengan baik.

Hendaknya tidak beralih dari satu kitab ke kitab lainya tanpa alasan, karena ia meruapak bukti kegaulan (tidak konsisten) dan kegagalan. Namun jika dia telah kapabel dan pengetahuanya telah mapan, maka yang lebih baik adalah hendaknya dia tidak membiarkan satu disiplin ilmu syar’I kecuali dia mempelajarainya jika takdir dan umur Panjang membantunya untuk mendalaminya. Maka itu yang diaharapkan, jika tidak, maka dia telah menimba faedah yang denganya dia telah bebas dari belenggu kebodohan dengan ilmu tersebut.

Hendaknya memperhatikan bagian yang paling penting dari setiap disiplin ilmu dan tidak melalaikan sisi amal yang merupakan sasaran dari ilmu.

 

  1. Membetulkan apa yang dibaca sebelum menghafalnya

Seorang penuntut ilmu tidaklah lalai dalam memperhatikan untuk membetulkan apa yang dibacanya sebelum mengahafalnya secara akurat, bisa melalui syaikh, atau rekanya yang bisa membantunya, kemudian menghafalnya dengan ahafalan yang kuat sesudah itu. Kemudian mengulangnya sesudah menghafalnya dengan baik, kemudian menjaganya secara berkala sesuai dengan tuntunan keadaanya.

Hendaknya tidak menghafal apapun sebelum membetulkanya, karena hal itu menjerumuskanya ke dalam penyelewengan dan penyimpangan. Dan telah hadir bahwa ilmu tidak dipelajari dari buku-buku, karena ia termasuk kerusakan yang paling membahayakan. Hendaknya membawa pena, tinta atau pisau serta mencatat dengan bai kapa yang dibetulkan dari sisi bahasa lain dan I’rab.

Jika syaikh menyalahkan satu kata dan dia menyangka atau dia mengetahui bahwa penyalahan syaikh tidak benar, maka dia mengulang kata tersebut bersama kata sebelumnya untuk mengingatkan syaikh, atau mengucapkan kata yang benar dalam konteks bertanya, karena bisa jadi hal itu terjadi karena lupa atau karena keselo lidah akibat lalai.

Tidak berkata, “Akan tetapi ia demikian.” Sebainya hendaknya mengingatkan syaikh dengan perlahan. Jika syaikh belum teringat maka dia berkata, “Apakah boleh membacanya dengan demikian?” jika syaikh kembali ke yang benar, maka tidak perlu pengulasan, namun jika tidak maka hendaknya menundanya ke majelis lain dengan cara yang sopan karena ada kemungkinan yang benar adalah syaikh.

Demikian juga dia mengetahui kekeliruan syaikh dalam menjawab satu masalah, yang mengoreksinya bisa dilakukan dan meluruskanya tidak sulit, jika perkaranya demikian seperti tulisan pada kertas permintaan fatwa dan yang bertanya adalah orang asing atau datamg dari negeri yang jauh atau hanya menyalahkan dengan kasar, maka harus mengingatkan sayikh pada saat itu dengan bahasa isyarat atau secara langsung, karena jika tidak makai a berarti menghianati syaikh, maka wajib menesehati syaikh dengan mengingatkanya sebisa mungkin dengan cara yang sopan atau terus terang.

Jika berhenti pada satu bagian  maka hendkanya menulis  di depanya, “Penyodoran masalah kepada syaikh atau koreksi sampai di sisni.”

 

  1. Mendengar Hadits sejak Dini dan Memerhatikan Ilmu-Ilmu Hadits

Seorang penuntut ilmu hendaklah mendengar hadits sejak dini, menyibukan diri dengan hadist dan ilmu-ilmunya. Mengkaji sanadnya, para perawinya, makna-maknanya, hukum-hukumnya, faidah-faidahnya, bahasa dan sejarahnya.

Mengawali lahan ini dengan sepasang shahih, Al-Bukhori dan Muslim, kemudian melanjutkan dengan kitab-kitab hadits yang disusun para imam besar dan induk-induknya yang dijadikan pedoman ‘di bidang ini, seperti Muwaththa’, Malik, Sunan Abu Dawud, An-Nasa’I, Ibnu Majah, Jami’ at-Tirmidzi, Musnad Asy-syafi’I, dan tidak patut kurang dari itu.

Sebaik-baik penunjang bagi ahli fikih adalah as-Sunan Al-Kubro karya Abu Bakar al-Baihaki, termasuk juga musnad-musnad seperti Musnad Ahmad bin Hambal, Ibnu Humaid dan Al-Bazzr.

Memerhatikan ilmu tentang hadits shahih, hasan, dha’if, musnad, mursal, dab berbagai bentuknya, karena ia adalah salah satu sayap dari dua sayap ulama syariat. Yang menjelaskan banyak hal dari sayap lainya, yaitu Al-Qur’an.

Hendaklah tidak rela dengan sekedar mendengar, sebagaimana keadaan mayoritas ahli hadits pada zaman ini, akan tetapi hendaknya memerhatikan sisi dirayah (pendalaman makna) dalam porsi lebih besar dari pada sisi Riwayat.

Asy-Syafii berkata,

مَن نَظَرَ فِي الحَدِيثِ قَوِيَت حُجَّتُهُ

Artinya:

“Barang siapa mempelajari hadits, maka hujjahnya kuat.”

 

  1. Masuk ke Kitab-Kitab Besar Sesudah Menguasai Ringkasan-Ringkasan

Jika ringkasan-ringkasan yang dihafal telah disyarah, dan dia telah menguasai apa yang terkandung padanya beruapa masalah-masalah felik dan faidah-faida penting, maka dia beralih ke kitab-kitab besar yang terperinci dengan tetap menela’ah, mencatat faidah-faidah berharga yang diabcanya atau didengarnya, masalah-masalah yang detail dan cabang-cabang yang rumit, memecahkan masalah-masalah yang felik, dan perbedaan di antara hukum-hukum, yang sepintas mirip dari berbagai disiplin ilmu.

Hendaknya tidak meremehkan satu faidah yang didengarnya atau menyepelekan satu kaidah yang dikuasainya, sebaliknya hendaklahsegera mencatatnya dan menghafalnya, hendaknya semangatnya dalam nenuntut ilmu tinggi, tidak merasa cukup dengan sedikit ilmu padahal bisa mendapatkan yang banyak, dan tidak rela menerima bagian yang sedikit dari warisan nab-nabi.

Hendaknya tidak menunda peluang untuk mendapatkan faidah-faidah yang memungkinkan, atau disibukan oleh angan-angan dan penundaan darinya. Karena menunda mengandung sisi negative yang banyak, dan karena jika dia mendapatkan faidah tersebut saat ini, maka dia akan mendapatkan faidah lain esok hari.

Hendaknya engineman waktu luang dan giatanya, waktu sehat dan masa mudahnya, ketajaman pikirannya, dan minimnya kesibukan sebelum datang  rintangan-rintangan kemalasan dan halangan-halangan kedudukan sebagai pemimpin.

Umar berta,

تَفَقَّهُوا قَبلَ أَن تُسَوَّدُوا

Artinya:

“Pahamilah agama sebelum kalian ditunjuk sebagai pemuka.”

Asy-Syafi’I berkata,

تَفَقَّه قَبل أَن تَرأَسَ، فَإِذَا رَأستَ فَلاَ سَبِلَ إِلَى التَفَقُّهِ

Artinya:

“Belajarlah agama sebelum kamu memimpin, jika kamu telah memimpin maka tidak ada jalan untuk belajar agama.”

 

Hendaknya tidak memandang diri dengan matakesempurnaan dan merasa tidak membutuhkan para syaikh, karena hal itu merupakan kebodohan itu sendiri dan mengisyaratkan minmnya pengetahuan, apa yang belum dia dapatkan lebih banyak daripada apa yang telah dia dapatkan, dan telah hadir ucapan Sa’id bin Jubair Rahimahullah,

لاَيَزَالُ الرَّجُلُ عَالِمًا مَا تَعَلَّم، فَإِذَا تَرَكَ التَّعلِيمَ وَظَنَّ أَنَّهُ قَدِستَغنَى فَهُوَ أَجهَلُ مَا يَكُونُ

Artinya:

“Seorang laki-laki tetaplah berilmu selama dia belajar, jika dia meninggalkan belajar dan menyangka sudah cukup, maka dia adalah orang yang paling bodoh.”

 

Manakala kapabilitasnya telah sempurna, keutamaanya telah terlihat, dia telah menelaah mayoritas buku atau yang terkenal darinya di satu bidang ilmu, dia mengkaji, memuroja’ah, dan mendalaminya, maka hendaknya masuk ke lahan tulis menulis dan mengakaji mahdzab-mahdzab para ulama, seraya meneliti jalan objektifitas terhadap perbedaan pendapat mereka, sebagaimana yang telah hadir di adab seorang alim.

Demikianlah pembahasan kita tentang adab tentang adab-adab penuntut ilmu bersama syaikhnya dan teladanya, apa yang wajib atasnya terkait dengan besarnya kehormatan syaikhnya pada kategori 1 sampai dengan kategori 5.

Semoga Allah subhanahu wata’ala memberikan kita hidayah dan taufiq sehingga kitab bisa terus belajar ilmu agama, duduk di manejlis ilmu, untuk menghilangkan kebodohan yang ada di diri kita dan setelah mengamalkan ilmu yang didapat, kita bisa membantu menghilangkan kebodohan dari orang lain.

Sumber :

Diringkas dari Buku         : Tadzkiratus Sami’ Wal Mutakallim / Rajab 1441 H. (03.20.03)

Karya                                     : Imam Badruddin Ibnu Jama’ah Al-Kinani Asy-Syafi’I

Kajian                                    : Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri (Kajian Rutin kitab Tadzkiratus Sami’ Wal

Mutakallim) Melalui Channel Youtube Muhammad Nuzul Dzikri

Diringkas Oleh                   : Yahya, Hendri Yansa (Pengajar Ponpes Darul Qur’an wal Hadits OKU Timur)

Baca juga:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.