Pondok Pesantren Darul Qur'an Wal-Hadits Martapura OKU

Yang Maha Agung

Yang Maha Agung

Yang Maha Agung – Segala puji bagi Allah dalam segala keadaan, Dzat yang tersifati dengan sifat-sifat keagungan dan kemuliaan. Yang Maha Esa, tempat bergantung, Yang Maha Hidup lagi berdiri sendiri, Yang Maha Besar lagi Maha Tinggi. Bagi-Nya nama-nama yang baik dan sifat-sifat yang mulia, agung dan sempurna. Amma ba’du

Allah Ta’ala berfirman,

ذلك بأن الله هو الحق وأن ما يدعون من دونه البطل وأن الله هو العلي الكبير

Artinya: “Demikianlah, karena sesungguhnya Allah, Dia-lah yang hak dan sesungguhnya apa saja yang mereka seru selain dari Allah itulah yang bathil; dan sesungguhnya Allah Dialah Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar.” (QS. Luqman: 30)

فالحكم لله العلي الكبير

Artinya: “Maka putusan (sekarang ini) adalah Allah Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar.”  (QS. Ghaafir: 12)

وهو العلي العظيم

Artinya: “Dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.” (QS. Al-Baqarah:255)

فسبح باسم ربك العظيم

Artinya: “Maka bertasbihlah dengan (menyebut) nama Rabb-mu Yang Maha Besar.”  (QS. Al-Haqqah: 520)

Al-Kabiir Al-Adziim adalah Dzat yang memiliki kebesaran serta keagungan sebagai sifat-Nya. Allah berfirman dalam hadits qudsi, “kebesaran adalah baju-Ku, keagungan adalah sarung-Ku. Barangsiapa yang menyaingi diri-Ku dalam kedua hal tersebut, maka Aku akan memasukkannya kedalam api nereaka.” (HR. Ahmad dan Abu Dawud)[1]

Makna kebesaran dan jeagungan ada dua macam:

  1. Maknanya kembali kesifat-Nya Ta’ala dan bahwasanya semua makna keagungan dan kebesaran seperti kekuatan, kemuliaan, kesempurnaan kekuatan, keluasan ilmu, kesempurnaan pujian, dan selainnya dari sifat-sifat keagungan dan kebesaran.

Diantara keagungan-nya adalah keberadaan langit dan bumi yang tujuh ditangan Allah seperti sebiji sawi yang ada ditangan salah seorang dari kita, sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnu Abbas Radhiyallahu Anhu. Allah Ta’ala berfirman:

وما قدروا الله حق قدره والأرض جميعا قبضته يوم القيمة والسموت مطويت بيمينه سبحنه وتعلى عما يشركون

Artinya: “Dan mereka tidak mengagungkan Allah dengan pengagungan yang semestinya padahal bumi seluruhnya dalam genggaman-Nya pada hari kiamat dan langit digulung dengan tangan kanan-Nya. Maha Suci Dia dan Maha Tinggi Dia dari apa yang mereka persekutukan.”  (QS. Az-Zumar: 67).

Dia memiliki kebesaran dan keagungan yang merupakan dua sifat yang tidak ada yang bisa menghitung kadarnya dan para hamba tidak akan bisa sampai kepada hakikat sifat-Nya. Telah shahih dari Nabi Shallallahu Alaihi wasallam bahwasanya beliau berkata dalam rukuk dan sujudnya. “Maha suci Allah yang memliki keperkasaan, kekuasaan, kebesaran dan keagungan” (HR. Ahmad, Abu Dawud, dan An-Nasaa’i)[2]

  1. Yaitu tidak ada yang berhak untuk diagungkan, dibesarkan, dimuliakan, dan dipuji kecuali Dia. Oleh karena itu Dialah yang layak untuk para hamba mengagungkan-Nya dengan hati-hati mereka, lisan-lisan mereka dan amal perbuatan mereka. Yang demikian itu dengan mencurahkan kesungguhan mereka dalam mengenal, mencintai, merendahkan diri, dan takut kepada-Nya. Diantara bentuk mengagungkan Allah adalah dengan menaati-Nya dan tidak memaksiati-Nya, mengingat-Nya dan tidak melupakan-Nya, serta mensyukuri-Nya dan tidak mengkufuri-Nya. Diantara bentuk mengagungkan dan memuliakan Allah pula adalah dengan tunduk kepada perintah, syariat, dan hukum-Nya serta tidak memperotes sedikitpun dari penciptaan maupun syari’at-Nya. Diantarabentuk mengagungkan Allah adalah dengan mengagungkan yang diagungkan oleh-Nya serta yang dimuliakan-Nya, baik itu waktu, tempat, seseorang, atau amal perbuatan. Inti ibadah adalah mengagungkan Allah Yang Maha Pencipta dan memuliakan-Nya. Oleh karena itu disyariatkan takbir Ketika shalat, baik pada awalnya maupun perpindahan Gerakan, agar seorang hamba benar-benar menjiwai makna pengagungan kepada-Nya dalam beribadah yang merupakan semulia-mulianya ibadah. Bahkan sesungguhnya takbir mengiringi seseorang muslim dalam berbagai macam bentuk ibadah dan ketaatan. Seorang muslim bertakbir Ketika telah menyempurnakan ibadah puasa, sebagaimana yang Allah firmankan,

ولتكبروا الله على ماهداكم ولعلكم تشكرون

Artinya: “Hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan mengagungkana Allah atas petunjukknya yang diiberikan kepada mu, agar kamu bersyukur.” (QS. Al-Baqarah: 185)

Seorang muslim juga bertakbir pada waktiu haji, Allah Subhanahu Wata’ala berfirman,

لن ينال الله لحومها ولا دماءها ولكن يناله االتقوى منكم كذلك سخرها لكم لتكبرالله على ماهداكم وبشر المحسنين

Artinya: “Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhoan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah  yang dapat mencapainya. Demikianlah Allah telah menunduk kanya untuk kamu supaya kamu  mengagungkan Allah terhadap hidayahnya kepada kamu. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik. (QS. Al-Hajj: 37)

Dengan ini jelas kedudukan takbir dan kemuliaan serta keagungannya dalam agama ini. Makna takbir adalah Allah yang Maha Besar dari segala sesuatu dalam diri seorang hamba. Sebagaimana yang pernah dikatakan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa asallam kepada Adi bin Hatim,  “Apa yang mencegahmu untuk mengatakan “Laa ilaha illalllah”, apakah engkau mengetahui sesembahan yang haq selain Allah?”

Adi mengatakan, “Tidak ada,”

Dia berkata bahwa kemudian beliau Subhanahu Wata’ala berkata sejenak lalu bersabda, “Sesungguhnya engkau lari dari mengatakan Allah itu Yang Maha Besar. Apakah engkau mengetahui ada yang lebih besar dari Allah?” Adi mengatakan, saya menjawab, “Tidak ada.” (HR. Ahmad, Tirmidzi dan Ibnu Hibban.)[3]

Dengan ini jelas makna “Allahu Akbar” jelas lebih besar dari segala sesuatu, tidak ada yang lebih besar dan agung dari-Nya. Oleh karena itu dikatakan sesungguhnya kata dalam Bahasa arab yang paling mendalam dalam pengagungan dan pemuliaan adalah “Allahu Akbar.”  Oleh karena itu, sifatilah Dia bahwa Dialah Yang Maha Besar dari pada segala sesuatu dan yakinilah bahwa Dia lebih besar dari segala sesuatu. Sebagaimana yang telah berlalu, makna takbor adalah pengagungan, tetapi dia buka sinonim bagi kata takbir. Kebesaran lebih sempurna dari keagungan, karena kebesaran mencakup makna keagungan dan memiliki tambahan makna. Oleh karena itu, Syaikhul Islam Rahimahullah berkata, “Di dalam firman-Nya, “Alllahu Akbar” terdapat penetapan bagi keagunan-Nya. Karena sesungguhnya kebesaran sudah mencancakup makna keagungan, tetapi kebesaran lebih sempurna. Oleh kraenanya lafadz-lafadz syariat dalam shalat dan azan memakai kata “Allahu Akbar.” Karena hal itu lebih sempurna dari pada ucapan “Allahu A’dzam” sebagaimana yang tercantum dalam Ad-Shahih dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bahwa beliau Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda,

يقول الله تعالى الكبرياء ردائى والعظمة إزاري فمن نازعني واحدا منهما قذفته في النار

Artinya: “Allah Ta’ala berfirman, “Kebesaran adalah baju-Ku dan keagungan adalah sarung-Ku. Barang siapa yang menyaingi diri-Ku dalam kedua hal tersebut, maka aku akan memasukkannya kedalam api neraka”, Allah menjadikan keagungan seperti sarung dan kebesaran seperti baju. Sudah diketahui bahwa baju lebih mulia. Ketika takbir itu lebih mendalam maknanya daripada keagungan, maka Dia memakainya dan itu pun mencakup makna pengagungan.”[4]

Disini ada sesuatu hal yang perlu disampaikan dan tidak layak untuk dilalaikan yaitu bahwasanya seorang muslim apabila telah beriman bahwa Allah Ta’ala lebih besar dari segala sesuatu dan bahwa segala sesuatu meskipun besar, dia kecil disamping kebesaran Allah dan keagungan-Nya. Diketahui dari sini denga yakin bahhwa kebesaran, keagungan, kemuliaan dan keindahan-Nya serta semua sifat-Nya adalah suatu hal yang tidak mungkin semuanya bisa dinalar dengan akal dan tidak bisa dibaayangkan oleh benak manusia atau tidak bisa diliputi  oleh pengelihatan dan pemikiran, Allah Ta’ala lebih besar dan lebih agung dari semua itu.

وقل الحمدلله الذي لم يتخذ ولدا ولم يكن له شريك في الملك ولم يكن له ولي من الذل وكبره تكبيرا

Artinya: “Dan sesungguhnya segala puji bagi Allah Yang tidak mempunyai anak dan tidak mempunyai sekutu dalam kerajaan-Nya dan tidak mempunyai penolong (untuk menjaga-Nya) dari kehinaan dan agungkanlah Dia dengan pengagungan yang sebenar-benarnya.” (QS. Al-Isra’: 111)

وما قدروا الله حق قدره والأرض جميعا قبضته يوم القيمة والسموت مطويت بيمينه سبحنه وتعلى عما يشركون

Artinya: “Dan mereka tidak mengagungkan Allah dengan pengagungan yang semestinya padahal bumi seluruhnya dalam genggaman-Nya pada hari kiamat dan langit digulung dengan tangan kanan-Nya. Maha Suci Dia dan Maha Tinggi Dia dari apa yang mereka persekutukan.”  (QS. Az-Zumar: 67).

Dan dalam firman Allah Ta’ala yang  artinya, ”Mengapa kamu tidak percaya akan kebesaran Allah. Padahal ia sesungguhnya telah menciptakan kamu dalam beberapa tingkatan kejadian. Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah menciptakan tujuh langit bertingkat-tingkat dan Allah menciptakan padanya bulan sebagai cahaya dan menjadikan matahari sebagai pelita dan Allah menumbuhkan kamu dari tanah dengan sebaik-baiknya, kemudian Dia mengembalikan kamu kedalam tanah dan mengeluarkan kamu (daripadanya pada hari kiamat)dengan sebenar-benarnya. Dan Allah menjadikan bumi untukmu sebagai hamparan supaya kamu menjalani jalan-jalan yang luas dibumi itu.”  (QS. Nuh: 13-20)

Maha suci Allah kemanakah akal orang-orang musyrikin tersebut Ketika menyerahkan ketundukan, kerendahan diri, harapan, rasa takut, kecintaan, dan ketamakan kepada makhluk yang lemah dan manusia yang hina. Mereka tidak memiliki bagi diri mereka sedikitpun dari kemanfaatan maupun kemudharatan terlebih lagi untuk orang lain. Mereka meninggalkan ketundukan dan kerendahan diri kepada Allah Yang Maha Agung, Yang Maha Besar, Yang Maha Tinggi, Yang Maha Pencipta, Yang Maha Mulia. Maha Tinggi Allah dari apa yang mereka sifatkan dan Maha suci Allah dari apa yang mereka sekutukan. Dialah yang berhak untuk diagungkan, dimuliakan, disembah, dan diagungkan. Ini adalah hak Allah yang murni bagi-Nya. Diantara kedzaliman yang terburuk adalah diberaknnya hak Allah ini kepada selain-Nya dan disekutukannya Allah dengan selain-Nya. Barang siapa yang menjadikan sekutu-sekutu dan tandingan-tandingan bagi Allah makai a tidak mengagungkan Allah dengan sebenar-benarnya. Maha suci Allah yang merendahkan diri kepada-Nya semua wajah-wajah manusia dan melirihkan suara serta gemetar hati karena takut kepada-Nya, Maha Tinggi Allah Rabb semesta alam.

REFERENSI:

Diringkas oleh: Ayesa Artika Aprilia dari kitab FIKIH ASMA’UL HUSNA karangan Prof. DR. Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin Al-‘Abbad Al-Badr.

[1] Musnad Al-Imam Ahmad 2/248, Sunan Abu Dawud nomor 4090 dan selain keduanya dari hadits Abu Hurairah dan isnadnya shahih.

[2] Musnad Al-Imam Ahmad 2/223, Sunan Abu Dawud nomor 873, Sunan An-Nasai’ nomor 1049 dan selain mereka dari hadits Auf bin Malik Al-Asyja’I dan isnadnya shahih.

[3] Musnad Al-Imam Ahmad 4/378, jami’ At-Tirmidzi nomor 2953 dan ini lafazhnya dan shahih Ibnu Hibban nomor 7206 dan selain mereka serta dihasankan oleh At-Tirmidzi.

[4] Majmu’ Fatawa 10/253

 

Baca juga artikel:

Wajib Taat Kepada Pemimpin Kaum Muslimin

Wasiat Rasulullah Shallallahu Waalaihi Wassalam

 

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.