Pondok Pesantren Darul Qur'an Wal-Hadits Martapura OKU

Memahami Nama-Nama Allah Subhanahu Wa Ta’ala Yang Indah

MEMAHAMI NAMA-NAMA ALLAH

Memahami Nama-Nama Allah Subhanahu Wa Ta’ala Yang Indah

Allah memiliki nama-nama yang sangat mulia dan indah. Kemuliaan dan keindahan tersebut dari dua segi: lafazh dan makna. Makna daripada nama-nama Allah tersebut menunjukkan sifat Allah yang Mahasempurna. Sebagaimana Alloh tegaskan dalam firman-Nya:

وَلِلَّهِ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَىٰ فَادْعُوهُ بِهَاۖ وَذَرُوا الَّذِينَ يُلْحِدُونَ فِي أَسْمَائِهِ ۚ سَيُجْزَوْنَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

Artinya; “Dan Allah memiliki nama-nama yang indah, maka berdo’alah kepadanya dengan nama-nama-Nya tersebut. Dan jauhilah orang-orang yang menyimpang dalam (me mahami) nama-nama-Nya. Mereka akan dibalasi terha dap apa yang mereka lakukan. (QS. al-A’rof [7]: 180)

Tentang nama-nama Allah ada beberapa hal yang harus kita pahami sebagaimana yang dijelas kan dalam ayat di atas:

Pertama:

Allah memiliki nama-nama yang sangat mulia lagi indah

Barang siapa yang tidak meyakini nama-nama Allah berarti tidak beriman kepada Allah secara utuh dan benar. Artinya, ia juga tidak beriman dengan isi al-Qur’an secara keseluruhan.

Bila kita perhatikan, dalam al-Qur’an Allah berulang kali menyatakan bahwa dia memiliki nama-nama yang indah. Sebagaimana pada ayat berikut:

قُلِ ادْعُوا اللَّهَ أَوِ ادْعُوا الرَّحْمَنَ أَيًّا مَا تَدْعُوا فَلَهُ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَى

Artinya: “Katakanlah (Muhammad): “Serulah Allah atau ar Rohman, yang mana saja engkau seru, maka sesungguh nya Alloh itu memiliki nama-nama yang indah….” (QS. al-isro’ [17]:  110)

Demikian pula begitu banyak ayat al-Qur’an yang ditutup dengan nama-nama Allah yang makna daripada nama Allah tersebut sangat erat hubungannya dengan kandungan konteks ayat.

Kedua:

Nama-nama Alloh adalah milik/untuk Alloh itu sendiri

Di sini kita akan menjawab pembahasan yang sering dilontarkan para ahli kalam yang memper soalkan apakah nama merupakan pemilik nama itu sendiri ataukah bukan?

Jawabannya: Nama bukanlah “si pemilik nama” itu sendiri dan bukan pula “bukan pemilik”. Akan tetapi, nama adalah untuk/milik “si pemilik nama”. Dalam bahasa Arabnya:

هل الا سم هو المسمى او ليس  با لمسمى؟

والجواب ليس هو المسمى و لا هو غير المسمى،

بل الاسم المسمى.

Ketiga:

Nama-nama Allah tersebut adalah Kalamullah bukan makhluk.

Karena Allah sendirilah yang memberi nama diri-Nya, tidak ada seorang pun yang memberi nama untuk Allah. Sebagaimana yang dinyatakan oleh Rosululloh  dalam sebuah do’anya berikut ini:

أسأ لك بكل الذي سم هو لك سميت به نفسك

Artinya: “Aku bermohon dengan segala nama yang Engkau miliki, yang Engkau beri nama dengannya diri-Mu.” (HR. Ahmad, Abu Ya’la, Ibnu Hibban, dan lain-lain, dishohihkan Syaikh al-Albani dalam ash-Shohihah)

Keempat:

Nama-nama Allah tersebut mengandung makna yang sangat sempurna yang disebut “sifat”.

Orang yang tidak meyakini sifat yang terkandung dalam nama-nama Allah berarti telah melakukan penyimpangan dalam beriman kepada Allah. Keindahan nama Allah bukan pada lafazhnya semata melainkan termasuk makna yang ditunjukkan atau terkandung dalam lafazh tersebut.

Alloh Ta’ala berfirman :

وَهُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Artinya: “….. Dan Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (OS. al-Ahqof (46): 8)

Dalam ayat yang lain Allah Ta’ala berfirman:

وَرَبُّكَ الْغَفُوْرُ ذُو الرَّحْمَةِۗ

Artinya: “Dan Robbmu-lah Yang Maha Pengampun lagi mempunyai rahmat…”. (QS. al-Kahfi (181: 58)

Ayat yang kedua ini menjelaskan bahwa nama Allah Arrohim bukan sekadar nama melainkan itu adalah nama yang mengandung sifat rahmat. Hal ini tampak jelas pada lafazh yang digunakan yakni dzurrohmah (yang mempunyai rahmat).

Kelima:

Berdo’a dan beribadah kepada Allah dengan nama-nama Allah tersebut.

Untuk mencapai kesempurnaan dalam beriba dah kepada Allah perlu memahami makna daripada nama-mana Allah tersebut. Bahkan ilmu ini adalah ilmu yang sangat agung untuk dipelajari. Sehingga dalam beribadah kepada Allah benar-benar kita seakan-akan melihat Allah sehingga menimbulkan nilai khusyuk dalam beribadah. Atau, kita merasa sedang dilihat Allah.

Setelah memperhatikan hal yang tersebut di a makin jelaslah bagi kita betapa pentingnya upaya menjelaskan dan mempelajari makna dari nama Allah tersebut. Nabi kita, Dari Abu Huroiroh & bahwa Rosululloh Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

«إن لله تِسْعَةً، وتِسْعِينَ، اسْمًا، مِائَةً إلا واحدا مَنْ أَحْصَاهَا دخل الجنة  ».

Artinya:  “Sesungguhnya Allah memiliki 99 nama, seratus kurang satu, barang siapa yang menghafalnya akan masuk surga.” (HR. al-Bukhori dan Muslim)

Kata “menghafalnya” menurut penjelasan para ulama memiliki beberapa tingkatan:

  1. Menghafalnya dengan lisan. Artinya, kita menghafal sebanyak sembilan puluh sembilan dari nama-nama Alloh yang terdapat dalam al-Jur’an maupun Sunnah.
  2. Memahami makna yang terkandung dalam nama-mana Allah tersebut.
  3. Mengaplikasikan makna tersebut dalam doa dan ibadah kita. Atau dengan kata lain menghafalnya dalam bentuk amalan.?

Keenam:

Nama-nama Allah tidak diketahui batasan jumlahnya.

Hadits (tentang 99 nama Allah) di atas tidaklah menunjukkan tentang batasan jumlah keseluruhan nama-nama Allah tetapi membatasi tentang jumlah untuk memperoleh janji yang terdapat dalam hadits tersebut, yaitu masuk surga.

Karena dijelaskan dalam hadits lain bahwa jumlah keseluruhan nama Allah tidak dapat diketahui sekalipun oleh Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wasallam. Sebagaimana yang terdapat dalam do’a Rosululloh:

أَسْأَلُكَ بِكُلِّ اسْمٍ هُوَ لَكَ، سَمَّيْتَ بِهِ نَفْسَكَ، أَوْ أَنْزَلْتَهُ فِي كِتَابِكَ، أَوْ عَلَّمْتَهُ أَحَدًا مِنْ خَلْقِكَ، أَوِ اسْتَأْثَرْتَ بِهِ فِي عِلْمِ الْغَيْبِ عِنْدَكَ

Artinya: “Aku bermohon dengan segala nama yang Engkau miliki, yang Engkau beri nama dengannya diri-Mu, atau Engkau beritahu tentangnya salah seorang dari makhluk-Mu, atau Engkau turunkan dalam kitab-Mu, atau Engkau simpan di sisi-Mu di alam ghaib.” (HR. Ahmad dll., dishohihkan oleh Ibnul Qoyyim dan Syaikh al-Albani)

Dalam hadits ini disebutkan tiga bagian dari nama-nama Alloh:

  1. Bagian pertama: nama yang Allah beritahu sebagian dari makhluk-Nya, baik dari kalang malaikat atau lainnya, tetapi tidak diturunkan dalam kitab suci Alloh.
  2. Bagian kedua: nama yang Allah turunkan dalam kitab suci-Nya
  3. Bagian ketiga: nama yang Allah sembunyikan di sisi-Nya di alam ghaib.

Ketujuh:

Kesamaan dalam nama tidak mesti sama pula dalam bentuk dan hakikat.

Walaupun ada kesamaan nama dari segi lafazh antara nama makhluk dan nama Allah, hakikat makna dari masing-masing nama tersebut sangat jauh berbeda sebagaimana perbedaan antara Allah itu sendiri dengan makhluk-Nya. Kesamaan di sini hanya dalam bentuk nama atau lafazh kata saja tidak dalam segi makna secara keseluruhan. Jadi, sekalipun ada kesamaan dalam bentuk lafazh atau nama, hakikat makna dari lafazh dan nama tersebut secara keseluruhan tidak sama.

Sebagaimana di antara nama Allah adalah al-Hayyu yang artinya bersifat hidup. Demikian pula makhluk juga bersifat hidup. Akan tetapi, hidup Allah tidak sama dengan hidup makhluk. Hidup Alloh tidak butuh pada makan dan minum sedangkan hidup makhluk butuh makan dan minum serta memiliki berbagai kekurangan seperti sakit, capek, letih, haus, lapar, dan seterusnya. Hidup Allah tidak diawali dengan ketiadaan (‘adam) dan tidak pula diakhiri dengan kematian (al-fana). Adapun hidup makhluk diawali dengan ketiadaan dan diakhiri oleh kematian. Sebagaimana terdapat dalam hadits :

عن ابن عباس رضي الله عنهما أن النبي صلى الله عليه وسلم كان يقول أن هو ذلك بعز تك الله لذي لا إلى له إلى لا أن نت الذي لا يموت والجن والإنس يموتون

Artinya: Diriwayatkan Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berdo’a: “Aku berlindung dengan keperkasaan-Mu. Yang tiada berhak disembah kecuali Engkau, Zat yang tidak akan pernah mati. Sedangkan jin dan manusia akan mati.” (HR. al-Bukhori dan Muslim)

Dalam sabda yang lain beliau katakan:

اللهم  أنت الأول فليس قبلك شيء وأنت الا خير فليس بعدك شيء

Artinya: “Ya Allah Engkaulah yang pertama, tiada sesuatu pun sebelum Engkau. Dan Engkaulah yang terakhir, tiada sesuatu pun setelah Engkau.” (HR. Muslim)

REFERENSI:

Diringkas oleh : Anggi Abdurrahman (Sarpras)

Referensi : Majalah Al Furqon Edisi 09 Tahun Ke-8 1430/2009

Baca juga artikel:

Dahsyatnya Hari Kiamat

Apakah Ada Zakat Untuk Rumah Sewa?

 

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.