Pondok Pesantren Darul Qur'an Wal-Hadits Martapura OKU

PRINSIP-PRINSIP DAKWAH SALAFIYAH

prinsip dakwah salafiyyah

PRINSIP-PRINSIP DAKWAH SALAFIYAH Sesungguhnya kembali kepada Al-Qur’an Karim dan Sunnah Nabawiyyah yang shahih dan berkumpul di atas pemahaman para sahabat dalam Aqidah, Syari’at, dan akhlak adalah jalan orang- orang yang beriman.

Diantara prinsip-prinsip dakwah salafiyyah adalah:

Pertama: Kembali kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah menurut Pemahaman Salafush Shalih

Allah Subhanahu Wata’ala berfirman:

وَمَنْ يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَى وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّى وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ وَسَاءَتْ مَصِيرًا

Artinya: Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang- orang mukmin, kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan kami masukkan ia kedalam jahannam, dan jahannam itu seburuk- buruk tempat kembali.” (QS. Annisa’: 115)

‘Abdullah bin mas’ud Radhiyallahu Anhu berkata yang Artinya: Rasulullah membuat garis dengan tangannya kemudian bersabda: Ini jalan Allah yang lurus. Lalu beliau membuat garis- garis di kanan kirinya, kemudian bersabda: Ini adalah jalan- jalan yang bercerai- berai( sesat) tidak satupun dari jalan- jalan ini kecuali di dalamnya terdapat setan yang menyeru kepadanya. Selanjutnya beliau membaca firman Allah Ta’ala: Dan sungguh, inilah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah! Jangan kamu ikuti jalan- jalan ( yang lain) yang akan mencerai- beraikan kamu dari jalan- Nya. Demikianlah Dia memerintahkan kepadamu agar kamu bertakwa. (QS Al-An’am:  153)

Menjelaskan kamu mukminin adalah wajib dan mengetahui jalan orang- orang yang jahat adalah perkara yang di tuntut sehingga seorang muslim tidak terjatuh dalam kesesatan tanpa sadar dan sehingga jalan tersebut tidak bercampur- baur.

‘Umar bin Alkhottob Radhiyallahu Anhu mengatakan:

سيسيأتي ناس يجادلونكم بشبهات القرالان, فخذوهم بالسنن فإن أصحاب السنن أعلم بكتاب الله تعالى

Artinya: “Sesungguhnya akan ada sekelompok manusia yang mendebat kalian dengan syubhat Al-qur’an, maka hadapilah mereka dengan sunnah- sunnah Rasulullah karena ash-habussunnah lebih memahami kitabullah Ta’ala” ( Di riwayatkan oleh Ad-darimi 1/49)

Imam Al-auza’i ( wafat tahun 157 H ) berkata, Bersabarlah dirimu di atas sunnah, tetaplah tegak sebagaimana para sahabat tegak di atasnya. Katakanlah sebagaimana yang mereka katakan, tahanlah dirimu dari apa- apa yang mereka menahan diri darinya. Dan ikutilah jalan Salafus Shalih karena akan mencukupimu apa saja yang mencukupi mereka ( Syarah Ushul I’tiqod Ahlis Sunnah wal Jama’ah 1/174)

Dr. Mushtafa Hilmi mengatakan: Apabila pada hari ini manusia mencari- cari jalan untuk bangkit maka tidak ada jalan bagi mereka kecuali untuk menyatukan jama’ah mereka, dan menyatukan jama’ah tidak ada jalan kecuali islam yang benar, Dan Islam yang benar sumbernya adalah Al- Qur’an dan Assunnah menurut pemahaman Salafus Shali, dan inilah kesimpulan dari pijakan seorang salafi ( Qowa’idul Manhajis Salafi hal.13)

Sungguh Rasulullah sollallhu ‘alaihi wasallam telah mengumpulkan para sahabatnya di atas kebenaran, aqidah yang benar, dan manhaj yang lurus sehingga Allah Ta’ala mempersatukan mereka setelah mereka berselisish, mempersatuakan mereka setelah mereka berpecah- pecah, menguatkan mereka setelah mereka lemah, dan menguatkan mereka setelah mereka lemah dan memuliakan mereka setelah mereka dalam kehinaan

Allah  Ta’ala berfirman:

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا وَاذْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا

Artinya: “Dan berpegang teguhlah kamu semuanya pada tali ( Agama ) Allah, dan janganlah kamu bercerai- berai, dan ingatlah nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu ( masa jahiliyah ) bermusuhan, lalu Allah mempersatukan hatimu sehingga dengan karuni- Nya kamu menjadi bersaudara.” ( QS. Ali imran: 103) ( Lihat Al- Mukhtasorul Hatsiits fii Bayaani Ushul Manhajis Salaf Ash- habil Hadiist hlm 167-170)

Kedua: Berdakwah kepada Tauhid dan mengikhlaskan Amal semata- mata karena Allah

Salafiyyun ketika mewajibkan memulai dakwah dengan Tauhid dan mengajak para da’i, ustadz, untuk memulai dakwahya dengan tauhid, bukan bearti berpaling dari semua konsekwensi dan aplikasi tauhid, akan tetapi salafiyyun menjadikan dakwah tauhid sebagai prioritas utama, memulai dari yang paling penting kepada yang penting, melaksanakan yang wajib- wajib, yang sunnah- sunnah, dan lain- lain.

Wajib bagi para da’i memulai dakwahnya dengan tauhid, dan setiap dakwah yang tidak tegak di atas tauhid pada setiap tempat dan waktu maka dakwahnya kurang dan membawa kepada kegagalan dan menyimpang dari shirotol mustaqim. Dakwah Tauhid adalah prinsip yang besar dalam agama Islam

Bagi seorang muslim tauhid merupakan prinsip yang paling agung, dimana seseorang tidak boleh menyimpang darinya. Banyak para da’i yang tidak mengetahui prinsip yang satu ini sehingga mereka terjerumus kedalam kesyirikan sedangkan mereka tidak menyadarinya.

Ketiga: Dakwah Ahlus sunnah Salafiyyun mengajak Ummat Islam untuk Beribadah kepada Allah dengan benar.

  1. Pengertian Ibadah

Ibadah secara bahasa ( etimologi) bearti merendahkan diri serta tuunduk

Sedangkan menurut syara’ ( terminologi ) ialah:

اسم جامع لكل ما يحبه الله و يرضاه, من الاقوال, و الاعمال, الباطنة و الظاهرة

Artinya: ‘Ibadah adalah satu nama yang mencakup segala apa yang dicintai dan diridhoi Allah, berupa perkataan dan perbuatan yang tersembunyi maupun  nampak ( Lihat Majmuu’ Fataawa Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah x/ 140)

Ibadah terbagi menjadi ibadah hati, Lisan, dan anggota badan. Rasa khauf ( takut), khauf ( takut), raja’ ( mengharap), mahabbah ( cinta), tawakkal ( ketergantungan), raghbah ( senang), dan rahbah ( takut ) adalah ibadah yang berkaitan dengan hati. Sedangkan tasbih, tahlil, takbir, tahmid dan syukur dengan lisan dan hati adalah ibadah lisan dan hati. Sedangkan shalat, zakat, haji, dan jihad adalah ibadah fisik dan hati. Serta masih banyak lagi macam- macam ibadah yang berkaitan dengan amalan hati, lisan, dan badan.

 

REFERENSI:

Dari kitab: Mulia manhaj salaf

karya: Ustadz Yazid

Cetakan: ke-20

Diringkas oleh: Muslihan (Pengajar Ponpes Darul-Qur’an Wal-Hadits OKU Timur)

 

BACA JUGA:

Be the first to comment

Ajukan Pertanyaan atau Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.