Pondok Pesantren Darul Qur'an Wal-Hadits Martapura OKU

BAHAYA MENYELISIHI TAUHID

Bahaya Menyelisihi Tauhid

BAHAYA MENYELISIHI TAUHID-Segala puji bagi Allah, kita memuji-Nya dan meminta pertolongan, pengampunan dan petunjuk-Nya. Kita berlindung kepada Allah dari kejahatan diri kita dan keburukan amal kita. Barang siapa mendapat petunjuk dari Allah maka tika nada yang menyesatkannya, dan barang siapa yang sesat maka tidak ada pemberi petunjuknya baginya. Aku bersaksi bahwa tiada Illah yang berhak di ibadahi dengan benar melainak Allah dan bahwa Muhammad adalah Hamba dan Rasulnya. Ammaa ba’du

Tidak ada sumber kebahagiaan dunia dan akhirat melainkan tauhid dan tidak ada sumber musibah dan petaka dunia dan akhirat kecuali syirik. Karena tauhid merupakan tujuan utama diciptakannya makhluk dan tegaknya langit dan bumi, maka menyelisihi tauhid merupakan sebab utama datangnya azab dan kehancuran seluruh umat.

Kedudukan tauhid adalah paling tinggi diatas segalanya dan tidak ada kezhaliman yang melebihi kezhaliman syirik, tetapi banyak manusia yang menganggap remeh. Namun sesuatu yang diagungkan oleh Allah dan Rasul-Nya tetap agung walau manusia menyepelekannya.

KESELAMATAN PENGIKUT NABI

Segolongan umat yang berada diatas perahu yang berlayar dilautan banjir azab yang mampu menutupi gunung tinggi dan amukan gelombang nya bagaikan gunung lalu mereka selamat. Sesungguhnya ini adalah pelajaran yang sangat berharga bagi para penentang dan yang meremehkan dakwah tauhid. Firman Allah Subhanahu Wata’ala:

وهي تجري بهم في موج كالجبال

Artinya: “Dan perahu berlayar membawa mereka diatas gelombang bagaikan gunung.” (QS. Hud: 42)

Apakah yang menyelamatkan mereka diatas perahu dalam keadaan yang sangat menakutkan itu?apakah yang membuat perahu itu mau berlayar tanpa enggan karena takut ancaman gelombang yang menyamai gunung? Apakah yang menyelamatkan mereka dari bahaya besar itu? Sesungguhnya tidak lain kecuali tauhid yang menjadi tujuan terciptanya seluruh makhluk dan kunci terjaganya seluruh alam dari kebinasaan.

Jika ini keselamatan mereka didunia yang dapat dilihat oleh mata dan diketahui oleh seluruh manusia, lalu bagaimana dengan keselamatan mereka diakhirat yang tidak pernah kelihatan oleh mata, tidak pernah terlintas dalam hati dan tidak pernah terdengar oleh telinga.

Seandainya perahu tersebut berisi orang-orang yang mengutamakan dakwah politik dan khilafah dan macam-macam dakwah yang disuarakan pada zaman sekarang kita tidak yakin bahwa perahu tersebut dapat selamat dari banjir dan gelomabang bisa lalu, bagaimana  dengan banjir azab yang luar biasa?

Kita tidak bisa menjamin keselamatan jika isi perahu tersebut adalah orang-orang yang mengabaikan dakwah tauhid. Kalaupun seandainya Allah menyelamatkan mereka maka keselamatan yang bersiat rahmat Allah kauni dan bukan rahmat Allah yang syar’i sebab Allah hanya menyariatkan dakwah tauhid yang paling utama dan jaminan keselamatan dan kemenangan dunia dan akhirat bagi ahlinya.

Jangan menyangka bahwa mereka selamat karena bersama Nabi mereka; sekalipun ini termasuk sebab keselamatan, tetapi sebab yang paling utama dari keselamatan adalah berpegang teguh mereka kepada tauhid dan menaati Nabi dan bukan karena zat dan keberadaan Nabi mereka semata.

Tidakkah Anda mengetahui bahwa para sahabat kalah bahkan banyak terbunuh dan luka-luka pada saat perang Uhud dan perang Hunain padahal Nabi yang mulia bersama mereka? Tatkala mereka maksiat dalam posisi perang dan ujub-bukan kesyirikan- maka keberadaan Rasulullah yang mulia dan amal jihad mereka tidak mampu meghalangi hukuman Allah kepada mereka dan tidak mampu menghilagkan musibah setelah terjadinya hingga mereka bertaubat dan kembali kepada Allah.

Apakah setelah ini masih ada yang mengaggap remeh dakwah tauhid dan ketaatan kepada Rasulullah dalam dakwah dan sunnah-Nya?

Masih adakah yang berkata bahwa bahwa sebab kekalahan mereka adalah karena tidak mahir dalam berperang atau kurang dalam siasat perang?

Masihkah Anda beranggapan bahwa sebab kelemahan umat islam saat ini karena lemah ekonomi, politik, dan tidak memiliki khilaah? Ataukah karena bodoh terhadap tauhid dan menyelisihinya bahkan mengamalkan lawannya yaitu mengeramatkan dan menyembah kuburan wali selain Allah? Ataukah menganggap bahwa apa yang dilakukan oleh kaum muslimin dikuburan-kuburan para wali itu bukan perbuatan syirik?

KEHANCURAN KAUM NUH

Banjir yang menenggelamkan gunung-gunung tinggi, sunggu pelajaran bagi kaum kafir bahwa dosa syirik dan meyelishi tauhid bukan sembarang dosa. Menunjukkan betapa besarnya dosa syirik, menunjukkan betapa murkanya Allah jika diselisihi tauhid-Nya.

Menurut bahasa orang sekarang, betapa sangat tidak bersahabatnya alam semesta jika Allah dimaksiati dalam bentuk syirik kepada-Nya. Betapa langit dan bumi tidak mau memberikan ruang kepada para pelaku syirik. Jika ini azab dunia yang dapat dilihat dan diketahui oleh semua manusia lalu bagaimana dengan azab mereka diakhirat.

Hewan-hewan yang berada didalam perahu Nabi Nuh ikut selamat, sedang anak Nabi Nuh tenggelam dan tidak selamat tatkala menganggap bahwa gunung yang akan menyelamatkannya dan bukan perahu ayahnya. Lalu bagaimana dengan orang yang mencela dan merendahkan dakwah para Nabi? Bagaimana dengan mereka yang menuduh da menisbahkan kejelekan dan hal-hal yang tercela pada dakwah tauhid, seperti kata mereka:

“dakwah tauhid memecah belah”, “dakwah tauhid membuat orang lari”, dan berbagai istilah yang tidak layak nika dikatakan oleh orang-orang awam, lalu bagaimana jika yang mengatakan adalah seorang da’i.

Azab yang keluar dari bumi dan yang turun dari langit bertemu, sehigga tidak ada yang selamat walau gunung-gung tinggi. Tungku api dan semua permukaan bumi yang tidak mungkin mengeluarkan air, sehingga menjadi mata air yang mengeluarkan air yang luar biasa hingga semua permukaan bumi menjadi mata air, tidak hanya sungai dan lautan, tidak hanya sumur dan mata air, sedang langit menurunkan hujan deras.

Allah Maha Kuasa untuk menyiksa mereka dengan kematian begitu saja tanpa azab dahsyat itu. Akan tetapi Allah memperlihatkan kekuasaannya kepada umat manusia bahwa pelaku syirik berhak untuk merasakan semua kenistaan ini. Agar telinga dapat mendengar, mata melihat dan hati memahami; tetapi kenapa banyak manusia tidak mengambil pelajaran, kanapa masih banyak manusia yang meremehkan tauhid dan mengagungkan kesyirikan.

AHLI SYIRIK TIDAK MEMILIKI HAK HIDUP

Hak hidup hanya milik ahli tauhid. Adapun ahli syirik tidak memiliki hak untuk hidup bahkan mereka berhak di do’a kan jelek dan laknat, berhak diperangi dan ditawan, dibunuh dan dirampas hartanya, berhak diusir dan dihinakan dan berhak dipaksa untuk masuk kedalam agama islam jika perlu. Tatkala orang-orang kafir zaman ini mengetahui bahwa islam tidak memberikan hak hidup untuk kaum kafir dan bahwasanya kaum muslimin tidak mengenal damai dengan kaum kafir.

Mereka mempropagandakan HAM untuk menipu umat manusia dan mengklaim bahwa siapapun berhak hidup dan bahwasanya pernyataan mereka yang memberikan hak hidup kepada siapa saja lebih baik dari pada ajaran islam yang tidak memberikan hak hidup untuk orang kafir.

Firman Allah Subhanahu Wata’ala tentang do’a Nabi Nuh:

وقال نوح الرب لا تذر على الأرض من الكافرين ديارا

Artinya: “Dan berkata Nuh: “Hai Rabbku, jangan Engkau biarkan dipermukaan bumi ini umat kafir seorang pun. (QS. Nuh: 26)

Seandainya keadaan dan perbuatan orang-orang kafir didunia ini tidak dikabarkan oleh Allah, sudah cukup bukti tentang kejelekan amal perbuatan mereka bagi yang terbuka hatinya dengan hidayah, lalu bagaimana dengan berita dari Allah sangat jelas dan gamblang bahwa mereka tidak lain kecuali merusak dan menyesatkan manusia dari jalan Allah.

Apakah ada orang kafir yang berbuat baik dengan mengajak manusia kejalan Allah? Paling tinggi kebaikan mereka dalam urusan dunia dan itupun tidak sepenuhnya memberikan manfaat kepada manusia. Kebaikan orang kafir sedikitpun tidak berguna bagi mereka didunia apalagi diakhirat.

Amal mereka tidak bermanfaat bagi mereka didunia karena tidak sanggup menolak sakit, kemiskinan dan musibah dan tidak mampu menghilangkannya jika telah menimpa dan tidak mampu mendatangkan kebahagiaan dan mengusir kegelisahan dan kesedihan.

Adapun diakhirat mereka akan diadili dengan setiap nikmat Allah yang mereka peroleh lalu sebagai azab dan tambahan siksa bagi mereka disebabkan mereka hanya mengambil nikmat Allah tanpa menunaikan syukurnya, yaitu menempatkan nikmat Allah pada jalan yang diridhoi.

SYUBHAT DAN BANTAHANNYA

Barangkali ada yang berkata bahwa dakwah Nabi Nuh dan para Nabi tujuannya untuk mewujudkan politik dan khilafah dan negara islam. Maka jawabannya “tidak”, sebab tujuan sesuatu dilihat dari awal dan sarannya.

Anggapan mereka ini benar jika para Nabi tersbut mengajak umatnya seperti: “berpolitiklah” atau “dirikanlah khillafah dan negara islam”. Adapun jika dakwah mereka : “Beribadahlah kepada Allah”, “Tauhidkan Rabb kalian” maka ini tidak mungkin dipahami bahwa dakwah mereka adalah bertujuan untuk khilafah.

Jika saja yang diingkari oleh para Nabi adalah kezaliman para penguasa, mungkin dapat dikatakan bahwa mereka adalah politik dan khilafah. Namun kenyataannya yang mereka ingkari paling utama adalah syirik, maka mustahil dibawa kepada dakwah khilafah.

Istilah kafir dan syirik dalam Al-Qur’an dan Assunnah; istilah zalim, fasiq, jahat, pembangkang, sombong, berpaling, pengerusak, sesat menyimpang, menentang dan memusuhi Allah dan Rasul-Nya, dan istilah-istilah semisalnya tidak layak jika dibawa kepada makna bahwa istilah berlaku bagi mereka yang menolah khulafah dan politik.

Anak nabi tenggelam dalam azab tidak mungkin dipahami bahwa karena menyelisihi bapaknya yang mengajak pada politik dan khilafah. Azab Allah sedemikian dahsyatnya tidak layak jika dipahami bahwa karena umat tersebut membangkang dan menolak khilafah, justru tabiat manusia akan segera menyambutnya karena ada harapan harta dan kekuasaan.

IBRAH

Dari uraian diatas dapat kita ambil beberapa pelajaran diantaranya:

  1. Selamatnya ahli perahu dari banjir azab yang dahsyat menunjukkan keutamaan dakwah tauhid. Kebinasaan ahli syirik degan azab banjir yang menutupi gunung menunjukkan besarnya dosa syirik kepada Allah.
  2. Jika maksiat kepada Nabi tidak menyelamatkan dari azab sekalipun nabi bersama kita, lalu bagaimana jika Nabi tidak bersama kita sedang kita bertau bat maksiat kepadanya setiap saat, lalu bagaimana jika maksiat kita kepadanya dalam pokok dakwah mereka yaitu tauhid.
  3. Jika hewan selamat karena berada diatas perahu Nabi Nuh ini artinya bahwa keselamatan duania dan isinya adalah bersama tauhid dan isinya.

Waallahu ‘Alam…

REFERENSI:

Diambil dari :Bundel Al-Furqon, edisi 09 Tahun ke-3

Disusun oleh : Ustadz Abdurrahman Al-Buthoni.

Ditulis oleh : AYESA ARTIKA A

Diringkas dari : AS-SUNNAH EDISI 10 THN. XXII (JUMADHIL AKHIR 1440)

Baca juga artikel:

Keutamaan Puasa

Menggunakan Jimat Untuk Penglaris

Be the first to comment

Ajukan Pertanyaan atau Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.