Pondok Pesantren Darul Qur'an Wal-Hadits Martapura OKU

Dunia itu Terkutuk (Part 2)

DUNIA ITU TERKUTUK BAGIAN 2

Dunia itu Terkutuk (Part 2)

Pada artikel yang telah lalu kita telah membahas bagian-bagian tentang celaan terhadap dunia dan pada artikel kali ini penulis akan membahas tentang bagian-bagian Dunia yang Terkutuk lainya.

  • Celaan Terhadap Dunia

Kehidupan dunia ini dinamakan dunia karena rendah dan hina. Kehidupan dunia yaitu sesuatu sedikit, kecil, pendel, singkat, tipu, fana, rekayasa,  dan tidak ada artinya, kehidupan yang penuh syahwat dan fitnah. Kehidupan dunia adalah kefanaan, fatamorgana, menipu, sesuatu yang pasti hilang, musnah, dan binasa. Jelasnya kehidupan dunia ini hanya bersifat sebentar tak lama, tak panjang, karna pasti ia akan binasa pertanyaannya kapan ia binasa? Allahu’ a’lam kita hanya cukup bersiap-siap untuk kebinasaan tersebut mencari bekal sebanyak-banyaknya pastinya dengan menghiraukan Dunia.

Firman Allah Subhanahu Wata’ala :

فَمَا مَتَاعُ الْحَيٰوةِ الدُّنْيَا فِى الْاٰخِرَةِ اِلَّا قَلِيْلٌ

Artinya: “Padahal kenikmatan hidup di dunia ini (dibandingkan dengan kehidupan) di akhirat hanyalah sedikit”. [1]

Firman Allah Subhanahu Wata’ala yang lain,

وَمَآ اُوْتِيْتُمْ مِّنْ شَيْءٍ فَمَتَاعُ الْحَيٰوةِ الدُّنْيَا وَزِيْنَتُهَا ۚوَمَا عِنْدَ اللّٰهِ خَيْرٌ وَّاَبْقٰىۗ اَفَلَا تَعْقِلُوْنَ . اَفَمَنْ وَّعَدْنٰهُ وَعْدًا حَسَنًا فَهُوَ لَاقِيْهِ كَمَنْ مَّتَّعْنٰهُ مَتَاعَ الْحَيٰوةِ الدُّنْيَا ثُمَّ هُوَ يَوْمَ الْقِيٰمَةِ مِنَ الْمُحْضَرِيْنَ

Artinya: “Tetapi kamu [orang-orang kafir] memilih kehidupan duniawi. Sedangkan kehidupan akhirat adalah lebih baik dan kekal.”.Maka apakah orang yang Kami janjikan kepadanya suatu janji yang baik (surga) lalu ia memperolehnya, sama dengan orang yang Kami berikan kepadanya kenikmatan hidup duniawi; kemudian dia pada hari kiamat termasuk orang-orang yang diseret (ke dalam neraka)”?. [2]

Dalam dua ayat diatas, Allah mengabarkan tentang kehinaan dunia serta apa yang ada di dalamnya berupa perhiasan yanh rendah, keindahan yang fana, dan kelezatan yang akan hilang, dibandingkan dengan apa yang telah Allah siapkan untuk hamba-hambaNya yang shalih yang lebih memilih apa yang ada disisi Allah berupa kenikmatan yang kekal. Tetapi walaupun begitu, masih saja ada orang yang mendahulukan kehidupan dunia atas akhirat, mereka itulah orang yang tidak berakal. Maka berhati-hatilah agar yidak termasuk dari orang yang mendahulukan dunia yang fana ini dari akhirat yang kekal.

Allah juga menyifati bahwa dunia ini senda gurau dan permainan, dan menjelaskan perbedaannya dengan kehidupan akhirat. Allah Subhanahu Wata’ala berfirman, dalam surah al-ankabut ayat 64 yang berbunyi:

وَمَا هٰذِهِ الْحَيٰوةُ الدُّنْيَآ اِلَّا لَهْوٌ وَّلَعِبٌۗ وَاِنَّ الدَّارَ الْاٰخِرَةَ لَهِيَ الْحَيَوَانُۘ لَوْ كَانُوْا يَعْلَمُوْنَ

Artinya: “Dan kehidupan dunia ini hanya senda gurau dan permainan. Dan sesungguhnya negeri akhirat itulah kehidupan yang sebenarnya, sekiranya mereka mengetahui.”[3]

Kehidupan akhirat adalah kehidupan yang hakiki, yang sebenarnya, yang nyata yaitu yang terus menerus, yang tetap, yang akan kekal abadi, yang tidak pernah putus, yang panjang, yang nikmatnya tidak akan pernah ada usainya ya begitu kehidupan akhirat nanti yang saat ini orang orang yang mencintai dunia nanti akan merasa sangat rugi akibat sibuk dengan dunia malah merelakan kenikmatan abadi.

Nabi memberikan perumpamaan bahwa dunia ini seperti setetes air yang melekat di jari. Sedangkan akhirat merupakan samudra yang sangat luas. Dunia ini juga lebih jelek daripada bangkai kambing. Diriwayatkan dari jabir Radhiyallahu Anhu berkata:

أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ  مَرَّ بِالسُّوْقِ دَاخِلًا مِنْ بَعْضِ الْعَالِيَةِ وَالنَّاسُ كَنَفَتَهُ. فَمَرَّ بِجَدْيٍ أَسَكَّ مَيِّتٍ فَتَنَاوَلَهُ فَأَخَذَ بِأُذُنِهِ، ثُمَّ قَالَ: ))أَيُّكُمْ يُحِبُّ أَنَّ هَذَا لَهُ بِدِرْهَمٍ؟ (( فَقَالُوْا: مَا نُحِبُّ أَنَّهُ لَنَا بِشَيْءٍ وَمَا نَصْنَعُ بِهِ؟ قال:(( أَتُحِبُّوْنَ أَنَّهُ لَكُمْ؟ )) قَالُوْا: وَاللهِ لَوْ كَانَ حَيًّا كَانَ عَيْبًا فِيْهِ، لِأَنَّهُ أَسَكُّ. فَكَيْفَ وَهُوَ مَيِّتٌ؟ فَقَالَ: (( فَوَاللهِ لَلدُّنْيَا أَهْوَنُ عَلَى اللهِ مِنْ هَذَا عَلَيْكُمْ )).

Artinya: “Sesungguhnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berjalan melewati pasar sementara banyak orang berada di dekat Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Beliau berjalan melewati bangkai anak kambing jantan yang kedua telinganya kecil. Sambil memegang telinganya Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Siapa diantara kalian yang berkenan membeli ini seharga satu dirham?” Orang-orang berkata, “Kami sama sekali tidak tertarik kepadanya. Apa yang bisa kami perbuat dengannya?” Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apakah kalian mau jika ini menjadi milik kalian?” Orang-orang berkata, “Demi Allâh, kalau anak kambing jantan ini hidup, pasti ia cacat, karena kedua telinganya kecil, apalagi ia telah mati?”

Beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

فَوَاللهِ لَلدُّنْيَا أَهْوَنُ عَلَى اللهِ مِنْ هَذَا عَلَيْكُم

Artinya: “Demi Allâh, sungguh, dunia itu lebih hina bagi Allâh daripada bangkai anak kambing ini bagi kalian”.[4]

Dunia juga tidak berharga sedikitpun meski hanya seberat sayap nyamuk. Seperti sabda Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam:

لَوْ كَانَتِ الدُّنْـيَا تَعْدِلُ عِنْدَ اللهِ جَنَاحَ بَعُوْضَةٍ ، مَا سَقَى كَافِرًا مِنْهَا شَرْبَةَ مَاءٍ

“Artinya: seandainya dunia di sisi Allah sebanding dengam sayap nyamuk, maka Dia tidak memberi minum sedikit pun darinya kepada orang kafir.”[5]

Diantara celaan terhadap dunia, bahwa dunia ini diumpamakan sepeeti apa yanh dimakan oleh manusia, kemudian setelah itu menjadi kotoran. Rasullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda,

إِنَّ مَطْعَمَ ابْنِ آدَمَ جُعِلَ مَثَلًا لِلدُّنْيَا وَإِنْ قَزَّحَهُ وَمَلَّحَهُ فَانْظُرُوْا إِلَى مَا يَصِيْرُ

Artinya: “Sesungguhnya makanan anak Adam (makanan yang dimakannya) dijadikan perumpamaan terhadap dunia. Walaupun ia sudah memberinya bumbu dan garam, lihatlah menjadi apa makanan tersebut akhirnya.”[6]

Seorang Muslim tidak boleh tertipu dengan nikmat-nikmat dan kesenangan, fasilitas, kekayaan, dan apa yang diberikan oleh Allâh kepada orang-orang kafir yang berbentuk kenikmatan dunia yang ada pada mereka.

  • Fitnah Dunia dan Harta

Diriwayatkan dari Abu Hurairah, ia menuturkan bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda,

تَعِسَ عَبْدُ الدِّيْنَارِ تَعِسَ عَبْدُ الدِّرْهَمِ، تَعِسَ عَبْدُ الْخَمِيْصَةِ تَعِسَ عَبْدُ الْخَمِيْلَةِ إِنْ أُعْطِيَ رَضِيَ وَإِنْ لَمْ يُعْطَ سَخِطَ

Artinya: “Celakalah hamba dinar, celakalah hamba dirham, celakalah hamba khamisah dan khamilah (sejenis pakaian yang terbuat dari wool/sutera). Jjika diberi ia senang, tetapi jika tidak diberi ia marah”  [7]

Dalam hadits ini, Nabi mendoakan celaka bagi hamba dinar dan yang lainnya. Seseorang disebut “hamba dinar” dan “hamba dirham” karena dia melakukan berbagai amal perbuatannya hanya semata-mata mencari harta benda. Seandainya tidak ada harta yang bisa diraih, maka dia tidak akan beramal. Harta bendalah yang menjadikan motivasinya untuk beramal. Oleh karena itulah digelari sebagai “hamba dinar”. Penyebutan dengan “hamba” menunjukkan bahwa hal ini termasuk perbuatan syirik, karena orang tersebut sedang menghambakan dirinya kepada selain Allah. Dalam hadits di atas terdapat peringatan terhadap penghambaan kepada selain Allah, khususnya terhadap hal-hal yang fana seperti harta dan juga pakaian. Penghambaan kepada Allah akan membuahkan sikap ridho dan qona’ah. Adapun penghambaan kepada selain Allah akan menumbuhkan sikap pelit, bakhil, egois, dan tamak. Termasuk perbuatan tercela yaitu mengumpulkan dan memiliki segala sesuatu yang melebihi batas kebutuhan seorang hamba sehingga menyibukkan dari beribadah kepada Allah dan tidak digunakan dalam rangka ketaatan kepada-Nya.

Orang yang menjadikan dunia sebagai tujuan utamanya, puncak ilmunya, dan sasaran pertama dan terakhirnya. Maka orang seperti ini tempat kembalinya adalah kebinasaan dan kerugian. Ciri-ciri orang seperti ini yang bisa membongkar kedoknya adalah:

  • Keinginannya yang sangat kuat terhadap dunia, baik untuk memperbanyak harta maupun memperbagus penampilnya.
  • jika diberi dia gembira, jika tidak maka ia murka.
  • Dunia telah memperbudak nya sehingga menyibukan dia dari berdzikir kepada Allah dan berinadah kepada-Nya

Seorang yang tujuan utamanya adalah akhirat, dia berusaha mencapainya dengan usaha yang terberat, yaitu jihad, karena orang yang berjihad di jalan Allah lebih baik dari dunia dan seisinya. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda,

لغدوة في سبيل الله أو روحة خير من الدنيا و ما فيها

“Artinya: “sungguh, keluar di pagi hari atau di sore hari (dalam rangka jihad) di jalan Allah, lebih baik dari pada dunia dan seisinya.” [8]

Diantara cirinya adalah:

  • Tujuan dari amalnya adalah taat kepada Allah dan Rasul-Nya
  • Tidak terlalu peduli dengan penampilan luar.
  • Melaksanakan tugas-tugas agama dengan sebaik-baiknya.
  • Tidak mencari kedudukan dan popularitas, sehingga terlihat hina dihadapan manusia.
  • Menjauh dari orang-orang yang mempunyai pangkat dan kedudukan, sehingga tidak dikenal oleh mereka. Maka ketika minta izin, tidak diizinkan dan ketika memberi rekomendasi tidak diterima. Akan tetapi, orang seperti ini tempat kembalinya adalah surga dan itulah balasan terbaik baginya.

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam mengingatkan kepada kita tentang fitnah harta yang banyak membinasakan manusia, beliau Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:

إن لكل امة فتنة و فتنة أمتي المال

“Artinya: Setiap ummat memiliki fitnah (ujian), dan fitnah ummat ku adlaah harta. “ [9]

Demikianlah dunia ini dihiasi dengan berbagai macam kenikmatan yang menipu, yang terkadang membuat setiap insan terbuai didalamnya. Sehingga, ia lupa kemana tempat dia akan kembali. Semoaga Allah mengokohkan kaki-kaki kita di atas jalan-Nya yang lurus, dan Allah teguhkan hati-hati kita dalam ketaatan.

Bersambung…

 

REFRENSI:

Judul buku: Dunia Lebih Jelek Daripada Bangkai Kambing

Ditulis oleh: Yazid bin Abdul Qadir Jawas

Cetakan Ke-7: Sya’ban 1440 H

Penerbit:  Pustaka At-Taqwa

Diringkas oleh: Latifah Sania Kirani

Status: pengajar pondok Darul Quran wal Hadits.

[1] QS. At-Taubah:38

[2] QS Al-Qashash : 60-61

[3] Al-Ankabut: 64

[4] HR. Al-Ankabut, No. 2957

[5] HR. Tirmizi

[6] HR. Ahmad

[7] HR. Bukhari

[8] HR Al-Bukhari no 2792

[9] HR At-Tirmidzi

Baca juga artikel:

Kekhawatiran Nabi Ternyata Terjadi

Buah Dari Ilmu Yang Bermanfaat

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.