Pondok Pesantren Darul Qur'an Wal-Hadits Martapura OKU

Mengolok-Olok Agama?

Agama Islam telah disempurnakan, Alloh menurunkannya sebagai penyempurna bagi agama-agama sebelumnya. Dengan demikian maka agama Islam adalah agama yang terbaik dan membawa sesuatu yang terbaik pula. Namun demikian tidak semua orang menganggap bahwa agama Islam membawa kebaikan dan perbaikan. Hingga acakali kita dapati sebagai orang yang memandang Islam sebelah mata, memojokkan dan melecehkannya serta melecehkan ajarannya.

Pelecehan terhadap agama bentuknya bermacam-macam, bisa dengan perbuatan maupun ucapan. Diantara pelecehan kepada agama dan yang terbesar adalah pelecehan kepada Alloh, Rosululloh n dan ayat-ayat Alloh. Alloh berfirman:

قُلْ أَبِاللَّهِ وَآيَاتِهِ وَرَسُولِهِ كُنْتُمْ تَسْتَهْزِئُونَ

“Katakanlah: “Apakah dengan Alloh, ayat-ayat-Nya dan Rosul-Nya kamu selalu berolok-olok?” (QS. At-Taubah: 64)

فرُفع ذلك إلى رسول الله صلى الله عليه وسلم، فجاء إلى رسول الله وقد ارتحل وركب ناقته، فقال: يا رسول الله، إنما كنا نخوض ونلعب. فقال: { أبالله وآياته ورسوله كنتم تستهزئون } إلى قوله: { مجرمين } وإن رجليه لتنسفان (4) الحجارة وما يلتفت إليه رسول الله صلى الله عليه وسلم، وهو متعلق بنسعة رسول الله صلى الله عليه وسلم.

Ayat ini berkaitan dengan tindakan orang-orang munafik ketika perang Tabuk, mereka melecehkan Rosululloh Shalallahu ‘alaihi wassalam dan para sahabat yang kemudian Alloh memberitahukan tentang apa yang mereka ucapkan kepada Rosululloh Shalallahu ‘alaihi wassalam.

Abu Ma`syar Al-Madini telah meriwayatkan dari Muhammad bin Ka`b Al-Qurodhi dan yang lainnya, mereka berkata: “Seorang munafik pernah berkata: “Aku tidak melihat para pembaca kami ini (yang dimaksudkan adalah Rosululloh Shalallahu ‘alaihi wassalam dan para sahabat) melainkan mereka adalah orang yang paling besar perutnya, paling dusta lisannya, dan paling takut bertemu musuh.” Maka disampaikanlah hal tersebut kepada Rosululloh Shalallahu ‘alaihi wassalam, lalu orang tersebut datang kepada Rosululloh n sementara beliau telah beranjak pergi dan menunnggai untanya. Orang tersebut berkata: “Wahai Rosululloh, sesungguhnya kami hanya bercanda dan bermain-main.” Maka Rosululloh Shalallahu ‘alaihi wassalam membaca ayat ini:

قُلْ أَبِاللَّهِ وَآيَاتِهِ وَرَسُولِهِ كُنْتُمْ تَسْتَهْزِئُونَ، لَا تَعْتَذِرُوا قَدْ كَفَرْتُمْ بَعْدَ إِيمَانِكُمْ إِنْ نَعْفُ عَنْ طَائِفَةٍ مِنْكُمْ نُعَذِّبْ طَائِفَةً بِأَنَّهُمْ كَانُوا مُجْرِمِينَ

.” Katakanlah: “Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?” Tidak usah kamu minta maaf, Karena kamu kafir sesudah beriman. jika kami memaafkan segolongan kamu (lantaran mereka taubat), niscaya kami akan mengazab golongan (yang lain) disebabkan mereka adalah orang-orang yang selalu berbuat dosa.” (QS. At-Taubah: 65-66)

Telah diriwayatkan oleh Ibnu Ishaq bahwa terdapat sekelompok orang munafik dan diantara mereka ada Wadi`ah bin Tsabit dan Mukhosysyan bin Humayyir. Kemudian Wadi`ah bin Tsabit mengucapkan kalimat olok-olok, yang kemudian diingatkan oleh Mukhosysyan bin Humayyir akan kemungkinan turunnya ayat tentang mereka. Maka dianrtara orang yang Alloh ampuni adalah Mukhosysyan bin Humayyir yang kemudian berubah namanya menjadi Abdurrohman. Diapun berdoa kepada Alloh agar terbunuh sebagai orang yang syahid dan tidak diketahui rimbanya. Maka Alloh mengabulkan permohonannya saat ia terbunuh di perang Yamamah memerangi Musailamah Al-Kadzdzab dan tidak diketahui tempatnya.[1]

Ayat ini menunjukkan bahwa mengolok-olong Alloh, ayat-ayat-Nya dan Rosul-Nya adalah sebuah kekafiran. Dan mengolok-olok salah satu dari ketiganya berarti mengolok-olok kesemuanya.

Mengolok-olok ketiga perkara di atas saling berkaitan, maka orang-orang yang menganggap ringan perihal mentauhidkan Alloh dan mengagungkan berdoa kepada selain Alloh baik orang yang telah meninggal atau yang lainnya, jika ia diperintahkan untuk mentauhidkan Alloh maka ia ia akan menganggapkan sebagai perkara yang kecil. Alloh berfirman:

وَإِذَا رَأَوْكَ إِنْ يَتَّخِذُونَكَ إِلَّا هُزُوًا أَهَذَا الَّذِي بَعَثَ اللَّهُ رَسُولًا إِنْ كَادَ لَيُضِلُّنَا عَنْ آلِهَتِنَا لَوْلَا أَنْ صَبَرْنَا عَلَيْهَا

“Dan apabila mereka melihat kamu (Muhammad), mereka hanyalah menjadikan kamu sebagai ejekan (dengan mengatakan): “Inikah orangnya yang di utus Alloh sebagai Rosul?. Sesungguhnya hampirlah ia menyesatkan kita dari sembahan- sembahan kita, seandainya kita tidak sabar(menyembah)nya”. (QS. Al-Furqôn: 41-42).

Mereka mengolok-olok Rosululloh n ketika melarang mereka dari berbuat syirik, dan orang-orang musyrik tersebut senantiasa mencela para nabi dan menyifati mereka sebagai orang pander, sesat, dan gila jika mereka diajak untuk bertauhid karena mereka mengagungkan kesyirikan. Maka kitapun bisa melihat orang-orang yang serupa dengan mereka pada zaman ini, tatkala mereka diseru untuk hanya beribadah kepada Alloh dan mentauhidkan-Nya maka mereka akan meremehkan perkara tersebut seraya menjadikannya sebagai olok-olokan.

Bisa jadi orang yang mengejek dan mengolok-olok mengklaim kecintaan kepada Alloh, namun di samping itu merekapun memberikan kecintaan kepada tandingan-tandingan bagi Alloh dengan kecintaan yang sama. Alloh berfirman:

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَتَّخِذُ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَنْدَادًا يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ اللَّهِ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لِلَّهِ

“Dan diantara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah.” (QS. Al-Baqoroh: 165).

Barang siapa yang mencintai makhluk seperti kecintaannya kepada Alloh maka ia adalah orang musyrik. Harus dibedakan antara cinta karena Alloh dan cinta bersama kecintaan kepada Alloh. Kita dapati diantara manusia menjadikan kuburan sebagai berhala yabng disembah, mereka melecehkan tauhid dan ibadah kepada Alloh dan mengagungkan apa yang mereka jadikan sebagai pemberi syafa`at dan penolong selain Alloh. Mereka berani untuk bersumpah dusta atas nama Alloh tapi tidak berani bersumpah dusta atas nama apa yang mereka agungkan. Sebagian orang menganggap doanya kepada syaikh / kyai tertentu lebih bermanfaat daripada ia berdoa langsung kepada Alloh. Merekapun merendahkan orang yang menyimpang dari jalan mereka menuju tauhid.

Pelecehan dan olok-olok ada dua macam:

  1. Pelecehan secara tegas: Hal tersebut seperti apa yang dikatakan orang-orang munafik dalam ayat yang telah disebutkan di atas, dimana mereka mengatakan: “Tidaklah kami melihat orang yang lebih besar perutnya, lebih dusta lisannya dan lebih takut ketika bertemu dengan musuh daripada para para pembaca kami ini (yang dimaksudkan adalah Rosululloh dan para sah abat).” Masuk dalam jenis yang pertama adalah ucapan: “Agama Islam adalah agama khurofat,” dan yang lain sebagainya.
  2. Jenis pelecehan yang kedua adalah: Pelecehan yang tidak tegas, hal tersebut seperti kerlingan mata, mengeluarkan lidah, memonyongkan bibir. Hal ini juga seperti ucapan sebagian orang: “Sesungguhnya Islam tidak layak bagi abad ke dua puluh dan hanya bermanfaat bagi abad pertengahan, Islam agama yang terbelakang, Islam agama kekerasan serta keberingasan. Islam adalah agama yang menzholimi wanita karena memperbolehkan perceraian, dan poligami. Islam bukanlah tidak ada dalam pakaian (sebagai pelecehan terhadap orang yang berpakaian yang menutup aurat dan yang sesuai dengan perintah Alloh dan Rosul-Nya), Islam tidaklah ada dalam rambut (dalam rangka untuk melecehkan orang yang memelihara jenggot sebagai pelaksanaan perintah Rosululloh n ),” dan lain sebagainya.

Tentunya kaum muslimin yang perhatian dan peduli dengan agamanya mengetahui bahwa Islam adalah agama yang membawa rahmat dan kasih sayang dan Islam agama yang menegakkan keadilan   dan menghilangkan kezholiman. Islam adalah agama tauhid yang mengeluarkan manusia dari penghambaan kepada makhluk dan hawa nafsu kepada penghambaan kepada Alloh Pencipta makhluk.

Bukankah Alloh telah berfirman:

إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ

“Sesungguhnya agama (yang diridhai) disisi Allah hanyalah Islam.” (QS. Ali Imron: 19)

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِين

“Dan tiadalah Kami mengutusmu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” (QS. Al-Anbiyâ’: 107).

الر كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ لِتُخْرِجَ النَّاسَ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ بِإِذْنِ رَبِّهِمْ إِلَى صِرَاطِ الْعَزِيزِ الْحَمِيدِ

“Alif, lam rô’. (Ini adalah) Kitab yang kami turunkan kepadamu supaya kamu mengeluarkan manusia dari gelap gulita kepada cahaya terang benderang dengan izin Tuhan mereka, (yaitu) menuju jalan Tuhan yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji.” (QS. Ibrôhîm: 1).

إِنَّ الْحَسَنَاتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّئَاتِ ذَلِكَ ذِكْرَى لِلذَّاكِرِينَ وَاصْبِرْ فَإِنَّ اللَّهَ لَا يُضِيعُ أَجْرَ الْمُحْسِنِينَ

“Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk. Itulah peringatan bagi orang-orang yang ingat. Dan bersabarlah, karena sesungguhnya Alloh tiada menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat kebaikan.” (QS. Hûd: 114-115)

Dan inilah hakikat tujuan Alloh menciptakan manusia yang dengannya agama Islam memerintahkan, Alloh berfirman:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُون

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzâriyât: 56)

Dan masih sangat begitu banyak ayat maupun hadits yang menunjukkan kebaikan Islam dan keutamaan Islam. Pembicaraan mengenai hal tersebut membutuhkan pembahasan tersendiri. Celaan orang yang mencela, dan pelecehan yang dilakukan terhadap Islam tidak lain disebabkan tidak fahamnya orang tersebut terhadap hakikat Islam.

Semoga Alloh senantiasa membimbing kita di jalan-Nya yang lurus, dan mematikan kita dalam keadaan sebagai orang muslim dan mukmin.

Sumber: Majalah Lentera Qolbu Edisi 06 Tahun 03

[1] Lihat keterangannya di Tafsir Ibnu Katsir.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.