Pondok Pesantren Darul Qur'an Wal-Hadits Martapura OKU

Tak Ada Kehidupan Selain Kehidupan Akhirat

Kehidupan dunia memang meninabobokkan. Bagaimana tidak?! Segala yang ada di dunia terasa indah dan mempesona. Begitu ramai dunia dengan bunga-bunganya yang semerbak nan mewangi. Itulah daya tarik dan magnet dunia yang begitu dahsyat dan menakjubkan. Betapa manusia rela untuk mengorbankan apa yang ada untuk menggapai kenikmatan dunia yang begitu gemerlap di pandandan mata. Bahkan tak jarang itu semua harus diraih dengan menumpahkan darah dan kehormatan. Sungguh, seberapa agung dan seberapa dahsyatkah status dari dunia ini?

Kalau manusia mau menengok jati diri dari dunia, tentu tak akan semudah itu ia merelakan dirinya untuk berjibaku tanpa ambil peduli demi menggapai impian dunianya. Apakah ia tak pernah menengok orang sekitar, yang keadaannya bisa berubah-rubah dari waktu ke waktu yang lain? Seorang yang kemarin menggenggam dunia, yang begitu dielu-elukan massa, yang kemudian membuatnya lupa akan agama sehingga iapun berlaku semena-mena, namun pada hari ini dunia menjadi berbalik menyudutkannya. Orang-orang pun melecehkan dan menginjak-injak harga dirinya. Itulah satu gambaran dunia yang tak menunjukkan betapa materi dunia tidaklah langgeng dan kekal. Betapa seseorang mendapatkna kemuliaan dunia, namun suatu saat, ia akan dipecundangi oleh dunia.

Maka sungguh benar apa yang Alloh firmankan:

Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui. (QS. Al-Ankabut:64)

Apakah sama status dunia bagi seorang muslim dan bagi seorang yang ingkar? Tentunya berbeda. Dunia yang membuat manusia buta dari kehidupan akhirat, dan membelokkan mereka dari bekal yang harus mereka bawa kelak di akhirat, tidak lain dunia semacam ini adalah dunia yang hanya bermuatan senda gurau dan permainan belaka. Di mana seorang kafir disibukkan dengan dunia dan ia membanting tulang untuk dunia di sepanjang siang dan malam. Kemudian setelah itu ia mati dengan tangan hampa. Layaknya seorang anak kecil yang bermain sepanjang hari, kemudian mereka kembali tanpa membawa hasil apapun selain keletihan. Maka sudah menjadi kewajiban bagi setiap insan untuk mengalihkan dunia ini menjadi ladang amal sholih yang akan mendatangkan buah, sebagai bekalnya menuju negeri akhirat. Karena akhirat itulah kehidupan yang sejati. Akhirat itulah kehidupan yang sempurna nan kekal. Maka untuk kehidupan itulah dunia ini harus diberdayakan. Hendaknya orang-orang pun begitu gesit dan sigap berlomba-lomba untuk menggapainya.

Dan dunia memang lebih rendah dan hina dari pada bangkai yang busuk lagi tak berharga. Itulah dunia dengan segenap hiasan dan pernak-perniknya. Dan dengan segala atribut keindahan dan kenikmatannya yang semu, duniapun menjajakan dirinya pada orang yang hendak meminangnya. Dan memang wajar bagi dunia untuk berlaku seperti itu, dikarenakan banyaknya orang yang lalai dan terpedaya lagi suka hal yang sia-sia yang pasti sirna. Hingga tidaklah heran apabila banyak di antara manusia yang berjatuhan di jerat dunia yang fana, dan merekapun menjadi tak berhasrat terhadap kehidupan akhirat yang sejatinya itulah kehidupan yang sejati nan abadi. Dan itu semua tidak lain dan tidak bukan, melainkan karena mereka begitu jauh dari mengenal hakikat kehidupan, dan mereka sangat jauh dari ketaatan kepada Alloh dan takut akan siksa-Nya.

Mereka lupa akan peringatan yang jauh-jauh hari sudah diwanti-wantikan oleh Rosululloh dalam sabda beliau:

ุฅูู†ู‘ูŽ ุงู„ุฏู‘ูู†ู’ูŠูŽุง ุญูู„ู’ูˆูŽุฉูŒ ุฎูŽุถูุฑูŽุฉูŒ ูˆูŽุฅูู†ู‘ูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ูŽ ู…ูุณู’ุชูŽุฎู’ู„ููููƒูู…ู’ ูููŠู‡ูŽุง ููŽูŠูŽู†ู’ุธูุฑู ูƒูŽูŠู’ููŽ ุชูŽุนู’ู…ูŽู„ููˆู†ูŽ ููŽุงุชู‘ูŽู‚ููˆุง ุงู„ุฏู‘ูู†ู’ูŠูŽุง ูˆูŽุงุชู‘ูŽู‚ููˆุง ุงู„ู†ู‘ูุณูŽุงุกูŽ ููŽุฅูู†ู‘ูŽ ุฃูŽูˆู‘ูŽู„ูŽ ููุชู’ู†ูŽุฉู ุจูŽู†ูู‰ ุฅูุณู’ุฑูŽุงุฆููŠู„ูŽ ูƒูŽุงู†ูŽุชู’ ููู‰ ุงู„ู†ู‘ูุณูŽุงุกู ยป. ูˆูŽููู‰ ุญูŽุฏููŠุซู ุงุจู’ู†ู ุจูŽุดู‘ูŽุงุฑู ยซ ู„ููŠูŽู†ู’ุธูุฑูŽ ูƒูŽูŠู’ููŽ ุชูŽุนู’ู…ูŽู„ููˆู†ูŽ ยป.

โ€œSesungguhnya dunia itu begitu manis dan hijau. Dan sesungguhnya Alloh menjadikan kalian sebagai pengganti dari umat sebelum kalian di dunia ini, untuk kemudian Alloh melihat apa yang kalian kerjakan. Maka dari itu takutlah kalian akan dunia, dan takutlah akan fitnah wanita. Karena fitnah pertama dalam kalangan bani Israil adalah di kalangan kaum wanita.โ€ (HR. Muslim)

Alloh hendak melihat apa yang kita perbuat di atas dunia yang begitu hijau menyejukkan ini. apakah kita memakmurkan dunia dengan amalan ketaatan yang akan membawa kita kepada kehidupan dan nikmat yang sejati nan abadi. Ataukah justru kita injak-injak bumi sekaligus juga menginjak-injak aturan-aturan yang Alloh buat, sehingga menyeret kita pada kehidupan penuh nestapa di negeri yang penuh petaka yang tak pernah terhenti.

Banyak dari manusia yang patokan perbuatannya adalah untuk dunia. Sehingga kalaupun mereka mendapat hasil, dunia sajalah yang bisa mereka raih. Dan karena mereka melupakan Alloh, maka Alloh pun meninggalkan mereka. Kita mungkin akan dibuat tercengang kala melihat perihal sahabat. Amalan yang mereka lakukan adalah untuk mengeruk keuntungan akhirat, bukan untuk dunia. Inilah Ali Bin Abi Tholib. Kala ia menghunuskan pedangnya untuk membunuh musuh Alloh, si musuh ini pun meludahi wajah Ali. Sungguh satu penghinaan yang tiada tara. Namun apa yang diperbuatnya? Justru Ali langsung mengoreksi dirinya. Ali takut kalau-kalau ia meneruskan aksinya, itu didorong atas dasar amarah untuk memenangkan dirinya. Sehingga amalnya tidak lagi untuk Alloh, tapi hanyalah untuk melampiaskan amarahnya belaka. Justru Ali mengembalikan pedangnya. Dan ketika ditanya, ia menjawab: aku takut kalau aku melakukan hal itu sebagai bentuk balas dendam untuk diriku sendiri.

Maka sudah semestinya bagi kita, bahwa tidaklah kita ini diwujudkan ke dunia ini melainkan untuk mengabdikan diri kita dengan menghambakan diri hanya kepada Alloh semata; yang milik-Nyalah segala apa yang di langit dan segala yang di bumi. Sudah sepantasnya bila kita berlomba-lomba dan bergegas-gegas menuju surga Alloh dan menuju alam yang tak pernah binasa; yaitu surga Alloh yang luasnya bagaikan langit dan bumi. Dan itu hanya diperuntukkan bagi hamba-hamba yang bertakwa. Rosululloh bersabda:

ู…ูŽู†ู’ ุฎูŽุงููŽ ุฃูŽุฏู’ู„ูŽุฌูŽ ูˆูŽู…ูŽู†ู’ ุฃูŽุฏู’ู„ูŽุฌูŽ ุจูŽู„ูŽุบูŽ ุงู„ู’ู…ูŽู†ู’ุฒูู„ูŽ ุฃูŽู„ูŽุง ุฅูู†ู‘ูŽ ุณูู„ู’ุนูŽุฉูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุบูŽุงู„ููŠูŽุฉูŒ ุฃูŽู„ูŽุง ุฅูู†ู‘ูŽ ุณูู„ู’ุนูŽุฉูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุงู„ู’ุฌูŽู†ู‘ูŽุฉู

โ€œ Barangsiapa yang takut, ia akan berjalan di awal malam. Dan barangsiapa yang berjalan di awal malam, ia akan sampai pada tempat tujuannya. Ingatlah, sesungguhnya barang dagangan Alloh sangatlah mahal. Ingatlah, bahwa barang dagangan Alloh adalah surga.โ€ (HR. Turmudzi)

Artinya, barangsiapa yang takut kepada Alloh, maka rasa takut ini akan mendorongnya untuk meniti jalan akhirat, dengan bergegas menghadirkan amal sholih. Sebab ia khawatir akan serangan segala rintangan dan hambatan yang bisa datang kapan saja yang bisa membuatnya terpental dari jalan lurusnya.

Maka manakah orang-orang yang bergegas dan sigap menyambut seruan Nabi Shalallahu ‘alaihi wassalam. Manakah orang yang akan membeli barang dagangan yang tiada tara dari Alloh? Di manakah mereka orang-orang yang bertakwa?! Mana orang yang berkenan untuk mendermakan apa yang ia miliki untuk ia jual kepada Alloh? Lihatlah kepada para sahabat Nabi Shalallahu ‘alaihi wassalam. Simaklah apa yang terjadi di kalangan sahabat berikut. Semoga bisa membangkitkan kembali gelora kehidupan akhirat. Dari Anas dari Nabi Shalallahu ‘alaihi wassalam beliau bersabda:

ูŠูŽุง ุจูŽู†ููŠ ุงู„ู†ู‘ูŽุฌู‘ูŽุงุฑู ุซูŽุงู…ูู†ููˆู†ููŠ ุญูŽุงุฆูุทูŽูƒูู…ู’ ู‡ูŽุฐูŽุง ููŽู‚ูŽุงู„ููˆุง ู„ูŽุง ูˆูŽุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ู„ูŽุง ู†ูŽุทู’ู„ูุจู ุซูŽู…ูŽู†ูŽู‡ู ุฅูู„ู‘ูŽุง ุฅูู„ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ู‚ูŽุงู„ูŽ ููŽูƒูŽุงู†ูŽ ูููŠู‡ู ู…ูŽุง ุฃูŽู‚ููˆู„ู ู„ูŽูƒูู…ู’ ูƒูŽุงู†ูŽุชู’ ูููŠู‡ู ู‚ูุจููˆุฑู ุงู„ู’ู…ูุดู’ุฑููƒููŠู†ูŽ ูˆูŽูƒูŽุงู†ูŽุชู’ ูููŠู‡ู ุฎูุฑูŽุจูŒ ูˆูŽูƒูŽุงู†ูŽ ูููŠู‡ู ู†ูŽุฎู’ู„ูŒ ููŽุฃูŽู…ูŽุฑูŽ ุฑูŽุณููˆู„ู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ุจูู‚ูุจููˆุฑู ุงู„ู’ู…ูุดู’ุฑููƒููŠู†ูŽ ููŽู†ูุจูุดูŽุชู’ ูˆูŽุจูุงู„ู’ุฎูุฑูŽุจู ููŽุณููˆู‘ููŠูŽุชู’ ูˆูŽุจูุงู„ู†ู‘ูŽุฎู’ู„ู ููŽู‚ูุทูุนูŽ ู‚ูŽุงู„ูŽ ููŽุตูŽูู‘ููˆุง ุงู„ู†ู‘ูŽุฎู’ู„ูŽ ู‚ูุจู’ู„ูŽุฉูŽ ุงู„ู’ู…ูŽุณู’ุฌูุฏู ู‚ูŽุงู„ูŽ ูˆูŽุฌูŽุนูŽู„ููˆุง ุนูุถูŽุงุฏูŽุชูŽูŠู’ู‡ู ุญูุฌูŽุงุฑูŽุฉู‹ ู‚ูŽุงู„ูŽ ู‚ูŽุงู„ูŽ ุฌูŽุนูŽู„ููˆุง ูŠูŽู†ู’ู‚ูู„ููˆู†ูŽ ุฐูŽุงูƒูŽ ุงู„ุตู‘ูŽุฎู’ุฑูŽ ูˆูŽู‡ูู…ู’ ูŠูŽุฑู’ุชูŽุฌูุฒููˆู†ูŽ ูˆูŽุฑูŽุณููˆู„ู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ู…ูŽุนูŽู‡ูู…ู’ ูŠูŽู‚ููˆู„ููˆู†ูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ูู…ู‘ูŽ ุฅูู†ู‘ูŽู‡ู ู„ูŽุง ุฎูŽูŠู’ุฑูŽ ุฅูู„ู‘ูŽุง ุฎูŽูŠู’ุฑู ุงู„ู’ุขุฎูุฑูŽู‡ู’ ููŽุงู†ู’ุตูุฑู’ ุงู„ู’ุฃูŽู†ู’ุตูŽุงุฑูŽ ูˆูŽุงู„ู’ู…ูู‡ูŽุงุฌูุฑูŽู‡ู’

โ€œWahai Bani Najjar! Tentukanlah untukku harga kebun kalian ini!โ€ Mereka menjawab: โ€œTidak, Demi Alloh, tidaklah kami menuntut harganya selain kepada Alloh semata.โ€ Lalu Anas berkata: Dan ternyata di dalamnya terdapat seperti yang aku katakan kepada kalian: pekuburan kaum musyrikin, juga ada hunian yang telah menjadi reruntuhan, dan pohon kurma. Maka Nabi Shalallahu ‘alaihi wassalam pun memerintahkan agar pekuburan kaum musyrikin dibongkar, dan kemudian dibongkar. Kemudian juga reruntuhan agar diratakan, dan kemudian diratakan, dan pohon kurma agar ditebang, dan kemudian ditebang. Maka orang-orang menata pohon kurma sebagai arah kiblat masjid. Dan mereka menjadikan dua sisi pintunya dari batu. Dan mulailah mereka memindahkan batu sedangkan mereka melantunkan satu jenis syair, dan Nabi Shalallahu ‘alaihi wassalam ada bersama mereka dan beliau berkata: Ya Alloh, tak ada kebaikan melainkan kebaikan akhirat. Maka ampunilah bagi kaum Anshor dan Muhajirin!โ€

Maka, satu yang kita camkan. Apapun corak kehidupan kita, baik itu berbalur nikmat, ataupun berbalutkan cobaan, namun satu yang pasti: tak ada kehidupan sejati selain kehidupan akhirat. Tinggal bagaimana manusia mempersiapkan kehidupannya yang hakiki.

Sumber: Majalah Lentera Qolbu Edisi 08 Tahun 03

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.