Pondok Pesantren Darul Qur'an Wal-Hadits Martapura OKU

Husnuzhan (Berbaik Sangka)

husnuzhan berbaik sangka

Husnuzhan Kepada Allah

Di antara akhlak mulia muslim sejati adalah senantiasa husnuzhan atau berbaik sangka kepada Rabbnya, dan ini merupakan nikmat yang sangat bernilai. Sebab Allah akan mengikuti persangkaan hamba terhadapnya. Sedikitnya ada tiga alasan mengapa setiap muslim wajib berbaik sangka kepada Allah.

  1. Perlakuan Allah sesuai sangkaan kita terhadap-Nya

Dalam hadist qudsi disebutkan Allah Subhanahu Wata’ala berfirman:

أنا عندظن عبدي بي،  إن ظن بي خيرا فله وإن ظن شرا فله

Artinya: “Aku akan memperlakukan hamba sesuai sangkaan (diri) nya terhadapku. Jika ia berprasangka baik terhadapku, niscaya ia mendapatkan kebaikan; sedangkan jika ia berprasangka buruk terhadapku,  niscaya ia akan mendapat keburukan.”[1]

  1. Allah sangat menyayangi hamba-Nya

Allah adalah Rabb yang maha pengasih lagi maha penyayang kepada hambanya. Bahkan kasih sayangnya atas mereka melebihi sayang mereka atas diri sendiri. Itulah mengapa tiap hamba wajib berbaik sangka atau husnuzhan terhadapnya. Dalam sebuah hadist shahih di sebutkan bahwa Rasulullah pernah melihat seorang tawanan wanita yang terpisah dari bayinya. Setiap melihat bayi tawanan lain, ia langsung meraih dan mendekapnya ke dada. Selama itu, wanita ini terus berkeliling mencari anaknya. Tatkala telah menemukannya, ia langsung mendekap lalu menyusuinya.

Karena itu kita harus senantiasa berbaik sangka terhadap Allah dengan meyakini bahwa dia akan selalu menolong hamba-Nya yang beriman, pun bersama mereka, sendirian. Dan sungguh, dia tidak akan mengingkari janji-Nya.

  1. Allah sangat gembira dengan taubat hamba-Nya

Sungguh, Allah amat gembira menerima taubat para hambanya, bahkan dia pasti mengampuni segala dosanya. Maka ketika seseorang terjerembap ke dalam kubangan dosa dan ingin bertaubat, ia harus yakin bahwa dosa-dosanya akan diampuni dan segala kesalahan akan di maafkan oleh-Nya.

Husnuzhan Kepada Sesama Muslim

kebersihan hati mukmin penting untuk dijaga dalam kehidupan sehari-hari, bahkan ajaran islam menekankan ini. Hati yang bersih memudahkan kita menjalin ukhuwah islamiah dan salah satu caranya ialah dengan berbaik sangka kepada sesama muslim. Dengan berbaik sangka inilah maka jelas pintu-pintu kebaikan semakin tebuka lebar dan terlihat jelas di hadapan kita. Oleh karena itulah, apabila seseorang mendengar berita bahwa saudaranya sesama muslim melakukan keburukan, maka hendaklah ia menyikapinya secara arif; yaitu dengan memberikan seribu kemungkinan ataupun alasan mengapa ia sampai melakukan keburukan tersebut. Adapun jika berita ihwal saudaranya sesama muslim itu menujukan sesuatu kebaikan, maka hendaklah ia berbahagia karenanya serta mengartikan perbuatan ini dengan kebaikan.

Demikianlah yang di contohkan oleh Rasulullah. Ketika terjadi peristiwa ifki, yakni fitnah yang menerpa Aisyah hingga tuduhan menodai rumah tangga nubuwah, beliau pun menyikapinnya dengan bersabda kepada kaum muslimin:

فوالله ما علمت علي أهلي إلاخيرا

Artinya: “Demi Allah, tidak ada yang kuketahui tentang keluargaku selain kebaikan.”[2]

Jauhilah Suuzhan

Hindarilah prasangka buruk, sebab Allah memerintahkan atas semua mukmin agar membersihkan hati dari sifat yang membawa disa ini.

Allah Subhanahu Wata’ala berfirman:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱجْتَنِبُوا۟ كَثِيرًا مِّنَ ٱلظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ ٱلظَّنِّ إِثْمٌ ۖ وَلَا تَجَسَّسُوا۟ وَلَا يَغْتَب بَّعْضُكُم بَعْضًا ۚ أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَن يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ ۚ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ تَوَّابٌ رَّحِيم

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.”(Qs. Al-Hujurat : 12).

Nabi memerintakan umatnya supaya menjauhi prasangka buruk dan perbuatan tercela lainnya. Al-Khathabi menjelaskan bahwa zhan (prasangka)  yang di maksudkan oleh hadits ini adalah benar-benar prasangka buruk, bujan sekedar lintasan pikiran karena hampir tidak mungkin seseorang mencegahnya. Prasangka ini benar-benar dugaan negatif yang bergejolak di dalam hati, bukan sekedar prasangka lintasan hati yang tidak dapat dihindari manusia.

Imam al-Qurthubi menjelaskan bahwa yang di maksud prasangka di sini adalah tuduhan tanpa ada alasan, misalnya menuduh seseorang berzina tanpa disertai bukti-bukti yang di benarkan syariat. Itulah mengapa larangan prasangka buruk dikaitkan dengan larangan memata-matai orang lain di dalam hadits ini. Sebab jika ini terbesit dalam hati seorang sedikit prasangka saja yang mengarahkan kepada tuduhan terhadap orang lain, niscaya ia berupaya membuktikannya. Akibatnya, ia akan terus mencari-cari kesalahan orang tersebut dengan memata-matainya.

Hadist tersebut selaras dengan firman Allah Subhanahu Wata’ala:

….. ٱجْتَنِبُوا۟ كَثِيرًا مِّنَ ٱلظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ ٱلظَّنِّ إِثْمٌ ۖ وَلَا تَجَسَّسُوا۟ وَلَا يَغْتَب بَّعْضُكُم بَعْضًا ۚ….

Artinya: “.…jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain…..(Qs. Al-Hujurat : 12).

Konteks ayat ini menujukan perintah tegar agar setiap muslim saling menjaga kehormatan. Sebab ayat ini diawali dengan larangan menjerumuskan diri dalam prasangka buruk. Bisa jadi seseorang berkilah : “Aku mencari-cari kesalahannya untuk membuktikan kebenaran tuduhanku.” kepada orang ini kita nyatakan: “jangan mencari keburukan orang!”  jika ia berkilah: “Aku membuktikan kebenaran tuduhanku tanpa mencari-cari nya,” maka kita balas dengan menyatakan: “jangan lah menggunjingkan satu sama lain.” Demikian itulah tanggapan kita, persis seperti disebutkan dalam ayat di atas.

Oleh sebab itu, jika terlintas prasangka buruk terhadap seseorang hendaklah berhati-hati terhadap diri, di, satu sisi; seraya mendoakannya agar menjadi orang yang lebih baik, di sisi lain. Sikap pertengahan ini -insya Allah- membuat syaitan berputus asa dan menjauhi kita. Sehingga syaitan tidak lagi mengirimkan lintasan prasangka buruk. Jika kita benar -benar menemukan kesalahan pada diri seorang muslim, hendaknya kita menasihatinya secara sembunyi-sembunyi tanpa harus, di ketahui orang lain. Inilah di antara bukti cinta karena Allah.

Siapa yang terjerumus dalam prasangka maka hendaklah mencela diri sendiri. Orang yang menyembunyikan rahasia atau aib orang lain berarti telah menggenggam kebaikan. Tidak ada yang lebih layak dilakukan orang yang bermaksiat kepada Allah selain menggiatkan ketaatan kepadanya.

Suuzhan Adalah Dosa Besar

Acap kali kita melihat orang yang menyalahkan takdir dengan mengatakan “Seharusnya begini dan begini,” atau ia berucap :”Aku tidak rela dengan kejadian ini!” atau ungkapan lain yang menujukan ketidakrelaan akan ketetapan ilahi.

Disadari atau tidak olehnya, ucapan yang demikian sama dengan bersikap suuzhan atau berprasangka buruk terhadap Allah. Wal’iyadzubillah; kita berlindung kepadanya dari sikap suuzhan tersebut. Suuzhan kepada Allah termasuk dosa besar. Betapa tidak? Perbuatan ini sama artinya menisbatkan kepada Allah suatu sifat yang tertolak belakang dengan kemahaagungan dan juga kemahamuliaannya. Karena, seakan-akan dia mengatakan bahwa dia keliru dalam menetapkan takdir. Maka sungguh, hanya hamba yang mengenalnya, yang akan mengetahui makna nama-nama dan sifat-sifatnya, yang akan terselamatkan dari sifat ini; namun mereka itu jumlahnya sangat sedikit. Begitu pula suuzhan terhadap sesama manusia, yang merupakan dosa besar.

Menghukumi seorang atas dasar prasangka buruk berati hanyut dalam bisikan syaiton untuk memandangnya hina, tidak memberikan hak-haknya, dan melecehkan kehormatannya. Padahal, semua itu adalah perbuatan buruk. Keinginan untuk mengungkap berbagai keburukan orang lain dengan suuzhan merupakan cermin kebusukan batin dan perangai pelakunya. Orang beriman akan selalu memburu pintu maaf dan memaklumi orang lain demi keselamatan batinnya, sedang orang munafik akan memburu aib sesama demi memusnahkan kebusukan hatinya. Maka jelaslah bahwa suuzhan merupakan kunci terbesar yang membuka banyak keburukan. Salah satunya perpecahan umat. Selama seseorang mulai dirasuki oleh prasangka buruk terhadap orang lain, ia akan berupaya mencari pembenaran atas prasangkanya. Untuk itu, ia akan menyelidiki kesalahan orang tersebut .jika berhasil menemukannya,  ia pun masuk ke fase berikutnya: menyalahkan dan mendengki terhadapnya sehingga hubungan antar keduanya memanas, lalu mereka pun saling membenci dan memboikot. Karena itu Rasulullah berpesan agar kita menjauhi prasangka buruk terhadap orang lain demi menutup pintu petaka ini.

Oleh karena itu, jauhilah semua prasangka buruk terhadap sesama manusia. Karena sekecil apa pun itu, niscaya ia akan mendorong kita untuk berprasangka buruk kepada Allah. Semoga Allah senantiasa melimpahkan taufiknya untuk kita supaya bisa senantiasa menjaga kesucian hati dari melecehkan kehormatan sesama. Aamiin…

 

REFERENSI:

Diringkas dari buku: Ensiklopedi Akhlak Salaf.

Karya: Ummu Ihsan dan Abu Ihsan al-Atsari.

Diringkas oleh: LIA MAULANA (pengajar ponpes Darul Qur’an Wal-Hadits OKUTimur).

[1] HR. Ahmad(no. 9076). Dishahihkan oleh al-Albani dalam silsilah shahihah ( no. 1663).

[2] HR. Al-Bukhari dan muslim.

 

BACA JUGA :

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.