Pondok Pesantren Darul Qur'an Wal-Hadits Martapura OKU

MEMBACA TANDA-TANDA KEMATIAN (BAGIAN 2)

membaca tanda-tanda kematian-2

MEMBACA TANDA-TANDA KEMATIAN (BAGIAN 2) – Selama matahari tetap terbit dan terbenam, malaikat malaikat maut senantiasa berseru, “Wahai orang-orang yang berumur 40 tahun, ini saatnya bagi kalian untuk mengumpulkan bekal sebanyak-banyaknya, sebab pikiran serta kekuatanmu masih kuat. Wahai orang-orang yang telah berumur 50 tahun, waktu menuai telah dekat. Wahai orang-orang yang telah berumur 60 tahun, jika engkau telah lupa dengan siksaan dan tidak mengindahkan seruan, maka tidak ada seorang penolongpun bagimu.”

Disebutkan dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah bersabda Allah menghilangkan segala uzur (alasan untuk tidak disiksa) seseorang , lalu memanjangkan umurnya sampai pada umur 60 tahun.

Penghilangan uzur paling besar yang diberikan kepada manusia adalah diutusnya para Rasul kepada mereka untuk menyempurnakan hujjah Allah atas mereka.

Allah Subhanahu Wata’ala  berfirman:

مَنِ اهْتَدَىٰ فَإِنَّمَا يَهْتَدِي لِنَفْسِهِ ۖ وَمَنْ ضَلَّ فَإِنَّمَا يَضِلُّ عَلَيْهَا ۚ وَلَا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِزْرَ أُخْرَىٰ ۗ وَمَا كُنَّا مُعَذِّبِينَ حَتَّىٰ نَبْعَثَ رَسُولًا

Artinya: “Dan kami tidak akan mengazab sebelum kami mengutus seorang Rasul. ” (QS. Al-isra’ ayat: 15)

Allah Subhanahu Wata’ala berfirman,

وَهُمْ يَصْطَرِخُونَ فِيهَا رَبَّنَا أَخْرِجْنَا نَعْمَلْ صَالِحًا غَيْرَ الَّذِي كُنَّا نَعْمَلُ ۚ أَوَلَمْ نُعَمِّرْكُمْ مَا يَتَذَكَّرُ فِيهِ مَنْ تَذَكَّرَ وَجَاءَكُمُ النَّذِيرُ ۖ فَذُوقُوا فَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ نَصِيرٍ

Artinya: “Dan apakah tidak datang kepada kamu pemberi peringatan?” (QS. Surat Fathir: ayat 37).

Terkait ayat tersebut, Ibnu Abbas berkata, “Nazir di sini maksudnya adalah uban yang muncul pada usia dewasa, yaitu tanda hilangnya usia kanak-kanak, masa bermain, dan bersenang-senang.”

Kematian kerabat dan teman-teman merupakan peringatan bagi kita agar siap menghadapi kematian. usia 60 tahun merupakan peringatan terakhir, karena telah mendekati usia uzur yang seyogyanya digunakan untuk bertaubat.

Bahkan kita harus sadar lebih awal saat usia telah genap 40 tahun. Allah Subhanahu Wata’ala berfirman,

وَوَصَّيْنَا الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ إِحْسَانًا ۖ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ كُرْهًا وَوَضَعَتْهُ كُرْهًا ۖ وَحَمْلُهُ وَفِصَالُهُ ثَلَاثُونَ شَهْرًا ۚ حَتَّىٰ إِذَا بَلَغَ أَشُدَّهُ وَبَلَغَ أَرْبَعِينَ سَنَةً قَالَ رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَىٰ وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَصْلِحْ لِي فِي ذُرِّيَّتِي ۖ إِنِّي تُبْتُ إِلَيْكَ وَإِنِّي مِنَ الْمُسْلِمِينَ

Artinya:  “Dan umurnya sampai 40 tahun Ia berdoa,” satu ya Tuhanku,, Tunjukkan Tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat engkau. “(QS. Surat Al- Ahqaf ayat 15).

3. Malaikat Mendatangi

Orang yang akan meninggal dunia akan merasakan tanda ini. Dikisahkan oleh Al baraq bahwa Suatu hari ia dan para sahabat mengiring jenazah seorang laki-laki Anshar bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam sampai ke kuburannya. Ketika dimasukkan ke dalam liang lahat kami melihat Rasulullah duduk lalu kami pun duduk di sekitarnya. Kami terdiam menundukkan kepala, seolah-olah di atas kami ada burung. lalu, Beliau menegakkan pandangannya ke atas, kemudian ke bawah. Setelah itu beliau bersabda, “Aku berlindung kepada Allah dari siksa kubur.” Beliau mengulangi beberapa kali.

Selanjutnya beliau bersabda, “Jika seorang manusia akan meninggalkan dunia dan menuju akhirat, sebelum mati ia akan didatangi malaikat yang duduk di dekat kepalanya sambil berkata, ’Keluarlah wahai jiwa yang tenang dan baik menuju ampunan dan keridhaan Allah. ’Maka keluarlah rohnya mengalir bagaikan tetesan air. Turunlah para malaikat dari surga yang berwajah putih Bagaikan Matahari membawa kafan dari surga serta wewangian. mereka duduk di depannya sejauh pandangan matanya. ketika ruhnya dicabut oleh malaikat maut, ia tidak menyia-nyiakannya sekejap pun.

Demikianlah firman Allah Subhanahu Wata’ala :

وَهُوَ الْقَاهِرُ فَوْقَ عِبَادِهِ ۖ وَيُرْسِلُ عَلَيْكُمْ حَفَظَةً حَتَّىٰ إِذَا جَاءَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ تَوَفَّتْهُ رُسُلُنَا وَهُمْ لَا يُفَرِّطُونَ

Artinya: “Ia di wafatkan oleh malaikat-malaikat kami, dan malaikat-malaikat kami itu tidak melalaikan kewajibannya. “(QS. Al-an’am ayat 61).

Jika mayat tersebut adalah orang kafir maka ketika hendak menuju akhirat dan meninggalkan dunia, datanglah malaikat yang duduk dekat kepalanya, lalu malaikat itu berkata, “Kembalilah wahai jiwa yang kotor, bergembiralah kamu dengan murka dan kebencian dari Allah subhanahu wa ta’ala.” lalu turun malaikat yang berwajah hitam dengan membawa kain hitam yang kasar dari neraka. ketika ruhnya dicabut, Mereka berdiri dan tidak menyia-nyiakan sekejap mata pun.

4. Berbaik Sangka Kepada Allah

Salah satu tanda kematian adalah berbaik sangka kepada Allah. Banyak orang yang belum meninggal telah pasrah, bertobat, dan yakin Allah akan mengampuni dosa-dosanya. Sahabat Jabir mengisahkan, “Aku mendengar perkataan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassalam yang diucapkan tiga hari sebelum kematiannya, ’Tidak akan mati masing-masing dari kalian kecuali dalam keadaan berbaik sangka kepada Allah “(HR. Al-Bukhari).

Dikisahkan bahwa Rasulullah datang menemui seorang pemuda yang akan meninggal dunia. Beliau berkata kepada pemuda tersebut, “Bagaimana keadaanmu sekarang?” pemuda itu menjawab, “Aku ingin mendapatkan keridhaan dari Allah dan aku takut terhadap dosa-dosaku.” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam selalu berkata, “bila kedua perasaan tersebut ada dalam hati seorang mukmin dalam keadaan begini, niscaya Allah akan mengabulkan apa yang diharapkannya itu dan memberinya rasa aman dari apa yang ditakutinya. “(HR. At-Tirmizi).

Ada dua tempat yang selayaknya seorang muslim memperbanyak memperbanyak berbaik sangka kepada Allah. Pertama, ketika menunaikan ketaatan. Abu Hurairah menuturkan bahwa nabi bersabda, “Allah ta’ala berfirman, “Aku tergantung prasangka hambaku kepadaku. Aku bersamanya kalau dia mengingatku. Kalau dia mengingatku pada dirinya, maka aku mengingatnya pada diriku. Kalau dia mengingatku di keramaian, maka aku akan mengingatnya di keramaian yang lebih baik dari mereka kalau dia mendekat sejengkal, maka aku akan mendekat kepadanya sehasta. Kalau dia mendekat pada diriku sehasta, maka aku akan mendekatinya sedepa. Kalau dia mendatangiku dengan berjalan maka aku akan mendatanginya dengan berlari.”  (HR. Al-Bukhari dalam shahihnya).

Hasan Al-Bashri menuturkan, “Sesungguhnya seorang mukmin Ketika berbaik sangka kepada Tuhannya, maka dia akan memperbaiki amalnya. Sementara orang buruk, dia berprasangka buruk kepada Tuhannya, sehingga dia melakukan amal keburukan.”

Kedua, Ketika mengalami musibah dan saat menjelang kematian. Nabi bersabda, ”Janganlah salah satu di antara kalian meninggal dunia kecuali dia berprasangka baik kepada Allah.” (HR. Muslim). Hal ini menegaskan bahwa seorang mukmin diharuskan berprasangka baik kepada Allah, dan lebih ditekankan lagi saat ia ditimpa musibah atau ketika akan meninggal dunia.

Dalam hadits Muslim disebutkan firman Allah, ”Wahai hamba-Ku, kalian semuanya melakukan kesalahan pada malam dan siang hari dan aku mengampuni dosa semuanya, maka mintalah ampun kepadaku niscaya akan aku akan ampuni.”

Berprasangka baik kepada Allah Ketika akan meninggal dunia berarti kita yakin bahwa Dia akan memaafkan dan memberi rahmat kepada kita, meskipun kita ada kekurangan dalam melakukan Kebaikan. Kita berharap termasuk dalam golongan orang-orang mukmin yang bertakwa.

5. Setan Menyerupai Kedua Orang Tua

Sebelum meninggal, manusia akan didatangi oleh dua setan. Setan pertama berada di samping kanannya dan setan kedua berada di samping kirinya. Setan di samping kanan akan menyerupai bentuk atau sifat ayah orang tersebut. Setan yang di samping kanan akan berkata kepadanya, “Wahai anakku, aku sangat sayang dan kasihan kepadamu. Oleh karena itu, sebaiknya kamu mati dalam keadaan nashrani, karena itu adalah agama yang paling baik.”

Sementara itu, setan yang berada di samping kirinya akan menyerupai bentuk dan sifat ibunya. Setan tersebut berkata kepadanya, “Aku telah mengandungmu di perutku, kamu telah aku beri minum dengan air susuku, dan pahaku telah aku jadikan tempat berpijakmu. Oleh karena itu, sebaiknya kamu mati dalam keadaan Yahudi, karena itu adalah agama yang paling baik.”

Abu Hamid Rahimahullah menuturkan, “Saat seseorang akan meninggal dunia, iblis mengutus teman-temannya untuk mendatangi orang yang akan meninggal dunia untuk menggodanya. Teman-teman iblis itu pun mendatangi orang tersebut dalam bentuk orang-orang yang dia cintai yang telah terlebih dahulu mati dalam keadaan buruk seperti bapak, ibu, saudara, teman, ataupun sahabat karib.

Inilah makna Firman Allah Subhanahu Wata’ala:

رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً ۚ إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ

Artinya: “(Mereka berdoa) ya Rabb kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau.” (QS. Ali-‘Imran: 8).

Maksud dari ayat tersebut, janganlah Engkau jadikan hati kami Ketika akan meninggal condong kepada kesesatan setelah Engkau memberi petunjuk dalam waktu yang lama. Apabila Allah ingin memberi kepada seorang hamba hidayah atau ketetapan hati maka dia akan menurunkan rahmat kepada hamba tersebut.

Dalam Hadits dari Ibnu Umar juga disebutkan, “Kunci perkara gaib itu ada lima, tidak ada seorang pun yang mengetahuinya melainkan Allah; (1) Tidak ada seorang pun yang mengetahui apa yang akan terjadi esok selain Allah, (2) Tidak ada seorang pun mengetahui apa yang ada di dalam kandungan selain Allah, (3) Tidak ada seorang pun yang mengetahui kapan terjadinya hari kiamat selain Allah, (4) Tidak ada seorang pun yang mengetahui di bumi mana dia akan mati selain Allah, (5) Dan tidak seorang  pun yang mengetahui kapan hujan akan turun selain Allah. ”(HR. Bukhari).

6. Tidak Dapat Ditunda Atau Dipercepat

Kematian telah ditentukan waktunya. Ia tidak dapat ditunda atau dipercepat.

Di tempat lain disebutkan, “Apabila sampai ajal maut seorang itu tidak akan ditunda atau dipercepat walau sesaat pun.” (QS. AL-‘Araf: 34). “Suatu yang bernyawa tidak akan mati melainkan dengan izin Allah, sebagai ketetapan yang telah di tentukan waktunya.” (QS. Al-Imran: 145).

7. Kematian Bukanlah Kebinasaan

Jasad manusia boleh saja hancur setelah nyawa di cabut darinya. Tetapi, jiwa dan ruh akan tetap ada dan Kembali kepada penciptanya. Kematian sama saja dengan Kembali kepada Allah. Ia bukanlah kebinasaan, melainkan hanya perpindahan dari fase kehidupan di dunia kefase kehidupan setelah mati.

Kitab suci kita menuturkan,

 “Hai jiwa yang tenang. Kembalilah ke pada Rabbmu dengan hati yang puas dan di Ridhai-Nya. Masuklah ke dalam jamaah hamba-hamba-Ku. Dan masuklah ke dalam surga-Ku.” (QS. Al-Fajr:27-30).

Datangnya kematian adalah suatu yang logis. Tak perlu ditakutkan, karena ia pasti datang, baik di kehendaki maupun tidak. Justru yang penting bagi manusia ialah menyiapkan bekal untuk perjalanan Panjang sesudah mati. Segeralah beramal saat kesempatan masih terbuka lebar. Perbanyaklah bekal untuk kehidupan yang kekal.

8. Sakaratul Maut

Inilah tanda terdekat seseorang akan meninggal. Setiap manusia pasti mengalami sakaratul maut saat kematian menjemputnya. Ibnu Abi Dunnya meriwayatkan bahwa Aisyah menemui ayahnya, Abu bakr Ash-Shiddiq, Ketika ia menderita sakit penyebab kematiannya. Ketika Abu bakr merasakan sakaratul maut, Aisyah mengutip ungkapan seseorang penyair:

Sungguh, harta kekayaan sedikit pun tiada berguna Ketika dada sudah sesak tak bisa bernafas sempurna.

Abu bakr kemudian membuka tabir dari wajahnya dan berkata, “ Jangan berkata demikian. Tetapi katakanlah: ‘Dan datanglah sakaratul maut dengan sebenar-benarnya. Itulah yang kamu selalu lari daripadanya.” (QS. Qaf: 19).

Sakaratul maut adalah kesulitan dan penderitaan menjelang kematian. Ar-Raghib dalam Mufradat mengatakan, “Asy-Sukru adalah suatu kondisi yang menghalangi seseorang dari akalnya. Kata ini paling banyak digunakan untuk minuman yang memabukan. Asy-Sukru juga digunakan untuk kemarahan, kerinduan, rasa sakit, mengantuk, dan pingsan yang di sebabkan oleh rasa sakit. Inilah yang dimaksud dalam bab ini.”

Manusia ibarat seseorang yang ada di puncak kesenangan dan kenikmatan, tapi ia tahu bahwa seseorang akan mendatanginya dan menebas nya 5 kali dengan pedang titik tebasan itu akan menyerahkan semua kesenangan dan mengakhiri hidupnya. ia tahu bahwa ia sedang menunggu titik Begitu juga dengan malaikat pencabut nyawa dalam sakaratul maut. akan tetapi, sakaratul maut lebih menyakitkan daripada sabetan pedang gergaji, dan potongan gunting. badan yang terbelah pedang merasa sakit karena badan terhubung dengan Ruh. lantas Bagaimana jadinya jika Ruh itu sendiri yang dicabut?

Orang yang ditebas pedang mampu menjadi pelantaran ada tenaga dalam hati dan lidah. Akan tetapi, suara dan jeritan orang yang meninggal terputus Karena rasa sakit yang amat Dahsyat. kesulitan telah mencapai puncaknya, merangsak naik ke hati dan menyerang setiap bagiannya. tiada kekuatan untuk meminta pertolongan. seandainya yang dicabut hanya satu bagian saja rasa sakitnya Pasti sangat pedih. lalu Bagaimana jika yang dicabut Ruh itu sendiri? bukan satu bagian, tetapi seluruh bagian.

Salafush sholeh bertutur tentang sakaratul maut

Amirul Mukminin Umar Bin Khattab bertanya kepada kakap, “, Ceritakanlah kepada kami tentang kematian.”

Lalu berkata, “baik wahai Amirul Mukminin. sakaratul maut ibarat tangkai pohon penuh duri titik tangkai itu lalu dimasukkan ke dalam rongga mulut seseorang. maka setiap Duri pun menancap pada setiap urat. kemudian tangkai tadi dicabut dengan kuat Titik maka sebagian orang tetap menempel, tapi sebagian lagi tercerabut dari tubuh.”

“Seandainya aku memiliki emas 10 bumi,” ujar Umar, “niscaya kugunakan untuk menebus kengerian ini.”

Syaddad bin Aus mengatakan, “bagi orang mukmin, kematian lebih mengerikan daripada kengerian dunia dan akhirat. kematian lebih menyakitkan daripada digergaji, digunting, atau dididihkan dalam wadah titik seandainya mayat dibangkitkan dari kubur lalu menceritakan sakitnya kematian kepada penduduk dunia maka mereka tidak akan bisa hidup tenang dan tidak akan mampu tidurnya. ”

Hasan Al bashri pernah menjenguk orang sakit yang sedang mengalami sakaratul maut titik kesulitan dan rasa sakit sedang menimpa orang tersebut. Kemudian beliau pulang dengan wajah berbeda ketika berangkat titik keluarganya berkata kepadanya, “Apakah engkau menginginkan makanan? Semoga Allah merahmatimu.” beliau menjawab, “Tinggalkanlah makanan dan minuman kalian titik demi Allah, sungguh aku telah menyaksikan orang yang sedang sakaratul maut. Aku akan terus mengingatnya hingga aku berjumpa dengannya.”

Benarkah perkataan Abdullah Bin Mas’ud , “orang yang bahagia adalah orang yang dapat mengambil hikmah dari orang lain.”

pernah ditanyakan pada beberapa orang ahli zuhud, “nasihat apa yang paling mengesankan?” mereka menjawab, “melihat orang yang meninggal.”

ketika Amru bin al-‘ash meninggal, putranya berkata kepadanya, “wahai Ayahku, engkau pernah berkata kepada kami,’  Seandainya aku berjumpa dengan seseorang yang sadar saat kematian menjemputnya sehingga ia bisa menceritakan apa yang menimpanya.  ini engkau lah orang itu. maka ceritakan kepadaku tentang maut.”

kemudian berkata, “anakku, demi Allah seakan-akan dua lambungku berada dalam sebuah wadah titik aku seakan-akan bernafas dari lubang jarum dan seakan-akan ranting yang berduri ditusukkan dari ujung 2 kakiku sampai ujung kepala.”

Manusia ibarat seseorang yang ada di puncak kesenangan dan kenikmatan, tapi ia tahu bahwa seseorang akan mendatanginya dan menebasnya 5 kali dengan pedang titik tebasan itu akan menyerahkan semua kesenangan.

 

Referensi:

Disusun oleh: Ustadz Abu Khalid Abdurrahman dari Buku Membaca Tanda-tanda Kematian (Part 2)

Diringkas oleh: Bima Yoga Prasetiyo (Pegawai Ponpes Darul Qur’an Wal Hadist OKU Timur)

 

BACA JUGA:

Be the first to comment

Ajukan Pertanyaan atau Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.