Pondok Pesantren Darul Qur'an Wal-Hadits Martapura OKU

Mewaspadai Celaan Agama Syi’ah Terhadap Sahabat Nabi

celaan agama syi'ah terhadap sahabat nabi

Mewaspadai Celaan Agama Syi’ah Terhadap Sahabat Nabi – 

إِنَّ الْحَمْدُ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُوْرِأَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِ اللَّهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضِلِلْ فَلاَ هَادِىَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ اللَّهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ

Jika membaca sebagai nukilan dari para pemuka agama syari’ah, dapat diketahui beberapa hal yang menunjukkan dan mendorong mereka membenci para Sahabat Nabi, terutama tiga Khulafa’ ar-Rasyidin, yaitu Abu Bakar ash-Shiddiq, Umar bin Khaththab, Ustman bin Affan, dan Utsman bin Affan Radhiallahu’anhum, mengapa mereka demikian?

Untuk mengetahui jawaban pertanyaan ini, saya mengajak Anda untuk merenungkan firman Allah berikut:

محمد الرسول الله و الذين معه اشدآء على الكفار رحمآء بينهم تراهم ركعا سجدا يبتغون فضلا من الله ورضوانا سيماهم في وجوهم من أثر السجود ذلك مثلهم في التورىة ومثلهم في الإنجيل كزرع أخرج شطئه فئازره فاستغلظ فاستوى على سوقه يعجب الزراع ليغيظ بهم الكفار وعد الله الذين ءامنو وعملوا الصالحت منهم مغفرة وأجرا عظيما

Artinya: “Muhammad adalah utusan Allah, dan orang-orang yang bersama dia (Sahabat-Sahabatnya) adalah orang- orang yang keras terhadap orang-orang kafir tetapi berkasih-sayang sesama mereka. Kamu lihat mereka rukuk dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda tanda mereka tampak pada muka bereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya, maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus diatas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karna Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang fakir (dengan kekuatan orang-orang mukmin). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang shalih diantara mereka ampunan dan pahala yang besar. (QS. al-Fath)

 Pada suatu hari, ada seseorang menemui Imam Malik bin Anas Rahimahullah, lalu tanpa rasa sungkan orang itu mencela para Sahabat Nabi dihadapan beliau Rahimahullah. Mendengar celaan orang tersebut terhadap sahabat Nabi, maka Imam Malik spontan membaca ayat di atas lalu beliau Rahimahullah berkata:

من اصبح وفي قلبه ععظيم عل اصحابه محمد عليه السلام، فقد اصابته الآية

Terjemahannya: Barang siapa yang dalam hatinya terdapat kebencian kepada Sahabat-Sahabat Nabi Muhammad,  maka ia telah terkena vonis ayat ini.

 Abu Zur’ah ar-Razi mengungkapkan alasan yang mendorong agama syi’ah dan lainnya yang dengan getol mencela Sahabat Nabi, “Bila engkau menyaksikan seseorang mencela ssalah seorang Sahabat Nabi ﷺ, maka ketahuilah di aitu kaum zindiq , karna kita meyakini bahwa Rasulullah adalah benar, dan al-Qur’an juga benar, sedangkan yang menyampaikan al-Qur’an dan sunnah  adalah para Sahabat Rasulullah ﷺ. Dengan demikian, orang yang mencela Sahabat Nabiﷺ sedang berupaya menggugurkan para saksi kita, untuk selanjutnya mengugurkan al-Qura’an dan sunnah. Bila demikian adanya, maka orang itulah yang lebih pantas untuk dicela, karna sebenarnya ia adalah zindiq(kafir).

Subhanallah, betapa buruk maksud yang mereka pendam di balik Upaya mencela para Sahabat Nabi ﷺ. Oleh karna itu, celaan terhadap Sahabat Nabiﷺ ini bukan masalah sepele, sehingga tidak oleh terlupakan dan terlalaikan, hanya demi mewujudkan Impian persatuan antara Ahlis-Sunnah dengan syi’ah, untuk selanjutnya bersama-sama menghadapi zionis Yahudi dan Salibis para pemuja Salib

Keimanan, perjuangan dan pengorbanan Sahabat Nabi ﷺ itu sangatlah besar, sehingga Allah ﷻ melipatgandakan pahala para Sahabat, walaupun mreka telah ,meninggal dunia ialah dengan adanya orang-orang yang membenci dan mencaci Sahabat Nabi ﷺ. Yang demikian itu, karna orang yang mencaci tersebut pasti akan dituntut atas amalannya kelak pada hari kiamat. Sebagai pembalasannya, amal kebaikan orang tersebut akan digunakan sebagai tebusan atas dosa caciannya, dan bila tidak cukup maka dosa-dosa Sahabat Nabi ﷺ akan dilimpahkan kepadanya, dan selanjutnya orang yang mencela ini dijerumuskan ke dalam neraka.

عن ابي هريرة رضي لله عنه ان رسول الله   قل: (اتدرون ما المفلسون؟) قلوا: المفلس فينا من لا درهم له ولا متاع. فقال: (ان المفلس من ياتي يوم القيام بصاتة وصيام وزكاة, وياتي قد شتم هذا, وقذف هذا, واكال مال هذا, وسفك دم هذا, وهذا من حسناته, فات فان فنيت, حسناته قبل ان يقضلى ما عليه, اخذ من خاطاياهم, ففطرحت عليه, ثم طرح فى لنار) روه مسلم

Dari Sahabat Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, bahwasanya pada suatu hari Rasulullah  ﷺ bertanya kepada para Sahabatnya: “Tahukah kamu siapakah orang yang pailit itu,” spontan para Sahabat menjawab: “orang pailit ialah orang yang tidak memiliki uang, juga tidak memiliki harta benda,” (namun) selanjutnya Rasulullah ﷺ menimpali jawaban mereka dengan bersabda: “Sesungguhnya orang yang benar-benar pailit dari umatku ialah orang yang kelak pada hari kiamat datang dengan membawa pahala shalat, puasa, zakat. Akan tetapi ia juga datang dengan memikul dosa mencela orang ini, menuduh orang ini, menumpahkan dara orang ini, dan memikul orang ini, akibatnya, orang ini diberi bagian pahalanya; dan bila pahalanya telah habis, sedangkan dosanya belum tertebus semuanya, maka akan diambilkan dari dosa-dosa mereka (orang yang dirampas haknya Ketika di dunia), lalu dicampakkan kepadanya, dan selanjutnya ia pun dijerumuskan ke dalam neraka”, (Riwayat Imam Muslim).

Oleh karna itu, tatkala ‘Aisyah Radhiyallahu ‘anha mendengar berita bahwa ada Sebagian orang  yang mencela Sahabat Nabi tanpa terkecuali Abu akar dan Umar Radhiyallahu ‘anhu, maka beliau berkata:

وما تعجبون من هذا؟ انقطع عنهم العمل, فاحب الله ان لا يقطع عنهمل اجر

Artinya:  “Apa yang kalian herankan dari kejadian ini? Mereka itu (para Sahabat) adalah orang-orang yang telah terputus kesempatannya untuk beramal, akan tetapi Allah menghendaki untuk tidak menghentikan aliran pahala dari mereka”. (HR. Muslim).

Suatu ironi, dalam Riwayat agama Syi’ah ada disebutkan betapa berat siksaan yang bakal diterima Sahabat Abu Bakar dan Umar Rahdiyallahu ‘anhu, sampai-sampai sampai setiap hari mereka akan dibunuh sebanyak beribu kali. Bahkan Sahabat Umar in Khattab Radhiyallahu ‘anhu akan menerima siksa yang lebih berat dari pada Iblis terlaknat. Sungguh mengherankan, apa dosa Abu Bakar Radhiyallahu ‘anhu dan Umar in Khattab Radhiyallahu ‘anhu, sehingga mereka -menurut agama Syi’ah- harus menanggung siksa yang demikian berat?

Bila benar-benar mencaci “dosa/kesalahan” mereka berdua, terutama Umar Bin Khattab, maka tidak ada yang lebih besar dibanding “dosa” meruntuhkan dinasti Majusi di Persia (Iran). lialah yang mengutus pasukan umat Islam untuk menghapuskan dinasti Majusi dari bumi Persia (Iran). Sehingga berkat jasa Umar Bin Khattab Rahdiyallahu ‘anhu maka api pujaan kaum Majusi padam dan suara adzan membahana di bumi Persia. Inilah mungkin yang menjadi suatu alas Imam Mahdi agama Syi’ah, yaitu imam mereka yang ke-12 untuk menjuluki dirinya dalam Bahasa Persia dengan sebutan:

خسرو مجس

Artinya: (pahlawan pembela Majusi).

Sungguh luar biasa, cucu Nabi Muhammad akan menjadi pahlawan pembela Majusi yang notabene para penyembah api! Apakah hal ini masuk akal?

Tentu bagi orang-orang muslim yang benar-benar beriman dan berhati nurani bersih, hal itu tidak masuk akal dan tentu mustahil. Akan tetapi bagi para penganut agama Syi’ah, maka hal tersebut tidak mustahil, bahkan sangat logis.

Sehingga riwayat seperti ini selalu muncul dalam referensi-referensi agama Syi’ah tanpa ada komentar atau upaya meluruskannya; sebagaimana catatan Sejarah perjalanan agama Syi’ah telah menguatkan kemungkinan terjadinya hal itu.

Julukan atau (sebutan) ini dapat disimak dalam riwayat yang dibawakan oleh Muhammad Baqir al-Maitujlisi; ia seorang mufti agama Syi’ah pada abad 11 H, berikut ini:

Tatkala Raja Persia telah mendapatkan kabar bahwa pasukannya telah dikalah kan oleh pasukan yang dikirim oleh Umar bin Khattab Radhiyallahu ‘anhu dalam perang Qudsiyah, ia bergegas untuk meninggalkan istananya. Sesampainya di pintu istana, ia berhenti sejenak dan berkata, “Selamat tinggal istanaku, aku akan segera meninggalkanmu, dan suatu saat nanti, aku atau salah seorang anak keturunanku yang belum tiba saatnya akan kembali lagi”.

Sulaiman ad-Dilami, perawi kisah ini berkata, Aku pun segera masuk menemui Abu Abdillah Ja’far ash-Shadiq, dan aku bertanya kepadanya. “Apa yang dimaksud Raja Persia dengan ucapannya, ‘atau salah seorang anak keturunanku?” Abu Abdullah pun menjawab , “itulah Imam Mahdi kalian sang penegak Agama Allah, yaitu cucuku keenam, yang pada saat yang sama juga cucu keturunan Raja Persia Yazdajird’. Demikian pengakuan mereka yang keenam, yaitu Ja’far ash-Shudiq. Bahwa Imam Mahdi versi agama Syi’ah akan menjadi pahlawan yang mengembalikan kejayaan dinasti Majusi Persia. Bahkan tidak cukup mengembalikan kejayaan dinasti Majusi, ia juga membalaskan dendam mereka terhadap bangsa Quraisy yang telah meruntuhkan kejayaan mereka dari bumi Persia. Simaklah riwayat berikut, “Abu Ja’far ‘alaihissalam berkata, “Andai masyarakat mengetahui apa yang dilakukan oleh al-Qaim (Imama Mahdi versi agama Syi’ah) setelah ia dibangkitkan, niscaya kebanyakan dari mereka untuk tidak menyaksikannya, dikarenakan begitu banyak ia membunuh manusia. Ketahuilah bahwa kabilah pertama yang akan ia bunuh adalah kabilah Quraisy. Ia tidak akan menerima dari mereka selain pedang (peperangan) dan tidak akan memberi mereka selain pedang pula, sampai-sampai banyak kalangan manusia yang berkata: ‘orang ini bukanlah keluarga dari Nabi Muhammad, niscaya ia memiliki rasa belas kasih.’”.

Tidak cukup dengan membalaskan dendamnya, bahkan agama Syi’ah juga mengklaim telah berhasil membebaskannya dari siksa neraka di akhirat. Disebutkan oleh beberapa tokoh agama Syi’ah, mereka mengisahkan bahwa pada suatu saat Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘anhu mengunjungi suatu daerah yang al-Mda’en, yang dulu merupakan ibu kota negara Persia. Beliau berkeliling-keliling di kota itu, lalu singgah di istana Raja Persia. Saat tengah mengelilingi bekas istana kisra itu, ia menyaksikan tengkorak manusia yang telah rapuh. Kemudian Ali bin Abi thalib Radhiyallahu ‘anhu memerintahkan kepada sebagian pasukannya untuk Meletakkan tengkorak itu di dalam bejana. Kemudian selanjutnya beliau Radhiyallahu ‘anhu berkata kepada tengkork itu, “Aku menyumpahimu, wahai tengkorak, agar engkau mengabarkan kepadaku siapakah diriku dan siapakah dirimu?” spontan tengkorak itu dengan Bahasa yang fasih, menjawab, “Adapun engkau, maka engkau adalah Amiru-mukminin, pemimpin para penyandang wasiat, dan pemimpin orang-orang yang bertakwa. Adapun aku adalah hambamu dan putra hamba wanitamu, yaitu Kisra Anusyirwa…..akan tetapi walaupun aku kafir, Allah telah membebaskanku dari siksa neraka berkat aku dahulu menegakkan keadilan bagi rakyatku, sehingga walaupun aku menghuni neraka, akan tetapi neraka diharamkan untuk menyentuh diriku.”

Mungkin ini jugalah yang mendasari agama Syi’ah itsna ‘Asyariyah untuk memilih Ali Zainal Abidin dari sekian banyak putra al-Husain sebagai imam mereka yang ke-4. Mungkin ini pulalah yang mendasari Syi’ah meyakini bahwa imam mereka sepeninggal al-Husain hanya ada pada keturunan al-Husain, dan secara khusus dari jalur Ali Zinal Abidin. Berbeda dengan anak cucu al-Hasan bin Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘anhu, maka tidak seorang pun yang dinobatkan oleh agama Syi’ah sebagai imam mereka, padahal semua mengetahui bahwa Nabi, secara khusus telah memuji al-Hasan sebagian seorang pemimpin berjasa besar.

ان ابني هذا سيد, ولعل الله ان يصلح به بين فاتين عظيمتين من المسلمين

Artinya: “Sesungguhnya putraku ini adalah seorang pemimpin, dan semoga saja Allah dengan perantaranya mendamaikan antara dua kelompok besar dari umat Islam(yang saling berperang, pen.). (HR.al-Bukhari)

Bila demikian nasib anak keturunan al-Hasan di mata para penganut agama Syi’ah, maka Nasib anak keturunan Putera-puteri Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘anhu lainnya tidak akan bereda darinya.

Hal ini yang sangat mengejutkan dari permusuhan penganut agama Syi’ah terhadap Umar bin Khattab -yang menguatkan kesimpulannya di atas, yakni balas dendam atas runtuhnya dinasti Majusi- ialah diagungkannya eksekutor pembunuh Umar bin Khattab Radhiyallahu ‘anhu, yaitu Abu Lu’lu’ah Fairuz aa-Majusi.

Mereka-para penganut agama Syi’ah- sangat mengkultuskan Abu Lu’luah Fairuz al-Majusi padahal ia telah menorehkan Sejarah kelam dalam sejarah Islam. Kisahnya, pada pagi hari, tepatnya Ketika Khalifah Umar bin Khattab sedang memimpin umat Islam di Masjid Nabawi menjalankan shalat subuh, Abu Lu’lu’ah al-Majusi melampiaskan dendam kesumatnya. Dengan sebilah pisau yang sebelumnya telah dibubuhi racun mematikan, ia menikan Khalifah Umar bin Khattab beberapa kali.

Atas jasa pembalasan dendam inilah, Abu Lu’lu’ah al-Majusi mendapat penghargaan besar yang disematkan oleh para penganut Syi’ah. bentuk penghormatan sekaligus penghargaan yang diberikan kepada pembunuh Khalifah Umar bin Khattab ini diwujudkan dalam dua hal, yaitu; Pertama, aga Syi’ah meyakini bahwa Abu Lu’lu’ah al-Majusi dikuburkan di kota Khasyah, Iran. Sebagai wujud penghormatan, mereka membangun kuburannya dan menjadikannya sebagai tempat bersejarah yang senantiasa dikunjungi, kedua, hari keberhasilan Abu Lu’lu’ah al-Majusi melampiaskan dendamnya kepada Amirul-Mukminin Umar bin Khattab Radhiyallahu ‘anhu disebutnya sebagai hari besar, yaitu hari raya ‘Idul Akbar

Inilah beberapa catatan, agar kaum muslimin waspada terhadap gerakan dan pemikiran aga Syi’ah yang saat ini sudah mulai merebak ke tengah-tengah kita. Semoga Allah senantiasa menjaga kaum Muslimin agar tetap istiqomah menempuh manhaj para Sahabat Nabi .

REFERENSI:

  • Al-Qur’anul Karim, kitab
  • Beberapa kitab hadits ashabus

 

BACA JUGA :

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.