Pondok Pesantren Darul Qur'an Wal-Hadits Martapura OKU

Kenikmatan Yang Berujung Bencana

kenikmatan yang berujung bencana

Kenikmatan Yang Berujung Bencana (“Pelajaran dari kehancuran kaum saba’’) – Alhamdulillah, segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam, yang telah memberikan begitu banyak rahmat, nikmat dan karunia-Nya kepada kita semua, sehingga sampai saat ini kita masih bisa untuk beribadah dan mendekatkan diri kepada-Nya.

Pada kesempatan kali ini, kita akan mengambil faidah dan juga pelajaran dari kaum Saba’ yang telah Allah sebutkan didalam Al-Qur’an. Mudah-mudahan kita bisa bermanfaat dan menjadi pelajaran untuk kita semua.

Sungguh Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memberikan kenikmatan yang tidak terhingga untuk negeri yang kita cintai ini. Mulai dari penduduknya yang ramah, alamnya yang indah serta kaya dan juga subur, sungguh ini semua merupakan kenikmatan yang sangat besar yang Allah berikan kepada kita semua yang patut kita syukuri.

Dan  kita berharap kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar kenikmatan ini tetap bisa kita rasakan, untuk keberkahan dan kebahagiaan seluruh penduduk negeri ini.

Allah Ta’ala telah mengabarkan, bahwasanya Dia-lah  Allah yang  tidak akan merubah suatu kenikmatan yang ada pada hamba-nya kecuali oleh karena hamba itu sendiri yang merubahnya.

Bila kita merubah ketaatan dengan kemaksiatan, syukur diganti kufur, yang semula amalan kita mendatangkan ridha-Nya lalu berganti dengan perbuatan yang mendatangkan murka, maka Allah Ta’ala akan merubah kenikmatan itu menjadi bencana dan kehinaan.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfiman,

ذَلِكَ بِأَنَّ اللَّهَ لَمْ يَكُ مُغَيِّرًا نِعْمَةً أَنْعَمَهَا عَلَى قَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ وَأَنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

Artinya: “(Siksaan) yang demikian itu adalah karena sesungguhnya Allah sekali-kali tidak akan merubah sesuatu nikmat yang telah dianugrahkan-Nya kepada suatu kaum sampai kaum tersebut  merubah apa-apa yang ada pada diri mereka sendiri , dan sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS.AL-Anfal/8:53)

Dan kisah kaum Saba’ bisa menjadi contoh bagaimana Allah mencabut kenikmatan yang telah Dia berikan kepada mereka, lalu diganti dengan bencana disebabkan oleh kekufuran, kemaksiatan dan berpaling dari agama Allah.

Kisah ini Allah Ta’ala abadikan dalam surah Saba’ agar kita bisa mengenang, membicarakan, dan mengambil pelajaran dari kisah ini. Oleh karena itu, diakhir kisah kaum Saba’, Allah mengakhiri firman-Nya dengan perkataan:

إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَاتٍ لِكُلِّ صَبَّارٍ شَكُور
Artinya: “Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi setiap orang yang sabar lagi bersyukur.”(QS. Saba’/34:19)

Oleh karena itu, perhatikanlah kenikmatan yang Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berikan kepada mereka dan bagaimana mereka menyikapi nikmat dari Allah Ta’ala  serta apa akibat dari perbuatan mereka itu?

Maka Allah Ta’ala  berfirman :

لَقَدْ كَانَ لِسَبَإٍ فِي مَسْكَنِهِمْ آيَةٌ جَنَّتَانِ عَنْ يَمِينٍ وَشِمَالٍ كُلُوا مِنْ رِزْقِ رَبِّكُمْ وَاشْكُرُوا لَهُ بَلْدَةٌ طَيِّبَةٌ وَرَبٌّ غَفُورٌ

Artinya: “Sesungguhnya bagi kaum saba’ada tanda (kekuasaan Allah) ditempat kediaman mereka, yaitu; dua buah kebun disebelah kanan dan sebelah kiri.(kepada mereka dikatakan), ’makanlah olehmu rezki yang(dianugrahkan) rabbmu dan bersyukurlah kamu kepada-nya!’negerimu adalah negeri yang baik dan rabbmu adalah rabb yang maha pengampun.”(QS.Saba’/34:15)

Dalam ayat ini Allah menyebutkan kenikmatan yang Allah berikan kepada mereka berupa kebun dan bendungan yang mengairi perkebunan mereka. Kaum Saba’ mempunyai  wadi (lembah) yang menjadi sungai besar bila dilalui air ketika hujan lalu mereka membuat bendungan yang kokoh untuk menampung air hujan dalam jumlah yang banyak .

Dengan adanya bendungan itu, kaum Saba’ tidak khawatir akan kekurangan air. Air itu mereka alirkan ke kebun-kebun mereka berada dikanan dan dikiri bendungan itu, sehingga kebun-kebun itu menjadi subur dan menghasilkan banyak buah-buahan yang mencukupi kebutuhan mereka. Dua kebun itu sangat luas dan terletak dihamparan lembah, tanahnya subur dan menghasilkan berbagai macam tanaman dan buah-buahan. Mereka mendapatkan kesenangan dan kebahagiaan hidup dengannya. Dan ini adalah kenikmatan yang sangat besar yang Allah berikan kepada mereka.

Berkata As-Sudi dan Muqatil, bila seorang wanita berjalan dibawah pepohonan dengan keranjang diatas kepalanya maka keranjang itu akan penuh dengan berbagi macam buah, tanpa susah payah memetiknya.

NEGERI YANG BAIK AMPUNAN SERTA RAHMAT ALLAH

Kenikmatan lainnya yang Allah Ta’ala anugrahkan kepada mereka adalah negeri yang baik, ampunan serta rahmat Allah Ta’ala jika mereka bersyukur. Cuaca dan udara yang baik sehingga dikatakan apabila seseorang melewati negeri mereka sedang dipakaiannya ada kutu atau ngegat maka semua kutu dan ngengat itu mati karena udaranya yang sangat baik, bersih dan sejuk .

Dikatakan juga dinegeri itu tidak ada lalat dan tidak ada nyamuk. Ibnu Zaid Rahimahullah menambahkan bahwa disana tidak ditemukan nyamuk, lalat, serangga, kalajengking dan ular.

Qatadah Rahimahullah berkata,”Rabb kalian maha mengampuni dosa-dosa kalian juga kaum yang telah diberi kenikmatan. Dan Allah Ta’ala memerintahkan kepada mereka untuk mentaatinya dan melarang mereka dari perbuatan maksiat.

Namun apa yang mereka lakukan sebagai balasan dari limpahan kenikmatan ini?

Mereka kafir kepada Allah Ta’ala tidak mau beribadah dan tidak bersyukur serta berpaling dari ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala:

فَأَعْرَضُوا فَأَرْسَلْنَا عَلَيْهِمْ سَيْلَ الْعَرِمِ وَبَدَّلْنَاهُمْ بِجَنَّتَيْهِمْ جَنَّتَيْنِ ذَوَاتَيْ أُكُلٍ خَمْطٍ وَأَثْلٍ وَشَيْءٍ مِنْ سِدْرٍ قَلِيلٍ (16) ذَلِكَ جَزَيْنَاهُمْ بِمَا كَفَرُوا وَهَلْ نُجَازِي إِلَّا الْكَفُورَ

Artinya: “Tetapi mereka berpaling ,maka kami datangkan kepada mereka banjir yang besar. Dan kami ganti kedua kebun yang ditumbuhi (pohon-pohon) yang berbuah pahit, pohon atsl dan sedikit dari pohon sidr, demikian kami memberi balasan kepada mereka karena kekafiran mereka. Dan kami tidak menjatuhkan adzab (yang demikian itu), melainkan hanya kepada mereka karena kekafiran mereka. Dan kami tidak menjatuhkan azab ( yang demikian itu) melaikan hanya kepada orang yang sangat kafir.”(QS.saba’/34;16-17).

Mereka menzhalimi diri sendiri dengan melakukan perbuatan kufur dan maksiat, syaitan telah menyesatkan dan menjauhkan mereka dari jalan yang lurus. Allah Ta’ala mengutus tiga belas orang Nabi kepada mereka, para nabi ini menyeru mereka kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, mengingatkan kenikmatannya pada mereka yang memperingatkan akan hukum-Nya, akan tetapi mereka mendustakannya seraya mengatakan, kami tidak mendapatkan kenikmatan ini dari Allah katakan kepada rabb kalian (wahai para utusan) ‘cegahlah kenikmatan ini dari kami kalau dia mampu, Allah murka dan menghancurkan bendungan yang telah mereka buat’.

Maka tidaklah suatu kaum ingkar kepada Allah Ta’ala dalam kekufuran dan kerusakan, kecuali mereka berhak mendapatkan ancaman adzab Allah Subhanahu wa Ta’ala mereka akan ditimpa kebinasaan. Kenikmatan akan berupa bencana. Inilah yang menimpa kaum saba’. Hendaklah kita mengambil pelajaran dari kisah mereka! Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman dalam surat al-Ankabut ayat ke-40, yang artinya :

“Maka masing-masing (mereka itu) kami siksa disebabkan dosanya, maka diantara mereka ada yang ditimpa suara keras yang menguntur, dan diantara mereka ada yang kami benamkan didalam bumi ,dan diantara mereka ada yang kami tenggelamkan, dan Allah sekali-kali tidak hendak menganiaya mereka,akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri” (Qs. Al-Ankabut: 40)

Lalu perhatikan lah akibat perbuatan mereka ini Allah Ta’ala kabarkan keadaan mereka setelah bendungan yang mereka bangun itu hancur.

“Dan kami ganti kedua kebun mereka denga dua kebun yang ditumbuhi(pohon-pohon)yang berbuah pahit,pohon atsl dan sedikit pohon sidr. (QS.saba’/34:16)

Kedua kebun mereka yang menjadi sumber kehidupan,kekayaan dan kekuatan mereka diganti dengan kebun yang jelek yang tidak bermanfaat dalam kehidupan mereka, yaitu pohon yang buahnya pahit yang dimakan dan pohon yang  berbuah namun tidak menjadikan gemuk  dan tidak menghilangkan rasa lapar maka ini adalah ganti dari kenikmatan yang tidak disyukuri.

Dan dikatakan jenis pohon itu adalah pohon siwak. Ini adalah pendapat mayoritas mufassirin (para ulama ahli tafsir)seperti ibnu abbas, mujahid, ikrimah, atha’, al-kusarani, al-hasan qatadah dan as-sudi. Yang buahnya pahit biasa disebut al-barir, kemudian pohon atsl sejenis cemara namun lebih besar dan pohon sidr atau pohon  bidara.

 

REFERENSI:

Majalah As-Sunnah Edisi 10 Jumadil Awwal 1439, Februari 2018 M.

Peringkas: Husain Gati Rianto (Staf Pengabdian Pengajar Ponpes Darul-Qur’an Wal-Hadits OKU Timur)

 

BACA JUGA:

Tegar di atas Sunnah
kumpulan berbagai ceramah singkat dan kajian Islam

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.