Pondok Pesantren Darul Qur'an Wal-Hadits Martapura OKU

Tawakal Hanya Kepada Allah Semata

Tawakal Hanya Kepada Allah

Tawakal Hanya Kepada Allah Semata

Tawakal adalah menyandarkan hati kepada Allah dalam menggapai maslahat atau menghindari mudarat baik dalam urusan duniawi maupun ukhrawi. Sehingga, semua harapan seseorang yang menerapkan sikap tawakal ini benar-benar digantungkan kepada-Nya semata. Tawakal termasuk sifat yang dicintai Allah. Karena itu, seorang muslim harus memiliki akhlak tersebut. Ia haruslah menyerahkan seluruh urusan kepada-Nya, juga diharuskan bagi ia meyakini bahwasanya hanya Allahlah yang mampu memberi dan menahan sesuatu serta mendatangkan manfaat dan mudarat atasnya. Akhlak inilah yang menjadi ciri khas mukmin dan yang mencerminkan kesiapan pribadi untuk melaksanakan segala kehendak ilahiah-Nya.

Tawakal Mencukupi Segalanya

Kita sering mendengar: “Bertawakallah kepada Allah!” namun pernahkah kita bertanya tentang hakikat tawakal?

Dengan tawakal, hati terhubung langsung kepada Allah sehingga seorang mukmin tidak mencari pertolongan dan perlindungan kepada makhluk melainkan hanya kepada-Nya. Sikap demikian yang melahirkan keseimbangan dalam usaha hamba di dunia; berpegang teguh pada tali atau pertolongan Allah dalam berusaha dan menyerahkan hasilnya dengan sepenuh hati kepada kehendak-Nya. Apa pun tetapkan, niscaya orang-orang yang bertawakal akan mampu menerimanya dengan lapang dada.

Tawakal adalah akhlak mulia yang di sandangkan bagi hamba-hamba pilihannya. Allah Subhanahu Wata’ala berfirman:

اِنَّمَا الْمُؤْمِنُوْنَ الَّذِيْنَ اِذَا ذُكِرَ اللّٰهُ وَجِلَتْ قُلُوْبُهُمْ وَاِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ اٰيٰتُه زَادَتْهُمْ اِيْمَانًا وَّعَلٰى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُوْنَۙ

Artinya: “Sesungguhnya orang-orang yang beriman adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetar hatinya, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, bertambah (kuat) imannya dan hanya kepada Rabb mereka bertawakal”. (QS. Al-Anfal [8]: 2)

Salah satu asmaul husna, nama-nama Allah yang indah, ialah al Wakil Nama ini menunjukkan bahwa Dialah Rabb yang Maha Menjaga dan Menjamin rezeki hamba. Dialah yang Mahahidup, tidak mati. Itulah alasan Allah memerintahkan setiap hamba agar memenuhi hati dengan iman yang mantap dan mengukuhkan tawakal kepada-Nya. Firman Allah Subhanahu Wata’ala:

وَتَوَكَّلْ عَلَى الْحَيِّ الَّذِيْ لَا يَمُوْتُ وَسَبِّحْ بِحَمْدِه وَكَفٰى بِه بِذُنُوْبِ عِبَادِه خَبِيْرًا ۚ

Artinya: “Dan bertawakallah kepada Allah Yang Hidup, Yang tidak mati, dan bertasbihlah dengan memuji-Nya. Dan cukuplah Dia Maha Mengetahui dosa hamba-hamba-Nya.” (QS. Al-Furqan [25]: 58).

Rasulullah Mengajarkan Agar Kita Bertawakal

Rasulullah adalah guru sekaligus teladan mulia bagi umat Islam. Terkait tawakal, beliau selalu mengajarkan dan mendorong kaum muslimin supaya senantiasa bersandar kepada Allah, Rabb yang akan mencukupi kebutuhan hamba yang bertawakal. Bahkan dalam dzikir-dzikir keseharian pun sering disisipkan bacaan yang akan mendorong kita untuk mengukuhkan tawakal kepada-Nya. Rasulullah juga mengajarkan hakikat tawakal dengan menjelaskan bahwa semua kebaikan dan keburukan berada di tangan Allah semata. Sekiranya seluruh manusia bersatu untuk memberikan satu kebaikan atau menimpakan satu keburukan kepada kita, niscaya hal itu tidak akan pernah terwujud kecuali jika Dia menginginkan demikian.

Kesempurnaan Tawakal Rasulullah

Tawakal Rasulullah adalah yang paling sempurna. Akhlak ini menghiasi seluruh aktivitas beliau, bahkan ketika berdoa dan berzikir.

Kesempurnaan tawakal Rasulullah dapat disaksikan pada peristiwa hijrah ke Madinah bersama Abu Bakar ash-Shiddiq, ketika keduanya bersembunyi di gua Tsur. Abu Bakar berkata: “Ketika kami berada di dalam gua, aku dapat melihat kaki orang-orang musyrik yang tengah mencari kami, tepat di atas kepala kami. Aku berkata: “Wahai Rasulullah, seandainya mereka melihat ke bawah pasti mereka menemukan kita.” Kemudian beliau berkata: “Hai Abu Bakar, menurutmu apa yang akan terjadi terhadap dua orang sementara Allah adalah yang ketiganya?”[1]

Dikisahkan oleh Jabir bin Abdillah , bahwa ia pernah ikut dalam Perang Dzatur Riqa di Najed. Ketika menemukan pohon yang rindang, para Sahabat menjadikannya sebagai tempat peristirahatan Rasulullah. Beliau beristirahat di situ, sementara pedangnya digantung di dahan. Tiba-tiba seorang Badui musyrik datang lalu menghunuskan pedang beliau dari sarungnya seraya berkata: “Apakah kamu takut denganku?” “Tidak!” jawab beliau. “Siapakah yang akan membelamu dari seranganku?” Beliau menjawab: “Allah!” Mendengar jawaban tersebut, pedang yang dipegangnya langsung jatuh ke tanah. Rasulullah mengambilnya dan balik bertanya: “Siapakah yang akan membelamu dari seranganku?” Badui itu pun berkata: “Jadilah engkau sebaik-baik pemaaf.”

Meluruskan Perspektif Tawakal

Tawakal dan usaha selalu berjalan bersama-sama dan tidak dapat dipisahkan. Para ulama pun sepakat bahwa tawakal tidak bertentangan dengan konsep usaha dan kerja keras dalam upaya mewujudkan sesuatu. Bahkan, tawakal tidak dibenarkan jika tidak disertai dengan usaha yang maksimal, karena keduanya bersifat saling melengkapi. Tawakal sendiri tidak lain adalah rangkaian usaha dalam merealisasikan tujuan. Yaitu, dengan menyerahkan hasilnya kepada Allah dengan keyakinan bahwasanya Dia tidak akan menyia-nyiakan pahala orang yang berbuat baik. Jadi apabila seseorang mengaku telah bertawakal tetapi tidak didahului dengan usaha maka tawakalnya itu keliru, bahkan ia tidaklah pantas dikatakan telah bertawakal.

Rasulullah mengajarkan kita untuk menjauhi sikap berpangku tangan, yaitu ingin meraih sesuatu hanya dengan bersandar pada doa tanpa berupaya sesuai yang disyariatkan. Karena doa tanpa disertai usaha bukanlah tawakal.

Rasulullah hendak menerangkan bahwa segala sesuatu yang dapat mendorong kepada sikap berpangku tangan dan enggan berusaha keras tidak dianggap bagian dari tawakal. Demikian sikap yang beliau contohkan. Hati beliau dikaruniai tawakal yang sempurna dan dipenuhi dengan keyakinan kepada Allah, tetapi beliau selalu giat dan tekun dalam mengejar serta berusaha untuk bisa mewujudkan harapannya. Tatkala berhijrah ke Madinah bersama Abu Bakar , misalnya, Rasulullah menyewa seorang laki-laki musyrik sebagai penunjuk jalan untuk menghindari pantauan mata kaum musyrikin. Lihat pula pada Perang Uhud. Sebelum berperang, Nabi meninggalkan bekal yang cukup untuk keluarga beliau hingga kembali dari medan peperangan tersebut. Kemudian ketika hendak berperang, beliau mengenakan dua lapis baju zirah untuk melindungi diri dari serangan musuh. Beliau selalu berusaha melakukan yang terbaik sebelum menitipkan hasil usahanya kepada Allah. Karena itu beliau dijuluki al-Mutawakkil, yakni orang yang selalu bertawakal, merasa cukup dengan apa yang dimiliki meskipun sedikit, dan selalu bersabar dalam menanti pertolongan Allah.

Demikianlah bimbingan nabawi yang amat agung. Nabi selalu mengarahkan umatnya supaya bersungguh-sungguh dalam meraih apa-apa yang bermanfaat bagi mereka, barulah setelah itu menyerahkan segalanya keoada Allah dan ridha drngan keputusan-Nya. Maka dengan itu, Rasulullah membagi harapan manusia menjadi dua bagian.

Pertama, harapan yang mungkin diraih atau dihindari. Untuk mewujudkan harapan ini, seseorang harus berusaha sungguh-sungguh seraya meminta pertolongan Allah.

Kedua, sesuatu yang sudah menjadi takdirnya. Ia tidak mungkin meraih sesuatu yang ditakdirkan terluput darinya, atau sesuatu yang sudah ditakdirkan akan menimpa dirinya. Untuk urusan ini seseorang harus bersikap ridha, pasrah, dan tetap tenang dalam menjalaninya.

Dengan berpedoman dengan kaidah ini, insya Allah kita mendapatkan ketenangan dan kebahagiaan.

Buah Dan Keutamaan Tawakal

Diantara manfaat dan keutamaan tawakal kepada Allah.

  1. Dicintai Allah

Allah berfirman kepada Rasul-nya:

اِنَّ الَّذِيْنَ يَكْتُمُوْنَ مَآ اَنْزَلْنَا مِنَ الْبَيِّنٰتِ وَالْهُدٰى مِنْۢ بَعْدِ مَا بَيَّنّٰهُ لِلنَّاسِ فِى الْكِتٰبِۙ اُولٰۤئكَ يَلْعَنُهُمُ اللّٰهُ وَيَلْعَنُهُمُ اللّٰعِنُوْنَۙ

Artinya: “Maka berkat rahmat Allah engkau (Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya engkau bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekitarmu. Karena itu maafkanlah mereka dan mohonkanlah ampunan untuk mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian, apabila engkau telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sungguh, Allah mencintai orang yang bertawakal.” (QS. Ali Imran [3]: 159).

  1. Selalu Dicukupi Oleh Allah.

Seorang hamba yang hanya bergantung kepada Allah dalam setiap keadaan akan di tolong, dijaga, dibela, dan di cukupi kebutuhannya oleh-Nya.

  1. Masuk Surga tanpa Hisab

Imran bin Hushain meriwayatkan bahwa Nabi bersabda: “Tujuh puluh ribu umatku akan masuk Surga tanpa dihisab.” Para Sahabat bertanya: “Siapakah mereka, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab:

هم الذين لا يسترقون ولا يتطيرون ولا يكتوون وعلى ربهم يتوكلون

Artinya: “Mereka adalah orang yang tidak meminta diruqyah, tidak melakukan tathayyur[2], tidak berobat dengan cara kay[3], dan hanya kepada Rabb mereka bertawakal.”

Mendengar itu, Ukkasyah bin Mihshan langsung berdiri dan berkata: “Wahai Rasulullah, doakanlah aku agar termasuk golongan tersebut.” Beliau pun membalas: “Kamu salah satu dari mereka.” Kemudian seorang Sahabat lainnya berdiri dan meminta hal yang sama: “Wahai Rasulullah doakanlah aku agar termasuk golongan tersebut.” Namun beliau membalas: “Ukasyah telah mendahuluimu.”[4]

  1. Dihindarkan dari Gangguan Syaitan

Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah yang lalu, bahwa jika seorang keluar dari rumahnya dan berdoa:

بسم الله توكلت على الله لا حول ولا قوة إلا با لله .

“Dengan menyebut nama Allah, aku bertawakal kepada-Nya. Tiada daya dan upaya kecuali dengan izin-Nya.”

  1. Melapangkan Rezeki

Sesuai hadits Umar bin al-Khathab sebelumnya, bahwa Nabi Muhammad bersabda: “Seandainya kalian bertawakal kepada Allah sebenar-benarnya, pasti Dia akan menurunkan rezeki bagi kalian sebagaimana Dia memberikannya kepada burung. Burung pergi di pagi buta dalam keadaan lapar, lalu kembali pada waktu petang dalam keadaan kenyang.”[5]

  1. Mengusir Waswas dan Pesimistis

Manakala seorang hamba benar-benar bertawakal kepada Allah, niscaya perasaan takut, waswas, beserta pesimistis sirna dari hatinya.

  1. Menguatkan Hati

Manusia adalah makhluk yang lemah. Namun ketika sekarang bersandar kepada Allah, Rabb yang maha kuat, niscaya ia akan memperloleh kekuatan dan keteguhan hati.

REFERENSI:

Diringkas dari buku: Ensiklopedi Akhlak Salaf.

Karya: Ummu Ihsan dan Abu Ihsan al-Atsari.

Diringkas oleh: LIA MAULANA (pengajar ponpes Darul Qur’an Wal-Hadits OKUTimur).

Meriwayatkannya tanpa menyebutkan dzikir mengangkat pandagan kelangit.

1.HR. Al-Bukhari dan Muslim.

[2] Tathayyur mulanya merupakan istilah untuk ramalan nasib dengan menerbangkan burung. Jika ia terbang kearah kiri maka itu pertanda sial, namun  jika ia terbang kearah kanan maka itu pertanda baik. Lantas istilah ini berlaku untuk setiap anggapan sial karena melihat atau mendengar sesuatu.

[3] Kay adalah pengobatan dengan meletakan besi panas atau yang sejenisnya pada anggota tubuh yang sakit.

[4] HR. Al-Bukhari dan Muslim.

[5] HR. Abu Dawud (no. 5095), at-Tirmidzi (no. 3426), an-Nasai dalam al-Kabir (VI/5/9917) Ibnu Suni 022 05 24 1020zaya dari Anas bin Malik. Lihat Shahih Abu Dawud 178) (no. 4249), At-Tirmidzi menilai hadits ini shahih.

Baca juga artikel:

Agar Pernikahan Berkah

The Practice Of Sin Avoiding

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.