Pondok Pesantren Darul Qur'an Wal-Hadits Martapura OKU

DAHSYATNYA CINTA (KEINDAHAN CINTA DAN PERMASALAHANNYA)

dahsyatnya cinta

Siapakah di antara kita yang tidak mengenal akan cinta? Sungguh cinta bukan lagi suatu yang asing bagi kita. Bahkan setiap orang pernah merasakan cinta, setiap orang memiliki rasa cinta. Bagaimana terasa jika hidup tanpa cinta? Hampa dan hambar, roda peradaban seolah enggan terkayuh, kehidupan seakan berdenyut, nestapa bertahta, duka berkuasa, karenanya cinta merupakan anugerah yang patut disyukuri. Cinta kepada wanita, harta, anak, orang tua dan berbagai macam kenikmatan dunia menjadi tujuan utama cinta dari kebanyakan manusia. Dan cinta yang paling tinggi dan mulia adalah cinta seorang hamba kepada Rabbnya. Allah ta’ala berfirman:

زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ ٱلشَّهَوَٰتِ مِنَ ٱلنِّسَآءِ وَٱلْبَنِينَ وَٱلْقَنَـٰطِيرِ ٱلْمُقَنطَرَةِ مِنَ ٱلذَّهَبِ وَٱلْفِضَّةِ وَٱلْخَيْلِ ٱلْمُسَوَّمَةِ وَٱلْأَنْعَـٰمِ وَٱلْحَرْثِ ۗ ذَٰلِكَ مَتَـٰعُ ٱلْحَيَوٰةِ ٱلدُّنْيَا ۖ وَٱللَّهُ عِندَهُۥ حُسْنُ ٱلْمَـَٔابِ.

Artinya: “Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (Surga).” (QS. Ali-Imran: 14)

Detik-detik kehidupan, denyut nadi serta setiap pergerakan manusia begitu juga pengorbanan dalam hidup menjadi ringan dengan datangnya cinta yang merasuk ke dalam jiwa. Juga menjadi cahaya tatkala manusia dirundung kegundahan dan kegelisahan, menjadi penyejuk di tengah gersangnya kehidupan. Namun tak dipungkiri pula bahwasanya karenanya pula banyak manusia terutama pemuda dan pemudi di zaman ini terperosok ke dalam duka dan terpenjara dalam kenistaan. Lalai dari yang Maha Kuasa, mereka rela menerobos rambu-rambu syariat agama demi menggapainya atau merasakannya.

Memang, apabila kita membahas dan mengupas tentang masalah cinta, ini adalah merupakan suatu sensasi karena cinta adalah suatu kebutuhan manusia, bahkan kata Al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullah:

“Motor penggerak kehidupan manusia itu adalah cinta.”

Karena memang benar bahwa manusia tidak bisa hidup tanpa cinta. Misal manusia cinta kepada:

  • Makanan, karena adanya cinta kepada makanan itulah maka dia mau makan.
  • Wanita (lawan jenis), karena adanya cinta itulah dia mau menikah.
  • Harta, karena adanya cinta itulah dia mau mencari harta.
  • Kedudukan dan jabatan, karena adanya cinta itu dia mau mencari kedudukan.

Dan secara umum semangatnya seseorang itu tergantung kepada apa-apa yang dicintainya, menjadi semangat karena ada cin.ta dan apabila tak ada cin.ta maka tidak akan semangat.

Orang yang sangat cinta harta, maka usahanya mencari harta juga sangat luar biasa, bahkan dia tidak peduli apakah hartanya halal atau haram.

Orang yang sangat cin.ta kedudukan maka dia akan bersungguh-sungguh untuk mendapatkan kedudukan itu, bahkan dia tidak peduli apakah caranya diridhai oleh Allah subhanahu wata’ala atau tidak.

Orang yang sangat cin.ta kepada sesuatu biasanya dia akan sangat semangat pula mencari sesuatu itu, walaupun caranya tidak betul.

Siapakah yang pernah putus cin.ta?

Bayangkan, betapa ketika seseorang putus cinta maka makan saja menjadi enggan, melakukan aktivitas apa pun juga enggan, karena perasaannya senantiasa tak nyaman, diselimuti kegundahan karena beratnya cinta.

Dan ternyata, kita harus hidup dengan cinta. Kita tidaklah mungkin hidup tanpa cinta. Oleh karena itu, Islam datang untuk meluruskan yang namanya cinta, untuk menempatkan yang namanya cinta. Cinta harus tetap pada tempatnya karena kalau tidak, maka ini akan menghancurkan kehidupan manusia.

Cinta ini harus kita pelajari, apa sebabnya cin.ta itu muncul? Kenapa kita bisa jatuh cin.ta? Bagaimana saat cinta itu muncul? Apa yang harus kita lakukan? Dan bagaimana kita menempatkan cinta pada tempatnya?

Sehingga cinta itu tidak membawa kerusakan.

Sebab-sebab Munculnya Cinta

Para ulama -semoga Allah merahmati mereka- mengatakan, bahwa munculnya cin.ta itu karena 4 sebab, di antaranya:

Sebab pertama: Fisik yang indah

Saya (penulis) yakin, kita laki-laki menyukai wanita yang memiliki fisik yang indah, begitu juga sebaliknya. Fitrah manusia suka melihat sesuatu yang indah, misal pemandangan yang indah, mobil yang mewah.

Namun, cin.ta yang berdasarkan keindahan fisik maka tidak akan tahan lama, karena:

  • Keindahan itu sifatnya akan pudar.
  • Ketika melihat ada yang lebih indah.

Sebab Kedua: Keindahan yang bersifat maknawi (sifat, akhlak, agama)

Kita tentu menyukai orang yang akhlaknya baik; senan membantu, sering senyum, shalatnya rajin, takwa. Sebab kedua ini biasanya lebih kekal daripada sebab pertama.

Sebab Ketiga: Berupa Jasa

Artinya, apabila ada orang banyak berbuat baik, maka tentunya kita akan mencintainya, itulah tabi’at manusia.

Sebab Keempat: Berupa Fitrah

Sebab ini sulit untuk ditolak, contoh: seorang ayah mencintai anaknya, suami yang cin.ta kepada istrinya, seorang anak kepada orang tuanya walaupun orang tua kita kafir, maka rasa cin.ta itu akan selalu tetap ada.

Inilah empat macam sebab munculnya cin.ta. Dari 4 sebab ini yang dianjurkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah sebab yang kedua.

Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda:

(تُنْكَحُ المَرْأَةُ لأرْبَعٍ: لِمالِها ولِحَسَبِها وجَمالِها ولِدِينِها، فاظْفَرْ بذاتِ الدِّينِ، تَرِبَتْ يَداكَ)

Artinya: “Wanita dinikahi karena 4 perkara; karena kecantikannya, hartanya, keturunannya, agamanya. Pilihlah yang memiliki agama, niscaya kamu bahagia.” (HR. Muttafaqun ‘alaihi)

Namun, terkadang ada wanita yang agamanya baik tetapi secara fisik kurang cantik, sehingga para ulama berbeda pendapat dalam hal mendahulukan, apakah agama dulu atau kecantikan.

Imam Abu Hanifah lebih memilih kecantikan karena menurut beliau -semoga Allah merahmatinya- jika agama bisa dididik. Tujuan menikah adalah untuk menundukkan pandangan kita sehingga istri harus cantik.

Sebenarnya cantik dan ganteng memang perlu dan dibutuhkan. Sehingga Imam Ahmad memberikan tips: pertama tanyakan kecantikannya dahulu baru kemudian tanyakan agamanya. Agar jika kita tolak adalah karena agamanya, bukan karena kecantikannya.

Cin.ta di dalam kehidupan adalah bagaikan garam di dalam sayur. Lalu apa saja yang menjadi jendela-jendela cin.ta? Al-Imam Ibnul Qoyyim rahimahullah berkata: “Jendela cin.ta itu adalah mata.”

Kalau istilah orang Indonesia:

Dari mana datangnya lintah.. Dari sawah turun ke kali..

Dari mana datangnya cin.ta.. Dari mata turun ke hati..

Ketika melihat wanita yang cantik maka akan masuk ke hati sehingga kepikiran. Apabila kepikiran terus, maka akan muncul niat. Dalam istilah awam: lihat.. ingat.. pikat.. ikat.. sikat.

Tetapi dalam Islam tidak seperti itu caranya.

Bimbingan Syariat Islam tentang Cinta

Lalu bagaimanakah Islam menempatkan cin.ta? Ini adalah pembahasan yang sangat penting karena cin.ta itu bisa menjadikan seseorang murtad dan betapa banyak kesyirikan yang terjadi di muka bumi adalah disebabkan oleh cin.ta.

Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhu ketika menafsirkan firman Allah subhanahu wata’ala:

كَانَ ٱلنَّاسُ أُمَّةًۭ وَٰحِدَةًۭ فَبَعَثَ ٱللَّهُ ٱلنَّبِيِّـۧنَ مُبَشِّرِينَ…

Artinya: “Adalah manusia itu tadinya satu aqidah, kemudian Allah mengutus para Nabi untuk memberikan kabar gembira dan peringatan.” (QS Al-Baqarah: 213)

Kata Ibnu Abbas: “Sepuluh generasi dari anak Adam semuanya di atas aqidah Tauhid, kemudian datang suatu kaum yang di mana apabila orang-orang shalih di antara mereka meninggal dunia maka mereka gambar (lukis wajahnya) karena rasa cin.ta kepada orang shalih tersebut.”

Apakah untuk disembah? Tidak, belum, tetapi untuk memberikan motivasi dalam beribadah. Lalu datanglah suatu kaum yang tidak tahu menahu, akhirnya terjadilah penyembahan.

Al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullah menyebutkan tingkatan-tingkatan cin.ta, yaitu:

  1. Mahabbah

Yaitu ketika perasaan hati sudah mulai menyukai. ‘Mahabbah’ ketika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia sebenarnya bukan cin.ta, akan tetapi suka.

  1. Shahabah

Ketika cinta di hati ini sudah menguat di hati maka menjadi ‘shahabah’. Dan ketika kita selalu ingat akan yang kita cintai tersebut maka disebut ‘isyq’.

  1. Isyq

Kata-kata ‘Isyq’ adalah dari kata ini, yaitu عَاشِقٌ (orang yang terkena isyq). Saking cintanya, maka dia selalu ingat terus.

  1. Thathayyum

Merupakan cin.ta yang paling tinggi dan sudah bernilai ibadah. Inilah cin.ta yang disertai pengagungan dan ketundukan. Maka apabila cin.ta kepada seseorang sudah sampai derajat ini maka inilah cin.ta yang syirik, karena cin.ta ini hanya boleh untuk Allah semata. Dalam Al-Qur’an surat al-Baqarah:165, Allah menyebutkan ada orang yang menjadikan tandingan selain Allah dalam cin.ta.

وَمِنَ ٱلنَّاسِ مَن يَتَّخِذُ مِن دُونِ ٱللَّهِ أَندَادًۭا يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ ٱللَّهِ ۖ

Artinya: “Diantara manusia ada yang menjadikan tandingan-tandingan selain Allah, mereka mencintai tandingan itu seperti mencintai Allah.” (QS. Al-Baqarah: 165)

Ketika kita mencintai wanita sehingga lebih mencintainya daripada Allah, maka bisa jadi termasuk ke dalam derajat cin.ta yang disebutkan ayat di atas. Padahal sesungguhnya derajat cin.ta tertinggi ini hanyalah untuk ditujukan kepada Allah, yang apabila ditujukan untuk selain Allah maka dapat menyebabkan kesyirikan dan menduakan Allah.

Lalu bagaimana Islam memberikan bimbingan kepada kita tentang cin.ta?

Kata Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:

Sekuat-kuat iman adalah cinta karena Allah dan benci karena Allah.”

Islam mengikat cin.ta daengan Allah (keidhaan Allah) kata Ibnul Qayyim:

Di antara sepuluh perkara yang tidak bermanfaat, di antaranya adalah:

Rasa cinta yang tidak diikat dengan keridhaan Allah. Bahkan berkata Ibnul Qayyim dalam kitab Fawaaidul Fawaaid: “Cin.ta yang bukan di jalan Allah, hakikatnya adalah siksaan bagi bathin orang yang melakukan.”

Itu adalah akibat dari cinta yang tidak didasarkan atas keridhaan Allah, yaitu tersiksa batinnya, tersiksa di dunia sebelum tersiksa di kuburannya. Ini adalah musibah karena cinta ini adalah semu.

Tetapi, apabila cinta yang diikat dengan keridhaan Allah, maka inilah cinta yang hakiki dan sejati. Cinta seperti ini tidaklah akan berkurang walaupun orang yang kita cintai itu pernah melakukan sesuatu yang tidak kita sukai atau bahkan orang itu mencintai orang lain dan tidak mencintai kita. Karena apa?

Karena kita mencintai Dia karena Allah, karena ketaqwaannya dan akhlaknya. Cin.ta seperti ini yang akan kekal dan akan menumbuhkan rasa manisnya iman di dalam hati.

Makanya, cinta karena Allah itu jauh lebih indah dibandingkan cinta karena syahwat. Tetapi, apakah mungkin ada seorang lelaki tidak mencintai seorang wanita dan begitu sebaliknya? Ya, itu fitrah manusia. Dan solusinya mudah, segera pergi ke ayah wanitanya kemudian melamar, tak ada pacaran. Ketahuilah pacaran setelah menikah sungguh jauh lebih indah dan nikmat daripada pacaran sebelum menikah, yang kenikmatan ini hanya bisa dirasakan oleh orang yang sudah menikah.

Di zaman fitnah wanita sangatlah luar biasa. Islam mengatur bagaimana antara laki-laki dan wanita itu tersalurkan, yaitu dengan cara menikah.

Kata Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam: “Wahai para pemuda, barang siapa dari kalian yang telah mampu nikah, maka hendaklah ia menikah, karena itu lebih bisa menundukkan mata dan menjaga kemaluan.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Akan tetapi di zaman ini, ada masalah besar yang menyebabkan jatuh cinta sebelum menikah, yaitu pergaulan bebas, misalnya campur baur.

Inilah yang menyebabkan terjadinya hal-hal yang tidak diridhai oleh Allah; pacaran, berdua-duaan, terkadang jatuh cinta juga bisa terjadi karena media facebook, sering chattingan, sms sehingga semakin mudah syaitan menggoda.

Setan mudah menggoda melalui cin.ta harta, cinta kedudukan dan wanita karena ini adalah pintu-pintu yang mudah manusia digoda darinya sehingga sering disinggahi syaitan.

Sadarilah wahai para lelaki, bahwa fitnah terberat bagi para lelaki adalah wanita. Karenanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengatakan: “Aku tidak meninggalkan satu fitnah pun yang lebih membahayakan para lelaki selain fitnah wanita.” (HR. Bukhari: 5096 dan Muslim : 2740 dari Usamah bin Zaid)

 

REFERENSI:

Diringkas dari buku: Dahsyatnya Cinta, keindahan cinta dan permasalahannya

Penulis: Ustadz Abu Yahya Badrusalam

Diringkas Oleh: Fauzan Alexander (Staf Ponpes Darul-Quran Wal-Hadits OKU Timur)

 

BACA JUGA:

Be the first to comment

Ajukan Pertanyaan atau Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.