Pondok Pesantren Darul Qur'an Wal-Hadits Martapura OKU

Akhlak Wanita Muslimah

AKHLAK WANITA MUSLIMAH

AKHLAK WANITA MUSLIMAH

Akhlak adalah cerminan keimanan seseorang. Rendah dan tingginya akhlak menjadi indikator kuat bagi keimananya. Semakin tinggi akhlak seseorang, maka semakin tinggi pula keimananya, begitu pula sebaiknya. Hadirnya artikel ini berguna untuk mengingatkan kembali urgensi akhlak bagi umat ini. Artikel ini juga sarat dengan pesan-pesan moral dan akhlak yang memotivasi agar berakhlak mulia dan menjauhi akhlak tercela. Sentuhan nasehat di dalamnya diharapkan dapat mengaktualisasikan kembali nilai-nilai akhlak dalam diri, keluarga, dan masyarakat kita. Semoga kita menemukan segala sesuatu yang bermanfaat pada artikel tentang akhlak wanita muslimah.

Kata pokok (dasar) akhlak adalah khalaqa, khaliqun, dan makhluqun, kata sifatnya adalah akhlaqun. Akhlak Islami pengertiannya perangkat tata nilai bersifat samawi dan azali, yang mewarnai cara berfikir, bersikap dan bertindak seorang Muslim terdapat dirinya, terhadap Allah dan Rasul-Nya, terdapat sesamanya dan terdapat lingkungannya. Samawi berarti bahwa akhlak ini seluruhnya bersumber pada Al-Qur’an dan Al-Hadits, sedangkan azali berarti bahwa akhlak Islam tersebut bersifat tetap, tidak berubah, walaupun tata nilai atau norma-norma dalam kehidupan bermasyarakat berubah sesuai dengan perubahan  masa dan keadaan. Akhlak bukanlah sekedar perilaku manusia yang bersifat bawaan lahir, tapi merupakan salah satu dari dimensi kehidupan seorang Muslim yang mencakup akidah, ibadah, akhlak, dan syari’ah. Karena itu, akhlak Islami cakupannya sangat luas, yakni: ethos, ethis, moral, dan estetika. Keterangannya sebagai berikut:

  1. Ethos, yang mengatur hubungan seseorang dengan khaliknya, al-Mabud bi haq serta kelengkapan uluhiyah dan rububiyah, seperti: terhadap rasul-rasul Allah, kitab-kitabn-Nya, dan sebagainya.
  2. Ethis, yang mengatur sikap seseorang terhadap dirinya dan terhadap sesamanya dalam kegiatan kehidupan sehari-harinya.
  3. Moral, yang mengatur hubungannya dengan sesamanya, tapi berlainanan jenis dan atau yang menyangkut kehormatan tiap pribadi.
  4. Estetika, rasa keindahan yang mendorong seseorang untuk meningkatkan keadaan dirinya serta lingkungannya, agar lebih indah dan menuju kesempurnaan.
  5. Akhlak terhadap Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Setiap pribadi Muslim wajib berakhlak terhadap Allah Subhanahu Wa Ta’ala dengan akhlak sebagai berikut:

  1. Mengabdi hanya kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala, tidak akan mempersekutukan-Nya dengan apa pun dalam bentuk apa pun dan keadaan situasi dan kondisi yang bagaimanapun.
  2. Tunduk dan patuh pada ketentuan-ketentuan dan hukum Allah yang bersifat abadi. Tidak berubah sepanjang masa dan tidak akan dapat diubah oleh siapa pun, berbeda dengan ketentuan dan ketetapan undang-undang yang dibuat oleh manusia.
  3. Berserah diri kepada ketentuan Allah, karena qahda dan qadar-Nya adalah terbaik.
  4. Bersyukur atas semua nikmat yang diberikan Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang tidak terhitung jumlahnya.
  5. Ikhlas dan ridha menerima keputusan Allah setelah berusaha dan bertawakal.
  6. Penuh pengharapan terhadap janji dan pertolongan Allah setelah bermujahadah.
  7. Takut dengan rasa tunduk dan patuh bila tidak dapat melaksanakan perintah Allah.
  8. Takut terhadap siksa Allah, adalah bukti takut melanggar semua perintah Allah.
  9. Berdoa memohon pertolongan kepada Allah.
  10. Cinta dengan penuh harap kepada Allah.
  11. Takut kehilangan rahmat Allah.
  12. Akhlak terhadap Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam.

Akhlak terhadap Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam ialah sebagai berikut:

  1. Ikhlas menyatakan pengakuan dan bersakasi bahwa Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam adalah rasul Allah.
  2. Mengucapkan shalawat dan salam kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam.
  3. Taat kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam.
  4. Cinta kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam.
  5. Percaya atas semua berita yang disampaikan Rasulullah Shallallahu Alaihi wasallam.

TIdak boleh mengabaikan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam.

  1. Menghidupkan sunnah Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam.
  2. Menghormati para ulama dan mujahid sebagai pewaris Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam.
  3. Laksananakan hukum Allah dan Rasulullah.
  4. Akhlak terhadap Al-Qur’an.

Akhlak terhadap Al-Qur’an adalah sebagai berikut:

  1. Membaca Al-Qur’an harus khusyu’
  2. Membaca Al-Qur’an harus dengan isti’adzah, yakni dengan membaca:

اعوذ بالله من الشيطان الرجيم

“Aku berlindung kepada Allah dari godaan syetan yang terkutuk.”

  1. Membaca Al-Qur’an diawali pula dengan basmallah.
  2. Membaca Al-Qur’an harus dengan suara yang baik dan merdu.

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:

زينوا اقران بأصواتكم

Artinya:

“Hiasilah Al-Qur’an dengan suaramu.” (Diriwayatkan Ahmad, Ibnu Majah, An-Nasa’I dan Hakim).

  1. Membaca Al-Qur’an sesuai dengan ilmu tajwid.
  2. Memahami ayat Al-Qur’an yang dibaca.
  3. Mendengarkan dengan tenang ayat Al-Qur’an yang dibaca.
  4. Mengamalkan isi kandungan Al-Qur’an.
  5. Berdoa setelah membaca Al-Qur’an.

روي عن أنس رضي الله عنه انه اذا ختم القران جمع اهله ودعا

Artinya: “Diriwayatkan dari Anas bin Malik Radhiyallahu Anhu, bahwasanya apabila telah khatam membaca Al-Qur’an, keluarganya berkumpul dan berdoa.” (Diriwayatkan Abu Daud).

  1. Akhlak terhadap Orang Tua.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman: “Dan, Rabbmu telah memerintahkan supaya kalian jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kalian berbuat baik kepada ibu bapak kalian dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya samapi berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kau mengatakan kepada keduanya perkataan ‘Ah’ dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah, ‘Wahai Rabbku, kasihilah mereka berdua, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku sewaktu kecil’.” (QS. Al-Isra’: 23-24)

Dari Ibnu Mas’ud Radhiyallahu Anhu dari Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam beliau bersabda:

بروا اباءكم تبركم أبناؤكم وعفوا تعف نساؤكم

Artinya: “Berbaktilah kepada bapak-bapak kalian, niscaya anak-anak kalian akan berbakti pula kepada kalian akan berbakti pula kepada kalian, dan tahanlah diri kalian (dari hal-hal yang hina), niscaya istri-istri kalian juga akan menahan diri (dari hal-hal yang hina).” (Diriwayatkan Ath-Thabarani).

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu, dia berkata, “Ada seorang laki-laki mendatangi Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam, seraya bertanya, ‘Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling berhak untuk ku pergauli dengan cara yang baik?’”

Beliau menjawab, “Ibumu.”

Dia bertanya, “Kemudian siapa lagi?”

Beliau menjawab, “Ibumu.”

Dia bertanya, “Kemudian siapa lagi?”

Beliau menjawab, “Ibumu.”

Dia bertanya, “Kemudian siapa lagi?”

Beliau menjawab, “Bapakmu”. (Diriwayatkan Asy-Syaikhani).

Dari Ibnu Amr Al-Ash, dia berkata, “Ada seorang laki-laki mendatangi Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam, seraya meminta izin untuk ikut berjihad. Beliau bertanya, “Apakah kedua orang tuamu masih hidup?”

Orang itu menjawab, “Masih”

Beliau bersabda, “Berjihadlah untuk mengurusi keduanya.” (Diriwayatkan Asy-Syaikhani dan lain-lainnya).

Adapun dasar-dasar akhlak terhadap orang tua adalah sebagai berikut:

  1. Harus menaati kedua orang tua dalam urusan apa pun selagi di dalamnya tidk terkandung kedurhakaan.
  2. Berbicara di hadapan kedua orang tua dengan cara yang lembut.
  3. Tidak berbicara keras di hadapan keduanya.
  4. Menyimak perintah keduanya dengan penuh perhatian.
  5. Tidak bermuka masam di hadapan keduanya, dengan alasan apa pun.
  6. Tidak memotong perkataan keduanya tatkala sedang berbicara.
  7. Tidak tidur terlentang di hadapan keduanya kecuali dengan meminta izin terlebih dahulu.
  8. Tidak keluar rumah jika keduanya belum mengizinkan.
  9. Tidak memuji-muji orang lain dihadapan keduanya.
  10. Tidak membuat suatu keputusan kecuali telah meminta pendapat keduanya, sebab mereka berdua memiliki pengalaman hidup lebih banyak.
  11. Tidak boleh mengagetkan jika keduanya sedang tidur.
  12. Segera menjawab seruan keduanya.
  13. Langsung memenuhi perintah keduanya.
  14. Memberikan hadiah kepada keduanya pada saat-saat twrtentu yang dirasa tepat, seperti: saat Idul Fitri atau Idul-Adha.
  15. Memuliakan rekan-rekan keduanya.
  16. Sabar mengurusi keduanya setelah usianya lanjut.
  17. Mendoakan keduanya, mengeluarkan shadaqah atas nama keduanya, memintakan ampunan, menyahur hutang-hutangnya, baik hutang harta atau ibadah, seperti puasa dan haji setelah keduanya meninggal dunia.
  18. Akhlak terhadap Diri Sendiri.

Akhlak setiap orang beriman terhadap dirinya sendiri adalah sebagai berikut:

  1. Meninggalkan setiap perkara yang dapat merusak kesehatan jasmani dan ruhani.
  2. Memelihara diri dengan sifat-sifat yang terpuji. Diantaranya adalah:

-’Iffah, ialah mengekang diri dari mempersekutukan hawa nafsu.

– Tasawun, ialah menjaga diri dari tingkah laku yang tidak senonoh.

– Alwafaa, ialah sikap sabar, tabah hati, dan dapat mengendalikan dari dari pengaruh teman yang tidak berbudi.

-Tawadhu’, ialah rendah hati.

-Murwah, ialah sifat yang selalu memelihara diri dari segala perkara yang terlarang dalam agama.

-Haya’, ialah malu dalam segala perkara batil.

-Sederhana dalam berbicara dan berpakaian.

-Zuhud, ialah tidak mengambil bagian dari kehidupan dunia secara berlebih-lebihan.

– Wara’, ialah menjauhkan diri dari barang yang haram dan syubhat (sifatnya meragukan, antara halal dan haram). Terhadap  yang halal dan mubah mengambilnya hanya sekedar yang diperlukan.

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:

كل لحم نبت من سحت فالنار أولى به.

Artinya: “Tiap-tiap daging yang tumbuh dari yang haram maka neraka itu lebih utama melayaninya.” (Diriwayatkan Hakim).

– Qana’ah, ialah merasa cukup dengan apa yang ada dari hasil usahannya.

– Hidup bersih.

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:

الطهور شطر الايمان

Artinya: “Kebersihan itu sebagian dari iman.” (HR. Muslim)

– Memanfaatkan waktu senggang untuk beribadah.

– Setiap pekerjaan dimulai dengan basmallah.

– Mendahulukan yang kanan untuk perbuatan baik.

  1. Menjauhi semua sifat-sifat yang tercela. Di antaranya adalah sebagai berikut:

– Bunuh diri.

– Pemalas.

– Penakut.

– Putus asa.

– Sombong (takabur).

Demikianlah semoga artikel ini bermanfaat bagi kita semua, dan semoga kita selalu dalam lindungan Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan mengistiqomahkan kita dalam Islamnya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam.

REFERENSI:

Referensi:  Al-Barik, Haya binti Mubarak. Ensiklopedi Wanita Muslimah. Bekasi: Darul Falah, 2013.

Disusun oleh: Suci Wahyuni (pengabdian Ponpes Darul Qur’an Wal Hadits)

Baca juga artikel:

Hamzah dan Umar Menyambut Seruan Islam

Hati Yang Selalu Qonaah

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.