Waspada dari Perusak-Perusak Amal

waspada-dari-perusak-amal

Tentunya setiap Muslim tidak ingin pundi-pundi amal yang ia kumpulkan menjadi sia-sia begitu saja disebabkan perkara-perkara yang dapat merusak pahala amalannya. Oleh sebab itu, hendaknya setiap Muslim selalu bersikap waspada dari perkara-perkara tersebut.

Di antara perusak-perusak amal adalah:

  1. Beramal Kufur

Allah Subhanahu Wata’ala  berfirman  :

وَمَنْ يَكْفُرْ بِالْإِيمَانِ فَقَدْ حَبِطَ عَمَلُهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ

‘’…Barangsiapa yang kufur (tidak menerima hokum-hukum islam) sesudah beriman, maka hapuslah amalannya dan ia pada akhirat termasuk orang-orang yang merugi.’’(QS.Al-Ma’idah [5]:5)

  1. Berbuat Syirik

Allah Subhanahu Wata’ala  berfirman :

وَلَقَدْ أُوحِيَ إِلَيْكَ وَإِلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ

‘’Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (Nabi-Nabi) sebelummu, jika kamu mempersekutukan (Allah), niscaya akan hapuslah amalanmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi’,’’(QS. Az-Zumar [39]:65)

وَقَدِمْنَا إِلَى مَا عَمِلُوا مِنْ عَمَلٍ فَجَعَلْنَاهُ هَبَاءً مَنْثُورًا

‘’Dan kami akan perlibatkan segala amal yang mereka kerjakan, lalu kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang berterbangan…’’

Allah Subhanahu Wata’ala  juga berfirman, mengabarkan tentang keadaan seluruh para Rasul :

وَلَوْ أَشْرَكُوا لَحَبِطَ عَنْهُمْ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

‘’…Seandainya mereka mempersekutukan Allah, niscaya lenyaplah dari mereka amalan-amalan yang telah mereka kerjakan.’’(QS. Al-An’am [6]: 88)

 

  1. Murtad dari Islam

Allah Subhanahu Wata’ala  berfirman:

وَمَنْ يَرْتَدِدْ مِنْكُمْ عَنْ دِينِهِ فَيَمُتْ وَهُوَ كَافِرٌ فَأُولَئِكَ حَبِطَتْ أَعْمَالُهُمْ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَأُولَئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ

‘’Barangsiapa yang murtad diantara kamu dari agamanya, lalu ia mati dalam kekafiran, maka mereka itu sia-sia amalnya didunia dan di akhirat, dan mereka itulah penghuni Neraka, mereka kekal didalamnya.’’ (QS. Al-Baqarah [2]: 217)

  1. Riya’

Riya’ terbagi menjadi dua bagian :

Pertama: Seseorang beramal dengan maksud selain Allah. Maka ini adalah syirik yang bisa menghapuskan amal, dan sebagian ulama mengatakan bahwa hal itu adalah syirik dalam niat, maksud, dan tujuan. Allah Subhanahu Wata’ala  berfirman :

مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَزِينَتَهَا نُوَفِّ إِلَيْهِمْ أَعْمَالَهُمْ فِيهَا وَهُمْ فِيهَا لَا يُبْخَسُونَ (15) أُولَئِكَ الَّذِينَ لَيْسَ لَهُمْ فِي الْآخِرَةِ إِلَّا النَّارُ وَحَبِطَ مَا صَنَعُوا فِيهَا وَبَاطِلٌ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ (16)

‘’Barangsiapa menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, pasti kami berikan (balasan) penuh atas pekerjaan mereka di dunia (dengan sempurna) dan mereka di dunia tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh (sesuatu) di akhirat kecuali neraka, dan sia-sialah disana apa yang telah mereka usahakan (di dunia) dan terhapuslah apa yang telah mereka kerjakan.’’ (QS. Hud [11]: 15-16)

Kedua: Seseorang beramal untuk mencari keridhaan Allah Subhanahu Wata’ala  kemudian riya’ datang menjangkitinya setelah ia memulai amalnya, maka ini adalah syirik kecil.

Allah Subhanahu Wata’ala  telah mencela perbuatan riya’. Allah Subhanahu Wata’ala  berfirman :

كَالَّذِي يُنْفِقُ مَالَهُ رِئَاءَ النَّاسِ وَلَا يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَمَثَلُهُ كَمَثَلِ صَفْوَانٍ عَلَيْهِ تُرَابٌ فَأَصَابَهُ وَابِلٌ فَتَرَكَهُ صَلْدًا لَا يَقْدِرُونَ عَلَى شَيْءٍ مِمَّا كَسَبُوا وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْكَافِرِينَ (264)

‘’… Seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya;(pamer) kepada manusia dan tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Maka perumpamaan orang itu seperti batu itu ditimpa hujan lebat, maka tingallah batu itu licin lagi (tidak berdebu). Mereka itu tidak menguasai sesuatu apapun dari apa yng mereka usahakan, dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang kafir.’’(QS. Al-Baqarah [2]: 264)

  1. Mengungkit-ungkit Kebaikan serta Menyakiti Hati

Allah Subhanahu Wata’ala berfirman :

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُبْطِلُوا صَدَقَاتِكُمْ بِالْمَنِّ وَالْأَذَى

‘’Wahai orang-orang yang beriman janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima)…’’(QS. Al-Baqarah [2]264)

Allah Subhanahu Wata’ala  berfirman :

قَوْلٌ مَعْرُوفٌ وَمَغْفِرَةٌ خَيْرٌ مِنْ صَدَقَةٍ يَتْبَعُهَا أَذًى وَاللَّهُ غَنِيٌّ حَلِيمٌ (263)

‘’Perkataan baik dan pemberian maaf lebih baik dari pada sedekah yang di iringi dengan sesuatu yang menyakitkan (perasaan si penerima). Allah Maha Kaya lagi Maha Penyantun.’’(QS. Al-Baqarah[2]: 263)

  1. Mendustakan Takdir

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam  bersabda:

قَالَ لَوْ أَنَّ اللَّهَ عَذَّبَ أَهْلَ سَمَاوَاتِهِ وَأَهْلَ أَرْضِهِ عَذَّبَهُمْ وَهُوَ غَيْرُ ظَالِمٍ لَهُمْ وَلَوْ رَحِمَهُمْ كَانَتْ رَحْمَتُهُ خَيْرًا لَهُمْ مِنْ أَعْمَالِهِمْ وَلَوْ أَنْفَقْتَ مِثْلَ أُحُدٍ ذَهَبًا فِي سَبِيلِ اللَّهِ مَا قَبِلَهُ اللَّهُ مِنْكَ حَتَّى تُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ وَتَعْلَمَ أَنَّ مَا أَصَابَكَ لَمْ يَكُنْ لِيُخْطِئَكَ وَأَنَّ مَا أَخْطَأَكَ لَمْ يَكُنْ لِيُصِيبَكَ وَلَوْ مُتَّ عَلَى غَيْرِ هَذَا لَدَخَلْتَ النَّارَ

‘’Andaikata Allah megadzab semua penghuni langit dan bumi-Nya, niscaya Allah mengadzab mereka, dan Allah tidak mendzalimi terhadap mereka. Dan, andaikata Allah merahmati mereka, maka rahmat-Nya itu lebih baik bagi mereka dari amal-amal mereka. Andaikata engkau membelanjakan emas seperti gunung Uhud di jalan Allah, maka Allah tidak akan menerima amalmu sehingga engkau beriman kepada takdir, dan engkau tahu bahwa apa yang (ditakdirkan) menimpamu tidak akan luput darimu. Dan apa yang (ditakdirkan untuk) tidak mengenaimu, maka hal itu tidak akan menimpamu. Andaikata engkau mati tidak (berkeyakinan) seperti ini, maka engkau akan masuk Neraka.” (HR. Abud Dawud)

  1. Meninggalkan Shalat ‘Ashar

Allah Subhanahu Wata’ala  memperingatkan manusia supaya  tidak meninggalkan shalat al-Wustha (shalat ‘Ashar) disebabkan sibuk mengejar harta, mementingkan keluarga maupun urusan keduniaan lainnya. Bahkan, Allah Subhanahu Wata’ala  mengancam keras pelakunya.

Allah Subhanahu Wata’ala  berfirman :

فَوَيْلٌ لِلْمُصَلِّينَ (4) الَّذِينَ هُمْ عَنْ صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ (5)

‘’Maka celakalah bagi orang-orang yang shalat,(yaitu) orang yang lalai dari shalatnya.’’(QS. Al-Ma’un [107]: 4-5)

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:

الَّذِي تَفُوتُهُ صَلَاةُ الْعَصْرِ كَأَنَّمَا وُتِرَ أَهْلَهُ وَمَالَهُ

‘’ Orang yang tidak mengerjakan shalat ‘Ashar, seakan-akan dia kehilangan keluarga dan hartanya.’’

  1. Menentang Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam dengan Ucapan atau Amalan

Allah Subhanahu Wata’ala berfirman :

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَرْفَعُوا أَصْوَاتَكُمْ فَوْقَ صَوْتِ النَّبِيِّ وَلَا تَجْهَرُوا لَهُ بِالْقَوْلِ كَجَهْرِ بَعْضِكُمْ لِبَعْضٍ أَنْ تَحْبَطَ أَعْمَالُكُمْ وَأَنْتُمْ لَا تَشْعُرُونَ (2)

‘’Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu neninggikan suaramu melebihi suara Nabi,. Dan janganlah kamu berkata kepadanya dengan suara keras sebagaimana kerasnya  (suara) sebagian kamu terhadap sebagian yang lain agar tidak menghapus (pahala) amalanmu, sedang kamu tidak menyadarinya.’’(QS. Al-Hujurat [49]: 2)

  1. Berbuat Bid’ah dalam Agama

Mengerjakan perbuatan bid’ah dalam agama akan dapat menggugurkan amal dan menghapuskan pahala.

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam  bersabda:

‘’Barangsiapa mengamalkan suatu amalan yang tidak atas dasar dari urusan agama kami, maka amalan itu tertolak.’’

  1. Melanggar Batasan Allah Subhanahu Wata’ala

Dari Tsauban Radiallahu ‘anhu, dari Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam, beliau bersabda:

لَأَعْلَمَنَّ أَقْوَامًا مِنْ أُمَّتِي يَأْتُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِحَسَنَاتٍ أَمْثَالِ جِبَالِ تِهَامَةَ بِيضًا فَيَجْعَلُهَا اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ هَبَاءً مَنْثُورًا

‘’Aku benar-benar mengetahui tentang orang-orang dari ummatku yang datang pada hari Kiamat dengan membawa banyak kebaikan seperti gunung Tihamah  yang berwarna putih, lalu Allah menjadikan kebaikan-kebaikan itu seperti debu yang berhamburan.’’

Tsauban bertanya,’’ Wahai Rasulullah, sebutkan sifat-sifat mereka kepada kami dan jelaskan kepada kami, agar kami tidak termasuk diantara mereka, sedang kami (dalam keadaan) tidak tahu.” (HR. Ibnu Majah)

 

Referensi:

‘’Waspada dari Perusak-Perusak Amal’’,bab 27 kitab’’Amalan Sunnah Setahun’’Karya Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Penerbit Pustaka  Khazanah Fawa’id, Syawwal 1438 H/Juli 2017 M; Muharram 1439 H/September 2017 M.

Disusun oleh: Ustadzah Nurul Latifah

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.