WASIAT-WASIAT ULAMA TERDAHULU

wasiat-wasiat-ulama-terdahulu

Wasiat-wasiat Ulama Terdahulu – Sesungguhnya saling berwasiat dalam kebenaran dan berwasiat dalam kesabaran serta saling berkasih sayang adalah perjanjian yang Allah ambil dari generasi tauladan pertama dan yang mengikuti mereka dengan baik hingga hari kiamat. Allah jalla jalaluh berfirman:

وَالْعَصْرِ (1) إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ (2) إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ (3)

Demi masa, sesungguhnya manusia benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan beramal sholih dan saling mewasiati dalam kebenaran dan saling mewasiati dalam kesabaran.” [Al-Ashr: 1-3]

Juga firman Allah ta’ala,

وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ وَتَوَاصَوْا بِالْمَرْحَمَةِ (17) أُولَئِكَ أَصْحَابُ الْمَيْمَنَةِ (18)

Dan dia termasuk orang-orang yang beriman dan saling berpesan untuk bersabar dan saling berpesan untuk berkasih sayang. Mereka itu golongan kanan.

Dari Jabir bin Abdillah Radiallahu ‘Anhuma berkata,

“Aku berbait kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam untuk mendirikan shalat, membayar zakat, dan memberi nasihat kepada setiap muslim.” (Diriwayatkan Al-Bukhari dan Muslim).

Nasihat adalah terminologi yang universal. Nasihat adalah memberikan kebaikan kepada orang yang diberi nasihat. Nasihat adalah kata yang padat makna. Bahkan, tidak ada terminologi lain yang mempunyai makna seluas terminologi di atas. Oleh karena itu Rasulullah menjadikan terminologi tersebut sebagai agama. Tamim ad –Dari Radiallahu ‘Anhu berkata bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda,

الدين النصيحة. قلنا: لمن؟ قال: لله ولكتابه ولرسوله ولأئمتهم وعامتهم

“Agama itu nasihat.” Kami (para sahabat) bertanya, “Bagi siapa? Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda, “Untuk Allah, untuk kitab-Nya, Rasul-Nya, pemimpin-pemimpin kaum Muslimin, dan kaum Muslimin secara umum.” (Diriwayatkan Al-Bukhari, dan Muslim).

Ini karena nasihat adalah sarana untuk mencapai tujuan agama. Dengan nasihat, terlihatlah profil ummat islam yang mempunyai esensi khusus, ikatan istimewa, dan perspektif integral. Ummat islam mengetahui esensi tugasnya, yaitu membawa manusia kepada jalan iman dan amal shalih. Oleh karena itu, mereka saling berwasiat sesame mereka dengan apasaja yang membuat ereka mampu bangkit memikul amana terbesar, dan imamah (kepemimpinan) teragung.

Melalui terminologi nasihat yang menghimpun kata saling berwasiat, maknanya, tabiatnya, dan hakikatnya, maka terlihatlah profil ummat islam yang mempunyai soidaritas tinggi, akur, terbaik, sadar, dan konsekwen di muka bumi di atas kebenaran, keadilan, dan kebaikan.

Nasihat adalah profil paling cemerlang dan luhur ummat pilihan yang dikehendaki Allah untuk tegak menjaga kebenaran dan kebaikan, saling berwasiat dalam kebaikan dan kesabaran dalam nuansa kasih sayang, kooperatif, dan persaudaraan. Dengan nasihat kata saling berwasiat semakin bersemi.

Sesungguhnya saling berwasiat dalam kebenaran itu sagat pening untuk bangkit dengan benar, karena rintangan itu sangat beragam; hawa nafsu, logika kemashlahatan, kondisi masing-masing lingkungan, dan lain sebagainya. Saling berwasiat adalah peringatan, support, perbakan, merasakan dekatnya tujuan, dan bersaudara untuk mengemban tanggung jawab dan amna. Ia adalah hasil gagasan setiap insan muslim kemudia menguat, meneba, dan matang di ranting-rantingnya kemudian mengeluarkan buahnya pada setiap saat dengan izin tuhannya.

Saling ber wasiat dalam kesabaran juga amat penting agar potensi ummat semakin kuat untuk tegar dalam kebenaran dengan apa saa yang membangkitkan perasaan kesatuan tujuan, kesatuan perjalanan, solidaritas semua ummat, dan pembekalan mereka dengan cinta, tekad dan semangat pantang menyerah. Saling berwasiat dalam kesabaran adalah standar solidaritas ummat islam. Ummat islam adalah kumpulan organ tubuh yang seperasaan. Mereka satu perasaan, kemudian masing-masing dari mereka berwasiat kepada sebagian yang lain agar bersabar dalam memikul tugas bersama.

Mereka saling membuat tegar sebagian yang lain hingga tidak merasa rendah diri. Mereka saling menguatkan hingga tidak melarikan diri dari medan perang. Ini bukan sabar individual, kendati sabar itu dibangun di atas individual. Sabar adalah pemberian sugesti tentang tugas seorang mukmin dalam ummat islam, yaitu ia harus menjadi unsur penyemangat dan bukannya unsur pelemah dan penggembos. Ia harus menjadi penyeru perang dan bukannya penyeru kekalahan. Ia harus menjadi penurun ketenangan dan ukannya unsur pemicu keluh kesah.

Saling ber wasiat dengan kasih sayang uga amat penting di atas kasih sayang itu sendiri, karena saling berwasiat dalam kasih sayang adalah upaya menyebarluaskan perasaan tugas untuk saling menyayangi, dan saling mencintai dalam tubuh ummat islam. Ini agar bangunan ummat islam semakin solid, karena anjuran kepada kasih sayang menjadi tugaas individu dan kolektif pada saat yang sama. Tugas tersebut dikenal semua insan muslim, kemudian mereka saling tolong menolong dalam merealisasikannya.

Generasi tauladan pertama menerapkan nasihat kepada lebel tertinggi dan lebel terendah; Allah dan rasul-nya, para pemimpin kaum muslimin dan kaum muslimin secara umum. Mereka merealisir konsep saling ber wasiat dalam kebenaran, kesabaran dan kasih sayang.

Kerena ummat akhir zaman ini tidak akan menjadi baik kecuali dengan apa yang telah membuat baik generasi pertama, maka saya menjadika ajaran untuk saling ber wasiat sebagai artikel indah yang menghimpun seluruh dimensi kehidupan.

1. Wasiat Ali bin Abi Thalib kepada Kumail bin Zayyad bin Nahik An-Nakha’i

Kumail bin zayyad an-nakha’I berkata, bahwa Ali bin Abi Thalib Radhiallahu Anhu menggandeng tanganku kemudian mengajakku keluar kea rah dataran tinggi. Ketika kami telah berada di tempat yang tinggi, Ali bin Abi thalib duduk kemudia  menarik nafas panjang. Ia berkata, “Hai Kumail bin Zayyad. Sesungguhnya hati adalah wadah, dan hati yang paling baik ialah hati yang paling sadar. Jagalah apa yang saya katakana kepadamu.”

Manusia itu terbagi menjadi tiga kelompok; Ulama Rabbani, penuntut ilmu di atas jalan keselamatan, dan orang-orang jelata pengikut semua penyeru. Kelompok terakhir miring bersama dengan hembusan angina, tidak bersinar dengan cahaya ilmu dan tidak bersandar pada tiang yang kokoh.

Ilmu lebih baik daripada harta. Ilmu menjagamu, sedang engkau menjaga harta. Ilmu berkembang biak dengan diamalkan, sedang harta berkurang dengan infak, dan mencintai ilmu adalah agama. Ilmu membuat ulama ditaati sepanjang hidupnya dan dikenang sepeninggalnya, sedang kebaikan karena harta itu hilang bersamaan dengan hilangnya harta. Para penyimpan harta telah mati, padahal sebenarnya mereka masih hidup, sedang para ulama abadi sepanjang zaman. Diri mereka telah sirna, namun suri tauladan mereka tetap melekat di dalam hati.

Sesungguhnya disini-sambil menunjuk ke dadanya- ada ilmu, jika aku menerimanya dengan benar. Namun, sayang sekali, aku menerimanya dengan cepat memahaminya namun tidak amanah di dalamnya, mempergunakan alat agama untuk membeli dunia, meminta diperlihatkan hujjah-hujjah Allah terhadap kitab-Nya, nikmat-nikmat-Nya terhadap hamba-hamba-Nya, atau diberikan kepada orang-orang yang benar yang tidak mempunyai hujjah nyata di dalamnya. Sifat ragu-ragu membekas dalam hati sejak awal syubhat yang dating kepadanya. Ia tidak termasuk kelompok ini dan kelompok itu. Ia tidak mengetahui di mana kebenaran berada? Jika ia berkata, ia salah. Jika ia salah, ia tidak mengetahui kesalahannya. Ia hobi terhadap hal-hal yang hakikatnya tidak ia ketahui, ia menjadi fitnah bagi orang yang terkena fitnahnya.

Sesungguhnya puncak kebaikan adalah orang yang dikenalkan Allah kepada Agamanya, dan cukuplah seorang dikatakan bodoh jika ia tidak mengenal agamanya. Ia tenggelam dalam kenikmatan, gampang disetir syahwat, tergoda mencari harta dan menumpuknya, serta bukan termasuk da’i-da’I agama. Sesuatu yang paling mirip dengan mereka yaitu hewan ternak. Begitulah, ilmu mati dengan kematian orang-orang yang mengembannya.

Ya Allah, betul sekali bahwa dunia tidak pernah sepi dari orang yang membela Allah dengan hujjah-Nya, agar hujjah-hujjah Alalh dan keterangan-keterangan-Nya tidak terkalahkan. Mereka jumlahnya tidak seberapa banyak, namun mereka orang-orang yang paling berat timbangannya di sisi Allah. Dengan mereka, Allah mebela hujah-hujjah-Nya hingga mereka menunaikannya ke dalam hati orang-orang yang seperti mereka. Dengan mereka, ilmu menghadapi segala persoalan kemudian mereka menganggap enteng apa yang dianggap sulit oleh orang-orang yang hidup mewah dan tidak takut terhadap apa saja yang ditakutkan orang-orang bodoh. Mereka berada di dunia dengan badan mereka, sedang ruh mereka berada di tempat yang tinggi. Mereka adalah khalifah-khalifah Allah di bumi-Nya dan dai-dai-Nya kepada agama-Nya.

Aku rindu ingin melihat mereka. Aku meminta ampunan kepada Allah untukku dan untukmu. Jika engkau mau, berdirilah”.

(Diriwayatkan Abu Nu’aim dalam Hilyatu al-Auliya’ jilid hal 79-80)

2.  Wasiat Sufyan Ats-Tsauri Kepada Abbad Bin Abbad Al-Khawwash Al-Arsufi

Sufyan Ats-Tsauri Rahimahullah menulis surat kepada Abbad bin Abbad al-khawwash. Dalam suratnya, sufyan ats-tsauri berkata, Amma bakdu.

Ketahuilah, bahwa sekarang ini engkau berada di zaman di mana sebelumnya para sahabat Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam meminta perlindungan dari berada pada zaman tersebut. Mereka mempunyai ilmu yang tidak kita miliki. Maka bagaimana jika kita berada pada zaman tersebut, sememtara kita hanya bermodalkan ilmu yang pas-pasan, sedikit kesabaran, sedikit pendukung dalam kebaikan, manusia sedang rusak berat, dan dunia sedang keruh.

Hendaklah engkau berpegang teguh kepada ilmu, dan merahasiakan diri, karena sekarang zamannya merahasiakan diri. Hendaklah engkau melakukan uzlah (isolasi diri), dan tidak banyak bergaul dengan manusia. Sebelum ini, jika manusia bertemu, maka sebagian dari mereka mendapatkan manfaat dari sebagian yang lain. Sedang zaman kita sekarang, itu semua tidak ada lagi, dan menurut pendapatku jalan keselamatan ialah dengan tidak bergaul dengan mereka.

Engkau jangan mendekat kepada para penguasa dan menjalin hubungan dengan mereka dalam urusan apapun. Jangan tertipu, kemudian dikatakan kepadamu, “Belalah lindungi orang yang teraniaya dan kembalikan barang yang diambil dengan tidak hak” karena itu semua adalah tipuan iblis yang dijadikan sebagai tangga oleh para ulama yang bejat.

Dulu pernah dikatakan, “Takutlah fitnah ahli ibadah yang bodoh, dan orang yang berilmu yang berdosa, karena fitnah keduanya adalah fitnah bagi siapa sama yang terkena fitnah.

Jika engkau mendapatkan permasalahan dari fatwa, maka manfaatkan baik-baik, dan jangan berasaing dengan manusia di dalamnya! Janganlah engkau menjadi seperti orang yang ingin ucapanya diamalkan, ucapannya disebarluaskan, dan ucapannya didengar. Jika itu semua tidak dilakukan, maka membekas dalam dirinya.

Jangan berambisi kepada jabatan, karena jika seseorang lebih mencintai jabatan karena tersebut adalah pintu yang tidak jelas yang tidak bisa diketahui kecuali oleh para ulama. Periksalah dirimu dan beramallah sesuai dengan niatnya. Ketahuilah, bahwa telah mendekat kepada manusia sesuatu dimana seseorang ingin mati karenanya. (Diriwayatkan abu Nu’aim).

3. Wasiat Sufyan Ats-Tsauri

Sufyan Ats-Tsauri berkata kepada Ali bin al-Hasan dalam wasiat /nasihatnya,

“Saudaraku, hendaklah engkau makan dari penghasilan yang baik dan apa yang dihasilkan tanganmu. Jagnan memakan dan memakai kotoran manusia (zakat, karena perumpamaan orang yang memekan kotoran manusia (zakat) adlah seperti ruang atas yang tidak mempunyai ruang bawwahnya. Ia selalu takut jatuh ke bawah dan ruang atasnya rusak.

Orang yang memakan kotoran manusia (zakat) itu selalu berbicara dengan hawa nafsu dan merejndah kepada manusia karena takut mereka menghindar daripadanya.

Saudaraku, jika anda memakan sesuatu dari manusia, maka anda memotong lidah anda, menghormati sebagian manusia, dan menghina sebagian yang lain. Ini belum termasuk sebagian manusia, dan menghinda sebagian yang lain. Ini belum termasuk apa yang menimpa anda pada hari kiamat kelak. Sesungguhnya yang diberikan kepadamu adalah kotorannya dan yang dimaksud dengan kotoran ini bahwa orang tersebut menuci amal perbuatannya dari dosa-dosa.

Jika anda memakan sesuatu dari manusia; jika anda diajak kepada kemungkaran, anda pasti menurutinya, karena orang yang memakan kotoran manusia (zakat) adalah seperti orang yang bersekutu dengan orang lain dalam satu kepentingan dan ia harus berbagi hasil dengannya.

Saudaraku, lapar dan sedikit ibadah itu lebih baik daripada anda kenyang dengan kotoran manusia (zakat) dan banyak ibadah.

Aku mendapat khabar, bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda,

‘jika salah seorang dari kalian mengambil tali kemudian mengambil kayu bakar hingga membelakangi (memenuhi) punggungnya, itu lebih baik baginya daripada ia berdiri di depan saudaranya; ia mengemis kepadanya, dan berharap kepadanya.”

Aku juga mendapat khabar, bahwa Umar bin Khattab Radiallahu ‘anhu berkata,

Barangsiapa diantara kalian kerja, kami memujinya. Dan barangsiapa diantara kalian tidak bekerja, kami mencurigainya.”

Beliau juga berkata,

“Hai para qari’, angkatlah kepala kalian, dan kalian jangan menambah kekhusyukan melebihi kekhusyukan yang ada di dalam hati. Berlomba-lombalah kalian dalam kebaikan, dan jangan menjadi tanggungan orang lain, karena jalan ini telah terlihat dengan jelas.”

Ali bin Abi Thalib berkata,

“Sesungguhnya orang yang makan dari tangan manusia adlah seperti orang yang menanam pohon di tanah milik orang lain.”

Jadi bertakwalah kepada Allah, karena seseorang tidak mendapatkan sesuatu dari manusia melainkan ia menjadi orang yang hina dan kerdil di mata manusia, padahal kaum mukminin itu adalah saksi-saksi Allah di muka bumi. Anda jangan sekali-kali mencari uang dengan pekerjaan kotor kemudia anda menginfakkannya dalam ketaatan kepada Allah, karena meninggalkan pekerjaan kotor adalah kewajiban yang diwajibkan Allah, dan sesungguhnya Allah itu baik dan tidak menerima kecuali yang baik-baik.

Tidakkah anda pernah melihat orang yang pakaiannya terkena air kencing, kemudian ia ingin membersihkannya dengan air kencing yang lain? Yam sesungguhnya kotoran itu tidak bisa dibersihkan kecuali dengan sesuatu yang bersih.

Demikian pula kesalahan, ia tidak bisa dihapus kecuali dengan kebaikan. Sesungguhnya Allah itu baik dan tidak menerima  kecuali hal-hal yang baik-baik, serta sesungguhnya hal-hal yang haram itu tidak diterima dalam amal perbuatan apa pun.

Ataukah anda pernah melihat seseorang melakukan dosa kemudian ia menghapusnya dengan dosa yang lain?” (Diriwayatkan oleh Abu Nu’aim).

 

Oleh: sahl Suyono

Dari kitab: min washoya salafi karya syaikh salim bin ied al hilali

 

Artikel lainnya:

Mengimani Sang Khalik

Hak-Hak Anak Dalam Islam

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.