MENGIMANI SANG KHALIQ

IMANILAH SANG KHALIQ

Iman kepada Allah mengandung empat unsur :

Pertama : Beriman akan adanya Allah. Dan mengimani adanya Allah ini bisa dibuktikan dengan fitrah, akal, dan indera.

  1. Adapun dalil fitrah, setiap manusia memiliki fitrah mengimani tentang adanya Tuhan Yang menciptakan dirinya tanpa harus didahului dengan berfikir dan mempelajari sebelumnya. Fitrah ini tidak akan berubah melainkan ada pengaruh lain yang mengubah hatinya. Nabi shalallahu alaihi wasallam bersabda:

ما من مولود إلا يولد علي الفطرة : فأبواه يهودانه، أو ينصرانه، أو يمجسانه

Setiap anak dilahirkan dalam kedaan fitrah, kedua orang tuanyalah yang menjadikan mereka Yahudi, Nashrani, atau Majusi.” (HR. Al Bukhari, kitab al-Jana ‘iz Bab Idza Aslama Ash-Shabiyyu famata Hal Yushalil ‘Alwihi, no.1359, dan Muslim, al-Qadr, Bab Ma Min Mauludun Yulaldu Illah ‘Ala al-Fitrah, no.2658)

  1. Adapun dalil akal, seluruh makhluk yang terdahulu, sekarang dan akan datang pasti ada yang menciptakannya, tidak mungkin ada dengan sendirinya, atau ada kerena kebetulan, tidaklah mungkin ia terwujudkan dengan sendirinya, sebab sesuatu tidak mungkin menciptakan dirinya sendiri, karena sebelumnya dia tidak berwujud, lalu bagaimana mungkin dia menjadi pencipta.

Jika makhluk tersebut tidak mungkin ada dengan sendirinya, tak mungkin ada secara tiba-tiba, berarti pasti ada yang mewujudkannya, yang tak lain adalah Allah, Tuhan semesta alam.

Dan Allah telah menyebutkan argumen logika di atas dan dalil qath’inya (tak terbantahkan) dalam surat ath-Thur, Allah berfirman:

أم خلقوا من غير شيء أم هم الخالقون

Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatu ataukah mereka yang menciptakan (diri mereka sendiri )?  (QS. Ath-Thur : 35)

Maksudnya, tidak mungkin mereka tercipta tanpa ada yang menciptakan dan tidak mungkin mereka mampu menciptakan dirinya sendiri. Berarti mereka pasti ada yang menciptakan.

  1. Adapun dalail syar’i yang menunjukkan adanya Allah adalah seluruh kitab samawi  membicaraka tentang adanya Allah. Demikian pula hukum serta aturan dalam kitab-tikab tersebut yang mengatur kehidupan demi kemaslahatan manusia menunjukkan bahwa kitab-kitab tersebut menceritakan kejadian alam yang dibenarkan oleh kenyataan.

2. Adapun dalil inderawi yang menunjukan adanya Allah terdapat dua hal:

Pertama:  Kita sering mendengar dan menyaksikan orng-orang yang dikabulkan doanya, ditolongnya orang-orang yang sedang menghadapi kesulitan, ini menjadi bukti-bukti kuat adanya Allah. Firman Allah Ta’ala,

ونوحا إذ نادى من قبل فاستجبنا له

Dan (ingatlah kisah) Nuh sebelum itu, ketika ia berdoa dan kami memperkenankan doanya.” (QS. Al-Anbiya’ :76)

Dalam Shahih al-Bukhari dari anas bin Malik disebutkan, seorang badui yang hadir dalam shalat jum’at, tatkala Nabi Shalallahu alaihi wasallam sedang khutbah, dia berkata, “Wahai Rasulullah, harta telah musnah dan keluarga kelaparan, maka berdoalah kepada Allah untuk kami.” Lalu beliau mengangkat tangan dan berdoa, setelah itu bergeraklah mendung di atas laksana gunung, sebelum beliau turun dari mimbar saya melihat air hujan membasahi jenggotnya. Dan di jum’at berikutnya berdirilah orang badui tersebut, atau yang lainnya, lalu berkata “Wahai Rasulullah, bangunan hancur dan harta benda terendam air, maka berdoalah kepada Allah untuk kami. ” Lalu beliau mengangkat tangannya dan berdoa, “Ya Allah turunkanlah di sekitar kami bukan diatas kami.” lalu beliau menunjuk ke suatu arah dan hujanpun reda (HR. al-Bukhari di dalam kitab al-jumu’ah,  Bab Raf’al-Yadain fi ad-Du’a,  no. 933 dan Muslim di dalam kitab al-Istisqa’, Bab ad-Du’a fi al-Istisqa’, no. 897 )

       Kedua: Tanda-tanda kenabian seorang utusan yang disebut mukjizat yang banyak orang mendengar dan menyaksikannya, adalah suatu bukti yang kuat adanya Dzat yang mengutus mereka yang tidak lain adalah Allah. Sebab hal itu adalah kejadian di luar kemampuan manusia.

Sebagai contoh mukjizat Allah berfirman:

فأوحينآ إلى موسى أن اضرب بعصاك الحجر فأنفلق فكان كل فرق كاالطود العظيم

Lalu Kami wahyukan kepada Musa, ‘Pukulah lautan itu dengan tongkatmu! Maka terbelahlah lautan itu dan tiap-tiap belahan seperti gunung yang besar. “ (QS. Asy-Syu’ara’ : 63)

       kedua: Mengimani rububiyahNya

Artinya: Dia-lah Rabb Tuhan yang Maha Esa yang tidak ada sekutu dan penolong baginNya.

Rabb artinya Dzat yang memiliki hak menciptakan, berkuasa dan berhak memerintahkan. Tidak ada pencipta yang hakiki, tidak ada penguasa yang mutlak dan tidak ada yang berhak memerintah, kecuali Allah. Firman Allah:

ألا له الخلق و الأمر

Ingatlah, menciptakan dan memerintahkan hanyalah hak Allah.” (QS. Al-A’raf : 54)

Tidak ada yang mengingkari sifat rububiyah Allah ini melainkan orang-orang sombong lagi ingkar yang tidak meyakini ucapannya sendiri. Seperti yang terjadi pada diri fir’aun, tatkala Dia berkata kepada kaummnya:

 أناربكم الأعلي

Akulah tuhan yang paling tinggi.” (QS. An-Nazi’at : 24)

Ketiga: Beriman kepada uluhiyyahNya. 

Hanya Dialah sesembahan yang haq, tidak ada sekutu baginya Allah berfirman:

وإلهكم إله واحد لآإله إلا هو المكان الرحيم

Dan Tuhanmu adalah Tuhan yang Maha Esa, tidak ada sesembahan yang haq melainkan Dia, yang Maha pemurah lagi Maha penyayang.” (QS. Al-Baqarah : 163).

Setiap yang dituhankan selain Allah untuk disembah, maka ketuhanannya adalah batil. Allah berfirman:

ذالك بأن الله هو الحق وأن مايدعون من دونه هو البطل وأن الله هو العلى الكبير

Yang demikian itu adalah karena sesungguhnya Dia-lah Sesembahan yang hak dan sesungguhnya apa saja yang mereka seru selain Allah itulah yang batil, dan sesungguhnya Allah, Dia-lah Yang Maha Tinggi lagi Mahabesar.” (QS. Al-Hajj : 62)

Akan tetapi orang-orang musyrik menolaknya dan mereka menjadikan sembahan-sembahan lain selain Allah, mereka menyembahnya selain menyembah Allah. Memohon kepadanya kemenangan dan pertolongan kepadanya.

Allah menganggap batil penyembahan orang-orang musyrik terhadap sembahan tersebut dengan dua argumentasi.

   Pertama: Tuhan-tuhan mereka tersebut tidak memiliki sedikitpun sifat uluhuyyah. Tidak mampu menghidupkan atau mematikan makhluk, tidak memiliki kekuatan sedikitpun, tidak pula kemampuan memberikan manfaat dan mudharat, Allah

 Kedua: Orang-orang musyrik mengakui, hanya Allah yang Maha Pencipta, yang ditangannyalah kekuasaan di langit dan di bumi,

Keempat: beriman kepada Asma’ (nama-nama) dan sifat-sifat Allah,

Yaitu dengan menetapkan apa yang di tetapkan Allah untuk DzatNya yang terdapat dalam kitab Allah dan Sunnah RasulNya yang pantas baginya, tanpa tahrif (mengubahnya), tanpa ta’thil (meniadakan), dan tanpa takyif (menentukan bentuk dan cara) dan tanpa tamtsil (menyerupakanNya dengan makhluk basik sifatnya ataupun bentuknya).

——–

Jum’at 23 Agustus 2019

Diringkas dari kitab : Syarah al-Utsul at-Tsalatsah hal 139-153  Bab Rukun iman dan kitab Al wajiz fi ‘aqidah as-Shalafusshalih ahlussannah wal jama’ah Bab al imaanu billah ta’ala hal 47

Peringkas : Yusuf Eki Chandra (Pengajar ponpes Daarul Qur’an wal Hadits Oku Timur)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.