Larangan Menjadikan Agama Sebagai Guyonan

Sungguh mengharukan di zaman sekarang ini banyak orang mengaku sebagai orang Islam yang menjadikan agama sebagai guyonan, jika itu dilakukan oleh orang kafir maka itu adalah hal biasa. Akan tetapi, ini justru dilakukan oleh orang Islam sendiri. Oleh karena itu, dirasakan sangat penting untuk membahas sebuah ayat yang menegur perbuatan tersebut dan sangat penting juga menyebutkan apa saja ancaman yang Allah berikan untuk orang-orang yang menjadikan agamanya sebagai guyonan baik di dunia dan di akhirat. Pada tulisan kali ini, penulis akan membahas tafsir surat Al-An’am ayat 70. Mudahan kita semua bisa mengambil pelajaran darinya.

Lafaz Ayat dan Artinya

وَذَرِ الَّذِينَ اتَّخَذُوا دِينَهُمْ لَعِبًا وَلَهْوًا وَغَرَّتْهُمُ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا وَذَكِّرْ بِهِ أَنْ تُبْسَلَ نَفْسٌ بِمَا كَسَبَتْ لَيْسَ لَهَا مِنْ دُونِ اللَّهِ وَلِيٌّ وَلَا شَفِيعٌ وَإِنْ تَعْدِلْ كُلَّ عَدْلٍ لَا يُؤْخَذْ مِنْهَا أُولَئِكَ الَّذِينَ أُبْسِلُوا بِمَا كَسَبُوا لَهُمْ شَرَابٌ مِنْ حَمِيمٍ وَعَذَابٌ أَلِيمٌ بِمَا كَانُوا يَكْفُرُونَ

“Dan tinggalkanlah orang-orang yang menjadikan agama mereka sebagai main-main dan senda gurau, dan mereka telah ditipu oleh kehidupan dunia. Peringatkanlah (mereka) dengan Al-Quran itu agar masing-masing diri tidak dijerumuskan (ke dalam neraka), karena perbuatannya sendiri. Tidak akan ada baginya pelindung selain Allah dan tidak pula pemberi syafaat. Meskipun dia menebus dengan segala macam tebusan pun, niscaya tidak akan diterima itu darinya. Mereka itulah orang-orang yang dijerumuskan (ke dalam neraka) karena apa-apa yang telah mereka lakukan. Bagi mereka (disediakan) minuman dari air yang sedang mendidih dan azab yang pedih disebabkan kekafiran mereka dahulu.” (QS Al-An’am: 70)

TAFSIR RINGKAS

“Dan tinggalkanlah orang-orang yang menjadikan agama mereka sebagai main-main dan senda gurau,” maksudnya adalah tinggalkanlah mereka! Urusan mereka tidaklah penting bagimu. Pada ayat ini terdapat tantangan untuk mereka karena kekafiran, pengejekan dan penghinaan yang mereka lakukan. Allah ta’ala telah mengabarkan di dalam surat Al-Hijr bahwasanya Allah subhanallahu wa ta’ala telah memelihara Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dari orang-orang yang menghina. Allah berfirman:

إِنَّا كَفَيْنَاكَ الْمُسْتَهْزِئِينَ

“Sesungguhnya Kami memeliharamu dari (kejahatan) orang-orang yang memperolok-olokkan (kamu).” (QS Al-Hijr: 95)

“Dan mereka telah ditipu oleh kehidupan dunia. Peringatkanlah (mereka) dengannya,” yaitu dengan Al-Qur’an itu, “agar masing-masing diri tidak dijerumuskan ke dalam neraka, karena perbuatannya sendiri,” maksudnya agar setiap jiwa selamat dari azab yang diakibatkan oleh kesyirikan dan perbuatan-perbuatan maksiat.

“Tidak akan ada baginya pelindung selain Allah,” yang bisa melindunginya dari azab tersebut, “dan tidak pula pemberi syafaat,” yang bisa memberikan syafaat sehingga dia diselamatkan dari azab neraka. “Meskipun dia menebus dengan segala macam tebusan pun, niscaya tidak akan diterima itu daripadanya,” maksudnya meskipun dia menyerahkan apapun yang dia miliki, bahkan jika dia menebus dengan emas sepenuh bumi, niscaya tidak akan bermanfaat hal tersebut dan tetap tidak bisa selamat dari neraka.

“Mereka itulah orang-orang yang dijerumuskan (ke dalam neraka) karena apa-apa yang telah mereka lakukan. Bagi mereka (disediakan) minuman dari air yang sedang mendidih” yang sangat panas “dan azab yang pedih” yang sangat menyakitkan, “disebabkan kekafiran mereka dahulu” terhadap Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya, sehingga menyebabkan buruknya ruh-ruh mereka. Dan tidak ada yang cocok dengan sifat mereka tersebut kecuali azab neraka.[1]

PENJABARAN AYAT

 Firman Allah ta’ala:

وَذَرِ الَّذِينَ اتَّخَذُوا دِينَهُمْ لَعِبًا وَلَهْوًا

Dan tinggalkanlah orang-orang yang menjadikan agama mereka sebagai main-main dan senda gurau

 Imam Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan, “Biarkanlah mereka dan berpalinglah dari mereka. Biarkanlah mereka sementara waktu karena sesungguhnya mereka akan mendapatkan azab yang besar. Oleh karena itu, Allah subhanallahu wa ta’ala katakan, Peringatkanlah (mereka) dengannya’ maksudnya adalah peringatkan manusia dengan Al-Qur’an ini dan berikanlah mereka peringatan akan balasan Allah dan azab-Nya yang sangat pedih di hari kiamat.”[2]

Imam Al-Baghawi rahimahullah mengatakan, “yaitu (tinggalkanlah) orang-orang kafir yang jika mereka mendengar ayat-ayat Allah, mereka mengejeknya dan saling bermain-main ketika menyebutnya. Disebutkan pendapat lain, yaitu: sesungguhnya Allah ta’ala telah menjadikan hari raya untuk setiap kaum. Setiap orang menjadikan agama mereka yaitu hari raya mereka sebagai waktu untuk bermain dan bersenda gurau, sedangkan hari raya kaum muslimin adalah shalat, bertakbir, melakukan kebaikan-kebaikan, seperti para hari: Jumat, hari raya ‘idul-fithr dan ‘idul-adhha.”[3]

Ibnu ‘Asyuur rahimahullah mengatakan, “(Kata) ‘diinahum’ bisa bermakna millah (agama) yang mereka beragama, menjadikan jalan hidup dan mendekatkan diri kepada Allah dengannya … dan bisa bermakna adat (kebiasaan). … dan bisa berarti sebagian dari orang-orang musyrik yang bodoh menjadikan kebiasaan mereka bermain-main dan bersenda gurau.”[4]

Dari ketiga nukilan di atas kita bisa pahami bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam diperintahkan oleh Allah subhanallahu wa ta’ala untuk meninggalkan orang-orang kafir tersebut.

Adapun arti ‘diinahum’ pada ayat di atas, terdapat tiga pendapat di dalam menafsirkannya, yaitu:

  1. Diin yang berarti millah (agama), maksudnya bermain-main dan bersenda gurau ketika mendengar ayat-ayat Allah dibacakan adalah bagian dari agama mereka yang mereka mendekatkan diri kepada Tuhan mereka dengannya.
  2. Diin yang berarti ‘aadah atau da’b (kebiasaan), maksudnya mereka melakukan hal tersebut karena itulah kebiasaan yang mereka lakukan kepada Nabi muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.
  3. Diin yang berarti ‘iid (hari raya), maksudnya mereka menjadikan hari-hari raya mereka untuk bermain-main dan bersenda gurau.

Allahu a’lam arti yang pertama lebih umum dan banyak disebutkan oleh para ahli tafsir.

Firman Allah ta’ala:

وَغَرَّتْهُمُ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا

Dan mereka telah ditipu oleh kehidupan dunia

Al-Qurthubi rahimahullah mengatakan, “Maksudnya adalah mereka tidak mengetahui kecuali yang zahir (tampak) dari kehidupan dunia.”[5]

Di dalam ayat lain, mereka juga mengatakan:

وَقَالُوا إِنْ هِيَ إِلَّا حَيَاتُنَا الدُّنْيَا وَمَا نَحْنُ بِمَبْعُوثِينَ

“Dan mereka akan mengatakan (pula): “Hidup hanyalah kehidupan kita di dunia ini saja, dan kita sekali-sekali tidak akan dibangkitkan.” (QS Al-An’am: 29)

Ini menunjukkan kecintaan mereka yang sangat kepada dunia, sehingga melalaikan mereka dari mengingat akhirat. Seperti itulah dunia, dia bisa menipu orang yang mengejarnya. Allah subhanallahu wa ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمْ وَاخْشَوْا يَوْمًا لَا يَجْزِي وَالِدٌ عَنْ وَلَدِهِ وَلَا مَوْلُودٌ هُوَ جَازٍ عَنْ وَالِدِهِ شَيْئًا إِنَّ وَعْدَ اللَّهِ حَقٌّ فَلَا تَغُرَّنَّكُمُ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا وَلَا يَغُرَّنَّكُمْ بِاللَّهِ الْغَرُورُ

“Hai manusia! Bertakwalah kepada Tuhanmu dan takutilah suatu hari yang (pada hari itu) seorang bapak tidak dapat menolong anaknya dan seorang anak tidak dapat (pula) menolong bapaknya sedikit pun! Sesungguhnya janji Allah adalah benar, maka janganlah sekali-kali kehidupan dunia memperdayakan kalian, dan jangan (pula) penipu (setan) memperdayakan kalian dalam (mentaati) Allah.” (QS Luqman: 33)

Allah subhanallahu wa ta’ala memperingatkan kepada kita tentang hakikat dunia agar kita tidak tertipu dengannya. Allah subhanallahu wa ta’ala berfirman:

اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِي الْأَمْوَالِ وَالْأَوْلَادِ كَمَثَلِ غَيْثٍ أَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَبَاتُهُ ثُمَّ يَهِيجُ فَتَرَاهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُونُ حُطَامًا وَفِي الْآخِرَةِ عَذَابٌ شَدِيدٌ وَمَغْفِرَةٌ مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانٌ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ

“Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kalian serta berbangga-bangga dalam banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta ke-ridha-an-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.” (QS Al-Hadid: 20)

Firman Allah ta’ala:

وَذَكِّرْ بِهِ أَنْ تُبْسَلَ نَفْسٌ بِمَا كَسَبَتْ

Peringatkanlah (mereka) dengannya (Al-Quran) itu agar masing-masing diri tidak dijerumuskan (ke dalam neraka), karena perbuatannya sendiri.

Para ulama tafsir sepakat bahwa kata ganti pada kata (وَذَكِّرْ بِهِ) yang berarti ‘peringatkanlah (mereka) dengannya’ kembali kepada Al-Qur’an. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam diperintahkan untuk menyampaikan Al-Qur’an kepada mereka, meskipun orang-orang kafir suka mencela kaum muslimin dan agama Islam.

Para ulama tafsir berbeda ungkapan dalam mengartikan (أَنْ تُبْسَلَ نَفْسٌ بِمَا كَسَبَتْ), di antara arti yang disebutkan adalah sebagai berikut:

  1. Seorang jiwa menyerahkan dirinya kepada kebinasaan, akibat dari perbuatannya. Ini adalah perkataan Mujahid, ‘Ikrimah dan As-Suddi rahimahumullah.
  2. Seorang jiwa binasa, akibat dari perbuatannya. Ini adalah perkataan Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma.
  3. Seorang jiwa tertahan akibat dari perbuatannya. Ini adalah pendapat Qatadah rahimahullah.
  4. Seorang jiwa dibakar. Ini adalah pendapat Adh-Dhahhak rahimahullah.
  5. Seorang jiwa akan dihukum. Ini adalah pendapat Ibnu Zaid rahimahullah. Dan disebutkan pendapat yang lainnya.

 Melihat perbedaan ungkapan tersebut, Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan, “Seluruh ungkapan-ungkapan tersebut berdekatan dalam memaknainya. Dan kesimpulan artinya adalah (jiwa tersebut) menyerahkan dirinya untuk mendapatkan kebinasaan, menahan dirinya dari kebaikan dan menggadaikan dirinya untuk mendapatkan yang diinginkannya, sebagaimana firman Allah:

كُلُّ نَفْسٍ بِمَا كَسَبَتْ رَهِينَةٌ () إِلا أَصْحَابَ الْيَمِينِ

“(38) Tiap-tiap diri tergadaikan (bertanggung jawab) atas apa yang telah diperbuatnya, (39) kecuali golongan kanan.” (QS Al-Muddatstsir: 38-39)”[6]

Imam Al-Baghawi rahimahullah mengatakan, “Maksud dari ayat adalah peringatkanlah mereka agar mereka beriman sehingga seorang jiwa tidak binasa akibat dari perbuatannya.”[7]

Pada potongan ayat yang kita bahas ini, Allah telah memerintahkan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk memberikan peringatan dengan membacakan ayat-ayat Al-Qur’an kepada mereka, sehingga jika mereka menaati apa yang terkandung di dalam ayat-ayat Al-Qur’an, maka mereka akan beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Jika mereka telah menjadi orang yang beriman, maka ini akan menyelamatkan mereka dari siksa neraka yang sangat pedih. Tetapi jika mereka tetap dalam keadaan seperti itu, maka ini akan mengantarkan diri-diri mereka sendiri kepada kebinasaan di akhirat nanti.

Firman Allah ta’ala:

لَيْسَ لَهَا مِنْ دُونِ اللَّهِ وَلِيٌّ وَلَا شَفِيعٌ وَإِنْ تَعْدِلْ كُلَّ عَدْلٍ لَا يُؤْخَذْ مِنْهَا

Tidak akan ada baginya pelindung selain Allah dan tidak pula pemberi syafa’at. Meskpun dia menebus dengan segala macam tebusan pun, niscaya tidak akan diterima itu daripadanya.

 Ini seperti firman Allah ta’ala:

 إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا وَمَاتُوا وَهُمْ كُفَّارٌ فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْ أَحَدِهِمْ مِلْءُ الأرْضِ ذَهَبًا وَلَوِ افْتَدَى بِهِ أُولَئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ وَمَا لَهُمْ مِنْ نَاصِرِينَ

“Sesungguhnya orang-orang yang kafir dan mati sedang mereka tetap dalam kekafirannya, maka tidaklah akan diterima dari seseorang diantara mereka emas sepenuh bumi, walaupun dia menebus diri dengan emas (yang sebanyak) itu. Bagi mereka itulah siksa yang pedih dan sekali-kali mereka tidak memperoleh penolong.” (QS Ali ‘Imran: 91)

Berbeda dengan keadaan mereka di dunia, jika mereka ditawan atau ditahan dan diazab di dunia, maka mereka masih memiliki kemungkinan untuk membebaskan diri dengan memberikan tebusan agar bisa terlepas dari tawanan, tahanan atau azab tersebut. Di akhirat tidak akan bisa seperti itu.

Firman Allah ta’ala:

أُولَئِكَ الَّذِينَ أُبْسِلُوا بِمَا كَسَبُوا لَهُمْ شَرَابٌ مِنْ حَمِيمٍ وَعَذَابٌ أَلِيمٌ بِمَا كَانُوا يَكْفُرُونَ

Mereka itulah orang-orang yang dijerumuskan (ke dalam neraka) karena apa-apa yang telah mereka lakukan. Bagi mereka (disediakan) minuman dari air yang sedang mendidih dan azab yang pedih disebabkan kekafiran mereka dahulu.

Inilah hukuman yang Allah berikan untuk mereka, mereka akan dimasukkan ke dalam neraka karena perbuatan yang mereka lakukan selama hidup di dunia, mereka juga akan disediakan minuman yang sangat panas yang tidak bisa menghilangkan dahaga mereka, tapi justru akan mengazab mereka dan mereka juga akan mendapatkan azab yang sangat pedih yang tidak pernah mereka rasakan sebelumnya.

Di dalam ayat lain Allah subhanallahu wa ta’ala menyebutkan hukuman untuk mereka, Allah subhanallahu wa ta’ala berfirman:

الَّذِينَ اتَّخَذُوا دِينَهُمْ لَهْوًا وَلَعِبًا وَغَرَّتْهُمُ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا فَالْيَوْمَ نَنْسَاهُمْ كَمَا نَسُوا لِقَاءَ يَوْمِهِمْ هَذَا وَمَا كَانُوا بِآيَاتِنَا يَجْحَدُونَ

“(Yaitu) orang-orang yang menjadikan agama mereka sebagai main-main dan senda gurau, dan kehidupan dunia telah menipu mereka, maka pada hari (kiamat) ini, Kami melupakan mereka sebagaimana mereka melupakan pertemuan mereka dengan hari ini, dan (sebagaimana) mereka selalu mengingkari ayat-ayat Kami.” (QS Al-A’raf: 51)

Di dalam ayat ini Allah subhanallahu wa ta’ala menyebutkan bahwa mereka akan dilupakan oleh Allah subhanallahu wa ta’ala, sehingga tidak akan ada lagi rasa belas kasihan kepada mereka.

Begitu pula Allah subhanallahu wa ta’ala menyebutkan hukuman lain untuk mereka di dalam firman-Nya:

وَبَدَا لَهُمْ سَيِّئَاتُ مَا عَمِلُوا وَحَاقَ بِهِمْ مَا كَانُوا بِهِ يَسْتَهْزِئُونَ (33) وَقِيلَ الْيَوْمَ نَنْسَاكُمْ كَمَا نَسِيتُمْ لِقَاءَ يَوْمِكُمْ هَذَا وَمَأْوَاكُمُ النَّارُ وَمَا لَكُمْ مِنْ نَاصِرِينَ (34) ذَلِكُمْ بِأَنَّكُمُ اتَّخَذْتُمْ آيَاتِ اللَّهِ هُزُوًا وَغَرَّتْكُمُ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا فَالْيَوْمَ لَا يُخْرَجُونَ مِنْهَا وَلَا هُمْ يُسْتَعْتَبُونَ (35)

“(33) Dan nyatalah bagi mereka keburukan-keburukan dari apa yang mereka kerjakan dan mereka diliputi oleh (azab) yang mereka selalu mengolok-ngoloknya. (34) Dan dikatakan (kepada mereka): “Pada hari ini Kami melupakan kalian sebagaimana kalian telah melupakan pertemuan (dengan) hari kalian ini dan tempat kembali kalian adalah neraka dan kalian sekali-kali tidak memperoleh penolong. (35) Yang demikian itu, karena sesungguhnya kalian telah menjadikan ayat-ayat Allah sebagai olok-olokan dan kalian telah ditipu oleh kehidupan dunia, maka pada hari ini mereka tidak akan dikeluarkan dari neraka dan tidak pula mereka diberi kesempatan untuk bertaubat.”

Ayat-ayat ini menjelaskan bahwa mereka akan mendapatkan hukuman seperti yang telah disebutkan di atas dan mereka juga tidak akan dikeluarkan dari neraka dan tidak pula diberikan kesempatan untuk bertaubat. Sungguh mengerikan ancaman Allah untuk orang-orang yang memiliki sifat di atas. Mungkin bisa saja mereka selamat di dunia, tetapi mereka tidak akan selamat dari siksaan Allah di akhirat nanti.

Perintah untuk berpaling dari orang-orang kafir yang mencela agama

Ayat yang sedang kita bahas ini membahas perintah Allah kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam agar menjauhi dan membiarkan orang-orang yang menyibukkan dirinya untuk mencela dan mengejek orang-orang Islam dan agama Islam. Apa yang mereka lakukan tidaklah berbahaya untuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, sehingga tidak perlu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menanggapinya dengan rasa takut dan was-was yang berlebih. Allah subhanallahu wa ta’ala telah menjaga beliau. Akan tetapi, Allah juga memberikan kewajiban kepada beliau untuk mendakwahi mereka dengan membacakan Al-Qur’an kepada mereka, agar mereka mendapatkan peringatan. Berkaitan dengan ayat ini, Allah subhanallahu wa ta’ala juga berfirman:

فَاصْدَعْ بِمَا تُؤْمَرُ وَأَعْرِضْ عَنِ الْمُشْرِكِينَ (94) إِنَّا كَفَيْنَاكَ الْمُسْتَهْزِئِينَ (95) الَّذِينَ يَجْعَلُونَ مَعَ اللَّهِ إِلَهًا آخَرَ فَسَوْفَ يَعْلَمُونَ (96) وَلَقَدْ نَعْلَمُ أَنَّكَ يَضِيقُ صَدْرُكَ بِمَا يَقُولُونَ (97) فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَكُنْ مِنَ السَّاجِدِينَ (98) وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّى يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ (99)

“(94) Maka sampaikanlah olehmu secara terang-terangan segala apa yang diperintahkan (kepadamu) dan berpalinglah dari orang-orang musyrik. (95) Sesungguhnya Kami memeliharamu daripada (kejahatan) orang-orang yang mengolok-olok(mu), (96) (yaitu) orang-orang yang menganggap adanya tuhan yang lain di samping Allah; maka mereka kelak akan mengetahui (akibat-akibatnya). (97) Dan Kami sungguh-sungguh mengetahui, bahwa dadamu menjadi sempit disebabkan apa yang mereka ucapkan, (98) maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan jadilah kamu termasuk orang-orang yang bersujud (shalat), (99) dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu yang diyakini (ajal).” (QS Al-Hijr: 94-99)

Inilah yang seharusnya kita lakukan sebagai bentuk peneladanan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Apabila ada orang kafir yang selalu mencela kita dan agama kita -dan itu pasti akan selalu ada-, maka kita diperintahkan untuk berpaling dari mereka, dan tidak mengakibatkan dada kita sesak dan takut akan makar dan kejahatan yang mereka perbuat, karena kita memiliki Allah yang telah menjamin orang yang beriman dan bertakwa untuk mendapatkan keselamatan dari tipu daya mereka. Allah subhanallahu wa ta’ala berfirman:

إِنْ تَمْسَسْكُمْ حَسَنَةٌ تَسُؤْهُمْ وَإِنْ تُصِبْكُمْ سَيِّئَةٌ يَفْرَحُوا بِهَا وَإِنْ تَصْبِرُوا وَتَتَّقُوا لَا يَضُرُّكُمْ كَيْدُهُمْ شَيْئًا إِنَّ اللَّهَ بِمَا يَعْمَلُونَ مُحِيطٌ

“Jika kalian memperoleh kebaikan, niscaya mereka bersedih hati, tetapi jika kalian mendapatkan bencana, mereka bergembira karenanya. Jika kalian bersabar dan bertakwa, niscaya tipu daya mereka sedikitpun tidak mendatangkan ke-mudharat-an kepada kalian. Sesungguhnya Allah mengetahui segala apa yang mereka kerjakan.” (QS Ali ‘Imran: 120)

Jadi kita bisa simpulkan, cara untuk menghadapi mereka adalah dengan bersabar dan bertakwa.

Hukum Mengejek Agama Islam

Allah telah memperingatkan akan perbuatan orang munafik di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka suka mencela Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya, hingga akhirnya Allah subhanallahu wa ta’ala menurunkan ayat berikut:

يَحْذَرُ الْمُنَافِقُونَ أَنْ تُنَزَّلَ عَلَيْهِمْ سُورَةٌ تُنَبِّئُهُمْ بِمَا فِي قُلُوبِهِمْ قُلِ اسْتَهْزِئُوا إِنَّ اللَّهَ مُخْرِجٌ مَا تَحْذَرُونَ (64) وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ لَيَقُولُنَّ إِنَّمَا كُنَّا نَخُوضُ وَنَلْعَبُ قُلْ أَبِاللَّهِ وَآيَاتِهِ وَرَسُولِهِ كُنْتُمْ تَسْتَهْزِئُونَ (65) لَا تَعْتَذِرُوا قَدْ كَفَرْتُمْ بَعْدَ إِيمَانِكُمْ إِنْ نَعْفُ عَنْ طَائِفَةٍ مِنْكُمْ نُعَذِّبْ طَائِفَةً بِأَنَّهُمْ كَانُوا مُجْرِمِينَ (66)

“(64) Orang-orang yang munafik itu takut akan diturunkan terhadap mereka sesuatu surat yang menerangkan apa yang tersembunyi dalam hati mereka. Katakanlah kepada mereka, ‘Teruskanlah ejekan-ejekan kalian (terhadap Allah dan rasul-Nya)!’ Sesungguhnya Allah akan menyatakan apa yang kalian takuti itu. (65) Dan jika kalian tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentulah mereka akan manjawab, ‘Sesungguhnya kami hanyalah bersenda gurau dan bermain-main saja.’ Katakanlah: ‘Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kalian selalu berolok-olok?’ (66.) Tidak usah kalian minta maaf, karena kalian kafir sesudah beriman. Jika Kami memaafkan segolongan kalian (lantaran mereka taubat), niscaya Kami akan mengazab golongan (yang lain) disebabkan mereka adalah orang-orang yang selalu berbuat dosa.” (QS At-Taubat: 64-66)

Allah subhanallahu wa ta’ala menyatakan bahwa mereka adalah orang-orang kafir, kecuali orang-orang yang telah bertaubat kepada Allah dari perbuatan tersebut, maka Allah ampuni mereka.

KESIMPULAN

  1. Kita juga diperintahkan untuk meninggalkan dan tidak menghiraukan orang-orang kafir yang bermain-main dan bersenda gurau ketika mendengar ayat-ayat Allah dibacakan, karena mereka menganggap ini adalah bagian dari agama mereka yang mereka mendekatkan diri kepada Tuhan mereka dengannya.
  2. Kecintaan seseorang terhadap dunia akan melalaikan dari akhirat, karena hakikat kehidupan dunia adalah kehidupan yang menipu seseorang.
  3. Kita juga duperintahkan untuk membacakan ayat-ayat Allah kepada mereka, sebagai peringatan untuk mereka akan azab yang sangat pedih di akhirat nanti.
  4. Orang kafir yang tidak menerima peringatan setelah dibacakan ayat-ayat Al-Qur’an, maka mereka telah mengantarkan dirinya sendiri kepada kebinasaan di neraka nanti.
  5. Di akhirat tidak ada yang bisa menjadi penolong kecuali Allah. Begitu pula syafaat dan tebusan-tebusan tidak akan bermanfaat untuk orang-orang kafir.
  6. Hukuman untuk orang-orang kafir yang suka bermain-main dan bersenda gurau ketika dibacakan ayat-ayat Al-Qur’an dan untuk orang-oraang menghina Islam dan orang Islam di antaranya adalah mereka akan diberikan air yang sangat mendidih, diazab dengan azab yang sangat pedih, dilupakan dan tidak dipedulikan oleh Allah, tidak akan dikeluarkan dari neraka dan tidak pula diberi kesempatan untuk bertaubat.
  7. Cara terbaik unuk menghadapi tipu daya dan makar orang-orang kafir adalah dengan cara bersabar dan bertakwa kepada Allah subhanallahu wa ta’ala.
  8. Orang yang sengaja mengejek Allah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan ajaran Islam adalah orang yang kafir.

DAFTAR PUSTAKA

  1. Aisarut-Tafaasiir li kalaam ‘Aliyil-Kabiir wa bihaamisyihi Nahril-Khair ‘Ala Aisarit-Tafaasiir. Jaabir bin Musa Al-Jazaairi. 1423 H/2002. Al-Madinah: Maktabah Al-‘Ulûm Wal-Hikam.
  2. Al-Jaami’ Li Ahkaamil-Qur’aan. Muhammad bin Ahmad Al-Qurthubi. Kairo: Daar Al-Kutub Al-Mishriyah.
  3. At-Tahriir Wat-Tanwiir. Muhammad Ath-Thahir bin Muhammad bin Muhammad Ath-Thahir bin ‘Asyur. 1420 H/2000 M. Beirut: Muassasah At-Tarikh Al-‘Arabi.
  4. Ma’aalimut-tanziil. Abu Muhammad Al-Husain bin Mas’uud Al-Baghawi. 1417 H/1997 M. Riyaadh: Daar Ath-Thaibah.
  5. Tafsiir Al-Qur’aan Al-‘Adzhiim. Isma’iil bin ‘Umar bin Katsiir. 1420 H/1999 M. Riyaadh: Daar Ath-Thaibah.

 

[1] Lihat Aisar At-Tafaasiir hal. 400.

[2] Tafsiir Ibni Katsiir III/279.

[3] Tafsiir Al-Baghawi III/155. Pendapat kedua dikatakan oleh Al-Kalbi sebagaimana disebutkan dalam Tafsiir Al-Qurthubi VII/15.

[4] At-Tahriir Wa At-Tanwiir VI/158.

[5] Tafsiir Al-Qurthubi VII/16.

[6] Tafsiir Ibni Katsiir III/279.

[7] Tafsiir Al-Baghawi III/156.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.