Pondok Pesantren Darul Qur'an Wal-Hadits Martapura OKU

Berhati-Hatilah Dalam Memilih Teman

TEMAN

 

 

Berhati-Hatilah Dalam Memilih Teman-Saudaraku seiman, berhati-hatilah dalam memilih teman. Janganlah berteman kecuali dengan orang-orang mukmin yang shalih lagi taat beragama. Sebab teman, cepat atau lambat, akan memberi warna dan pengaruh terhadap diri kita. Tabiat dan watak itu tertempa lewat pergaulan dan interaksi dengan lingkungan sekitar. Karena itu, barangsiapa berteman dekat dengan orang fasik, niscaya ia akan terpengaruh dengan kefasikannya. Betapa banyak orang yang shalih lambat laun meninggalkan kebaikan yang pernah ia miliki, berubah menjadi orang lalai, jahat lagi gemar berbuat dosa. Semua itu disebabkan pengaruh teman-teman yang buruk di sekelilingnya. Sebaliknya, tak jarang kita dapati seorang yang jahil lagi pendosa, lambat laun terbimbing kepada hidayah dan kebaikan. Iapun berubah menjadi hamba yang shalih lagi taat. Semua itu ia raih melalui teman-teman yang shalih. Oleh karena itu, Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- telah memberikan wasiat:

المرء على دين خليله فلينظر أحدكم من يخالل

Artinya:

“Seseorang berada diatas agama sahabat karibnya, maka hendaklah salah seorang dari kalian memperhatikan siapakah yang menjadi sahabat karibnya. (Hadits shahih Riwayat Abu Dawud dan at-Tirmidzi, dishahihkan oleh al-Albani dalam Silsilah Shahihah, 927).

 

Makna hadits ini, bahwa manusia dalam hal agama dan akhlak dapat diukur dari orang yang menjadi teman dekatnya. Jika teman-teman dekatnya adalah orang shalih, maka ia akan menjadi orang yang shalih. Dan jika teman-teman dekatnya orang yang fasik, maka ia akan menjadi seperti mereka. Maka setiap muslim harus memperhatikan siapa yang akan menjadi teman karibnya.

Teman yang baik pasti akan memberikan kebaikan kepada kita, atau kita bisa mengambil kebaikan darinya. Atau paling tidak kita mendapatkan pengaruh baik darinya. Sedangkan teman yang buruk hanya akan mendatangkan keburukan kepada kita, atau kita mendapatkan keburukan darinya. Atau paling tidak kita mendapat imbas dari keburukannya. Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- telah memberikan sebuah perumpamaan yang indah dan begitu dalam maknanya. Beliau Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:

مثل الجليس الصالح والسوء كحامل المسك ونافخ الكير فحامل المسك إما أن يحذيك

وإما أن تبتاع منه وإما أن تجد منه ريحا طيبة ونافخ الكير إما أن يحرق ثيابك وإما أن تجد

ريحا خبيثة

Artinya;

“Sesungguhnya perumpamaan teman baik dengan teman buruk adalah seperti penjual minyak wangi dan pandai besi. Adapun penjual minyak wangi, maka dia akan menghadiahkannya kepadamu atau kamu membeli darinya atau kamu akan mendapatkan aroma wanginya. Adapun pandai besi maka boleh jadi ia akan membakar tubuhmu atau pakaianmu, atau engkau akan mencium bau busuk darinya.” (Hadits Riwayat al-Bukhaari dan Muslim).

 

Sebagai contoh, bila kita berteman dengan seorang perokok, maka kita pasti mendapatkan keburukannya. Api rokoknya bisa saja menjadi bencana bagi orang-orang yang ada disekitarnya. Berapa banyak kasus-kasus kebakaran yang berpangkal dari api rokok? Atau kita akan mendapatkan mudharat dari asap rokoknya. Menurut penelitian perokok pasif akan mendapatkan pengaruh buruk yang lebih besar dari asap rokok ketimbang perokok aktif itu sendiri. Atau paling tidak kita akan mencium bau busuk rokoknya, sehingga pakaian kita juga menjadi bau. Dan yang paling parah adalah kita akan ketularan merokok seperti dirinya.

Memang benar teman-teman shalih akan selalu menjadi cermin tempat kita mengaca diri. Sehingga dengan cepat kita dapat mengenali kebaikan dan keburukan kita. Teman-teman yang shalih akan membantu kita dalam melaksanakan kewajiban-kewajiban, menjaga hak-hak orang lain serta menjauhkan kita dari keburukan. Dengan demikian, temna berperan besar dalam membantu kita untuk meraih kebahagiaan dunia akhirat.

Sebaliknya, teman yang buruk hanya akan membawa bencana dan kerugian yang besar. Bukankah Abu Thalib, paman Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- terhalang mengucapkan kalimat tauhid, disebabkan oleh pengaruh teman-teman yang jahat?

Teman yang jahat akan membawa temannya ke jurang bencana dan mengantarkannya ke neraka Jahannam. Dan di akhirat kelak mereka akan berubah menjadi musuh bebuyutan.

Allah -subhanahu wata’ala- berfirman:

الأخلآء يومئذ بعضهم لبعض عدو إلا المتقين

Artinya:

“Teman-teman akrab pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi Sebagian yang lain kecuali orang-orang yang bertaqwa.” (QS. az-Zukhruf: 67).

 

Sesungguhnya permusuhan orang-orang yang dahulu berteman akrab ini bersumber dari cinta mereka yang didasari factor duniawi belaka. Mereka berkumpul atas dasar keburukan. Sesama mereka saling mendukung dan mendorong kepada kejahatan dan kesesatan. Namun di akhirat kelak mereka saling mencela, saling melemparkan kesalahan dan saling menyalahkan satu sama lainnya. Pada hari itu mereka berubah menjadi musuh yang saling bertentangan padahal sebelumnya mereka dahulu adalah teman akrab yang saling membantu. Pada hari itu orang zhalim, yang meletakkan cinta pada tempatnya, harus gigit jari penuh penyesalan, kerugian, dan kesialan, namun tidak ada gunanya lagi penyesalan. Sesal kemudian memang tiada berguna.

Allah –‘azza wajalla- menyebutkan dalam firmannya:

ويوم يعض الظالم على يديه يقول يليتنى اتخذت معالرسول سبيلا (٢٧) يويلتى ليتنى

لم أتخذ فلانا خليلا (٢٨) لقد أضلنى عن الذكر بعد إذ جآءنى قلى وكان الشيطن لللإنسن

خذولا (٢٩)

Artinya:

“Dan (ingatlah) hari (ketika) orang yang zhalim itu menggigit dua tangannya, seraya berkata: “Aduhai kiranya (dulu) aku mengambil jalan (yang lurus) bersama Rasul. Kecelakan besarlah bagiku; kiranya aku (dulu) tidak menjadikan si fulan menjadi teman akrab(ku). Sesungguhnya dia telah menyesatkan aku dari al-Qur’an Ketika al-Qur’an telah datang kepadaku. Dan syaithan itu tidak akan menolong manusia.” (Q.S. al-Furqan: 27-29).

 

Sungguh malang nasib orang ini, ia berandai-andai menjadi orang yang berjalan diatas sunnah Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam-. Apakah gerangan sebabnya semasa di dunia ia tidak meniti sunnah Rasulullah? Ternyata karena pengaruh temna-temannya yang menghalanginya dari al-Qur’an dan sunnah Rasulullah! Semua kawan karib di sekelilingnya dahulu diam seribu bahasa, ia berteriak penuh penyesalan dan merintih penuh kesedihan, namun tiada seorangpun yang peduli.

Hilanglah semua kawan karib dan teman dekat., iapun gigit jari karena menyesal, sedih dan putus asa. Tidak cukup hanya menggigit jari saja, namun ia menggigit sepuluh jari tangannya karena penyesalan yang tiada tara.

Ketika orang-orang yang berteman karib itu sibuk dalam persengketaan dan penyesalan mereka, orang-orang yang berkasih sayang karena Allah –‘azza wajalla- berada dalam rasa aman, thuma’ninah dan Sakinah, saling berhubungan karena Allah dan saling menasihati karena Allah.

Allah –‘azza wajalla- berfirman kepada mereka:

يعباد لا خوف عليكم اليوم ولآ أنتم تحزنون (٦٨)

Artinya:

“Hai hamba-hamba-Ku, tiada kekhawatiran terhadapmu pada hari ini dan tidak pula kamu bersedih.” (Q.S. az-Zukhruf: 68)

 

Cintailah Saudaramu Karena Allah –‘azza wajalla-

Merupakan tanda kesempurnaan cinta seseorang hamba kepada Rabb –‘azza wajalla- dan Rasul-Nya -shallallahu ‘alaihi wasallam- adalah mencintai sesuatu yang dicintai oleh Allah –‘azza wajalla-. Ia mencintai seseorang karena Allah –‘azza wajalla-, bukan karena tujuan-tujuan lain. Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda:

من أحب لله وأبعض لله وأعطى لله ومنع لله فقد استكمل الإيمان

Artinya:

“Barangsiapa mencintai karena Allah, membenci karena Allah, memberi karena Allah dan menahan (tidak memberi) karena Allah, sungguh ia telah menyempurnakan keimanan.” (Hadits shahih lighairihi, diriwayatkan oleh Abu Dawud (4681) dari jalur Yahya bin al-Harits dari al-Qasim dari Abu Umamah secara marfu’.

 

Maka barangsiapa mencintai para Nabi dan orang-orang shalih karena mereka melaksanakan konsekuensi dari kebenaran, bukan karena perkara lainnya, berarti ia telah mencintai mereka karena Allah bukan karena alas an-alasan lainnya.

Maka hendaknya kita mencintai saudara dan sahabat kita semata-mata karena Allah –‘azza wajalla-.

Sebab, cinta dan benci karena Allah ­–‘azza wajalla- merupakan urwatul wutsqa (simpul yang paling kuat) dalam ikatan iman.

Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda:

إن أوثق عرى الإيمان أن تحب في الله وتبغض في الله

Artinya:

“Sesungguhnya ikatan keimanan yang paling kuat adalah engkau mencintai karena Allah dan engkau membenci juga karena Allah –‘azza wajalla-.” (Hadits shahih lighairihi , diriwayatkan oleh Ahmad (IV/286), Ibnu Abi Syaibah dalam al-Iman (110) dan Ath-Thayaalisi (II/48-Minhatul Ma’bud)).

 

Cinta karena Allah –‘azza wajalla- ini merupakan sebab meraih kelezatan iman.

Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda:

ثلاث من كن فيه وجد حلاوة الإيمان : أن يكون الله ورسوله أحب إليه مما سواهما، وأن

يحب المرء لا يحبه إل لله، وأن يكره أن يعود في الكفر كما يكره أن يقذف في النار

Artinya:

“Ada tiga perkara, siapa saja memiliki ketiga perkara tersebut niscaya ia akan merasakan manisnya iman: 1) Allah dan rasul-Nya menjadi yang paling ia cintai daripada selain keduanya. 2) Mencintai seseorang semata-mata karena Allah. 3) Benci Kembali kepada kekufuran sebagaimana benci dilemparkan ke dalam api.” (Diriwayatkan oleh Al Bukhaari (I/60-Fathul Baari) dan Muslim (II/13-14, Nawawi) dari hadits Anas bin Malik -radhiyallahuanhu-)

 

Dalam hadits lain beliau -shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda:

من سره أن يجد حلاوة الإيمان فليحب المرء لا يحبه إلا لله عز وجل

Artinya:

“Barangsiapa yang ingin meraih kelezatan iman hendaklah ia mencintai seseorang hanya karena Allah semata.” (Hadits hasan, diriwayatkan oleh Ahmad (II/298), al-Hakim (I/3 dan IV/168), al-Baghawi dalam Syarah Sunnah (XIII/52-53), Abu Nu’aim dalam al-Hilyah (VII/204), Ath-Thayaalisi (2495), al-Bazzar (63-Kasyaf), dan selain mereka dari jalur Yahya bin Abi Suleim dari ‘Amru bin Maimun dari Abu Hurairah -radhiyallahuanhu-)

 

Dan lebih dari itu, cinta karena Allah merupakan jalan menuju surga.

Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda:

لا تدخلون الجنة حتى تؤمنوا ولا تؤمنوا حتى تحابوا

Artinya:

“Kalian tidak akan masuk surga hingga beriman. Dan kalian tidak akan beriman hingga saling berkasih sayang.” (Diriwayatkan oleh Muslim (II/35, Nawawi) dari hadits Abu Hurairah -radhiyallahu’anhu-)

 

Persaudaraan dan cinta karena Allah –‘azza wajalla- merupakan nikmat dan karunia yang besar dari Allah –‘azza wajalla-, Dia berfirman:

واذكروا نعمت الله عليكم إذكنتم أعدآء فألف بين قلوبكم فأصبحتم بنعمته إخونا وكنتم

على شفا حفرة من النار فأنقذكم منها قلى كذلك يبين الله لكم ءايته لعلكم تهتدون (١٠٣)

Artinya:

“Dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayatNya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.” (Q.S. Ali Imran: 103)

 

Persaudaraan, cinta dan kasih karena Allah –‘azza wajalla- ini merupakan anugerah yang agung dari Allah –‘azza wajalla- yang harus senantiasa kita jaga.

Karena dengan persaudaraan seperti inilah seluruh fanatisme jahiliyah dapat dihilangkan, permusuhan dan kebencian dapat dimusnahkan lalu berganti dengan ketulusan dan keikhlasan karena Allah –‘azza wajalla-. Sungguh ini merupakan nikmat yang besar.

 

Daftar Pustaka:

  • Indahnya Cinta Karena Allah tulisan Ummu Ikhsan dan Abu Ihsan al-Atsary

 

Baca juga artikel:

Godaan Setan Kepada Orang Shalih

Cara Selamat Dari Fitnah

 

Be the first to comment

Ajukan Pertanyaan atau Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.