Kenikmatan Akhirat Obat Cinta Dunia

Kenikmatannya senantiasa datang menggoda, keindahannya membuat semua orang terpana. Hatipun selalu tertambat dan terpikat seolah tidak ingin lepas dan tidak ingin berpisah. Cintapun mulai bersemi, bergejolak tanpa kendali.

            Demikian barangkali ungkapan yang layak diberikan untuk menggambarkan kondisi manusia terhadadp dunia. Semua pesona dunia seolah adalah segala-galanya yang membuat banyak manusia menjadi lupa. Lupa hakikat dirinya, lupa tujuan kehidupannya, lupa apa yang hendak ia hadapi tatkala kematian menjemputnya. Sungguh, dunia mampu memikat hati siapa saja tanpa memandang berapa umurnya.

            Semangat untuk meraih, dan menggenggamnya seolah tak akan pernah pudar. Segala usaha dan pikiran akan selalu dicurahkan agar bisa menguasainya, demikianlah manusia. Rosululloh Shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda yang diriwayatkan dari Abu Huroiroh:

لاَ يَزَالُ قَلْبُ الْكَبِيرِ شَابًّا فِي اثْنَتَيْنِ: فِي حُبِّ الدُّنْيَا وَطُولِ الأَمَلِ

“Hati orang tua senantiasa muda dalam dua perkara: Cinta dunia dan panjang angan-angan.”[1]

Lantas benarkah dunia adalah segala-galanya, dan tiada kebaikan melebihi keindahan dunia? Sekali-kali tidak demikian, dunia ini jika dibandingkan dengan kenikmatan akhirat tiada seberapa. Rosululloh Shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda:

وَ اللهِ مَا الدُّنْيَا فِي الآخِرَةِ إِلاَّ مِثْلُ مَا يَجْعَلُ أَحَدُكُمْ أصْبُعَهُ هَذِهِ فِي اليَمِّ فَلْيَنْظُرْ بِمَ يَرْجِعُ

“Demi Alloh, tiada dunia dibandingkan dengan akhirat melainkan seperti salah seorang diantara kalian yang memasukkan jarinya ini di sungai, maka hendaknya ia melihat seberapa air yang ia bawa.” [2]

            Tiada keberuntungan bagi orang yang menggantungkan hatinya kepada dunia dan berpaling dari akhirat. Tiada ketenangan orang yang menjadikan kecintaannya kepada dunia melupakannya akan akhirat. Hendaknya manusia menjauhkan hati dari kecintaan tercela kepada dunia. Diantara cara mengobati hati dari kecintaan kepada dunia adalah dengan membandingkan antara kenikmatan dunia dan kenikmatan akhirat.

            Lihatlah hakikat dunia dan kerendahannya sebagaimana yang disampaikan Rosululloh Shalallahu ‘alaihi wassalam tatkala melewati bangkai seekor kambing yang telah dibuang pemiliknya:

وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَلدُّنْيَا أَهْوَنُ عَلَى اللهِ مِنْ هَذِهِ عَلَى أَهْلِهَا

“Demi Dzat yang jiwaku ada di tangan-Nya, sungguh dunia lebih hina bagi Alloh daripada bangkai kambing ini bagi pemiliknya.”[3]

Surga kampung kemuliaan:

            Sesungguhnya Alloh telah menjadikan surga sebagai tempat tinggal orang-orang yang mulia dan menjadikannya sebagai balasan bagi orang yang berbuat ihsan dan taat kepada-Nya. Alloh memberikan segala kenikmatan tanpa perhitungan, sementara jiwa kita sibuk degan dunia dan lupa akhirat, lupa kepada balasan yang Alloh persiapkan bagi orang yang dirahmati. Oleh Karena itu amal kita untuk akhirat sangat sedikit, dan pengorbanan kita sangat lemah.

            Sekiranya orang ingat balasan yang telah Alloh persiapkan, niscaya mereka akan mengikhlaskan niat dan bersemangat untuk melakukan ketaatan serta amalan pun akan berlipat ganda. Akan mereka jadikan dunia ini sebagai bekal menuju akhirat, dan sebagian besar amalannya adalah untuknya. Alloh berfirman:

وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ وَلَا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا

“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Alloh kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari (kenikmatan) duniawi”. (QS. Qoshosh: 77)

Tidaklah Alloh menciptakan surga dan menceritakannya kepada kita melainkan agar ruh kita tergerak menuju kampung kebahagiaan. Sungguh di surga terdapat berbagai perkara yang menakjubkan, Setiap kenikmatan di dunia terdapat kenikmatan yang lebih baik darinya di akhirat, yang hakikatnya tidak sama walaupun ada kesamaan nama. Sebagaimana yang dikatakan Ibnu Abbas: “Di surga tidak ada sesuatu yang serupa dengan yang di dunia selain namanya, adapun dzatnya sangatlah berbeda.”

            Keindahan dunia telah Alloh jadikan sebagai ujian, sebagaimana firman Alloh:

إِنَّا جَعَلْنَا مَا عَلَى الْأَرْضِ زِينَةً لَّهَا لِنَبْلُوَهُمْ أَيُّهُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا

“Sesungguhnya telah Kami jadikan apa yang di bumi sebagai perhiasan baginya, agar Kami menguji siapakah di antara mereka yang terbaik perbuatannya.” (QS. Al-Kahfi: 7).

Kenikmatan dunia dan kenikmatan akhirat:

            Untuk mengobati kecintaan kepada dunia yang tercela maka hendaknya kita membandingkan antara kenikmatan dunia dan kenikmatan akhirat. Berikut ini diantara perbedaan antara keduanya yang telah dijelaskan Alloh dan Rosul-Nya:

            Jikalau seseorang menginginkan rumah tempat ia bernaung maka ia harus berusaha dengan sekuat tenaga mengerahkan jerih-payahnya untuk membangun dengan modal yang tidak sedikit sekalipun hanya sebuah rumah yang sederhana. Kemudian jika sudah jadi maka ia berkewajiban untuk melakukan perawatan dan memperbaiki kerusakan. Itu semua tidak akan didapati seseorang tatkala ia masuk surga.

Dalam Syu`abul Îmân hal.310, juz.9 diriwayatkan bahwa Abu Huroiroh pernah bertanya kepada Rosululloh Shalallahu ‘alaihi wassalam: “Wahai Rosululloh, beritahukan kepada kami mengenai surga, bagaimana bangunannya.” Maka beliau menjawab:

لَبِنَةٌ مِنْ ذَهَبٍ، وَلَبِنَةٌ مِنْ فِضَّةٍ، مِلاَطُهَا الِمسْك الأَذْفَرُ ، وَحَصْبَاؤُهَا اللُّؤْلُؤُ وَاليَاقُوْتِ، وَتُرَابُهَا الزَّعْفَرَانُ، مَنْ يَدْخُلُهَا يَنْعَمُ، وَلاَ يَبْأَسُ، وَيَخْلُدُ وَلاَ يَمُوْتُ، لاَ تَبْلَى ثِيَابُهُ، وَلاَ يَفْنَى شَبَابُهُ

“Bangunannya adalah batu-bata dari emas dan batu-bata dari perak. Lepaannya dari minyak kasturi yang sangat harum baunya, kerikilnya adalah mutiara dan batu permata, debunya adalah kunyit. Barangsiapa yang memasukinya maka ia akan merasakan kenikmatan dan tidak bersedih hati, akan kekal dan tidak mati, pakaiannya tidak usang, dan masa mudanya tidak akan sirna.”[4]

Rosululloh Shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda:

إِنَّ لِلْمُؤْمِنِ فِي الجَنَّةِ لَخَيْمَةً مِنْ لُؤْلُؤَةٍ وَاحِدَةٍ مُجَوَّفَةٍ طُوْلُهَا سِتُّوْنَ مَيلاً، لِلْمؤْمِنِ فِيْهَا أَهْلُوْنَ يَطُوْفُ عَلَيْهِمُ المُؤْمِنُ فَلاَ يَرَى بَعْضُهُمْ بَعْضاً

“Sesungguhnya bagi seorang mukmin di surga kemah yang terbuat dari satu mutiara yang yang berongga, panjangnya enam mil, di dalamnya seorang mukmin memiliki isteri yang bisa ia gilir sementara sebagian mereka tidak melihat sebagian yang lain.” [5]

Amalan ringan berbuah rumah di surga:

مَنْ بَنَى لِلَّهِ مَسْجِدًا وَلَوْ كَمَفْحَصِ قَطَاةٍ لِبَيْضِهَا، بَنَى اللَّهُ لَهُ بَيْتًا فِى الْجَنَّةِ

“Barang siapa yang membangun masjid untuk Alloh walaupun seperti sarang burung untuk telurnya maka Alloh akan membangunkan baginya rumah di surga.”[6]

مَنْ صَلَّى فِي يَوْمٍ وَ لَيْلَةٍ ثِنْتَيْ عَشْرَةَ رَكْعَةً بنِيَ لَه بَيْتٌ فِي الجَنَّةِ : أَرْبَعًا قَبْلَ الظُّهْرِ وَ رَكْعَتَيْنِ بَعْدَهَا وَ رَكْعَتَيْنِ بَعْدَ المَغْرِبِ وَ رَكْعَتَيْنِ بَعْدَ العِشَاءِ وَ رَكْعَتَيْنِ قَبْلَ صَلاَةِ الغَدَاةِ

“Barangsiapa yang melakukan sholat dalam sehari semalam sebanyak dua belas raka’at maka akan dibangunkan rumah baginya di surga, yaitu empat raka’at sebelum sholat zhuhur, dua raka’at setelahnya, dua raka’at setelah sholat maghrib, dua raka’at setelah sholat isya’, dan dua raka’at sebelum sholat subuh.”[7]

Pohon di surga:

Ketika seseorang ingin memiliki pohon maka ia harus bersusah payah untuk menanamnya, memupuknya dan berusaha untuk membersihkan hama-hama yang mengganggu untuk kemudian menunggu dalam waktu lama hingga besar baru kemudian dapat memetik buahnya. Akan tetapi di surga, seseorang dapat menanam pohon berbuah sekarang dengan amal ibadah. Mari kita lihat beberapa gambaran mengenai pohon surga dari hadits-hadits Nabi n :

Batang pohon surga:

مَا فِي الجَنَّةِ شَجَرَةٌ إِلَّا وَ سَاقُهَا مِنْ ذَهَبٍ

“Tiada pohon di surga melainkan batangnya dari emas.” [8]

طُوْبَى شَجَرَةٌ فِي الجَنَّةِ ، مَسِيْرَةُ مِائَةِ عَامٍ ، ثِيَابُ أَهْلِ الجَنَّةِ تَخْرُجُ مِنْ أَكْمَامِهَا

“Thûbâ adalah sebuah pohon di surga, besarnya sejauh perjalanan seratus tahun, dan pakaian ahli surga keluar melalui kelopak bunganya.”[9]

إِنَّ فِي الجَنَّةِ شَجَرَةً، يَسِيْرُ الرَّاكِبُ الجَوَّادُ المُضَمَّرُ السَرِيْعُ مٍئَةَ عَامٍ مَا يَقْطَعُهَا

“Sesungguhnya di surga ada sebuah pohon, dimana seorang penunggang kuda cepat yang dikencangkan pelananya melakukan perjalanan selama seratus tahun namun tidak mampu melewatinya.”[10]

Diantara cara mendapatkan pohon surga:

Ada berbagai amalan yang akan membuahkan pohon disurga, diantara amalan tersebut sebagai berikut:

  • Mengucapkan Subhânallôh, al-hamdulillâh, lâ ilâha illallôh dan Allôhu akbar:

Telah diriwayatkan dari Abu Huroiroh bahwa Nabi Shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda:

سُبْحَانَ اللهِ وَ الحَمْدُ ِللهِ وَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَ اللهُ أَكْبَرُ يُغْرَسُ لَكَ بِكُلِّ كَلِمَةٍ مِنْهَا شَجَرَةٌ فِي الجَنَّةِ

“Subhânallôh, al-hamdulillâh, lâ ilâha illallôh dan Allôhu akbar dengan mengucapkan setiap kata darinya akan ditanamkan bagimu sebuah pohon di surga.” [11]

مَنْ قَالَ سُبْحَانَ اللهِ وَ الحَمْدُ ِللهِ وَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَ اللهُ أَكْبَرُ غَرَسَ اللهُ بِكُلِّ وَاحِدَةٍ مِنْهُنَّ شَجَرَةً فِي الجَنَّةِ

“Barangsiapa yang mengucapkan subhânallôh, al-hamdulillâh, lâ ilâha illallôh dan Allôhu akbar maka Alloh dengan setiap kata tersebut Alloh menanamkan baginya sebuah pohon di surga.” [12]

  • Menebang pohon yang mengganggu di jalan: Rosululloh Shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda:

لَقَدْ رَأَيْتُ رَجُلاً يَتَقَلَّبُ فِي الجَنَّةٍ فِي شَجَرَةٍ قَطَعَهَا مِنْ ظَهْرِ الطَّرِيْقِ كَانَتْ تُؤْذِي النَّاسَ

“Sungguh, aku telah melihat seseorang yang merasakan kenikmatan di surga di sebuah pohon yang pernah ia tebang untuk disingkirkan dari atas jalan yang mengganggu manusia.”[13]

Buah dan makanan di surga:

            Jika seseorang ingin memakan sesuatu maka ia harus mencarinya dan mengeluarkan sebagian hartanya untuk membelinya. Namun tidak demikian halnya jika seseorang masuk dalam surga. Semua makanan dan buah-buahan akan dengan sangat mudah ia dapatkan di manapun ia berada dan dalam kondisi apapun, sebagai karunia Alloh atasnya lantaran amalan yang telah ia lakukan di dunia.

Alloh berfirman dalam Surat Al-Hâqqoh:

فَأَمَّا مَنْ أُوتِيَ كِتَابَهُ بِيَمِينِهِ فَيَقُولُ هَاؤُمُ اقْرَءُوا كِتَابِيَهْ (19) إِنِّي ظَنَنْتُ أَنِّي مُلَاقٍ حِسَابِيَهْ (20) فَهُوَ فِي عِيشَةٍ رَاضِيَةٍ (21) فِي جَنَّةٍ عَالِيَةٍ (22) قُطُوفُهَا دَانِيَةٌ (23) كُلُوا وَاشْرَبُوا هَنِيئًا بِمَا أَسْلَفْتُمْ فِي الْأَيَّامِ الْخَالِيَةِ

“Adapun orang-orang yang diberikan kepadanya kitabnya (catatan amal perbuatannya) dari sebelah kanannya, Maka dia berkata: “Ambillah, dan bacalah kitabku (ini). Sesungguhnya Aku yakin, bahwa Sesungguhnya Aku akan menemui hisab terhadap diriku“. Maka orang itu berada dalam kehidupan yang diridhoi. Dalam surga yang tinggi, buah-buahannya dekat, (kepada mereka dikatakan): “Makan dan minumlah dengan sedap disebabkan amal yang telah kamu kerjakan pada hari-hari yang telah lalu”. (QS. Al-Hâqqoh: 19-24)

Alloh menceritakan mengenai balasan bagi orang yang memenuhi nadzar, takut kepada-Nya dan senantiasa memperhatikan orang-orang yang membutuhkan dengan memberikan makan kepada mereka dalam firman-Nya:

وَدَانِيَةً عَلَيْهِمْ ظِلَالُهَا وَذُلِّلَتْ قُطُوفُهَا تَذْلِيلًا وَيُطَافُ عَلَيْهِمْ بِآنِيَةٍ مِنْ فِضَّةٍ وَأَكْوَابٍ كَانَتْ قَوَارِيرَا

Dan naungan (pohon-pohon surga itu) dekat di atas mereka dan buahnya dimudahkan memetiknya semudah-mudahnya. Dan Diedarkan kepada mereka bejana-bejana dari perak dan piala-piala yang bening laksana kaca. ” (QS. Al-Insân: 14-15)

فِيهِمَا مِنْ كُلِّ فَاكِهَةٍ زَوْجَانِ (52) فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ (53) مُتَّكِئِينَ عَلَى فُرُشٍ بَطَائِنُهَا مِنْ إِسْتَبْرَقٍ وَجَنَى الْجَنَّتَيْنِ دَانٍ

“Di dalam kedua surga itu terdapat segala macam buah-buahan yang berpasangan. Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan? Mereka bertelekan di atas permadani yang sebelah dalamnya dari sutera. dan buah-buahan di kedua syurga itu dapat (dipetik) dari dekat.” (QS. Ar-Rohmân: 52-54)

Ranjang bertatahkan emas, dan para pelayan yang siap melayani setiap saat:

            Sekiranya seseorang menghendaki adanya pelayan, maka ia harus memberikan berbagai upah dan imbalan kepadya. Sekiranya ia telah memiliki pelayan, namun tidak akan ia dapati pelayanannya setiap saat. Bagaimana halnya dengan kenikmatan surga bagi penghuninya ? Alloh berfirman:

وَالسَّابِقُونَ السَّابِقُونَ (10) أُولَئِكَ الْمُقَرَّبُونَ (11) فِي جَنَّاتِ النَّعِيمِ (12) ثُلَّةٌ مِنَ الْأَوَّلِينَ (13) وَقَلِيلٌ مِنَ الْآخِرِينَ (14) عَلَى سُرُرٍ مَوْضُونَةٍ (15) مُتَّكِئِينَ عَلَيْهَا مُتَقَابِلِينَ (16) يَطُوفُ عَلَيْهِمْ وِلْدَانٌ مُخَلَّدُونَ (17) بِأَكْوَابٍ وَأَبَارِيقَ وَكَأْسٍ مِنْ مَعِينٍ (18) لَا يُصَدَّعُونَ عَنْهَا وَلَا يُنْزِفُونَ (19) وَفَاكِهَةٍ مِمَّا يَتَخَيَّرُونَ (20) وَلَحْمِ طَيْرٍ مِمَّا يَشْتَهُونَ (21)

“Dan orang-orang yang beriman paling dahulu, mereka Itulah yang didekatkan kepada Alloh. Berada dalam jannah kenikmatan. Segolongan besar dari orang-orang yang terdahulu, dan segolongan kecil dari orang-orang yang kemudian. Mereka berada di atas dipan yang bertahta emas dan permata, seraya bertelekan di atasnya berhadap-hadapan. Mereka dikelilingi oleh anak-anak muda yang tetap muda, dengan membawa gelas, cerek dan minuman yang diambil dari air yang mengalir. Mereka tidak pening karenanya dan tidak pula mabuk, dan buah-buahan dari apa yang mereka pilih, dan daging burung dari apa yang mereka inginkan.” (QS. Al-Wâqi`ah: 10-21).

Syaikh Abdurrohman berkata: “Orang yang bersegera melakukan kebaikan di dunia adalah orang yang segera masuk dalam surga. Merekalah yang disifati dengan sifat ini: Orang-orang didekatkan di sisi Alloh, di surga yang penuh kenikmatan, di tempat yang dinamakan `Illiyyin yang paling atas, di tempat-tempat yang tinggi yang tiada tempat lebih tinggi darinya. ”

Lebih lanjut beliau mengatakan: “Orang-orang yang didekatkan adalah orang-orang khusus dikalangan manusia, mereka bersandar ke dipan-dipan yang dihiasi dengan emas, perak, mutiara, batu permata dan yang lainnya dari berbagai perhiasan yang hanyalah yang mengetahuinya.”

“Para penduduk surga dikelilingi para anak-anak kecil yang sangat indah rupawan untuk melayani dan memenuhi kebutuhan mereka.”[14]

وَأَمَّا أَوَّلُ طَعَامٍ يَأْكُلُهُ أَهْلث الجَنَّةِ ؛ فَزِيَادَةُ كَبِدِ الحُوْتِ

“Makanan pertama yang dimakan penduduk surga adalah bagian yang lebih pada hati ikan paus.” [15]

Makanan ahli surga kekal terus menerus:

            Seringkali seseorang kehabisan makanan hingga ia terpaksa harus menahan laparnya untuk beberapa saat lamanya. Namun yang demikian itu tidak akan terjadi di surga, makanan surga tidak akan pernah habis dan tiada penduduknya merasakan kelaparan. Alloh berfirman:

مَثَلُ الْجَنَّةِ الَّتِي وُعِدَ الْمُتَّقُونَ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ أُكُلُهَا دَائِمٌ وَظِلُّهَا تِلْكَ عُقْبَى الَّذِينَ اتَّقَوْا وَعُقْبَى الْكَافِرِينَ النَّارُ

“Perumpamaan surga yang dijanjikan kepada orang-orang yang takwa ialah (seperti taman); mengalir sungai-sungai di dalamnya; buahnya tak henti-henti sedang naungannya (demikian pula). Itulah tempat kesudahan bagi orang-orang yang bertakwa, sedang tempat kesudahan bagi orang-orang kafir ialah neraka.” (QS. Ar-Ro`d: 35).

Sungai dan minuman ahli surga:

            Bagaimana halnya dengan sungai yang ada di surga? Akankah sungai di surga seperti sungai di dunia? Akankah ada sungai keruh seperti halnya kita dapati banyak sungai keruh di sekitar kita? Alloh mengisahkan gambaran sungai yang ada di surga kelak.

Alloh berfirman:

مَثَلُ الْجَنَّةِ الَّتِي وُعِدَ الْمُتَّقُونَ فِيهَا أَنْهَارٌ مِنْ مَاءٍ غَيْرِ آسِنٍ وَأَنْهَارٌ مِنْ لَبَنٍ لَمْ يَتَغَيَّرْ طَعْمُهُ وَأَنْهَارٌ مِنْ خَمْرٍ لَذَّةٍ لِلشَّارِبِينَ وَأَنْهَارٌ مِنْ عَسَلٍ مُصَفًّى وَلَهُمْ فِيهَا مِنْ كُلِّ الثَّمَرَاتِ وَمَغْفِرَةٌ مِنْ رَبِّهِمْ كَمَنْ هُوَ خَالِدٌ فِي النَّارِ وَسُقُوا مَاءً حَمِيمًا فَقَطَّعَ أَمْعَاءَهُمْ

“(Apakah) perumpamaan (penghuni) jannah yang dijanjikan kepada orang-orang yang bertakwa yang di dalamnya ada sungai-sungai dari air yang tiada beubah rasa dan baunya, sungai-sungai dari air susu yang tidak beubah rasanya, sungai-sungai dari khamar yang lezat rasanya bagi peminumnya dan sungai-sungai dari madu yang disaring; dan mereka memperoleh di dalamnya segala macam buah-buahan dan ampunan dari Rabb mereka, sama dengan orang yang kekal dalam Jahannam dan diberi minuman dengan air yang mendidih sehingga memotong ususnya?” (QS.Muhammad: 15).

            Akhirnya mari kita camkan baik-baik apa yang disampaikan Katsir bin Ziyad tatkala seseorang datang kepadaya dan memintanya untuk memberikan wasiat. Ia berkata:

بِيْعُوا دُنْيَاكُمْ بِآخِرَتِكُمْ تَرْبَحوْنَهَا وَاللهِ جَمِيْعًا وَلاَ تَبِيْعُوْا آخِرَتَكُمْ بِدُنْيَاكُمْ فَتَخْسَرُوْنَهُمَا وَاللهِ جَمِيْعًا

“Juallah dunia kalian untuk mendapatkan akhirat maka – demi Alloh – kalian akan mendapatkan keduanya, dan janganlah kalian jual akhirat untuk mendapatkan dunia sehingga – demi Alloh – kalian akan kehilangan keduanya.”

            Semoga Alloh senantiasa menjadikan hati kita tertambat kepada akhirat, dan harapan serta kecintaan terbesar kita adalah kebahagian akhirat dan keselamatan di hari hisab.

Sumber: Majalah Lentera Qolbu Edisi 08 Tahun 03

[1] HR. Bukhori, no. 6420, (8/ 89).

[2] Hadits Shohih, lihat Shohîhul Jâmi`, no. 7100.

[3] Ithrôful Musnadil Mu`tali biathrôfi Al-Musnadi Al-Hanbali, no. 3536, juz. 3 hal. 159. Silsilatul Ahâdîtsish Shohîhah (5/ 630).

[4] Syu`abul îmân; hal. 310, juz. 9.

[5] Diriwayatkan Bukhori (3243), Muslim (8/148), Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushonnaf (13/105/ 15831). Ad-Darimi (2/336). Ahmad (4/ 400,411,419).

[6] Hadits shohih, lihat hadits no. 6129; Shohîhul Jâmi`.

[7] Hadits shohih; Al-Jâmi`ush Shoghîr no. 11308, Shohîhul Jâmi`, no. 6362.

[8] Hadits sholih dari sahabat Abu Huroiroh; Al-Jâmi`ush Shoghîr no. 10584, Shohîhul Jâmi`, no. 5647.

[9] Hadits shohih; Silsilatul Ahâdîtsish Shohîhah 4/ 639. HR. Ahmad (3/71) dan Ibnu Jarir dalam tafsirnya (13/ 101), serta Ibnu Hibban (2625).

[10] HR. Bukhori (6553), Muslim (8/144), Daulabi (1/ 160).

[11] Hadits shohih, lihat Shohîhul Jâmi` 2613.

[12] Hadits shohih, Silsilatul Ahâdîtsish Shohîhah (6/ 890), diriwayatkan oleh Thobroni dalam Al-Ausath (2/235), dan Ad-Du`â’ (3/ 1558/ 1676).

[13] Shohîhul Jâmi` 5134.

[14] Taisîrul Karîmirrohmân, hal. 535 dalam penafsiran Surat Al-Wâqi`ah.

[15] Diriwayatkan oleh Bukhori (3329, 3938, 4480), Ibnu Hibban (7161), Nasai dalam As-Sunanul Kubro (9074) Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushonnaf (13/ 125), Abu Nu`aim dalam Shifatul Jannah (336), Ahmad (3/ 108, 189), Al-Baghowi dalam Syarhus Sunnah (3769), Abu Ya`la dalam Musnad beliau (3856).

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*