Kaidah Indah Untuk Memahami Nama dan Sifat Alloh

Kaidah-kaidah indah untuk memahami nama-nama dan sifat-sifat Alloh[1]

Sesungguhnya di dalam memahami nama-nama dan sifat-sifat Alloh ada beberapa kaidah yang mesti diperhatikan dan tidak boleh dipandang sebelah mata, kaidah-kaidah itu antara lain adalah:

  1. Menetapkan makna nama-nama dan sifat-sifat Alloh yang terdapat dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah sesuai dengan dzhohirnya dan tanpa merubahnya. Kita harus menetapkan dan tidak merubah nama-nama dan sifat-sifat Alloh yang ada di dalam Al-Qur’an, karena Al-Qur’an diturunkan dengan bahasa Arab yang jelas, dan karena merubahnya sama dengan menisbatkan kepada Alloh sesuatu yang tidak ada sandarannya baik ilmu maupun wahyu, dan ini haram dilakukan. Alloh berfirman:

قُلْ إِنَّمَا حَرَّمَ رَبِّيَ الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ وَالْإِثْمَ وَالْبَغْيَ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَأَنْ تُشْرِكُوا بِاللَّهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهِ سُلْطَانًا وَأَنْ تَقُولُوا عَلَى اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ

“Katakanlah: “Tuhanku hanya mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang nampak ataupun yang tersembunyi, dan perbuatan dosa, melanggar hak manusia tanpa alasan yang benar, (mengharamkan) mempersekutukan Alloh dengan sesuatu yang Alloh tidak menurunkan hujjah untuk itu dan (mengharamkan) mengada-adakan terhadap Alloh apa yang tidak kamu ketahui.” (Qs. Al-A’rôf: 33)

Syaikh Abdurrohman bin Nashir As-Sa’di berkata: “Dan kalian katakan terhadap Alloh tanpa ilmu” mengenai nama-nama, sifat-sifat, perbuatan-perbuatan, dan syariat-syariat Alloh. Semua ini diharamkan oleh Alloh, dan hamba dilarang melakukannya karena padanya terdapat kerusakan-kerusakan yang umum dan yang khusus, karena padanya terdapat kedzoliman, kelancangan terhadap Alloh, dan terhadap hamba-hamba-Nya, serta merubah agama dan syariat-Nya.” (Taisîril Karîmir Rohmân Fî Tafsîri Kalâmil Mannân hal. 287.

Sebagai contoh disebutkan di dalam Al-Qur’an bahwa Alloh mempunyai tangan. Ini harus ditetapkan dan tidak boleh ditafsirkan dengan penafsiran lain yang tidak ada dalilnya dari alquran dan as-sunnah. Alloh berfirman:

وَقَالَتِ الْيَهُودُ يَدُ اللَّهِ مَغْلُولَةٌ غُلَّتْ أَيْدِيهِمْ وَلُعِنُوا بِمَا قَالُوا بَلْ يَدَاهُ مَبْسُوطَتَانِ يُنْفِقُ كَيْفَ يَشَاءُ وَلَيَزِيدَنَّ كَثِيرًا مِنْهُمْ مَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ مِنْ رَبِّكَ طُغْيَانًا وَكُفْرًا وَأَلْقَيْنَا بَيْنَهُمُ الْعَدَاوَةَ وَالْبَغْضَاءَ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ كُلَّمَا أَوْقَدُوا نَارًا لِلْحَرْبِ أَطْفَأَهَا اللَّهُ وَيَسْعَوْنَ فِي الْأَرْضِ فَسَادًا وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ

“Orang-orang Yahudi berkata: “Tangan Alloh terbelenggu, sebenarnya tangan merekalah yang dibelenggu dan merekalah yang dilaknat disebabkan apa yang telah mereka katakan itu. (tidak demikian), tetapi kedua-dua tangan Alloh terbuka; Dia memberi rejeki kepada siapa yang Dia kehendaki. dan Al-Quran yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu sungguh-sungguh akan menambah kedurhakaan dan kekafiran bagi kebanyakan di antara mereka. dan Kami telah timbulkan permusuhan dan kebencian di antara mereka sampai hari kiamat. Setiap mereka menyalakan api peperangan Alloh memadamkannya dan mereka berbuat kerusakan dimuka bumi dan Alloh tidak menyukai orang-orang yang membuat kerusakan.” (QS. Al-Maidah: 64)

Syaikh Abdurrohman bin Nashir As-Sa’di berkata: “Alloh mengabarkan tentang perkataan mereka yang buruk sekali, dan akidah mereka yang sangat jelek sekali. Alloh berfirman: (Dan orang-orang Yahudi mengatakan tangan Alloh terbelenggu) yaitu dari berbuat kebaikan, dan kebajikan.

(Tangan merekalah yang terbelenggu, mereka dilaknat karena apa yang mereka katakan) ini adalah doa kecelakaan buat mereka sebab perkataan mereka. Maka jadilah mereka orang yang paling bakhil, paling sedikit berbuat kebaikan, paling buruk prasangkanya terhadap Alloh, dan orang yang paling jauh dari rahmat-Nya, padahal rahmat-Nya meliputi segala sesuatu, dan memenuhi seluruh penjuru alam baik alam yang di atas maupun alam yang di bawah (langit dan bumi). Oleh karena itu Alloh berfirman:

“Akan tetapi kedua tangan Alloh terbentang dia memberikan rejeki kepada siapa saja yang kehendaki.”

Tidak ada yang bisa mencegah, dan tidak ada yang dapat menghalangi apa yang diinginkan Alloh. Dia membentangkan karunia dan kebaikan-Nya di dalam agama dan dunia, Dia memerintahkan hamba-Nya untuk mencari dan meneliti serta membicarakan kebaikan-Nya, dan melarang mereka dari menutup diri dari pintu-pintu kebaikan-Nya dengan perbuatan-perbuatan maksiat yang mereka kerjakan.” (Taisîr Karîmirrohmân Fî Tafsîril Kalâmil Mannân hal. 238).

Inilah contoh perubahan yang dilakukan oleh orang Yahudi mereka merubah makna tangan Alloh terbuka menjadi tangan Alloh terbelenggu. Artinya secara langsung atau tidak langsung mereka mengatakan Alloh kikir, bakhil, dan tidak biasa memberikan kebaikan. Akibat perkataan inilah mereka dilaknat oleh Alloh.

  1. Kaidah kedua adalah kaidah yang berkaitan dengan nama-nama Alloh. Kaidah ini terdiri dari beberapa cabang, yaitu:
  1. Semua nama-nama Alloh itu sangat indah dan Maha Indah. Nama-nama Alloh itu dianggap sangat indah bahkan Maha Indah sebab mengandung sifat-sifat Alloh yang sangat sempurna dan sama sekali tidak ada cacat dan kekurangan sedikitpun. Alloh berfirman:

وَلِلَّهِ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَى

“Dan Alloh memiliki nama-nama yang sangat indah.” (Qs. Al-‘Arôf : 180)

Syaikh Abdurrohman bin Nashir As-Sa’di berkata: “Ayat ini menjelaskan keagungan, kemuliaan dan keluasan sifat-sifat-Nya, bahwa Dia memiliki nama-nama yang indah. Sebagai patokannya adalah sesungguhnya semua nama-Nya mengindikasikan sifat yang sempurna dan agung.” (Taisîr Karîmir Rohmân Fî Tafsîri Kalâmil Mannân hal. 309).

Sebagai contoh, Alloh memiliki nama الرحمن Yang Maha Pengasih, nama ini mengandung sifat yang agung yaitu memiliki rahmat yang sangat luas. Nama ini adalah nama yang sangat indah dan sempurna keindahannya, nama yang mengandung rahmat dan sempurna rahmat-Nya.

  1. Nama-nama Alloh tidak terbatas jumlahnya.

Ada yang menyebutkan bahwa nama-nama Alloh itu jumlahnya terbatas pada sembilan-puluh sembilan saja, padahal Rosululloh n bersabda dalam do’anya:

أَسْأَلُكَ بِكُلِّ اسْمٍ هُوَ لَكَ سَمَّيْتَ بِهِ نَفْسَكَ أَوْ أَنْزَلْتَهُ عَلَى أَحَدٍ فِي كِتَابِكَ أَوْ عَلَّمْتَهُ أَحَدًا مِنْ خَلْقِكَ ، أَوِ اسْتَأْثَرْتَ بِهِ فِي عِلْمِ الْغَيْبِ عِنْدَكَ

“Aku memohon kepada-Mu dengan perantara semua nama-nama-Mu yang menjadi milik-Mu semata, Engkau menamai dirimu dengan nama-nama itu, nama-nama itu Engkau turunkan di dalam kitab-Mu, atau Engkau ajarkan kepada salah seorang di antara makhluk-Mu, atau Engkau sendirikan dan sembunyikan di dalam ilmu ghoib disisi-Mu.”[2]

Di sisi Alloh terdapat nama-nama dan sifat-sifat-Nya yang tidak diketahui jumlahnya dan tidak diketahui banyaknya.

  1. Semua nama-nama Alloh tidak ditetapkan dengan akal, akan tetapi ditetapkan dengan wahyu, karena akal tidak mungkin mengetahui nama-nama yang dimiliki oleh Alloh.
  2. Semua nama-nama Alloh memuat dzat dan sifat-Nya yang terkandung pada nama-nama tersebut.

   Contohnya adalah Alloh memilki nama Yang Maha Agung, ­kesempurnaan keimanan kita terhadap nama ini terlaksana jika kita menetapkan dan meyakini bahwa nama ini mengandung sifat keagungan.

     Cotohnya lagi adalah Yang Maha Pengasih, kesempurnaan keimanan terhadap nama ini dilakukan dengan menetapkan dan meyakini kandungannya yaitu sifat merahmati, Dia merahmati siapa saja yang Dia kehendaki.

  1. Kaidah ketiga berkaitan dengan sifat-sifat Alloh, kaidah ini terdiri dari beberapa cabang, yaitu:
  1. Semua sifat-sifat Alloh sempurna, terpuji, dan tidak mempunyai kekurangan sedikitpun dari berbagai segi.
  2. Sifat-sifat Alloh terbagi mejadi dua: Pertama Tsubutiyah (sifat-sifat yang ditetapkan oleh Alloh bagi diri-Nya) misalnya adalah Alloh hidup, berilmu dan mempunyai kekuasaan, kesempurnaan keimanan terhadap sifat-sifat ini adalah dengan menetapkannya sebagaimana Alloh menetapkannya. Dan kedua Salbiyah (sifat-sifat yang ditiadakan oleh Alloh) misalnya adalah berbuat kezholiman, sifat ini wajib ditiadakan sebagaimana Alloh meniadakannya. Alloh berfirman:

وَلَا يَظْلِمُ رَبُّكَ أَحَدًا

“Dan Tuhanmu sama sekali tidak menzholimi seorangpun.” (Qs. Al-Kahfi : 49)

Syaikh Abdurrohman bin Nashir As-Sa’di berkata: “Oleh karena itu, Alloh membalas perbuatan mereka, Alloh membuat mereka mengakui perbuatan yang mereka kerjakan, Alloh hinakan mereka sebab perbuatan mereka, dan mereka berhak menerima adzab karena perbuatan-perbuatan tangan-tangan mereka, sungguh Alloh tidak menzholimi seorang hambapun, akan tetapi hukuman yang ditetapkan buat mereka tidak keluar dari keadilan dan karunia-Nya. (Tasîr Karîmir Rohmân Fî Tafsîr Kalâmil Mannân, hal. 479).

  1. Sifat-sifat Tsutububiyah terbagi menjadi dua: Pertama Dzatiyah (sifat yang senantiasa dimiliki oleh Alloh) contohnya adalah Alloh mendengar dan melihat, dan kedua fi’liyah (sifat-sifat yang berhubungan dengan kehendak Alloh, jika Dia menghendaki maka Dia akan kerjakan, dan jika Dia tidak menghendaki maka Dia tidak akan mengerjakan) contohnya adalah Alloh beristiwa’ di atas arsy dan datang pada waktu sepertiga malam terakhir ke bumi.
  2. Semua sifat-sifat Alloh itu nyata, tidak boleh dibagaimanakan, dan tidak sama dengan sifat-sifat yang dimiliki oleh makhluk-Nya. Alloh berfirman:

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

“Tidak ada sesuatupun yang sama dengan-Nya.” (Qs. Asy-syûrô : 11)

Syaikh Abdurrohman bin Nashir As-Sa’di berkata: “Tidak ada sesuatupun dari makhluk-Nya yang sama dengan-Nya, tidak sama dengan dzat-Nya, nama-nama-Nya, sifat-sifat-Nya, dan perbuatan-perbuatan-Nya.” (Taisîr Karîmir Rohmân Fî Tafsîri Kalâmil Mannân hal. 754).

  1. Kaidah keempat adalah kaidah yang digunakan untuk menolak paham Almu’aththilah (orang-orang yang mengingkari nama-nama dan sifat-sifat Alloh, serta merubah makna asli dan arti zhohirnya). Kaidah untuk menolak mereka adalah:
  1. Pendapat mereka menyalahi dzahir nash-nash Alquran dan Assunah.
  2. Cara yang mereka gunakan untuk memahami sifat-sifat Alloh bertentangan dengan cara-cara yang digunakan oleh Salaf.
  3. Pendapat mereka atau cara mereka memahami sifat-sifat Alloh tidak punya landasan dari Al-Qur’an dan As-sunnah. WaAlloh’Alam Bishshawab

 

Sumber: Majalah Lentera Qolbu Edisi 04 Tahun 02

[1] Artikel ini dinukil dari “Syarah Lumatul ‘Itiqad” karya Syaikh Muhamad Shalih Al-Utsaimin dengan sedikit perubahan dan tambahan dari “Taisîr Karîmir Rohmân Fî Tafsîri Kalâmil Mannân”.  Disusun dan diterjemahkan oleh Adi M. Abu Aisyah LC

[2] HR. Bukhori (7491), dan Muslim (2246).

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.