Bukti Ketulusan Cinta Karena Allah

cinta

Bukti Ketulusan Cinta Karena Allah

 

Merupakan tanda kesempurnaan cinta seorang hamba kepada Rabb Subhanahu Wata’ala dan Rasul-Nya Shallallahu Alaihi Wasallam adalah mencintai sesuatu  yang dicintai oleh Allah Subhanahu Wata’ala. Ia mencintai seseorang karena Allah Subhanahu Wata’ala, bukan karena tujuan lain. Maka barangsiapa mencintai para Nabi dan orang-orang shalih karena mereka melaksanakan konsekuensi dari kebenaran, bukan karena perkara lainnya, berarti ia telah mencintai mereka karena Allah Subhanahu Wata’ala bukan karena alasan-alasan lainnya. Maka hendaknya kita mencintai saudara dan sahabat kita semata-mata karena Allah Subhanahu Wata’ala.

Adapaun bukti ketulusan cinta kita kepada saudara dan sahabat kita adalah sebagai berikut

  • Menyukai kebaikan bagi saudaranya

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam memberikan perumpamaan orang mukmin yang satu dengan lainnya ibarat satu tubuh. Beliau Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:

مثل المؤمنين فى توادهم وتراحمهم وتعاطفهم مثل الجسد إذا اشتكى منه عضو تداعى له سائر الجسد بالسهر والحمى

“Perempamaan orang orang mukmin dalam cinta, kasih dan saying diantara mereka adalah seperti satu tubuh, bila salah satu dari bagian tubuh mengeluh sakit, seluruh tubuhnya akan turut melaksanakan demam dan tidak dapat tidur semalaman. (HR.Muslim).”

Maka termasuk bukti kesempurnaan iman, ketulusan cinta dan keluhuran jiwa adalah engkau menyukai bagi saudaramu kebaikan yang engkau sukai bagi dirimu. Demikian juga membenci bagi dirinya kemudharatan dan keburuka yang engkau benci bagi dirimu. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:

لايؤمن أحدكم حتى يحب لأخيه ما يحب لنفسه

“Tidak sempurna iman seseorang dari kalian hingga ia menyukai bagi saudaranya apa yang ia sukai bagi saudaranya. (HR.Bukhari dan Muslim).”

Sungguh, seorang mukmin itu ibarat cermin bagi mukmin lainya. Ketika ia melihat saudaranya, maka seolah-olah ia melihat dirinya sendiri. Nabi  Shallallahu Alaihi Wasallam telah bersabda:

المؤمن مرآة المؤمن والمؤمن أخو المؤمن يكف عليه ضيعته ويحوطه من ورائه

“Mukmin itu ibarat cermin bagi mukmin yang lainya, yang senantiasa mencegah saudaranya dari kebangkrutan dan senantiasa melindunginya dari marabahaya.(HR.Abu Daud dan dishahihkan oleh al-albani)”

Jika kita mencintai saudara kita karena Allah Shallallahu Alaihi Wasallam, tentu kita ingin ia memperoleh kebaikan seperti kebaikan yang kita miliki,kita berharap ia mendapatkan ilmu seperti yang kita miliki, maka janganlah menjadi orang yang bakhil menyampaikan ilmu kepada saudara kita, apalagi ia memintanya. Bukankah ilmu yang kita berikan kepadanya akan menjadi tabungan pahala bagi kita, disamping ilmu tersebut akan semakin mantap dalam hati karena disampaikan kepada orang lain.

Jika kita mencintai saudara kita karena Allah Shallallahu Alaihi Wasallam, tentu kita tidak ingin ia terperosot dalam dosa seperti halnya kita tidak ingin terperosok kedalamnya. Bila ia jahil, angkatlah ia dari kejahilanya, bukankah kita tidak ingin menjadi orang jahil dan tidak mau berteman dengan orang jahil?

  • Bersihkan hati dari sifat hasad !

Yaitu engkau mengharap hilangnya nikmat dari saudaramu, atau engkau merasa benci dan tidak senang melihat kebaikan atau nikmat ada pada dirinya.

Orang yang hasad, jiwanya selalu terusik jika melihat saudaranya mendapatkan anugrah dan nikmat. Sejurus kemudian hatinya disesaki rasa iri, dengki dan permusuhan.

Sebaliknya, hatinya merasa gembira ketika menyaksikan keburukan menimpa saudaranya.

Hasad adalah penyakit yang sangat parah dan racun yang mematikan. Tidak seorang pun yang selamat dari penyakitnya ini, mulai dari yang tua sampai yang muda, yang berilmu maupun yang tidak berilmu, si miskin maupun yang kaya, siapa saja dapat terjangkiti penyakit ini, kecuali hamba yang diselamatkan oleh Allah ﷻ.

Sehingga dikatakan,”tidak ada tubuh yang selamat dari penyakit hasad. Hanya saja orang yang tercela menunjukannya sedangkan orang yang mulia menyembunyikanya.”

Karena itu, dengan memohon pertolongan Allah Ta’ala kita harus berjuang melawan penyakit ini. Sebagian besar penyakit hasad ini biasanya trjadi antara orang-orang yang sederajat atau setingkat.

Sehingga, mungkin saja kita selamat dari hasad terhadap orang yang lebih tinggi ataupun yang lebih rendah derajatnya dalam pandangan kita. Namun sangat jarang sekali kita bisa selamat dari hasad terhadap orang yang kita pandang selevel dengan kita, Wal’iyaadzu billah.

Hasad adalah penyakit yang sangat berbahaya. Hasad kerap kali menggiring seseorang pada tindakan kezhaliman bahkan syirik, Wal’iyaadzu billah! Bukankah salah satu penyebab terjadinya ‘ain (pengaruh buruk yang menimpa seseorang akibat pandangan mata yang jahat) adalah hasad dan salah satu faktor pendorong seseorang melakukan praktik sihir dan guna-guna adalah hasad! Allah Ta’ala berfirman:

ومن شر حاسد إذا حسد

Dan dari kejahatan pendengki apabila dia dengki.”(QS. Al – Falaq : 5)

Sehingga sudah menjadi semboyan dikalangan orang-orang jahil: “Cinta Ditolak Dukun Bertindak!” sebabnya tidak lain adalah hasad yang menguasai hati.

Sering kita dengar kasus rumah makan yang gulung tikar karena di guna-gunai oleh lawan dagangnya yang hasad melihat kesuksesanya.

Oleh karena itu Beliau Shallallahu Alaihi Wasallam memperingatkan umatnya agar menjauhi hasad. Beliau Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:

لاتحاسدوا ولا تباغضوا ولاتقاطعوا وكونوا عباد الله إخوانا

“Janganlah kalian saling hasad, saling membenci, saling memutus hubungan dan jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara.” (HR.Muslim)

Saudaraku seiman…..

Jauhilah sifat hasad, sebab hasad adalah ahklak yang tercela, jalan yang buruk yang akan mendatangkan mudharat terhadap dunia maupun agama kita. Disamping itu, hasad juga merupakan penyebab utama timbulnya perpecahan dan perselisihan.

Ibnul Muqaffa’ mengatakan, “janganlah gejolak dalam dirimu menyebabkan engkau hasad. Diantara tercelanya sifat hasad adalah ia akan memakan orang yang dekat dan yang lebih dekat, mulai dari sanak kerabat, teman sejawat, orang orang yang dikenali, yang bergaul denganya hingga saudara sendiri.

Orang yang hasad seolah-olah ia telah menggugat ketentuan Allah Subhanahu Wata’ala yang telah memberikan karunia kepada orang lain, bukan kepada dirinya. Apabila sifat hasad ini terus dipelihara maka dapat merusak iman kepada takdir. Tanpa disadari hati orang yang hasad itu bergumam, “Allah Subhanahu Wata’ala tidak adil, mengapa ia mendapatkan kelebihan sedangkan aku tidak!”Wal iyadzu billah.

Saudarku seiman …

Jauhilah sifat hasad, niscaya engkau menjadi hamba yang dicintai Allah Subhanahu Wata’ala dan dicintai manusia di dunia engkau akan mendaptkan kedamaian hati. Dan sambutlah kabar gembira berupa surga yang luasnya seluas langit dan bumi.

Anas bin Malik berkata, “kami pernah duduk-duduk bersama Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam kemudian beliau bersabda, “sekarang akan muncul dihadapan kalian seorang laki penghuni surga. Lalu muncullah seorang laki-laki anshar yang janggutnya basah karena wudhu’,ia menenteng sandal ditangan kirinya. Keesokan harinya nabi bersabda seperti kemarin. Lalu muncullah laki-laki itu seperti keadaan kemarin. Lalu mucullah laki-laki itu seperti keadaan kemarin. Pada hari ketiga nabi bersabda sperti itu juga lalu laki-laki itu muncul seperti keadaan kemarin. Ketika Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam pergi, Abdullah bin’Amru bin Ash mengikuti laki-laki itu …, ia berkata kepadanya, “aku ingin tinggal bersamamu untuk memperhatikan apa yang engkau amalkan hingga akau bisa meneladanimu. Namun aku tidak melihat engkau mengamalkan amalan begitu banyak, lalu apa sebenarnya yang menyebabkan engkau sampai kepada derajat yang disebutkan nabi.” Laki-laki itu menjawab,”tidaklah aku beramal selain apa yang telah engkau lihat. Namun akau tidak pernah mendapati pada diriku suatu kecurangan sedikitpun terhadap seseorangpun dari kaum muslimin. Dan aku tidak pernah hasad kepada seorang pun atas kebaikan yang telah Allah Subhanahu Wata’ala karuniakan kepadanya.

“Abdullah pun berkata,”itulah yang membuatmu sampai kepada drajat itu.

Dalam riwayat lain disebutkan bahwa laki-laki itu berkata,”Ketika akau hendak tidur, didalam hatiku tidak ada kedengkian terhadap seorang pun.”

  • Memberi nasihat karena Allah

Termasuk bukti ketilusan cinta adalah engkau memberi nasihat kepada saudaramu disaat ia membutuhkanya, terlebih lagi jika ia meminta nasihat kepadamu. Maka berikan nasihat yang tulus dan jujur, semata mata karena Allah Shallallahu Alaihi Wasallam. Nasihat yang mengandung manfaaat dan kebaikan baginya dalam urusan agam maupun dunia. Ini merupakan hak saudara yang harus kita tunaikan.

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda :

حق المسلم على المسلم ست … وإذا استنصحك فنصح له

hak muslim atas muslim lainya ada enam.”…..”jika ia meminta nasihat kepadamu maka berikan nasihat kepadanya.

Janganlah kita merasa berat untuk menyampaikan nasihat yang baik. Sebab jika saudara kita mendapat petunjuk kepada kebaikan dengan nasihat itu, bukankah itu lebih baik bagi  kita daripada memiliki harta yang paling berharga sekalipun?!

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam telah bersabda:

لأن يهدي الله بك رجلا واحدا خير لك من أن يكون لك حمر النعم

Sungguh, Allah memberikan petunjuk kepada satu orang melalui kamu itu lebih baik daripada unta merah.”(HR. Bukhari dan Muslim)

Dan apabila kita dengan tulus menunjuki saudara kepada kebaikan dan ia mendapatkan taufik untuk mengikutinya, maka Allah Ta’ala akan memberikan pahala kepada kita dari setiap kebaikan yang ia lakukan. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:

من دل على خير فله مثل أجر فاعله

Barang siapa yang menunjuki kepada sebuah kebaikan maka baginya pahala seprti orang yang menunjukinya.”(HR.Muslim)

Bahkan salah satu tujuan disyariatkannya persaudaraan karena Allah Ta’ala ini adalah untuk dapat saling nasihati satu sama lainnya.

Allah Ta’ala berfirman:

والعصر . إن الإنس نلفى خسر . إلا الذين ءامنوا وعملوا الصلحت وتواصوا بالحق وتواصوا بالصبر .

“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal sholeh dan nasihat menasihati supaya mentaati kebenaran dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran.” (al-‘Ashr : 1-3)

Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam juga telah bersabda :”Agama adalah nasihat.”

Kami bertanya,”Untuk siapa?”

Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam menjawab:

لله ولكتابه ولرسوله ولأئمة المسلمين وعامتهم

Bagi Allah, kitabnya,rasulnya, pemimpin kaum muslimin,dan untuk segenap kaum muslimin.”(HR.muslim)

Hanya saja harus dibedakan antara menasihati dan memojokkan. Nasihat yang tulus adalah menasihati yang tujuanya untuk kebaikan bagi saudara kita tersebut dengan tetap menjaga kehormatan dirinya. Kalau tujuanya untuk memojokkanya, membuatnya malu atau membongkar aibnya maka itu bukan nasihat.

Pilihlah momen yang tepat untuk menyampaikan nasihat padanya, hindari menasihatinya dihadapan orang banyak yang akan membuatnya malu. Salah satu tanda nasihat yang tulus adalah nasihat untuk disampaikan secara diam-diam.ajak ia bicara empat mata, bukan didepan umum yang dapat membuat martabatnya jatuh. Al – Imam Asy – Syafi’i berkata,

من وعظ أخه سرا فقد نصحه وزانه ومن وعظه علا نية فقد فضحه وشانه

Barang siapa yang menasihati saudaranya secara rahasia maka sungguh ia benar-benar teklah menasihatinya dan memuliakanya. Dan barang siapa yang menasihati saudaranya terang-terngan makai a telah mempermalukanya dan menjatuhkan martabatnya.”

Dan hindarilah sifat suka mencela saudara kita hanya karena dosa atau kesalahan yang ia lakukan .apalagi bila kita umbar dihadapan khalayak ramai. Sungguh itu bukanlah nasihat. Bahkan itu merupakan sifat yang sangat tercela. Dan secara tidak langsung menujukan bahwa kita sebenarnya tidak cinta kepadanya tapi membencinya, walaupun lisan tidak mengatakanya.

  • Mendoakanya karena Allah semata.

Cinta yang tulus akan mendorong seseorang untuk mendoakan kebaikan bagi saudaranya. Maka do’a kanlah saudaramu disaat ia tidak berada disisimu, yakni ketika engkau berdo’a untuk dirimu. Sungguh, ini merupakan tanda ketulusan cinta dan persaudaraan yang sangat agung. Sebab, tidak ada lagi disana tempat untuk riya’, basa basi, mengharapkan pamrih ataupun mencari muka.

Dan doa seperti ini termasuk doa’ yang mustajab. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam barsabda:

دعاء الاخ لأخيه بظهر الغيب لا يرد

Doa’ seseorang bagi saudaranya yang tidak ada disisinya tidak akan tertolak.” (HR.al-Bazzar dari Imran bin Husain)

 

Janganlah kita bakhil untuk mendoakan kebaiakan baginya. Sebab denganya kita akan mendaptkan doa dari makhuk yang mulia, yaitu malaikat. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:

ما من عبد مسلم يدعو لأخيه بظهر الغيب إلا قال الملك ولك بمثل

“Tidaklah seorang muslim mendo’akan saudaranya saat ia tidak berada disisinya, melainkan malaikat akan berkata:”dan bagimu semisal dengan itu.” (H.R. Muslim)

 

Referensi:

Diambil dari buku Indahnya Cinta Karena Allah karya Ummu Insan dan Abu Ihsan al-Atsary Cetakan 2017

Baca Juga Artikel:

Kumpulan Hadits Terkait Wabah Yang Harus Diketahui

Umat Butuh Keteladanan Dengan Perbuatan

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.