KUMPULAN HADITS TERKAIT WABAH YANG HARUS DIKETAHUI

wabah

KUMPULAN HADITS TERKAIT WABAH YANG HARUS DIKETAHUI

 

Wabah penyakit yang menyebar dari Wuhan, China sejak Desember 2019 menyebar ke berbagai penjuru dunia. Sampai saat penulis menulis artikel ini, sudah ada 336.075 orang yang positif terkena wabah ini dan 14.613 orang meninggal dunia[1]. Dunia menjadi ketakutan karena wabah ini menyebar dan menular begitu cepat serta mematikan. Wabah tersebut adalah wabah virus Corona yang diberi nama Coronavirus Disease-19 (Covid-19).

Allah tentu memiliki hikmah yang sangat besar di balik semua ini. Selain menjadi teguran untuk semua manusia, Covid-19 ini juga memotivasi para ulama dan penuntut ilmu untuk memberikan dan menyampaikan ilmu agama berkaitan dengan wabah. Dengan ilmu tersebut para ulama dan penuntut ilmu bisa menasihati umat dan memberikan arahan akan hal apa yang seharusnya umat lakukan ketika menghadapi wabah seperti ini.

Permasalahan wabah penyakit bukanlah permasalahan yang baru dalam Islam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengajarkan kepada kita berbagai macam cara agar terhindar dari wabah, cara ketika menghadapi wabah dan cara bersikap yang benar ketika wabah tersebut melanda. Apa yang telah beliau sampaikan menunjukkan bahwa petunjuk Allah dalam agama Islam benar-benar sempurna. Tidak ada permasalahan apapun di dalam kehidupan manusia, kecuali Allah telah menjelaskannya.

Terkait wabah Covid-19 ini, penulis termotivasi untuk mengumpulkan beberapa hadits yang banyak digunakan oleh para ulama dalam menasihati umat kemudian penulis memberikan sedikit penjelasan terhadap hadits-hadits tersebut.

 

Berikut ini adalah hadits-hadits yang berkaitan dengan wabah:

Hadits 1: Tidak ada penyakit yang menular kecuali dengan izin Allah

 

Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, beliau berkata, “Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لاَ عَدْوَى، وَلاَ صَفَرَ، وَلاَ هَامَةَ.

“Tidak ada ‘Adwaa (penyakit yang menular), tidak ada Shafar (perasaan sial di bulan Shafar) dan tidak ada Haamah (ruh orang mati yang menjadi burung hantu).”[2]

Pada hadits ini Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingkari keyakinan orang-orang Arab di zaman dahulu yang menyatakan bahwa suatu penyakit bisa menular sendiri tanpa ada kehendak Allah di dalamnya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membantah keyakinan tersebut, karena setiap penyakit hanya bisa menyakiti seseorang dengan izin Allah ta’ala. Begitu pula keyakinan mereka terhadap bulan Shafar, mereka merasa sial dengannya. Begitu pula dengan burung hantu, mereka meyakini bahwa ruh orang yang terbunuh jika belum terbalaskan maka dia menjadi burung hantu. 

Hadits 2 & 3: Wabah didatangkan oleh Allah dan perintah untuk menutup wadah makanan dan minuman

Hadits 2:

Diriwayatkan dari Jabir bin ‘Abdillah radhiallahu ‘anhuma, beliau mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

غَطُّوا الْإِنَاءَ وَأَوْكُوا السِّقَاءَ فَإِنَّ فِي السَّنَةِ لَيْلَةً يَنْزِلُ فِيهَا وَبَاءٌ لَا يَمُرُّ بِإِنَاءٍ لَيْسَ عَلَيْهِ غِطَاءٌ أَوْ سِقَاءٍ لَيْسَ عَلَيْهِ وِكَاءٌ

إِلَّا نَزَلَ فِيهِ مِنْ ذَلِكَ الْوَبَاءِ

“Tutupilah oleh kalian wadah-wadah makanan dan ikatlah wadah-wadah minum kalian. Sesungguhnya dalam satu tahun ada satu malam yang wabah turun di dalamnya. Tidaklah ada suatu wadah makanan yang tidak bertutup atau wadah minum yang tidak terikat kecuali wabah tersebut turun ke dalamnya.”[3]

Pada hadits ini Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyuruh untuk menutupi wadah-wadah makanan dengan sesuatu, baik kain atau yang lainnya, sehingga dia tidak dibiarkan terbuka. Begitu pula Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyuruh untuk mengikat wadah-wadah air minum dengan tali. Wadah-wadah air minum di zaman dahulu kebanyakan terbuat dari kulit. Agar bisa tertutup, maka wadah air minum tersebut harus diikat dengant tali. Di zaman sekarang menutup makanan bisa dilakukan dengan tudung saji dan menutup wadah air minum bisa dengan penutup gelas, penutup galon atau semisalnya.

Tujuan melakukan hal tersebut adalah agar wabah yang Allah turunkan pada suatu malam tidak turun dan masuk ke dalam makanan atau gelas. Yang dimaksud wabaa’ (wabah) adalah penyakit menular yang menyebar rata di masyarakat dan rata-rata menyebabkan kematian.

Hadits 3:

Diriwayatkan dari Jabir bin ‘Abdillah radhiallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِذَا كَانَ جُنْحُ اللَّيْلِ – أَوْ أَمْسَيْتُمْ – فَكُفُّوا صِبْيَانَكُمْ فَإِنَّ الشَّيْطَانَ يَنْتَشِرُ حِينَئِذٍ فَإِذَا ذَهَبَ سَاعَةٌ مِنَ اللَّيْلِ فَخَلُّوهُمْ وَأَغْلِقُوا الأَبْوَابَ وَاذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ فَإِنَّ الشَّيْطَانَ لاَ يَفْتَحُ بَابًا مُغْلَقًا وَأَوْكُوا قِرَبَكُمْ وَاذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ وَخَمِّرُوا آنِيَتَكُمْ وَاذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ وَلَوْ أَنْ تَعْرُضُوا عَلَيْهَا شَيْئًا وَأَطْفِئُوا مَصَابِيحَكُمْ.

“Jika malam mulai menggelap atau ketika sore, maka tahanlah anak-anak kecil kalian! Sesungguhnya setan bertebaran ketika itu. Jika telah berlalu sebagian dari waktu malam maka biarkanlah mereka dan tutuplah pintu-pintu kalian dan sebutlah nama Allah. Sesunggunya setan tidak bisa membuka pintu yang tertutup. Ikatlah wadah-wadah air minum kalian dan sebutlah nama Allah dan tutupilah wadah-wadah makanan kalian dan sebutlah nama Allah. Meskipun kalian hanya meletakkan di atasnya sesuatu dan matikanlah lampu-lampu kalian.”[4]

Pada hadits ini Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan tentang adab-adab ketika matahari terbenam. Di antara adab tersebut adalah menahan anak-anak kecil agar tetap berada di dalam rumah dan tidak keluar rumah, kemudian setelah malam gelap, kita diperintahkan untuk: menutup pintu rumah, mengikat atau menutup wadah-wadah air minum dan menutupi wadah-wadah makanan meskipun dibentangkan di atasnya sebuah kayu atau semisalnya, begitu pula kita diperintahkan untuk mematikan lampu-lampu. Lampu-lampu di sini maksudnya adalah lampu-lampu yang menggunakan nyala api.

Hadits 4 & 5: Larangan memasuki daerah yang terkena wabah dan larangan keluar dari daerah tersebut untuk penduduknya

Hadits 4:

Diriwayatkan dari Usamah bin Zaid dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda:

إِذَا سَمِعْتُمْ بِالطَّاعُونِ بِأَرْضٍ فَلاَ تَدْخُلُوهَا، وَإِذَا وَقَعَ بِأَرْضٍ وَأَنْتُمْ بِهَا فَلاَ تَخْرُجُوا مِنْهَا.

“Jika kalian mendengar telah terjadi wabah Tha’un (Pes)[5] di suatu negeri, maka janganlah kalian memasuki negeri tersebut! Jika wabah tersebut terjadi di suatu negeri dan kalian berada di dalamnya maka janganlah kalian keluar darinya!”[6]

Hadits 5:

Diriwayatkan dari Abdullah bin ‘Amir bahwasanya Umar telah keluar menuju Syam. Ketika beliau sampai Sargh[7], beliau dikabarkan bahwa wabah telah menimpa negeri Syam. Kemudian ‘Abdurrahman bin ‘Auf mengabarkan kepada beliau, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِذَا سَمِعْتُمْ بِهِ بِأَرْضٍ فَلاَ تَقْدَمُوا عَلَيْهِ، وَإِذَا وَقَعَ بِأَرْضٍ وَأَنْتُمْ بِهَا فَلاَ تَخْرُجُوا فِرَارًا مِنْهُ.

“Jika kalian mendengarnya terjadi di suatu negeri maka janganlah kalian menuju ke sana dan jika terjadi di suatu negeri sedangkan kalian berada di sana, maka janganlah kalian keluar untuk lari menghindarinya.”[8]

Kedua hadits di atas dari dua sahabat yang berbeda menunjukkan tindakan yang tepat ketika terjadi wabah di suatu negeri. Kita tidak boleh memasukinya dan yang di dalam negeri tersebut tidak boleh keluar.

Kedua hadits di atas diriwayatkan oleh dua orang sahabat yang berbeda. Ini merupakan solusi yang disebutkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika kita mendengar ada wabah di suatu daerah maka kita dilarang untuk memasukinya, begitu pula dengan orang-orang yang berada di dalam daerah tersebut, maka mereka dilarang keluar darinya. Jika mereka keluar, maka wabah tersebut bisa semakin meluas dan tidak terkendali.

Hadits 6, 7 & 8: Pahala mati syahid untuk yang bersabar saat terjadi wabah

Hadits 6:

Diriwayatkan dari ‘Aisyah radhiallahu ‘anha, istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau berkata, “Saya bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang Tha’un (wabah Pes), beliau pun mengabarkan kepadaku bahwa:

أَنَّهُ عَذَابٌ يَبْعَثُهُ اللَّهُ عَلَى مَنْ يَشَاءُ، وَأَنَّ اللَّهَ جَعَلَهُ رَحْمَةً لِلْمُؤْمِنِينَ لَيْسَ مِنْ أَحَدٍ يَقَعُ الطَّاعُونُ فَيَمْكُثُ فِي بَلَدِهِ صَابِرًا مُحْتَسِبًا يَعْلَمُ أَنَّهُ لاَ يُصِيبُهُ إِلاَّ مَا كَتَبَ اللَّهُ لَهُ إِلاَّ كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِ شَهِيدٍ.

“Sesungguhnya dia adalah azab yang Allah kirimkan kepada siapapun yang dikehendaki-Nya. Sesungguhnya Allah telah menjadikannya rahmat bagi orang-orang yang beriman. Tidak ada seorang pun yang tha’un (wabah Pes) menimpanya kemudian dia tetap tinggal di negerinya dengan sabar dan mengharapkan pahala serta dia mengetahui bahwa tidak ada yang akan ada yang bisa menimpanya kecuali yang telah Allah tuliskan untuknya, kecuali dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mati syahid.”[9]

Hadits 7:

Diriwayatkan dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

الطَّاعُونُ شَهَادَةٌ لِكُلِّ مُسْلِمٍ.

“Wabah tha’un adalah mati syahidnya setiap muslim.”[10]

Hadits 8:

Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

الْمَبْطُونُ شَهِيدٌ وَالْمَطْعُونُ شَهِيدٌ.

“Orang yang mati karena sakit perut maka dia syahid dan orang yang mati karena terkena wabah tha’un maka dia syahid.”[11]

Ketiga hadits di atas menunjukkan bahwa orang yang tertimpa wabah dan dia bersabar menghadapinya maka dia akan mendapatkan pahala seperti orang yang mati syahid. Sedangkan kita ketahui bahwa pahala orang yang mati syahid sangatlah besar. Meskipun disebutkan dengan lafaz tha’un (wabah Pes), ini tidak berarti bahwa wabah Pes saja yang akan mendapatkan pahala syahid, tetapi seluruh wabah yang berbahaya atau mematikan masuk ke dalam pengertian hadits ini.

Hadits 9 & 10: Menjauhi orang yang terkena penyakit kusta

Hadits 9:

Diriwayatkan dari ‘Amr bin Asy-Syarid dari bapaknya, beliau berkata:

كَانَ فِى وَفْدِ ثَقِيفٍ رَجُلٌ مَجْذُومٌ فَأَرْسَلَ إِلَيْهِ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- (( إِنَّا قَدْ بَايَعْنَاكَ فَارْجِعْ )).

“Dulu di antara rombongan kaum Tsaqif ada seseorang yang terkena kusta. Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyampaikan pesan kepadanya: ‘Sesungguhnya kami telah membaiat kamu, maka kembalilah!’.”[12]

Pada hadits ini Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mau membaiat dengan berjabat tangan kepada orang yang terkena penyakit kusta tersebut, karena Nabi mengambil sebab agar tidak tertular dengan penyakit kustanya tersebut. Demikian juga dengan penyakit-penyakit lainnya yang juga divonis menular oleh ahli kesehatan.

Hadits 10:

Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu beliau mengatakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لاَ عَدْوَى، وَلاَ طِيَرَةَ، وَلاَ هَامَةَ، وَلاَ صَفَرَ وَفِرَّ مِنَ الْمَجْذُومِ كَمَا تَفِرُّ مِنَ الأَسَدِ.

“Tidak ada penyakit menular, tidak ada thiyarah[13], tidak ada haamah dan tidak ada shafar. Larilah kamu dari orang yang terkena kusta sebagaimana kamu lari dari singa.”[14]

Pada hadits ini Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang untuk mendekati orang yang terkena penyakit kusta karena dia sangat cepat menularnya kepada yang lain. Bahkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyuruh untuk menjauhinya seperti kita menjauhi singa. Ini tidak menafikan tawakal kepada Allah ta’ala.

Hadits 11: Larangan menggabungkan hewan yang sakit dengan hewan yang sehat

Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam beliau bersabda:

لاَ تُورِدُوا الْمُمْرِضَ عَلَى الْمُصِحِّ

“Janganlah kalian gabungkan hewan yang sakit dengan hewan yang sehat.”[15]

Pada hadits ini Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang untuk menggabungkan hewan sakit yang berpotensi untuk menularkan penyakit kepada hewan-hewan lain yang sehat. Karena penyakit tersebut bisa saja menular dengan izin Allah.

Jika pada hewan saja Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk memisahkan antara yang sehat dengan yang sakit, maka memisahkan manusia yang sakit dengan yang tidak sakit lebih utama untuk dilakukan, jika penyakitnya menular.

Hadits 12: Perintah untuk berlindung dari puncak kesulitan bala bencana

Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam beliau bersabda:

تَعَوَّذُوا بِاللَّهِ مِنْ جَهْدِ الْبَلاَءِ وَدَرَكِ الشَّقَاءِ وَسُوءِ الْقَضَاءِ وَشَمَاتَةِ الأَعْدَاءِ.

“Berlindunglah kalian dari puncak kesulitan bala bencana, dari mendapatkan kesengsaraan, dari takdir yang buruk dan dari kesenangan para musuh.”[16]

Pada hadits ini Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyuruh kita untuk berlindung dari keempat hal di atas. Jahdul-balaa’ maksudnya adalah puncak kesulitan yang dialami oleh seseorang yang mendapatkan bencana, sehingga orang tersebut sangat berharap mati karena beratnya bala tersebut. Wabah yang terjadi pada suatu daerah termasuk bentuk bala yang Allah turunkan.

Maksud kesenangan para musuh pada hadits ini adalah kesenangan yang mereka rasakan ketika kaum muslimin ditimpa musibah atau mendapatkan keburukan.

Hadits 13: Doa di waktu pagi dan sore untuk berlindung dari berbagai bala bencana

 

Diriwayatkan dari Utsman bin ‘Affan radhiallahu ‘anhu, beliau berkata bahwa beliau mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

(( مَنْ قَالَ بِسْمِ اللَّهِ الَّذِى لاَ يَضُرُّ مَعَ اسْمِهِ شَىْءٌ فِى الأَرْضِ وَلاَ فِى السَّمَاءِ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ لَمْ تُصِبْهُ فَجْأَةُ بَلاَءٍ حَتَّى يُصْبِحَ وَمَنْ قَالَهَا حِينَ يُصْبِحُ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ لَمْ تُصِبْهُ فَجْأَةُ بَلاَءٍ حَتَّى يُمْسِىَ )).

“Barang siapa yang membaca, ‘Bismillaahi laa yadhurru ma’asmihii syai-un fil-ardhi wa laa fis-samaa’ wa huwas-samii’ul-‘aliim (Dengan nama Allah yang tidak berbahaya sedikit pun dengan disebut nama-Nya apa-apa yang ada di langit dan di bumi dan Dia-lah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui),’ sebanyak tiga kali, maka dia tidak akan tertimpa bala bencana yang tiba-tiba sampai pagi hari. Dan barang siapa yang membacanya ketika pagi sebanyak tiga kali maka tidak akan tertimba bencana yang tiba-tiba sampai sore hari.”[17]

Pada hadits ini Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan kepada kita untuk selalu membaca doa ini. Termasuk dalam bala bencana yang bisa menyebabkan kematian secara tiba-tiba adalah wabah-wabah.

Hadits 14: Madinah tidak akan dimasuki oleh wabah Tha’un (Pes)

Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لاَ يَدْخُلُ الْمَدِينَةَ الْمَسِيحُ، وَلاَ الطَّاعُونُ.

“Madinah tidak akan dimasuki oleh Al-Masih (Dajjal) dan Tha’un (wabah Pes).”[18]

Pada hadits ini Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan bahwa penyakit jenis Tha’un (Pes) tidak akan memasuki kota Madinah. Adapun wabah yang lain, Allahu a’lam maka mungkin untuk masuk ke kota Madinah. Pernah terjadi di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam wabah demam yang sangat kuat dan banyak sahabat yang terkena wabah demam tersebut sampai-sampai mereka shalat sambil duduk, kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam meminta kepada Allah agar disingkirkan ke arah Juhfah.

Inilah beberapa hadits yang penulis kumpulkan dari buku-buku induk hadits dan alhamdulillah sebagian besarnya adalah riwayat Imam Al-Bukhari dan atau Imam Muslim.

Dengan melihat, merenungi dan memahami hadits-hadits di atas, kita bisa melihat keindahan dan kesempurnaan Islam yang telah Allah turunkan kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Syariat tersebut bisa berlaku kapanpun dan dimanapun manusia hidup.

Apalagi dengan melihat berbagai macam tindakan yang dilakukan oleh tenaga medis dalam menghadapi wabah Covid-19, berupa: isolasi wabah dan pasien, lockdown (penutupan kota), tindakan-tindakan preventif dan lain-lain, semakin membuktikan kesempurnaan Islam yang Allah turunkan 14 abad yang lalu.

Demikian. Mudahan apa yang penulis kumpulkan bermanfaat untuk kaum muslimin. Amin.

Daftar Pustaka

Seluruh daftar pustaka telah penulis cantumkan dalam footnotes. Untuk penomoran Shahih Muslim penulis menggunakan penomoran Syaikh Muhammad Fuad Abdul-Baqi.

Martapura, 28 Rajab 1441 H/23 Maret 2020

[1] Sumber: covid19.webislam.id. Situs ini merujuk ke www.worldometers.info, pertanggal 28 Rajab 1441 H/23 Maret 2020.

[2] HR Al-Bukhari no. 5717 dan Muslim no. 2220.

[3] HR Muslim no. 2014.

[4] HR Al-Bukhari no. 3280 dan Muslim no. 2012.

[5] Tha’un diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan Pes atau Sampar dan ke dalam bahasa Inggris dengan Plague. Penyakit ini disebabkan karena infeksi bakteri Yersinia Pestis. Umumnya penyakit ini ditandai dengan limfadenopati atau pembesaran kalenjar getah bening pada paha, ketiak, leher yang berukuran sebesar telur ayam. Benjolan ini terasa lunak dan hangat. Gejala lain yang menyertainya adalah demam, menggigil, pusing, lemas, nyeri otot serta kejang. (Lihat: www.alodikter.com)

[6] HR Al-Bukhari no. 5728 dan Muslim no. 2218.

[7] Sargh adalah nama suatu tempat.

[8] HR Al-Bukhari no. 5730 dan Muslim no. 2219.

[9] HR Al-Bukhari no. 3474.

[10] HR Al-Bukhari no. 5732.

[11] HR Al-Bukhari no. 5733.

[12] HR Muslim no. 2231.

[13] Thiyarah artinya merasa sial atau merasa beruntung dengan suatu hal tertentu yang tidak ada dalilnya dari Al-Qur’an maupun Al-Hadits, atau tidak bisa dibuktikan secara ayat kauniyah (hukum alam yang Allah tetapkan).

[14] HR Al-Bukhari no. 5707.

[15] HR Al-Bukhari no. 5774 dan Muslim no. 2221. Lafaz hadits ini milik Al-Bukhari.

[16] HR Al-Bukhari no. 6616.

[17] HR Abu Dawud no. 5090. Syaikh Al-Albani menyatakan hadits ini shahih dalam Shahih Sunan Abi Dawud.

[18] HR Al-Bukhari no. 5731.

 

Oleh: Said Yai Ardiansyah, M.A.

(Staf Pengajar di Ponpes Darul-Qur’an Wal-Hadits OKU Timur, Sumsel)

Baca Juga Artikel:

Kemuliaan ahlul Bait

Cara Selamat dari Fitnah

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.