Pondok Pesantren Darul Qur'an Wal-Hadits Martapura OKU

Sebab-sebab Waktu Terbuang

sebab-sebab waktu terbuang

Sebab-sebab Waktu Terbuang – Segala puji bagi Allah, kami memuji-Nya, memohon pertolongan dan ampunan kepada-Nya, kami berlindung kepada Allah dari kejahatan diri kami dan kejelekan amalan-amalan kami. Siapa yang Allah beri petunjuk, maka tidak ada yang dapat menyesatkannya dan siapa yang Allah sesatkan, maka tidak ada yang dapat memberinya petunjuk.

Aku bersaksi bahwa tidak ada ilah yang berhak di ibadahi dengan benar kecuali Allah semata, tidak ada sekutu bagi-nya, dan aku bersaksi bahwasanya Muhammad adalah hamba dan utusan Allah.

Semoga shalawat dan salam dilimpahkan kepada Nabi Muhammad, juga kepada keluarga dan para Shahabatnya, dan orang-orang yang mengikuti jejak beliau sampai hari Kiamat.

1. Lemahnya iman, dan ini menyebabkan:

Pertama: Kecenderungan memperturutkan hawa nafsu

Mengikuti hawa nafsu dan tidak memiliki kontrol agama membuatnya sulit untuk bisa membawanya bertakwa kepada Allah ta’ala dalam menjauhi apa yang diharamkan Allah ta’ala dan rasulnya. Serta akan sulit baginya dalam menggunakan waktunya Jika ia selalu memperturutkan hawa nafsunya.

Apabila seseorang mengoreksi diri dan menyadari bahwa ia akan kembali kepada Allah ta’ala sepanjang apapun umurnya, maka ia akan mampu mengalahkan dan mampu pula mengendalikan dirinya.

Kedua: Panjang angan-angan

Panjang angan-angan (thulul amal), yaitu merasa masih berusia panjang adalah penyakit berbahaya dan kronis bagi manusia. Jika penyakit ini menjangkiti misalnya ia mulai menjauhi perintah Allah, enggan bertaubat, cinta kepada dunia, lupa akan kehidupan akhirat yang abadi, dan membuat hati menjadi keras. Imam Hasan Al Bashri rahimahullah berkata,

ما أطال عبد الأمل إلا أساء العمل

“Tidaklah seseorang panjang angan-angan nya, melainkan akan rusak amal-amalannya.”

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Penyebab menyia-nyiakan hati yaitu lebih mencintai dunia daripada akhirat. Dan penyebab menyia-nyiakan waktu yaitu panjang angan-angan.”

2.Tidak tahu tentang pentingnya waktu

Sebab banyak orang yang membuang waktu, karena mereka tidak tahu tentang berharganya waktu. Jangan sampai terbuang dengan sia-sia. Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu berkata,

ما ندمت على شيء ندمي على يوم غربت شمسه، نقص فيه أجلي،  ولم يزد فيه عملي

” Tidaklah aku menyesal atas sesuatu seperti penyesalanku pada suatu hari dimana mataharinya itu terbenam, umurku berkurang, tapi amalku tidak bertambah.”

3. Lemahnya keinginan atau tidak punya semangat

Jika kita punya semangat, pasti kita bisa dari yang lain. Contohnya adalah Qatadah bin dan Di’amah As-Sadusi dan Al-A’masy,  keduanya tunanetra (buta), akan tetapi Allah berikan kecerdasan dan semangat untuk belajar menghafal Al-Qur’an dan menghafal hadits. Juga seperti Syaikh Ibrahim bin ‘Abdul Aziz dan Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz yang ada di zaman sekarang, mereka bisa menguasai Al-Qur’an dan menjadi ulama yang terkenal di seluruh dunia.

Imam asy-Syaukani Rahimahullah berkata, ” Siapa saja yang menghabiskan masa mudanya dalam kemalasan dan tenggelam pada berbagai kesenangan, maka dia akan mendapati kenikmatan jasmani dari hal tersebut sesuai dengan yang diinginkannya, terlebih lagi apabila dia seorang yang kaya dan tampan. Akan tetapi, kesenangan tersebut pasti berakhir dan kenikmatan itu pasti sirna saat akalnya telah sempurna, pemahamannya telah kuat, dan cara berpikirnya telah matang. Sebelumnya dia tidak mengetahui segala kepahitan akibat penyia-nyiaan waktu, seperti menyesal karena telah bermaksiat, bersedih karena telah menghabiskan umurnya untuk hal-hal yang tidak bermanfaat, serta bersusah hati karena telah menggunakan hartanya tidak pada tempatnya. Maka orang seperti itu tidak memperoleh kemenangan dan keberuntungan apa pun dari semua itu.”

4. Ada contoh yang tidak baik dari orang lain

Contoh yang bisa ditiru oleh seorang anak dari bapak atau kakek ataupun sepupu atau lainnya, sehingga anak tersebut terbiasa membuang-buang waktu. Jika bapak atau ibunya suka menonton televisi, maka anak-anak nya pun akan ikut suka menonton televisi.

5. Pendidikan yang salah sejak kecil

Yaitu dengan tidak membiasakan kepada anak untuk menggunakan waktu dengan sebaik-baiknya sejak kecil. Maka ketika dewasa, dia tidak bisa mengatur waktunya dengan baik.

6. Tidak tahu bagaimana cara mengatur waktu

Ada orang yang ingin sekali agar waktunya bermanfaat, tetapi ia tidak tahu bagaimana mengatur waktunya. Akhirnya waktunya jadi terbuang dengan sia-sia tanpa ada manfaatnya.

7. Cinta dunia

Banyak manusia yang terlalaikan sehingga banyak waktu yang terbuang sia-sia untuk mengejar dunia, waktu yang digunakan mulai dari pagi hingga malam hanya untuk mengurusi dunia, seperti mencari nafkah, dagang, kerja, lembur, mengerjakan tugas kantor. Sedangkan rizki itu datangnya dengan pasti, setiap anak yang lahir itu sudah membawa rizki. Akan tetapi yang belum pasti adalah keadaan kita di hadapan Allah pada hari Kiamat, apakah amal kita diterima atau tidak, apakah kita aku masuk surga atau neraka. Oleh karena itu, jangan jadikan dunia ini sebagai tujuan.

Orang yang tujuannya dunia akan dicerai beraikan urusannya dan dijadikan kefakiran di depan pelupuk matanya. Sehingga ia selalu merasa kurang, tidak cukup, fakir, padahal Allah telah memberikan harta yang banyak. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:

من كانت الدنيا همه؛ فرق الله عليه أمره،  وجعل فقره بين عينيه،  ولم يأته من الدنيا إلا ما كتب له،  ومن كانت الآخرة نيته؛ جمع الله له أمره،  وجعل غناه في قلبه،  وأتته الدنيا وهي راغمة

Artinya: “Barang siapa tujuan hidupnya adalah dunia, maka Allah akan mencerai beraikan urusannya, menjadikan kefakiran di kedua pelupuk matanya, dan ia mendapat dunia menurut apa yang telah ditetapkan baginya. Dan barang siapa yang niat (tujuan) hidupnya adalah negeri akhirat, Allah akan mengumpulkan urusannya, menjadikan kekayaan dihatinya, dan dunia akan mendatanginya dalam keadaan hina.” (HR. Ahmad, dll)

Akan tetapi dunia tidak akan datang melainkan apa yang telah Allah tentukan, meskipun ia telah kerja dari pagi sampai larut malam. Adapun orang yang tujuannya adalah akhirat, maka Allah kumpulan seluruh urusannya, Allah jadikan hatinya untuk merasa cukup dengan rizki yang Allah berikan dan dunia akan datang dalam keadaan hina.

Bahkan ada di antara para ulama yang tidak mau diberi harta oleh penguasa. Para ulama lebih memilih memakan dari jerih payahnya sendiri. Para ulama ahlussunnah juga tidak suka dengan kedudukan atau jabatan, karena kecintaan manusia kepada jabatan atau kepemimpinan akan membawa kepada kerusakan. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata, “…yang demikian bahwasanya cinta kepada kepemimpinan (kedudukan/jabatan)merupakan sumber kejahatan dan kezaliman.” Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda,

ماذئبان جائعان أرسلا في غنم بأفسد لها من حرص المرء على المال والشرف لدينه

Artinya: “Dua serigala yang lapar yang dilepas di tengah kumpulan kambing, tidak lebih merusak dibandingkan dengan sifat rakus manusia terhadap harta dan kedudukan yang sangat merusak agamanya. ”  (HR. Muslim)

Mungkin sekian ringkasan artikel ini saya buat, semoga apa-apa yang terdapat di dalam nya bisa bermanfaat bagi saya sendiri dan orang lain.

 

Referensi :

Ditulis oleh Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas, dari buku yang berjudul (Waktumu, Dihabiskan Untuk Apa?), Edisi ke-13 Rabi’ul Awwal 1441 H/ November 2019

Diringkas oleh: Eva Purnama Sari (Fathiyah)

 

BACA JUGA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.