Pondok Pesantren Darul Qur'an Wal-Hadits Martapura OKU

BERKAWAN DENGAN ORANG SHALIH

BERTEMAN DENGAN ORANG SHALIH

 

Berkawan Dengan Orang Shalih-Alhamdulillah, hanya dengan nikmat dan taufiqnya kita semua di berikan kesehatan oleh Allah azza wajalla. Semoga Allah azza wajalla senantiasa memberikan hidayah dan taufiq-Nya kepada kita semua supaya bisa tetap meniti jalan-Nya yang haq sampai kita diwafatkan oleh Allah azza wajjala.

Manusia itu laksana sekawan burung, memiliki naluri untuk berkumpul dengan sejenisnya. Oleh karena itu, jika kita ingin menjadi orang shalih, hendaklah berusaha berkawan dan berkumpul dengan orang-orang shalih.

Allah azza wajalla berfirman:

يأ يها الذين ءامنو اتقوا الله وكونوا مع الصد قين . ١١٩

Artinya: Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar (jujur).” (QS. At-Taubah/9: 119)

 

Sabar dalam Berkawan dengan Orang Shalih

Ini berlaku bagi laki-laki dan wanita. Seorang Musim hendaknya mencari, bergaul, dan menjadikan laki-laki yang shalih sebagai kawan-kawannya. Dan wanita Muslimah hendaknya mencari, bergaul, dan menjadikan wanita-wanita shalihah sebagai kawan-kawannya. Jangan merasa rendah bergaul dengan orang-orang yang taat, walaupun mereka orang-orang yang kekurangan secara duniawi, namun mereka memiliki derajat di sisi Allah Yang Maha Tinggi.

Allah azza wajalla berfirman:

واصبر نفسك مع الذين يد عون ربهم بلغدوة والعشى يريد ون وجهه، ولا تعد عيناك عنهم تريد زينة الحيوةالدنيا، ولا تطع من أغفلنا قلبه، عن ذكر نا واتبع هوىه وكان أمره فر طا.٢٨

Artinya: Dan bersabarlah kamu bersama dengan orang-orang yang menyeru Rabbnya di pagi hari dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya. Dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka karena mengharapkan perhiasan kehidupan dunia ini. Dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah kami lalaikan dari mengingat kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaanya itu melewati batas”. (QS. Al-Kahfi/18: 28)

 

Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di rahimahullah mengatakan bahwa Allah azza wajalla memerintahkan Nabi-Nya, Muhammad Shallalahu alaihi wassalam agar beliau bersabar bersama orang-orang Mukmin, orang-orang yang beribadah, orang-orang yang banyak kembali (bertaubat) kepada Allah. Yaitu orang-orang yang menyeru Rabbnya di pagi dan di senja hari, yaitu di awal dan akhir siang, mereka mengharap keridhaan-Nya. Allah azza wajalla menyifati mereka dengan ibadah dan ikhlas dalam beribadah.

Di dalam ayat ini terdapat perintah untuk berkawan dengan orang-orang baik, menundukkan jiwa untuk berkawan dan bergaul dengan mereka, walaupun mereka adalah orang-orang miskin, karena sesungguhnya berkawan dengan mereka terdapat faedah-faedah yang tidak terbatas.”[1]

Ibrahim al-Khawwash rahimahullah berkata:

دواء القلب خمسة أشياء : قراءةالقرآن بتدبر، وخلاء البطن، وقيام الليل، والتضرع عند السحر، ومجا لسة الصا لحين

Penawar hati itu ada lima: membaca al-Qur’an dengan tadbbur (perenungan), kosongnya perut (dengan puasa-pen), qiyamul lail (shalat malam), berdoa di waktu sahar (waktu akhir malam sebelum Shubuh), dan duduk bersama orang-orang shalih.”[2]

Namun hal ini bukan berarti kita tidak boleh mengenal semua orang. Mengenal semua orang dibolehkan, namun kita jangan menjadikan kawan dekat kecuali orang-orang shalih atau shalihah. Kita harus memilih kawan-kawan yang baik untuk keselamatan kita. Rasulullah shallalahu alaihi wasallam bersabda:

الرجل على دين خليله فلينظر أحدكم من يخا لل

Artinya: Seseorang itu mengikuti din (agama; tabiat; akhlaq) kawan dekatnya. Oleh karena itu, hendaknya seseorang di antara kalian memperhatikan siapa yang dia jadikan kawan dekat.[3]

 

Perumpamaan Kawan Baik dan Kawan Buruk

Berkawan dengan orang shalih membawa dampak yang baik, karena kawan itu akan mempengaruhi kawannya. Jika kawan itu shalih akan membawa kepada kebaikan, sebaliknya jika kawan itu buruk akan membawa kepada keburukan. Nabi shallalahu alaihi wassalam telah menjelaskan hal ini di dalam hadits shahih sebagaimana riwayat berikut ini:

عن أبي موسى رضي الله عنه، عن النبي صلى الله عليه وسلم قال:

مثل الجليسى الصا لح والسوء، كحا مل المسك ونا فخ الكير، فحا مل المسك: إما أن يحذيك، وإما أن تبتاع منه، وإما أن تجد منه ريحا طيبة، ونافخ الكير: إما أن يحر ق ثيا بك، و إما أن تجد ريحا خبيثة

Artinya: Dari Abu Musa al-Asy’ari radhiallahu anhu, dari Nabi Shallalahu alaihi wassalam, beliau bersabda:

“Perumpamaan kawan yang baik dan kawan yang buruk seperti seorang penjual minyak wangi dan seorang peniup alat untuk menyalakan api (pandai besi). Adapun penjual minyak wangi, mungkin dia akan memberikan hadiah kepadamu, atau engkau membeli darinya, atau engkau mendapatkan bau harum darinya. Sedangkan pandai besi, mungkin dia akan membakar pakaianmu, atau engkau mendapatkan bau yang buruk”.[4]

 

Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di rahimahullah menjelaskan hadits ini dengan penjelasan yang gamblang dan panjang lebar. Beliau rahimahullah berkata, “Hadits ini memuat anjuran untuk memilih kawan-kawan yang shalih dan memperingatkan dari kebalikan mereka (yakni kawan-kawan yang buruk). Nabi shallalahu alaihi wassalam membuat perumpamaan dengan dua perumpamaan ini. Beliau shallalahu alaihi wassalam menjelaskan bahwa seluruh keadaanmu dengan kawan shalih senantiasa dalam keberuntungan dan kebaikan. (Kawan shalih adalah) seperti penjual minyak wangi yang engkau dapat manfaat dari minyak wanginya. Mungkin dengan cara hadiah (gratis) atau dengan ganti (membeli darinya), engkau akan mendapat ketenangan dengan bau harum minyak wangi.

Kebaikan yang akan di peroleh seorang hamba yang berteman dengan orang shalih itu jauh lebih besar dan lebih utama daripada minyak wangi yang semerbak aromanya. Karena sesungguhnya, kawan yang shalih akan mengajarkan kepadamu hal-hal yang bermanfaat bagimu dalam (urusan) agama dan duniamu. Atau dia akan memberikan nasihat kepadamu. Atau dia akan memperingatkanmu dari perkara yang akan mencelakakanmu. Kawan yang shalih akan mendorongmu untuk mentaati Allah azza wajalla, berbakti kepada orang tua, menyambung silaturahmi, dan menunjukkan kekurangan-kekuranganmu. Dia juga mengajakmu untuk berakhlak mulia, baik dengan perkataannya, perbuatannya, dan keadaannya. Karena manusia itu memiliki tabiat mengikuti kawan atau teman dekatnya. Tabiat dan ruh itu seperti tentara yang berkumpul dengan sesamanya. Sebagian akan menggiring lainnya menuju kebaikan atau keburukan.

Manfaat minimal yang akan didapatkan dari kawan yang shalih, dan ini adalah manfaat yang tidak boleh diremehkan, yaitu dengan sebab (berteman dengan orang shalih-red) dia akan tercegah dari perbuatan buruk dan kemaksiatan. Karena menjaga persahabatan, berlomba dalam kebaikan, serta meninggalkan keburukan. Kawan yang shalih akan menjagamu, baik disaat engkau ada dihadapannya atau ketika engkau tidak ada dihadapannya. Kecintaan dan doanya akan memberikan manfaat kepadamu, baik di saat hidupmu maupun setelah matimu. Dia juga akan membelamu karena hubungannya denganmu dan kecintaaannya kepadamu (berkaitan dengan) perkara-perkara yang engkau tidak bisa membelanya sendiri. Demikian juga kawan yang shalih akan menghubungkanmu dengan pekerjaan-pekerjaan atau orang-orang yang akan memberi manfaat kepadamu.

Manfaat-manfaat kawan yang shalih tidak terhitung dan tidak terbatas. Diantaranya adalah seseorag itu akan dinilai dengan kawannya, dan dia akan mengikuti din (agama; tabiat; akhlak) kawan dekatnya.

Adapun berkawan dengan orang-orang yang buruk, maka itu kebalikan dari seluruh apa yang telah kami sebutkan. Kawan-kawan yang buruk akan mendatangkan bahaya kepada orang yang berkawan dengan mereka, mendatangkan keburukan kepada orang-orang yang bergaul dengan mereka dari segala sisi, betapa banyak orang-orang hancur dengan sebab mereka, dan betapa banyak mereka menggiring kawan-kawan mereka menuju kehancura, dari arah yang mereka sadari maupun tidak mereka sadari.

Oleh karena itu, termasuk nikmat Allah azza wajalla yang paling besar bagi seorang mukmin adalah bimbingan-Nya untuk berkawan dengan orang-orang shalih. Dan termasuk hukuman dari Allah azza wajalla adalah menjadikannya berkawan dengan orang-orang yang buruk. Berkawan dengan orang-orang yang shalih akan menghantarkan hamba menuju puncak derajat yang tinggi, dan berkawan dengan orang-orang buruk akan menghantarkan hamba menuju tingkatan paling rendah dari mereka.

Berkawan dengan orang-orang shalih akan menghasilkan ilmu-ilmu yang bermanfaat, akhlak-akhlak yang mulia, dan amal-amal yang shalih. Sedangkan berkawan dengan orang-orang yang buruk akan menghalangi semua itu.

Allah azza wajalla berfirman:

ويوم يعضى الظا لم على يديه يقول يليتنى اتخذت مع الرسول سبيلا (٢٧) يويلتى ليتنى لم أتخذ فلاناخليلا (٢٨) لقد أضلنى عن الذ كر بعد إذ جآ ءنى، وكان الشيطن للإنسن خذولا (٢٩)

Artinya: “Dan (ingatlah) hari (ketika itu) orang yang zhalim menggigit dua tangannya (yakni: sangat menyesal), seraya berkata: “Aduhai kiranya (dulu) aku mengambil jalan bersama-sama Rasul.”

Kecelakaan besarlah bagiku; kiranya aku (dulu) tidak menjadikan si Fulan itu teman akrab(Ku).

Sesungguhnya dia telah menyesatkan aku dari Al-Qur’an ketika Al-Qur’an itu telah datang kepadaku. Dan adalah Syaitan itu tidak mau menolong manusia. (QS. Al-Furqan/25:27-29)[5]

 

Inilah ajaran agama kita, ajaran mulia dari Allah azza wajalla, dan dari Rasul yang utama, untuk keselamatan kita bersama. Adakah orang-orang yang menginginkan keselamatan mau menerimanya? Hanya Allah tempat memohon dan meminta. Semoga Allah senatiasa membimbing kita semua di atas jalan keselamatan dunia dan akhirat.

 

Referensi, sumber dari :

Karya : Ustadz Abu Isma’il Muslim al-Atsari Hafidzahullah

Dari majalah As-sunnah Edisi 12/tahun XIX/jumadil akhir 1473H/April 2016M

Diringkas oleh : Lailatul Fadilah (Pengajar ponpes Darul Qur’an wal Hadits Oku Timur)

[1] Taisir Karimir Rahman, Syaikh Abdurrahman bin Nashir As Sa’di, Tafsir surat Al-Kahfi ayat 28

[2]  Al-Adzkar karya Al-Imam an-Nawawi, hal. 107; Tahqiq: Syu’aib al-Arnauth

[3]  HR. Abu Dawud, no.4833;Tirmidzi, no.2378. Dihasankan oleh syaikh al-Albani di dalam silsilah ash-Shahihah no.927

[4]  HR. Bukhari, no.5534;Muslim, no.2628

[5]  Bahjah Qulubil Abrar, hlm. 139-141, penerbit: Wizarah asy-Syu’un al-Islamiyah KSA. Cet:4, th:1423 H

Baca juga artikel:

Etika Pergaulan Seorang Muslim Maupun Muslimah

Berdalil untuk melakukan kemaksiatan

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.