ANDA TIDAK SENDIRI DALAM MENDIDIK ANAK

MENDIDIK ANAK

ANDA TIDAK SENDIRI DALAM MENDIDIK ANAK

 

Keliru apabila Anda mengira pendidikan anak hanya diperankan oleh kedua orang tua. Sebab nyatanya, banyak sekali pihak yang turut serta dalam mewarnai corak pendidikan si anak. Bahkan kerap kali peran pihak lain lebih besar dan lebih intens daripada peran orang tua.

Atas dasar itulah kewaspadaan orang tua dibutuhkan. Sebab apabila kita lengah, boleh jadi semua pengajaran yang kita berikan kepada anak akan dimentahkan guru-guru lain.

Ada beberapa pihak yang memiliki peran besar dalam hal ini, yang terkait pendidikan anak kita di luar rumah, yaitu sekolah, teman, dan sahabat, radio, dan televisi, telepon, internet, majalah, dan buku cerita, dan pembantu.

  1. Sekolah

Sekolah memiliki peran dan pengaruh yang amat besar. Di sekolahlah anak menghabiskan sebagian besar waktunya. Sekolah adalah lingkungan kedua setelah rumah. Di sekolah, mereka berkumpul dengan ratusan anak lain dari berbagai latar belakang sosial serta lingkungan yang berbeda-beda beserta bermacam-macam pemikiran, adat kebiasaan, juga karakter pribadi.

Anak kita bergaul dengan individu-individu itu dalam waktu yang sangat lama, bahkan bertahun-tahun, di sekolah. Dan kita semua sadar bahwa interaksi ini bisa memberikan pengaruh besar bagi kejiwaan anak.

Tidak heran jika sedikit maupun banyak anak cenderung meniru teman sekolahnya, tanpa mampu memilah dan memilih mana yang baik dan mana yang buruk.

Demikian juga para pengajar atau guru di sekolah yang berasal dari berbagai latar belakang pemikiran dan budaya serta kepribadian. Tidak semua guru memiliki komitmen terhadap akidah yang lurus. Bahkan, kebanyakan mereka tidak jelas keyakinannya.

Padahal, kerap kali guru menjadi figur dan tokoh panutan bagi anak-anak. Dengan mudah mereka mendengar dan mempraktikan ucapan maupun perbuatan sang guru, meski bertentangan dengan pola pikir dan didikan orang tua.

Karena itulah, kita harus sungguh-sungguh memilih sekolah yang terbaik bagi anak-anak kita. Sekalipun kita harus merogoh kocek lebih dalam. Ini tidaklah masalah, sebab banyaknya harta yang dikeluarkan tersebut tidak akan sia-sia.

Pilihlah sekolah yang kurikulum pendidikannya kita ketahui, serta yang visi dan misi pembinaannya dibangun di atas manhaj (cara beragama) yang lurus.

Lihatlah para pengajarnya, apakah mereka terpercaya dan selamat dalam lingkungan pergaulannya.

Memang, mencari sekolah yang ideal bukan hal yang gampang seperti membalik telapak tangan. Namun bagaimanapun kita, orang tua yang bertanggung jawab, harus mengusahkannya!

  1. Teman dan Sahabat

Teman, yang jauh dan yang dekat, berepengaruh besar dalam membentuk perangai, pemikiran, dan karakter anak. Bahkan, teman dapat membentuk prinsip dan pemahaman yang tidak bisa dilakukan orang tua. Betapa banyak anak yang menyimpang disebabkan pengaruh teman-temannya. Sampai-sampai dikatakan bahwa teman dan pergaulan yang baik adalah obat dan pembawa kebaikan; dan sebaliknya, teman dan pergaulan yang buruk adalah racun mematikan.

Oleh sebab itu, Allah memberi dorongan agar bergaul dengan kawan-kawan yang baik; sebagaimana firman-Nya:

واصبر نفسك مع الذين يدعون ربهم بالغدوة والعشي يريدون وجهه, ولا تعد عيناك عنهم تريد زينة الحيوة الدنيا, ولا تطع من أغفلنا قلبه عن ذكرنا واتبع هواىه وكان أمره فرطا (٢۸)

Dan bersabarlah engkau (Muhammad) bersama orang yang menyeru Rabbnya pada pagi dan senja hari dengan mengharap keridhoan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengaharapkan perhiasan kehidupan dunia; dan janganlah engkau mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingat Kami, serta menuruti keinginannya dan keadannya sudah melewati batas. (QS. Al-Kahfi: 28)

Rasulullah juga memberi gambaran pentingnya memilih kawan atau teman bergaul. Beliau bersabda:

(( إنما مثل الجليس الصالح والجليس السوء كحامل المسك ونافخ الكير, فحامل المسك إما أن يحذيك وإما أن تبتاع منه وإما أن تجد منه ريحا طيبة, ونافخ الكير إما أن يحرق ثيابك وإما أن تجد ريحا خبثة.))

“Sesungguhnya perumpamaan teman yang baik dengan teman yang buruk seperti penjual minyak wangi dan pandai besi. Adapun penjual minyak wangi, maka dia memberikannya kepadamu atau kamu membelinya darinya, atau kamu akan mendapat aroma wanginya. Adapun pandai besi, maka boleh jadi dia membakar pakaianmu atau kamu mencium bau busuknya.”

Lebih jelas lagi, beliau besabda terkait pengaruh sahabat atau teman karib terhadap kepribadian, yakni seperti yang ditegaskan dalam riwayat lain:

(( المرء على دين خليله فلينظر أحدكم من يخالل.))

“Seseorang berada di atas kebiasaan teman karibnya. Maka hendaklah salah seorang di antara kalian memperhatikan siapa yang menjadi teman karibnya.”

Maka, suatu kekeliruan besar jika orang tua tidak peduli dengan siapa anaknya berkawan dan bagaiamana lingkungan pergaulannya. Kesibukan apa pun bukanlah alasan bagi kita untuk mengabaikan masalah penting ini.

Dengan peduli terhadapnya tidaklah berarti orang tua mengekang anak hingga menjadi “kuper” (kurang pergaulan). Tetapi hendaknya kita mengawasi dan mengarahkan mereka supaya pandai memilih teman hingga tidak menjadi “koper” (korban pergaulan).

Izinkan anak kita membawa teman-temannya bermain di rumah, sehingga kita juga dapat mengenal pribadi mereka. Dan kalau memungkinkan, sesekali waktu ikutlah bermain bersama mereka.

  1. Radio dan Televisi

Sepertinya dua benda ini diam saja, karena benda mati. Sepertinya juga keduanya dapat membantu agar anak betah tinggal di rumah, sehingga kita sebagai orang tua tidak lagi perlu bersusah payah dalam mengawasi pergerakan mereka yang kian hari kian aktif.

Namun sedikit sekali orang tua yang menyadari bahwa dua benda tersebut hakikatnya seperti racun yang ganas, jika kita bersikap lemah dan terlalu longgar, tanpa memberi bimbingan dan pengarahan kepada anak. Alhasil, anak pun menjadi kecanduan dan tanpa sadar menjadikan radio serta televisi sebagai guru dan panutannya. Coba lihat kenyataan yang terjadi dewasa ini, tontonan sudah menjadi tuntunan tan tuntuan menjadi tontonan.

Sekalipun kita tidak menampik kebenaran bahwa ada sisi positif dan manfaat radio dan televisi, juga media massa pada umumnya. Sebut saja menambah pengetahuan serta menghadirkan wacana baru, namun manfaat itu sangatlah minim. Apalagi di Indonesia, yang dapat kita katakan 99% siaran dan tayangan keduanya adalah pengahancur akidah, akhlak, moral, mental, dan norma kesusilaan manusia.

Kita harus menyadari bahwa dua media ini merupakan sarana dan senjata untuk menghancurkan nilai-nilai dasar Islam dan kepribadian islami pada generasi muda. Karena musuh Islam siang-malam membuat rencana dan strategi jitu untuk menhancurkan para pemuda muslim baik secara sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan.

Fakta demikian dirasakan kita sendiri, orang tua kini. Jika kita membandingkan antara generasi sekarang dengan generasi dahulu yang hanya mengenal TVRI, maka tampak jelas perbedaannya.

Generasi sekarang setiap hari disuguhi tayangan-tayangan horor, mistik, dan takhayul yang berbau syirik dan kufur, serta kisah-kisah para pahlawan cinta, para perempuan yang berpakaian tetapi hakikatnya telanjang, bentuk perbuatan zina yang dianggap biasa, musik lengkap dengan segala artisnya. Masih banyak kemaksiatan lain yang disuguhkan televisi kepada para pemirsanya maupun radio kepada para pendengarnya, wallahul mustaan.

Maka jangan heran jika kecintaan para pemuda muslim kepada ilmu agama sedemikian tipisnya, rasa malu mereka seakan tiada lagi. Mereka tidak mengenal pribadi-pribadi semisal Abu Bakar ash-Shiddiq dan Umar bin al-Khathab, tetapi begitu hafalnya dengan sederet nama selebritas yang dijadikan idola, dan mereka sama sekali tidak ambil pusing terhadap akhiratnya, larut dalam dunianya yang hina-dina.

Sungguh, kenyataan yang memilukan. Maka hendaknya kita bersungguh-sungguh membentengi anak-anak kita dari media dan siaran televisi sebelum terlanjur menjadi korban. Sebisa mungkin tanamkan kesadaran bagi mereka, sehingga dengan sendirinya meninggalkan media massa ini. Tentu ini bukan perkara mudah, apalagi televisi ada hampir di setiap rumah kaum muslimin.

Lalu apa yang harus kita lakukan, solusi apa yang efektif untuk menanggulangi atau mencegah dampak buruk dari kedua media massa itu bagi generasi muda muslim ?

Berikanlah contoh teladan, inilah solusinya. Pasalnya, tidak mungkin kita menyuruh anak meninggalkan televisi sementara kita sendiri masih suka dan asyik menontonnya. Terapkanlah aturan ketat tentang acara apa saja yang boleh ditonton anak, juga kapan anak boleh menontonnya, sambil terus didampingi dan diberikan pengarahan. Namun tentu, yang terbaik adalah tidak ada televisi di rumah kita.

  1. Telepon

Tidak bisa dipungkiri, saat ini telepon termasuk sarana telekomunikasi yang pokok di dalam kehidupan manusia. Bahkan cenderung telah menjadi kebutuhan primer.

Di satu sisi, alat ini sangat membantu dan memberikan banyak kemudahan. Dengannya kita dapat menghemat waktu dan tenaga, informasi dapat disampaikan secara cepat dan efektif, berbagi urusan pun dapat diselesaikan dengan mudah dan efisien.

Namun di sisi lain, alat ini adalah media penghancur dan penebar kerusakan. Amat sedikit hati yang mampu bertahan dari godaannya. Kemudahan berkomunikasi ini membuat batas antara laki-laki dan perempuan sedemikian transparan. Betapa banyak pemuda-pemudi, bahkan mereka yang telah berumur, masuk dalam perangkap zina dengan bantuan alat komunikasi modern ini?

Apalagi di zaman facebook, twitter, nimbuzz, dan jejaring sosial lainnya kini. Dan diperparah lagi dengan meluasnya penggunaan HP atau telepon seluler berkamera lengkap dengan jaringan 3.5 G dan fitur TV-nya. Maka tersebarlah klip-klip video porno. Setiap orang yang lemah imannya bisa menikmati semua itu tanpa takut terlihat orang lain. Yang lebih menyedihkan, anak-anak yang masih duduk atau belajar di bangku SD pun tidak ada jaminan bisa selamat dari virus berbahaya tersebut.

Itulah ancaman serius bagi anak kita! Jika kita lengah, syaitan dengan mudah memasukkan anak kita ke dalam jeratan Iblis ini, waliyyadzu billah.

Maka hendaknya orang tua memiliki ketegasan dalam masalah alat komunikasi ini. Jangan izinkan anak memiliki HP pribadi sebelum mereka dewasa dan dapat kita percaya. Sering-seringlah memancing si anak agar mau menceritakan apa yang mereka saksikan dan rasakan di luar rumah, yakni tatkala ia tidak bersama kita. Teruslah berikan bimbingan dan pengarahan mengenai komunikasi hingga mereka juga menyadari ancaman berbahaya dari telepon, misalnya.

  1. Internet

Internet bagaikan pisau bermata dua. Jika kita menilik manfaatnya tentu banyak sekali. Sebagai sarana komunikasi yang murah dan cepat, sebagai penyebar ilmu pengetahuan, hingga berfungsi sebagai media dakwah.

Namun jika tidak hati-hati menggunakannya, media ini justru akan menyeret kita pada kerusakan yang tiada tara. Sangat jarang orang yang masuk ke dunia maya bisa keluar tanpa membawa dosa. Hanya orang-orang yang Allah jaga yang selamat dari keburukan internet. Bahkan, hampir tidak ada orang yang menggunakannya murni untuk kebaikan.

Tidak ada yang mampu menyangkal bahwa media ini banyak menawarkan pemuas hawa nafsu yang menggiurkan. Mulai dari pornografi yang benar-benar telah merusak moral bangsa, sampai ideologi-ideologi yang merusak pemikiran. Karena itulah, setiap orang hendaknya tidak  memberikan kebebasan kepada anak untuk berinteraksi dengan internet tanpa adanya pengawasan dan bimbingan.

Referensi:

Di tulis ulang oleh claudia afifah dari buku berjudul Mencetak Generasi Rabbani, penulis Abu Ihsan al-Atsari dan Ummu Ihsan, bab “Anda Tidak Sendiri Dalam Mendidik Anak” , hal. 232-239.

Diringkas: Ustadzah Claudia

Baca Juga Artikel:

Waspada Dari Perusak Amal

Sudah Ikhlaskah Kita?

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.