Pondok Pesantren Darul Qur'an Wal-Hadits Martapura OKU

BAHAYANYA IDEOLOGI ISIS DALAM PANDANGAN ISLAM

ISIS

 

BAHAYANYA IDEOLOGI ISIS DALAM PANDANGAN ISLAM-Sesungguhnya Ahlussunah wal Jamaáh para pengikut Salufushalih adalah orang-orang yang paling mengetahui al-Haq lagi paling penyayang terhadap makhluk. diantara bentuk kasih sayang mereka adalah bantahan mereka terhadap ahlulbidáh. maksudnya tidak lain adalah agar mereka (ahlulbidáh) mau bertaubat sehingga tidak mati dalam keadaan membawa dosa idáh yang membinasakan, juga agar manusia mengetahui kebidáhan mereka dan menjauhinya sehingga jumlah orang yang mengikuti mereka di dalam kesesatan dapat terminimalisir. sebab, bila tidak maka akan bertambah banyak dosa mereka.

Di antara kelompok-kelompok bidáh yang banyak dinasihati oleh para ulama sunnah dari zaman sahabat rodhiallahuánhum hingga hari ini adalah kelompok Khawarij. Diantara yang menasihati mereka adalah Sahabat Abdullah ibn Abbas rodhiallahuánhu di dalam kisah perdebatannya dengan orang-orang Khawarij yang menyadarkan puluhan ribu dari mereka. Kemudian diantara para tabiín, ada al-Imam Wahb ibn Munabbih yang menasehati Dzul Khaulan hinga bertaubat dari pemikiran Khawarij. Kemudian para ulama Sunnah lainnya dari masa ke masa hingga zaman ini yang banyak menasehati kaum khawarij dengan lisan-lisan dan pena-pena mereka.

Disaat kelompok Khawarij yang menonjol pada saat ini adalah ISIS yang menggonangkan dunia dengan aksi-aksi brutal mereka yang mengatasnamakan Islam. Sebagai nasehat kepada mereka khususnya dan kaum muslimin secara umum maka insyaAllah di dalam bahasan ini akan kami paparkan timbangan syariát Islam atas pemikiran-pemikiran dan aksi-aksi mereka dengan banyak mengambil faedah dari nasihat-nasihat para ulama terhadap mereka.

 

CELAAN ISIS TERHADAP MANHAJ SALAFI DAN PARA ULAMA

 

Diantara karakteristik-karakteristik ahli bidáh dari masa ke masa bahwasanya meraka selalu mencela dan mencoreng citra Ahlussunah wal Jamaáh untuk menjauhkan umat dari al-Haq. Al imam Abu Hatim ar-Razi berkata, “Ciri ahli bidáh adalah mencela ahli atsar,” (Ahlu Sunnah hlm. 24). Al-Imam Abu Utsman ash-Shabuni berkata, “Tanda yang paling jelas dari ahli bidáh adalah kerasnya permusuhan mereka kepada pembawa Sunnah Rasulullah Shallallahu álaihi wassallam . Mereka melecehkan dan menghina Ahlussunah dan menamakan Ahlussunah dengan Hasyawiyyah, Jahallah, Zhahiriyyah, dan Musyabbihah.” (Aqidah Salaf Ashabul Hadits hlm. 116)

Abu Bakar al-Baghdadi – Amir ISIS sebelum Abu Bakar al-Baghdadi – berkata, “Bertaqwalah kalian kepada Allah wahai pasukan Dewan Politik yang dahulu dan belakangan khususnya mereka yang berdusta dengan afiliasi mereka terhadap Manhaj Salaf, dan tinggalkan bendera-bendera yang menggiring kalian ke Jahannam dan sejelek-jelek tempat kambali.”

Kemudian dia berkata, “jika kalian tidak mau bertaubat sebelum kalian ditangkap maka demi Allah, sungguh membunuh seorang yang murtad lebih aku sukai daripada seratus orang Kristen.” (Dari kaset Wa’dullah dengan perantara kitab Da’isy al-‘raq wasy Syams fi Mizanis Sunnati wal Islam hlm. 31).

Abu Muhammad al-‘Adani juru bicara resmi ISIS berkata, “Kami tidak ingin menyingkap syubhat-syubhat Murjiáh zaman ini, yang membekukan kewajiban Jihad, maka dalam waktu dekat insyaAllah akan berkuasa Mujahidin, sehingga mengeluarkan apa-apa yang di dalam kepala orang-orang Murjiáh itu.” (Dari kaset as-Silmiyyah Dienu Man? Dengan perantara kitab Daísy al-Iraq wasy Syam fi Mizanis Sunnatil wal Islam hlm. 32).

Tuduhan dan julukan Murji’ah dari orang-orang Khawarij terhadap para ulama dan para da’i Manhaj Salafi bukanlah perkara yang baru. Al-Imam Ahmad berkata :

 

وَأَمَّا الْ فَإِنَّهُمْ يُسَمُّونَ أَهلَ السُّنَّةِ وَالْجَمَا عَةِ مُرْجِئَةِ، وَكَذَبَتْ الْخَوَارِجُ، بَلْ هُمُ الْمُرْجِئَةُ يَزْعُمُوْنَ أَنَّهُمْ عَلَى

إِيْمَانٍ دُوْنَ النَاسِ وَمَنْ خَالَفَهُمْ كُفَّارٌ

Artinya:

“Adapun Khawarij maka sesungguhnya mereka menamakan Ahlussunah Waljama’ah, Murji’ah, dan Khawarij telah dusta, bahkan merekalah Murji’ah, mereka menyangka bahwa mereka di atas keimanan sedangkan manusia tidak, dan bahwa siapa saja yang menyelisihi mereka adalah orang kafir.”[1]

 

Demikianlah kebencian ISIS terhadap ISIS terhadap Manhaj Salafushalih. Dan inilah sumber kesesatan mereka karena merupakan hal yang dimaklumi bahwa sumber kesesatan dari setiap kelompok bid’ah adalah adalah karena mereka meninggalkan sabilil mukminin yaitu jalan para sahabat di dalam memahami dan mengamalkan Islam. Allah Subhanahu wataála berfirman:

وَمَن يُشَاقِقِ ٱلرَّسُولَ مِنۢ بَعدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ ٱلهُدَىٰ وَيَتَّبِع غَيرَ سَبِيلِ ٱلمُؤمِنِينَ نُوَلِّهِۦ مَا تَوَلَّىٰ وَنُصلِهِۦ جَهَنَّمَۖ  وَسَآءَت مَصِيرًا

Artinya:

“Dan barangsiapa menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam neraka Jahannam itulah seburuk-buruk tempat Kembali”. (QS. an-Nisa’[4]:115)

 

Kalimat <<سَبِل اَلْمُوْمِنِينَ>> artinya adalah jalan orang-orang mukmin, yang pertamakali masuk dalam makna ini adalah para sahabat Rasulullah Shallallahu álaihi wassallam sebagaimana dalam sabda beliau Shallallahu álaihi wassallam :

((وَإِنَّ هَذِهِ الْمِلَّةَ سَتَفْتَرِقُ عَلَى ثَلَا ثٍ وَسَبْعِينَ ثِنْتَانِ وَسَبْعُونَ فِي النَّا رِ وَوَا حِدَةٌ فِي الْجَنَّةِ وَهِيَ الْجَمَا

عَةُ)). وفِي رواية: ((مَا أَنَا عَلَيْهِ وَأَصْحَابِي))

Artinya:

“Dan sesungguhnya umatku ini akan berpecah belah menjadi 73 kelompok, semuanya di neraka kecuali satu kelompok, ia adalah Jama’ah.” Di dalam Riwayat lain: “Ia adalah jalan yang aku tempuh dan para sahabatku.” (Diriwayatkan oleh Abu Dawud di dalam Sunnan-Nya 2/503-504 dan dishahihkan oleh asy-Syaikh al-Albani di dalam Silsilah ash-Shahihah: 203, 204, dan 1492)

 

Dari sinilah jelas bagi kita bahwa biang keladi kesesatan semua kelompok dalam islam, sejak dahulu hingga sekarang, yaitu bahwasannya mereka tidak menghiraukan ayat dan hadits-hadits di atas. Sebab itu, mereka menyeleweng dari jalan yang lurus dan memilih jalan-jalan yang sesat. Mereka mengandalkan akal dan pemikiran mereka tanpa merujuk kepada pemahaman sahabat dan ulama yang mengikuti jalan mereka. Dan bahwa jalan keselamatan adalah manhaj para sahabat dan salafushalih yaitu orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik. Kelompok ISIS di dalam memahami Islam secara terang-terangan meninggalkan pemahaman para sahabat Rasulullah Shallallahu álaihi wassallam dan menggantinya dengan pemahaman kelompok mereka..

 

AJAKAN ISIS UNTUK MEMAHAMI AL-QURÁN DENGAN AKAL SEMATA

 

Ketika Kelompok ISIS di dalam memahami Islam secara terang-terangan meninggalkan pemahaman para sahabat Rasulullah Shallallahu álaihi wassallam dan menggantinya dengan pemahaman kelompok mereka maka mereka terjerumus di dalam kesesatan-kesesatan pokok mereka adalah:

Memahami nash-nash al-Qurán dengan akal semata tanpa mengikuti manhaj yang shahih dalam memahaminya. Abul Bara’ al-Hindi salah seorang tokoh mereka berkata di dalam potongan video pada Bulan Juli 2014, “kalian buka mushaf dan bacalah ayat-ayat jihad dan segala sesuatu akan menjadi jelas … semua ulama mereka mengatakan kepadaku , ‘ini adalah wajib dan itu bukanlah wajib dan ini bukan waktu jihad’… tinggalkan semua orang dan bacalah al-Qurán maka kalian akan mengenal Jihad.” (Risalah Maftuhah hlm. 4-5)

 

KEMUNCULAN ISIS

ISIS muncul di wilayah-wilayah tertentu dari Iraq dan Suriah, dan kedua negara ini di dalam beberapa tahun terakhir hidup di dalam fitnah dan perpecahan, bahkan di dalam peperangan yang terus-menerus. Ini merupakan bukti kebenaran sabda Rasulullah Shallallahu álaihi wassallam yang menyifatkan Khawarij:

يَخْرٌجُونَ عِنْدَ اخْتِتِلاَفٍ فِي النَّاسِ

“… Mereka keluar di saat perselisihan manusia.”[2]

 

KHILAFAH DAN BAIÁTS ISIS

 

Pada tanggal 6 Ramadhan 1435 H bertepatan dengan 29 Juni 2014, juru bicara ISIS memakhlumatkan Abu Bakar al-Baghdadi sebagai Khalifah Muslimin dan penyebutan negara diubah dari ISIS menjadi Daulah Islamiyah (Negara Islam). Dari sinilah ISIS melihat setiap orang yang enggan untuk membaiát Abu Bakar al-Baghdadi adalah Kafir karena telah menentang penegakan Negara Islam dan penerapan Syariát Islam. Dan mereka melihat memerangi dan membunuh kaum murtad didahulukan dari memerangi orang kafir asli. Sebab itu tidak sedikit kaum muslimin yang mereka bunuh baik dari kalangan mujahidin maupun rakyat sipil dari wanita dan anak-anak, dengan cara yang amat keji dan kejam. Perbuatan biadab tersebut mereka sebarkan melalui internet. Tujuan mereka memperlihatkan kekejian tersebut adalah sebagai ancaman dan untuk membuat ketakutan bagi orang yang enggan menerima keputusan mereka.

Syaikhuna asy-Syaikh al-‘Allamah Abdul Muhsin ibn Hamd al-‘Abbad berkata, “Khalifah ISIS yang dinakaman Abu Bakar al-Baghdadi berkhutbah di Masjid Mosul, di antara yang ia katakana dalam khutbahnya, ‘sungguh aku telah dijadikan Pemimpin kalian padahal aku bukan yang terbaik diantara kalian.’ Sungguh dia telah berkata benar bahwa ia bukanlah yang terbaik diantara mereka, karena ia telah mambunuh orang yang mereka bunuh dengan pisau-pisau, apabila pembunuahan itu atas dasar perintahnya, atau ia mengetahuinya dan membolehkannya makai adalah yang terbentuk diantara mereka (memang bukan yang terbaik), berdasarkan sabda Nabi Shallallahu álaihi wassallam:

 

((مَنْ دَعَا إِلَى هُدًى كَانَ لَهُ مِنَ الأَخْرِ مِثْلُ أُجُوْرِ مَنْ تَبِعَهُ لَا يَنْقُصُ ذَالِكَ مِنْ أُجُوْ رِهِمْ شَيْئًا وَمَنْ دَعَا إِلَى

ضَلَالَةٍ كَانَ عَلَيْهِ مِنَ الإِثْمِ مِثْلُ آثَامِ مَنْ تَبِعَهُ لَايَنْقُصُ ذَالِكَ مِنْ آثَامِهِمْ شَيْئًا))

Artinya:

‘Barangsiapa mengajak kepada petunjuk, makai a mendapat pahala seperti pahala orang-orang yang mengikutinya tanpa mengurangi pahala mereka sedikitpun. Dan barangsiapa mengajak kepada kesesatan, makai ia mendapat dosa seperti dosa orang-orang yang mengikutinya tanpa mengurangi dosa mereka sedikitpun.’ Diriwayatkan oleh Muslim no. 6804).” (Dari makalah yang berjudul Fitnatul Khilafah ad-Daísyiyyah al-Iraqqiyah al-Mazúmah tertanggal 28/9/1435 H)[3]

 

PENUTUP

 

Semoga paparan yang ringkas ini bisa menyadarkan mereka dan menjauhkan kaum muslimin dari terjerumus ke dalam kesesatan mereka. Akhirnya, kami tutup bahasan ini dengan nasihat dari asy-Syaikh Shalih ibn Sád as-Suhaimi:

“Dan sebagaimana wasiat yang telah kusampaikan kepada penduduk Iraq belum lama ini, dan wasiatku kepada penduduk negeri lain sejak dahulu; yaitu, hendaknya mereka tetap tinggal di rumah masing-masing. Kalua mereka diserang, maka silakan membela diri. Barangsiapa terbunuh demi membela harta, kehormatan, atau jiwanya, maka dia Syahid.

Akan tetapi, jangan ikut-ikutan berperang dalam barisan pasukan kelompok-kelompok ini semuanya. Mereka semua itu berada dalam kesesatan; baik daulah Rafidhah, atau Daulah Syam dan Iraq, atau Daulah Khilafah Khayalan. Mereka semua kontra dengan Ahlussunah wal Jamaáh. Jangan sampai kita disibukkan oleh mereka, tidak ada perlunya kita terhadap mereka. Bahkan kita tetap beribadah kepada Allah Jalla Jallahu, belajar, dan menuntut ilmu agama Allah hingga Allah mencabut ruh kita dalam keadaan baik atau mengistirahatkan kita dari gangguan para pelaku dosa.” (dari dars Syarh “Ushulus Sunnah”karya al-Imam Ahmad. Pertemuan ke-3, tanggal 3 Ramadhan 1435 H/1 Juli 2014 di Masjid Nabawi)[4]

 

والله أ علم با لصوب

Sumber :

Majalah Al-Furqon Edisi 160 Vol. 1 Tahun ke-15

Sya’ban 1436 H

Oleh UStadz Arif Fathul bin Ahmad Saifullah hafidzohullah

Diringkas oleh : Abu Ghifar Supriadi

[1] Masa’il Harb oleh al-Kirmani 3/986

[2] Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah di dalam Mushannaf no. 37932, Ibnu Abdir Barr di dalam at-tauhid 23/331, dan ibnu Abi ‘Ashim di dalam as-Sunnah no. 923, dan asy-Sya

[3] Dari: http://www.al-abbad.com

[4] Dari:http//www.sahab.net/forums/index.php?showtopic=145025

Baca Juga Artikel:

AL-Ghalib dan An-Nashir

Optimalkan Ibadah di Bulan Sya’ban

Be the first to comment

Ajukan Pertanyaan atau Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.