AL-ASMÂ-UL-HUSNÂ DAN PENYIMPANGAN TERHADAPNYA

PENYIMPANGAN

Alloh l memiliki nama-nama yang indah. Di dalam bahasa Arab disebut dengan Al-Asmâ-ul-Husnâ (الأَسْمَاءُ الْحُسْنَى). Alloh l berfirman:

{ وَلِلَّهِ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَى فَادْعُوهُ بِهَا وَذَرُوا الَّذِينَ يُلْحِدُونَ فِي أَسْمَائِهِ سَيُجْزَوْنَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ }

Artinya: “Hanya milik Alloh Al-Asmâ-ul-Husnâ. Oleh karena itu, bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut Al-Asmâ-ul-Husnâ itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-nama-Nya. Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.” (QS Al-A’râf : 180)

Untuk mengenal nama-nama tersebut haruslah merujuk kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah. Al-Qur’an adalah kalâmullâh (perkataan Alloh). Alloh lebih tahu tentang diri-Nya daripada seluruh makhluk-Nya. Begitu pula dengan Rosululloh n. Beliau lebih tahu tentang Alloh daripada seluruh manusia.

Ada beberapa permasalahan yang sangat menarik untuk dibahas ketika kita berbicara tentang Al-Asmâ-ul-Husnâ ini. Penulis rinci dengan membuat sub-sub judul berikut:

AL-ASMÂ-UL-HUSNÂ TIDAK HANYA SEMBILAN PULUH SEMBILAN

Banyak orang yang menyangka bahwa Alloh hanya memiliki sembilan puluh sembilan nama, dengan dalil yang diriwayatkan dari Abu Hurairah a bahwasanya Rosululloh n bersabda:

( إِنَّ لِلَّهِ تِسْعَةً وَتِسْعِينَ اسْمًا مِائَةً إِلَّا وَاحِدًا مَنْ أَحْصَاهَا دَخَلَ الْجَنَّة )

Artinya: “Sesungguhnya Alloh memiliki sembilan puluh sembilan nama; seratus kurang satu. Barang siapa yang dapat menghitung atau menghapalnya maka dia akan masuk surga.”[1]

Padahal, Alloh memiliki banyak nama yang tidak kita ketahui dan disembunyikan di sisi-Nya. Rosululloh n pernah berdoa, :

( …أَسْأَلُكَ بِكُلِّ اسْمٍ هُوَ لَكَ سَمَّيْتَ بِهِ نَفْسَكَ ، أَوْ عَلَّمْتَهُ أَحَدًا مِنْ خَلْقِكَ ، أَوْ أَنْزَلْتَهُ فِي كِتَابِكَ ، أَوِ اسْتَأْثَرْتَ بِهِ فِي عِلْمِ الْغَيْبِ عِنْدَكَ …)

Artinya: “… Saya memohon dengan seluruh nama yang Engkau miliki, yang Engkau menamakan diri-Mu dengannya, yang Engkau ajarkan kepada salah seorang dari makhluk-Mu, yang Engkau turunkan di dalam Kitab-Mu atau yang Engkau sembunyikan di ilmu ghaib di sisi-Mu…”[2]

Hadits di atas sangat jelas menyatakan bahwa nama Alloh l tidak hanya sembilan puluh sembilan, karena ada nama-nama yang disembunyikan di sisi-Nya.

Seandainya ada seseorang mengatakan, “Saya punya uang Rp 10.000,00.” Apakah pengabaran ini menunjukkan dia hanya punya uang Rp 10.000,00 saja? Tentu tidak. Bisa saja dia memiliki uang lebih dari itu. Begitu pula dengan penyebutan sembilan puluh sembilan pada hadits di atas.

Al-Qurthubi berkata, “Telah kami sebutkan bahwa nama-nama Alloh ada yang telah disepakati oleh para ulama dan ada yang masih diperselisihkan. Yang kami dapatkan di buku-buku para imam kami, (nama-nama tersebut) mencapai lebih dari dua ratus nama.”[3]

Ibnu Katsîr berkata, “Al-Faqîh Al-Imâm Abu Bakr bin Al-‘Arabi –salah satu imam madzhab Mâliki menyebutkan di dalam kitabnya ‘Âridhotul-Ahwadzi fî Syarhi At-Tirmidzi’ Bahwasanya sebagian ulama mengumpulkan nama-nama Alloh dari Al-Qur’an dan As-Sunnah sebanyak seribu nama. Allâhu a’lam.”[4]

ARTI ‘BARANG SIAPA YANG MENGHITUNG/MENGHAPALNYA, MAKA DIA AKAN MASUK SURGA.’

Rosululloh n bersabda, “Sesungguhnya Alloh memiliki sembilan puluh sembilan nama/seratus dikurangi satu. Barang siapa yang dapat menghitung atau menghapalnya maka dia akan masuk surga.”[5]

Ihshô (menghitung/menghapal) Al-Asmâ-ul-Husnâ di dalam hadits tersebut memiliki empat tingkatan, yaitu:

  1. Menghitung dan menghapal nama-nama tersebut.
  2. Memahami makna yang terkandung di dalamnya
  3. Berdoa dengan menggunakan nama-nama tersebut, seperti: Ya Rozzâq (Yang Maha Memberi Rezeki)! Berilah aku rezeki, Ya Ghofûr (Yang Maha Pengampun)! Ampunilah dosa-dosaku.
  4. Menyembah Alloh dengan seluruh kandungan nama-nama tersebut. Jika kita tahu bahwa Alloh Ar-Rohîm (Maha Pemberi Rahmat), maka kita selalu mengharapkan rahmat atau kasih sayang-Nya. Jika kita tahu bahwa Alloh Al-Ghofûr (Maha Pemberi Ampun), maka kita selalu memohon ampun kepadanya. Jika kita tahu bahwa Alloh As-Samî’ (Maha Mendengar), maka kita selalu menjaga perkataan kita, jangan sampai membuat Dia marah. Jika kita tahu bahwa Alloh Al-Bashîr (Yang Maha Melihat), maka kita selalu menjaga perbuatan kita agar tidak mengerjakan sesuatu yang tidak diridhainya. [6]

SEMBILAN PULUH SEMBILAN AL-ASMÂ-UL-HUSNÂ DI DALAM SATU HADITS

Tidak ditemukan hadits yang shohîh yang menyebutkan dan mengumpulkan sembilan puluh sembilan Al-Asmâ-ul-Husna dalam satu hadits. Adapun hadits yang diriwayatkan di dalam Sunan At-Tirmidzi, Mustadrak Al-Hakim dan yang lainnya, para ulama mendhaifkannya.

Tirmidzi setelah menyebutkan hadits yang terdapat di dalamnya Al-Asmâ-ul-Husna tersebut, beliau mengatakan, “Hadits ini ghorîbhadits ini diriwayatkan dengan jalan lain dari Abu Hurairah dan kami tidak mengetahui pada sebagian besar riwayat-riwayat tersebut yang menyebutkan nama-nama ini kecuali di hadits ini…”[7]

Ibnu katsîr mengatakan, “Yang menjadi pegangan Jamâ’ah Al-Huffâdzh (para muhadditsîn) adalah hadits tersebut mudraj[8].”[9]

BOLEHKAH SESEORANG DIBERI NAMA DENGAN SALAH SATU NAMA ALLOH?

Nama-nama Alloh l terbagi menjadi dua jenis, yaitu:

  1. Nama-nama yang mengandung sifat yang hanya khusus dimiliki oleh Alloh l, seperti: Ar-Rohmân, Al-Khâliq, Al-Bâri, Al-Qayyûm, Al-Ilâh, Ar-Razzâq, Ash-Shomad, Nama-nama Alloh yang seperti itu hanyalah milik Alloh dan tidak boleh digunakan oleh makhluknya.

Oleh karena itu Rosululloh n melarang seseorang diberi nama dengan Malikul-Amlâk (Raja semua raja), dengan sabdanya:

( إِنَّ أَخْنَعَ اسْمٍ عِنْدَ اللَّهِ رَجُلٌ تَسَمَّى مَلِكَ الْأَمْلَاكِ… لَا مَالِكَ إِلَّا اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ )

Artinya: “Sesungguhnya nama yang paling hina di sisi Alloh adalah seseorang yang bernama Malikul-Amlâk (Raja semua raja)…Tidak ada raja kecuali Alloh ‘azza wa jalla.”[10]

Rosululloh n melarang menggunakan nama tersebut, karena di dalamnya terdapat suatu penyerupaan dengan Alloh pada nama dan sifat-Nya. Ini semua untuk menjaga tauhid, menjaga hak Alloh dan menutup pintu-pintu menuju kesyirikan pada ucapan-ucapan manusia. Karena bisa saja, dengan nama-nama yang sebenarnya hanya dikhususkan untuk Alloh, seseorang menyangka bahwa selain Alloh yang menggunakan nama tersebut juga memiliki sifat-sifat yang terkandung pada nama tersebut. Ini termasuk syirik.

Mâlikul-Amlâk (Raja semua raja) adalah Alloh. Tidak ada yang berhak memiliki gelar itu kecuali Alloh. Oleh karena itu, para ulama sepakat akan terlarangnya menggunakan nama-nama jenis ini untuk makhluk-Nya[11].

Di negara kita banyak orang yang menggunakan nama-nama yang seperti ini atau dipanggil dengan nama-nama tersebut, seperti: Rohmân, Shomad, Khâliq, Rozzâq dll. Hal ini tentu tidak diperbolehkan.

  1. Nama-nama yang mengandung sifat yang tidak dikhususkan untuk Alloh l , seperti: Al-Halîm, Ar-Rohîm, Ar-Ro-ûf, Al-‘Azîz, Al-Karîm, Al-Hakîm, Al-Hakam, Al-‘Aliy dll. Nama-nama Alloh yang seperti itu boleh digunakan oleh makhluk. Karena Alloh l di dalam Al-Qur’an menamakan makhluknya dengan nama-nama tersebut, seperti pada ayat-ayat berikut:

فَبَشَّرْنَاهُ بِغُلَامٍ حَلِيمٍ

Kemudian kami berikan kabar gembira kepadanya (yaitu Ibrahim) dengan seorang anak yang  (sabar/tenang).” (QS Ash-Shâffât : 101)

Alloh menamai Nabi Muhammad dengan Ro-ûf dan Rohîm

بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ

(Dia) amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin.” (QS At-Taubah : 128)

Di dalam kisah Nabi Yûsuf ‘alaihis-salâm, Alloh menyebut penguasa pada saat itu dengan Al-Azîz.

قَالَتِ امْرَأَتُ الْعَزِيزِ

Istri Al-‘Azîz pun berkata.” (QS Yusuf : 51)

Para sahabat banyak yang menggunakan nama-nama seperti ini dan tidak diingkari oleh Rosululloh n , seperti: ‘Ali, Karîm bin Al-Hârits bin ‘Amr As-Sahmi, setidaknya ada 10 orang bernama Hakîm dan setidaknya ada 30 orang yang bernama Al-Hakam.[12]

Akan tetapi, kita harus paham bahwa kesamaan nama dan sifat Alloh dengan makhluk tidak berarti Alloh sama dengan makhluk-Nya. Seseorang bisa saja dijuluki Halîm (yang sabar dan tenang), tetapi hilm (kesabaran/ketenangan) yang dimilikinya tidak akan sama dengan hilm yang dimiliki oleh Alloh. Alloh memiliki sifat yang sempurna, tidak ada kekurangan dan tidak ada yang bisa menandinginya.[13]

Meskipun menggunakan nama-nama jenis kedua diperbolehkan, tetapi tetap disunnahkan untuk menambahkan nama penghambaan di depannya, yaitu dengan menggunakan kata ‘Abd (عبد) untuk laki-laki, seperti: ‘Abdul-Halîm, ‘Abdul-Hakîm dll.[14]

Rosululloh n pernah mengganti nama seseorang yang bernama ‘Aziz menjadi ‘Abdurrahman sebagaimana disebutkan di dalam riwayat Khaitsamah bin ‘Abdirrahman bin Abi Sabrah, dia menceritakan bahwa dulu bapaknya – yaitu ‘Abdurrahman- pernah pergi bersama kakeknya menuju ke Rosululloh n. Rosululloh n pun bertanya, “Siapa nama anakmu ini?” Kakekku pun menjawab, “’Azîz.” Nabi pun mengatakan, “Jangan kau namai dia dengan nama ‘Azîz. Tetapi, Namailah dia dengan ‘Abdurrahman.” Kemudian Nabi pun berkata, “Sesungguhnya nama-nama yang paling bagus adalah ‘Abdullâh, ‘Abdurrahmân dan Al-Hârits. [15]

Pada hadits ini tidak terdapat larangan menggunakan nama ‘Azîz, tetapi Rosululloh n menggantikannya dengan yang lebih baik, yaitu ‘Abdurrahman.

BENTUK-BENTUK PENYIMPANGAN TERHADAP AL-ASMÂ-UL-HUSNÂ

Penyimpangan terhadap Al-Asmâ-ul-Husnâ ada lima macam, yaitu[16]:

  1. Menamakan patung-patung yang diambil dari nama-nama Alloh, seperti: Patung yang bernama Al-Lât (اللات) diambil dari nama Alloh Al-Ilâh (الإله), Al-‘Uzzâ (العزى) dari nama Alloh Al-‘Azîz (العزيز), Al-Manât (مناة) dari nama Alloh Al-Mannân (المنان).
  2. Menamakan Alloh dengan sesuatu yang tidak layak bagi Alloh, seperti: para filosof menamakan Alloh dengan Prime Cause (Sebab Utama) dan kaum Nashrâni (Kristen) menamakan Alloh dengan Al-Abu (الأب) atau Tuhan Bapa.
  3. Menamakan Alloh dengan sifat-sifat kekurangan, seperti yang dikatakan oleh orang-orang Yahudi bahwa Alloh Faqîr (Miskin) atau tangan Alloh terbelenggu.
  4. Meniadakan/menolak nama-nama Alloh (ta’thîl), seperti yang dilakukan oleh kaum Jahmiyah. Mereka mengatakan bahwa Al-Asmâ-ul-Husnâ hanya sekedar nama yang tidak memiliki makna dan arti. Mereka mengatakan, “Ar-Rohîm (Yang Maha Penyayang), tetapi Alloh tidak disifati dengan Rahmah (memberi kasih sayang), Al-Hayyu (Yang Maha Hidup), tetapi Alloh tidak disifati dengan hidup, As-Samî’ (Yang Maha Mendengar) dan Al-Bashîr (Yang Maha Melihat), tetapi Alloh tidak disifati dengan memiliki pendengaran dan penglihatan.

Ada juga orang-orang yang hanya menetapkan beberapa sifat yang terkandung pada nama-nama tersebut tetapi menolak sifat yang lainnya. Mereka menetapkan sifat berilmu pada Alloh, karena Alloh memiliki nama Al-‘Alîm (Yang Maha Berilmu), tetapi mereka tidak menetapkan sifat memberi kasih sayang (rahmah) pada Alloh, padahal Alloh memiliki nama Ar-Rahmân dan Ar-Rahîm.

Orang yang meniadakan/menolak nama-nama Alloh ada bermacam-macam. Di antara mereka ada yang keluar dari agama Islam dan ada juga yang belum keluar dari agama Islam, tergantung kepada seberapa besar tingkat kesesatannya.

  1. Menyerupakan Alloh dengan makhluk (tamtsîl), seperti mengatakan bahwa penglihatan dan pendengaran Alloh seperti penglihatan dan pendengaran manusia, hidup Alloh seperti hidup makhluk-Nya dll. Ini tidak diperbolehkan. Alloh telah menyatakan di dalam Al-Qur’an bahwa Alloh tidak serupa dengan segala apapun. Alloh berfirman:

{ لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ }

Artinya: “Tidak ada yang sesuatu apapun yang semisal dengan-Nya dan Dia adalah Yang Maha Mendengar dan Maha Melihat.” (QS Asy-Syûrâ : 11)

NASIHAT

Mengenal Alloh l adalah suatu kewajiban. Salah satu cara mengenal Alloh adalah dengan mempelajari Al-Asmâ-ul-Husnâ dan Sifat-Sifat Alloh yang tercantum di dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah. Seseorang tidak mungkin memahami dengan benar arti dari setiap nama dan sifat Alloh kecuali dengan memahami bahasa Arab. Contohnya: Ar-Rohmân diterjemahkan dengan Yang Maha Pengasih dan Ar-Rohîm diterjemahkan dengan Yang Maha Penyayang, padahal kedua terjemahan tersebut kurang tepat dan memang tidak kita temukan kata yang sepadan untuk menerjemahkannya ke dalam bahasa Indonesia. Begitulah halnya dengan sebagian besar Al-Asmâ-ul-Husnâ dan sifat-sifat Alloh. Oleh karena itu, sempatkanlah diri untuk benar-benar mempelajari bahasa Arab.

Demikian, mudahan bermanfaat.

DAFTAR PUSTAKA

  1. Aisarut-Tafâsîr li kalâm ‘Aliyil-Kabîr. Jâbir bin Musa Al-Jazâiri.
  2. Al-Jâmi’ li ahkâmil-Qur’ân. Muhammad bin Ahmad Al-Qurthubi. 1423 H/2003 M. Riyadh: Dar ‘Âlam Al-Kutub.
  3. Al-Qaul Al-Mufîd ‘Alâ Kitâbit-Tauhîd. Muhammad bin Shâlih Al-‘Utsaimîn. 1424 H. KSA: Dâr Ibnil-Jauzi.
  4. At-Tadmuriyyah. Ahmad bin ‘Abdil-Halîm bin ‘Abdissalam bin Taimiyah. 1424 H/2003. Ar-Riyadh: Maktabah Al-‘Ubaikân.
  5. Jâmi’ul-bayân fî ta’wîlil-Qur’ân. Muhammad bin Jarîr Ath-Thabari. Beirut: Muassasah Ar-Risâlah.
  6. Ma’âlimut-tanzîl. Abu Muhammad Al-Husain bin Mas’ûd Al-Baghawi. 1417 H/1997 M. Riyâdh:Dâr Ath-Thaibah.
  7. Tafsîr Al-Qur’ân Al-‘Adzhîm. Ismâ’îl bin ‘Umar bin Katsir. 1420 H/1999 M. Riyâdh: Dâr Ath-Thaibah.
  8. Taisîr Al-‘Azîz Al-Hamîd fî Syarhi Kitabit-Tauhîd. Sulaiman bin ‘Abdillah. 1423 H/2002. Beirut: Al-Maktab Al-Islâmi.
  9. Taisîr Al-Karîm Ar-Rahmân. Abdurrahmân bin Nâshir As-Sa’di. Beirut: Muassasah Ar-Risâlah.
  • Tasmiyatul-Maulûd. Bakr bin ‘Abdillah Abu Zaid. 1416 H/1995. Ar-Riyadh: Dârul-‘Âshimah.
  • Dan sumber-sumber lain yang sebagian besar telah dicantumkan di footnotes.

 

[1] HR Bukhori no. 2736 dan Muslim no. 6/2677.

[2] HR Ahmad no. 3712, Hâkim no. 1877 dan yang lainnya. Syaikh Al-Albâni berkata di Ash-Shahîhah no. 199, “Hadîst ini shohîh.”

[3] Tafsîr Al-Qurthubi (VII/325)

[4] Tafsîr Ibni Katsîr (III/515).

[5] HR Bukhori no. 2736 dan Muslim no. 6/2677.

[6] Lihat Taisîr Al-‘Azîz Al-Hamîd hal. 555 dan Al-Qoul Al-Mufîd (II/314-316)

[7] Sunan At-Tirmidzi no. 3507

[8] Yaitu hadîts yang di dalamnya terdapat tambahan dari orang yang meriwayatkan hadîts yang tidak termasuk bagian hadîts tersebut. Hadîts mudraj adalah salah satu jenis hadits dho’îf.

[9] Tafsîr Ibni Katsîr (III/515).

[10] HR Muslim 20/2143.

[11] Al-Mausû’ah Al-Fiqhiyah Al-Kuwaitiyah (XI/335-336).

[12] Lihat Al-Ishâbah fi Tamyîzish-shahâbah. Ibnu Hajar Al-‘Asqalâni pada nama-nama tersebut.

[13] At-Tadmuriyyah hal. 21-24.

[14] Sebagian ulama mengharamkan menggunakan nama-nama Alloh untuk nama seseorang secara mutlak, walaupun nama-nama tersebut termasuk jenis yang kedua. Pendapat ini lemah, tetapi sebaiknya kita tetap berhati-hati untuk tidak menggunakannya untuk menghormati nama-nama Alloh, sebagaimana Rosululloh pernah mengganti orang yang berkun-yah Abul-Hakam dengan Abu Syuraih.

[15] HR Ahmad no. 17606 dan yang lainnya. Syaikh Syu’aib berkata, “Hadîts ini shohîh.”

[16] At-Tadmuriyah hal. 31-42, Tafsîr Al-Qurthubi (VII/328-329), Taisîr Al-‘Azîz Al-Hamîd hal. 560-561 dan Al-Qaul Al-Mufîd (II/317-318).

Oleh: Ustadz Said Yai Lc.

Referensi : Majalah Lentera Qalbu

baca juga artikel :

Peranan Rumah Tangga Bagi Keluarga Muslim

Ibadah Teragung dalam Sejarah

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.