Pondok Pesantren Darul Qur'an Wal-Hadits Martapura OKU

FENOMENA DUKUN SAKTI YANG MENGAKU MENJADI WALI ALLAH

WALI ALLAH

 

 

FENOMENA DUKUN SAKTI YANG MENGAKU MENJADI WALI ALLAH-Alhamdulillah, segala puji bagi Allah Ta’ala yang telah banyak memberikan kepada kita nikmat yang sangat banyak, diantaranya adalah nikmat Islam, nikmat Iman dan nikmat untuk bisa istiqamah diatas jalan hidayah. Sehingga wajib bagi kita untuk selalu bersyukur atas limpahan rahmat dan nikmat-Nya kepada kita semua.

Saudaraku, betapa banyak orang dizaman sekarang ini yang mengaku sebagai  wali-wali Allah yang mana mereka mengaku  memiliki kesaktian-kesaktian diantaranya seperti mampu berjalan diatas air, bisa terbang dan yang lain sebagainya. Apakah hal ini bisa dikatakan sebagai wali Allah menurut pandangan Al-Quran dan As-Sunnah? Atau malah sebaliknya?

Berikut ini adalah pembahasannya:

Siapakah Wali Allah itu?

Kata wali (kekasih)adalah lawan dari kata ‘aduw (musuh), sementara kata wilayah (kedekatan) adalah lawan dari kata ‘adawah(permusuhan),sehingga makna wali menurut bahasa tidak keluar dari arti kalimat cinta (mahabbah), mengikuti (ittiba’) ,kedekatan(qurb)dan pembelaan (wala).

Imam Ibnu Hajar Rahimahullah menjelaskan bahwasanya makna wali Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah orang yang mengerti tentang Allah Subhanahu wa Ta’ala serta  terus-menerus berbuat ketaatan dan juga ikhlas dalam beribadah. Dan semua definisi para ulama tentang wali Allah Subhanahu wa Ta’ala tersebut kembali kepada satu hakikat,yaitu bentuk tafsir dari firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :

أَلَا إِنَّ أَوْلِيَاءَ اللَّهِ لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ (62) الَّذِينَ آمَنُوا وَكَانُوا يَتَّقُونَ (63

Artinya:

“Ingatlah, sesungguhnya wali-wali allahSsubhanahu wa Ta’ala itu tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak(pula) mereka bersedih hati.(yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertaqwa. (QS. Yunus/10:62-63).

 

Derajat kewalian hanya bisa diraih dengan ketaatan, kecintaan kepada Allah Subhanahu wa ta’ala dan pembelaan terhadap agama-nya, sehingga kewalian seorang  hamba menuntut untuk beriman dan bertakwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan selalu melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya. Itulah wali Allah Subhanahu wa Ta’ala yang sejati meskipun selama hidupnya tidak pernah mempunyai karomah. Oleh sebab itu, tidak akan bisa menjadi wali Allah Subhanahu wa Ta’ala kecuali hamba yang beriman kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan beriman kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan beriman kepada ajaran yang dibawa oleh Nabi Muhammad Shalallahu’alaihi wa Sallam serta mengikuti sunnahnya, baik secara zhahir maupun secar batin. Barang siapa yang  mengklaim mencintai Allah Subhanahu wa Ta’ala dan menjadikan dirinya sebagai kekasih-Nya, sedangkan ia tidak mau mengikuti sunnah Rasul-Nya Shalallahu ‘alaihi wa Sallam, maka ia bukanlah wali Allah Subhanahu wa Ta’ala bahkan siapa yang menyelisihinya maka ia musuh Allah Subhanahu wa Ta’ala dan menjadi wali setan.

Allah Ta’ala berfirman :

يَابَنِي آدَمَ لَا يَفْتِنَنَّكُمُ الشَّيْطَانُ كَمَا أَخْرَجَ أَبَوَيْكُمْ مِنَ الْجَنَّةِ يَنْزِعُ عَنْهُمَا لِبَاسَهُمَا لِيُرِيَهُمَا

سَوْآتِهِمَا إِنَّهُ يَرَاكُمْ هُوَ وَقَبِيلُهُ مِنْ حَيْثُ لَا تَرَوْنَهُمْ إِنَّا جَعَلْنَا الشَّيَاطِينَ أَوْلِيَاءَ لِلَّذِينَ لَا

يُؤْمِنُونَ (27) وَإِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً قَالُوا وَجَدْنَا عَلَيْهَا آبَاءَنَا وَاللَّهُ أَمَرَنَا بِهَا قُلْ إِنَّ اللَّهَ لَا يَأْمُرُ

بِالْفَحْشَاءِ أَتَقُولُونَ عَلَى اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ (28) قُلْ أَمَرَ رَبِّي بِالْقِسْطِ وَأَقِيمُوا وُجُوهَكُمْ

عِنْدَ كُلِّ مَسْجِدٍ وَادْعُوهُ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ كَمَا بَدَأَكُمْ تَعُودُونَ (29) فَرِيقًا هَدَى وَفَرِيقًا

حَقَّ عَلَيْهِمُ الضَّلَالَةُ إِنَّهُمُ اتَّخَذُوا الشَّيَاطِينَ أَوْلِيَاءَ مِنْ دُونِ اللَّهِ وَيَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ مُهْتَدُونَ (

30

Artinya:

 “Hai anak Adam, janganlah sekali-kali kamu dapat ditipu oleh setan sebagaimana ia telah mengeluarkan kedua ibu bapakmu dari surga, ia menanggalkan dari keduanya pakaiannya untuk memperlihatkan kepada  keduanya auratnya,sesungguhnya ia dapat mengikut-ngikutinya melihat kamu dan suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka. Sesungguhnya kami telah menjadikan setan-setan itu pemimpin-pemimpin bagi orang-orang yang tidak berima. Dan apabila seseorang berbuat keji, mereka berkata: “Kami mendapati nenek moyang Kami yang mengerjakan yang demikian itu, dan Allah menyuruh kami mengerjakannya,”Katakanlah: ”Sesungguhnya Allah tidak menyuruh (mengerjakan) perbuatan yang keji!” Mengapa kamu mengada-adakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui? Katakanlah: Rabbku menyuruh menjalankan keadilan, dan(katakanlah): ”Luruskanlah muka (diri)mu disetiap shalat dah ibadahi Allah dengan mengikhlaskan ketaanmu kepada-Nya. Sebagaimana dia telah menciptakan kamu kepada permulaan(demikian pulalah kamu akan kembali kepada-Nya), ”Sebagian diberi –Nya petunjuk dan sebagian lagi telah pasti kesesatan bagi mereka menjadikan setan-setan pelindung(mereka) selain Allah Subhanahu wa Ta’ala dan mereka mengira bahwa mereka mendapat petunjuk.(QS.Al-‘Araf/7:27-30)

 

Ketika seorang hamba telah mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan berbagai macam amalan sunnah setelah menyempurnakan perkara-perkara yang wajib kemudian mengenal Allah Subhanahu wa Ta’ala secara khusus dalam hatinya,maka ia menjadi walinya yang dekat dan akrab dengan-Nya serta akan meraih banyak keutamaan yang diantaranya merasakan manisnya berdzikir, terkabulnya doanya lezatnya bermunajat, berkhidmah dijalan Allah Subhanahu wa Ta’ala sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam hadits qudsi:

“Barang siapa mengejek waliku berarti ia telah mengumumkan peperangan terhadap-ku. Hamba-ku akan senantiasa mendekatkan kepadaku dengan berbagai kewajiban yang diwajibkan atasnya dan senantiasa mendekat kepada-ku dengan amalan sunnah hingga aku mencintainya,maka aku akan mendengar ,penglihatan yang digunakan untuk melangkah. Denganku ia mendengar,dengan ku ia melihat,dengan-ku ia memukul dan dengan-ku pula ia melangkah.apabila ia meminta niscaya akan aku beri,apabila memohon perlindungan niscaya aku lindungi.

                Al-hafidz ibnu hajar rahimahullah berkata,”barang siapa menegakkan kewajiban dan mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan perkara summah, maka doanya tidak ditolak, karena adanya janji Allah Subhanahu wa Ta’ala yang dikuatkan dengan sumpah.

Allah subhanawata’ala berfirman :

وَاللَّهُ وَلِيُّ الْمُؤْمِنِينَ

Artinya:

“Dan Allah adalah pelindung semua orang-orang yang beriman”. (QS.ali imran/3: 68).

 

DUKUN SAKTI BERKEDOK WALI

            Dukun atau paranormal ialah orang yang mengaku mengetahui ilmu ghaib dan memberikan kabar kepada manusia tentang kejadian yang ada di alam semesta. Dikalangan orang-orang arab dahulu para dukun diklaim dirinya mengetahui banyak perkara ghaib.

Perdukunan merupakan salah satu bentuk pencarian suatu hakikat dengan perkara yang tidak ada dasarnya sama sekali yang landasan utamanya adalah spekulasi atau tebak-tebakan. Pada zaman jahiliyah banyak dilakukan oleh orang-orang yang mempunyai kontak khusus dengan setan-setan yang mencuri kabar langit kemudian menyampaikan kepada mereka. Sehingga para dukun mengambil kalimat tersebut melalui perantara setan dengan  berbagai macam tambahan, lalu disampaikan kepada umat manusia, jika ada kecocokan, maka umat manusia akan percaya dan menjadikan sang dukun sebagai rujukan konsultasi untuk menebak perkara yang akan terjadi. Jadi dukun adalah orang yang mengabarkan perkara yang akan terjadi pada masa mendatang.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَلَأُضِلَّنَّهُمْ وَلَأُمَنِّيَنَّهُمْ وَلَآمُرَنَّهُمْ فَلَيُبَتِّكُنَّ آذَانَ الْأَنْعَامِ وَلَآمُرَنَّهُمْ فَلَيُغَيِّرُنَّ خَلْقَ اللَّهِ وَمَنْ

يَتَّخِذِ الشَّيْطَانَ وَلِيًّا مِنْ دُونِ اللَّهِ فَقَدْ خَسِرَ خُسْرَانًا مُبِينًا

“Dan aku benar-benar akan menyesatkan mereka dan akan membangkitkan angan-angan kosong pada mereka dan menyuruh mereka(memotong telinga-telinga binatang ternak) ,lalu mereka benar-benar memotongnya dan akan aku suruh mereka (mengubah ciptaan Allah Subhanahu wa Ta’ala, lalu benar-benar mereka mengubahnya,”Barang siapa yang menjadikan setan menjadi pelindung selain Allah Subhanahu wa Ta’ala maka sesungguhnya ia menderita kerugian yang nyata.” (QS. An-nisa /4:119)

                Sebetulnya istilah dukun sudah dikenal sejak lama, bahkan Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam pernah dituduh  sebagai dukun oleh orang-orang kafir quraisy. Dan ada berbagai macam  sebutan atau istilah dalam dunia perdukunan dan para pelakunya tapi yang pasti, semua itu tidak bisa merubah hakikat yang sebenarnya. Sebab beraneka ragam kemasan dan label yang dipakai untuk membungkus klenik dan perdukunan yang pada hakikatnya semua sama, berasal dari satu sumber,yaitu pengaruh jahat setan dan pengajaran ilmu sesat yang diambil dari bangsa jin. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wata’ala :

هَلْ أُنَبِّئُكُمْ عَلَى مَنْ تَنَزَّلُ الشَّيَاطِينُ (221) تَنَزَّلُ عَلَى كُلِّ أَفَّاكٍ أَثِيمٍ (222) يُلْقُونَ السَّمْعَ

وَأَكْثَرُهُمْ كَاذِبُونَ

Artinya:

“Apakah akan aku berikan kepadamu,kepada siapa setan-setan itu turun? Mereka turun kepada tiap-tiap pedusta lagi yang banyak dosa, mereka menghadapkan pendengaran (kepada setan) itu,dan kebanyakan mereka adalah orang-orang pendusta.” (QS. asy-syu’ara/26:221-223).

 

Kadang kalah ilmu kaum muslimin membuat mereka mudah tertipu dan terkecoh dengan jimat yang dikira dari al-qur’an padahal bukan dari al-qur’an .walaupun mereka sebenarnya tahu bahwa mendatangi dukun itu tidak baik, tetapi ketika dikenalkan dan dipertemukan dengan kyai, ustadz, habib yang membuka praktek pengobatan, ternyata mereka tidak bisa menolak dan senang menuruti apa kata sang kyai.alasannya,semua alasannya berdasarkan agama, do’a, do’anay yang digunakan lafazh dari al-Qur’an dan syaratnya tidak menyuruh kepada kejahatan yang merugikan orang dan orang yang bergelar kya,habib atau ustadz.jadi mereka berkeyakinan bahwa apa yang disampaikannya adalah suatu kebenaran dan sesuai dengan ajaran syar’i, sehingga mereka menyakini dan menurutinya sangat ironis,mereka menganggap kesesatan yang mereka lakukan adalah kebenaran,perilaku mereka digambarkan allah subhanawata’ala dalam firmannya :

قُلْ هَلْ نُنَبِّئُكُمْ بِالْأَخْسَرِينَ أَعْمَالًا (103) الَّذِينَ ضَلَّ سَعْيُهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ

يَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ يُحْسِنُونَ صُنْعًا

Artinya:

“Katakanlah: “apakah ingin kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya? ”yaitu orang-orang yang sia-sia perbuatannya dalam kehidupan didunia ini,sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya. (QS. al-kahfi/18:103-104).

 

                Sebagai dampak dari kebodohan umat terhadap agama islam itu sendiri atau karena liciknya tipu muslihat seorang paranormal dalam menjalankan aksinya,dengan berkedok sebagai seorang ustadz, kyai, habib, maka praktek pengobatan dan ritual tumbuh subur ditengah masyarakat.

REFERENSI:

Artikel ini saya buat dengan mengutip dari buku Majalah As-Sunnah, Edisi. No. 05/ Tahun. XII Syawal 1434 H/ September 2013.

Dibuat oleh : Husain Gati Rianto (Pengajar Ponpes Darul Qur’an Wal-Hadits Oku Timur)

Baca juga artikel:

Tegar Di atas Jalan Hidayah Islam

Hukum Memelihara Hewan

 

 

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.