7 Konsep Membenahi Akhlak Buruk

Akhlak Merupakan bagan agama yang harus kita perhatikan. Akhlak yang baik jika sudah mendarah daging dan tercermin dalam diri merupakan kenikmatan. Sebaliknya, jika akhlak buruk yang mendarah daging maka ini sebuah musibah.

URGENSI AKHLAK

Urgensi dan kedudukan akhlak dalam agama yang mulia ini sangat tinggi, bahkan agama ini adalah akhlak. Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling bagus akhlaknya.

Rosululloh shallallahu ‘alaihi wasalam bersabda :

أَكْمَلُ الْمُؤْمِنِ إِيْمَانًا أَحْسَنُهُمْ أَخْلَاقًا

Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya.” (HR Abu Dawud : 4682, at-Tirmizi : 1162)

Al Imam Ibn Al – Qayyim berkata : “Aga mini seluruhnya adalah akhlak, barangsiapa yang memperbaiki akhlaknya maka baik pula agamanya.” (Madarij al – Salikin 2/320)

AL-QUR’AN DAN HADITS MENCELA AKHLAK YANG BURUK

Allah Subhanahu Wata’ala berfirman:

Kecelakaan besarlah bagi orang – orang yang curang, (yaitu) orang – orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka minta dipenuhi, dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi, bahwa sesungguhnya mereka akan dibangkitkan, pada suatu hari yang besar ” (QS Al- Muthafifin [83]: 1-5)

Dan Allah Subhanahu Wata’ala juga berfirman :

“Kecelakalah bagi setiap pengumpat lagi pencela.” (Qs. Al- Humazah {104}; 1)

Dari Ibn Mas’ud bahwasannya Nabi bersabda :

“Seorang mukmin bukanlah orang yang banyak mencela, dan bukan pula yang banyak melaknat, dan bukan yang berkata – kata kotor.” (HR. Al- Bukhori dalam al adab al mufrad no.312)

Ayat dan hadist diatas hanya segelintir dalil yang mencela akhlak yang buruk. Karena itu, wajib bagi seorang muslim untuk membenahi akhlak. Orang yang tidak peduli akan masalah akhlak mengindikasikan bahwa agama dan keimanannya lemah.

Al- Imam Fudail ibn ‘Iryad mengatakan, “Barangsiapa jelek akhlaknya jelekpula akhlaknya.”(al-adab al- syar’iyyah 2/191)

DAMPAK NEGATIF DARI AKHLAK YANG BURUK

  1. Dibenci Allah

Rasululloh Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda :

“Sesungguhnya Allah mencintai perkara – perkara yang mulia dan membenci perkara – perkara yang rendahan”(HR al- Tabrani : 2894)

Imam Ibnu Qayyim mengatakan : “Diantara akibat maksiat dan akhlak buruk adalah jatuhnya kedudukan dan kehormatannya di sisi Allah dan manusia. Karena , manusia yang paling bertakwa, yang paling dekat kedudukannya adalah yang paling taat kepada – Nya.Sesuai dengan ketaatan seorang hamba kepada Allah, maka demikian kedudukanya di sisi Allah. Apabila dia ”

  1. Terhapus amalan shalehnya

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasalam bersabda:

“Tahukah kalian siapa orang yang bangkrut?” para sahabat menjawab, “Orang yang bangkrut adalah orang yang tidak punya dirham dan tidak memiliki barang.” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasalam berkata, “Orang yang bangkrut dari umatku adalah orang yang dating pada Hari Kiamat dengan membawa amalan-amalan shalat, puasa, zakat, dan dia datang dalam keadaan telah mencela si fulan, telah menuduh si fulan dengan tuduhan yang tidak benar), memakan harta si fulan, menumpahkan darah si fulan, dan memukul si fulan. Maka diambillah kebaikan-kebaikannya dan diberikan kepada si fulan dan si fulan. Jika kebaikan-kebaikannya telah habis sebelum cukup untuk menebus kesalahan-kesalahannya, maka diambillah kesalahan-kesalahan mereka (yang telah dizalimi) kemudian dipikulkan kepadanya, lalu ia dilemparkan ke dalam Api Neraka,” (HR. Muslim: 2581)

  1. Doanya tidak dikabulkan

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasalam bersabda:

“Ada tiga golongan yang ketika berdo’a kepada Allah, do’anya tidak dikabulkan” laki-laki yang memiliki istri yang akhlaknya buruk namun tidak diceraikan …” (Sahih. HR. al-Hakim)

  1. Diancam dengan api neraka

Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu berkata: “Ada orang yang bertanya kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wasalam, “Wahai Rasulullah, ada seorang wanita yang shalat malam dan rajin puasa, rajin sedekah dan beramal, tetapi dia menyakiti tetangganya dengan ucapan lisannya (bagaimana orang seperti ini)?” maka Rasulullah menjawab, “Tidak ada kebaikan padanya, dia termasuk penghuni Neraka”. Maka mereka bertanya kembali, “Ada seorang wanita yang hanya shalat lima waktu saja, puasa ramadhan, dan sedekah dengan keju, tetapi tidak menyakiti tetangganya.” Rasulullah menjawab, “Dia termasuk penghuni Surga.” (HR. Ahmad 2/440)

KENALI AIBMU SENDIRI

Ketahuilah wahai saudaraku, apabila Allah menghendaki kebaikan pada hamba-Nya, Allah akan bukakan mata hatinya untuk dapat mengenali aib dirinya sendiri.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasalam bersabda: Seorang diantara kalian bisa melihat batu kecil pada saudaranya, tetapi lupa ada cacat di matanya.” (HR. Ibnu Hibban no. 5731, dinilai shahih oleh al-Albani dalam al-sahihah no.33)

Al-Imam Ibnu Hazm Rahimahullah berkata: “Orang yang berakal adalah orang yang bisa membedakan aib dirinya sendiri kemudian mampu mengalahkan, berusaha untuk menghilangkannya. Dan orang yang bodoh adalah orang yang tidak tahu aib dirinya sendiri, bisa jadi karena ilmunya yang sedikit atau karena lemahnya dalam berpikir, atau dia menyangka bahwa aibnya itu adalah sebuah perangai, dan ini merupakan musibah yang paling parah di permukaan bumi.” (Ibn Hazm dalam al-akhlaq wa al-siyar no. 155)

CARA MEMBENAHI AKHLAK YANG BURUK

  1. Mendandani Akidah

Perkara akidah adala perkara yang agung.

Al-Imam Ghazali rahimahullah mengatakan: adab-adab yang lahir adalah cerminan dari batinnya. Aktivitas anggota badannya merupakan hasil dari apa yang terlintas dalam diri seseorang. Amalan adalah hasil dari akhlak, sedangkan adab-adab merupakan pilihan orang-orang yang berpengetahuan. Hati adalah pusat dari amalan. Barangsiapa yang hatinya tidak khusyuk maka tidak akan khusyuk pula anggota badannya dan barangsiapa dadanya tidak terkena sinar penerang ilahi maka niscaya tidak akan tercurah dalam dirinya adab-adab nabawi yang baik. (ihya’ ulumuddin 2/351)

  1. Tekat yang kuat untuk lepas dari akhlak yang tercela

Salah satu syarat taubat adalah meninggalkan dosa yang telah dikerjakan. Demikian juga dengan akhlak buruk, harus ada tekad dan keinginan kuat untuk berlepas diri dari perangai buruk yang sering kita kerjakan.

Allah ta’ala berfirman dalam surat Al-Imran : 159

فَإِذَا زَعَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى الله, إِنَّ اللهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِيْنَ

Artinya:

Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakal kepada-Nya.”

  1. Harus ada gantinya

Seorang hamba jika sudah terbiasa bermaksiat, misalnya mendengarkan music, atau terbiasa dengan hobi bermain game misalnya, maka otak ayau pikirannya akan terus tertuju pada kesenangannya.

Jika kita ingin mengubah akhlak jelek ini, maka harus diganti dengan kesibukan lainnya yang bermanfaat dan tidak membawa dosa dan melalaikan.

Syaikul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata: “Jiwa itu tidak akan meninggalkan sesuatu kecuali dengan sesuatu yang lainnya, maka tidak pantas bagi seseorang untuk meninggalkan kebaikan kecuali ada pengganti yang semisalnya atau kepada yang lebih baik darinya.” (iqtida’ al-sirat al-mustaqim 2/125)

  1. Mencela diri sendiri dan introspeksi diri

Al-Imam Ibnul-Qoyyim rahimahullah berkata: “Allah memerintahkan kepada para hambaNya untuk memperhatikan apa yang telah dikerjakan untuk hari esok. Hal itu mengandung isyarat melakukan intropeksi diri, hendaknya dia berpikir ‘apakah yang telah saya kerjakan sudah pantas untuk dibawa ketika berjumpa dengan Allah atau masih belum pantas’. Inti dari ini semua untuk memperhatikan tuntutan dan konsekuensi dari persiapan (dalam menyongsong) hari kiamat, memperhatikan bekal yang bisa menyelamatkannya dari Ap Neraka dan membersihkan wajahnya di sisi Allah.

  1. Motivasi diri dengan pahala dan mengancam diri dengan siksa.

Setiap orang pasti menginginkan kebaikan dan menolak bahaya terhadap dirinya. Ini merupakan naluri setiap manusia. Jika ingin sukses dalam mereparasi akhlak yang buruk, dua perkara ini yaitu motivasi untuk meraih pahala dan ancaman terhadap siksa, haru diperhatikan. Pahala akan mendorong seseorang melakukan kebaikan, dan ancaman siksa mendorong untuk meninggalkan amalan buruk. Inilah metode yang dipakai para Rasul.

  1. Ingatlah kematian dan dahsyatnya hari kiamat

Allah ‘azza wajalla berfirman :

كُلُّ نَفْسٍ ذَآئِقَةُ المَوتِ, وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ القِيَمَةِ, فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَارِ وَأُخِلَ الجَنَّةَ فَقَدْفَازَ

“Tiap-tiap orang yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada Hari Kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari Neraka dan dimasukkan ke dalam Surga, maka sungguh ia telah beruntung.” (QS. Ali-Imran : 185)

  1. Berdoa.

Do’a merupakan pintu yang amat terbuka bagi seorang muslim. Apabila pintu ini telah terbuka maka kebaikan akan melimpah padanya.

Nabi kita yang mulia shallallahu ’alaihi wasalam tidak diragukan lagi adalah orang yang paling bagus akhlaknya, namun bersamaan dengan itu beliau meminta kepada Allah agar dianugrahi akhlak yang mulia.

Beliau membaca do’a tatkala iftitah:

الَّلهُمَّ اهْدِنِيْ لِأَحْسَنِ الأَخْلَاقِ لاَ يَهْدِيْ لِأَحْسَنِهَا إِلَّا أَنْتَ, وَاصْرِفْ عَنِّيْ سَيِّئَهَا لاَ يَصْرِفُ عَنِّيْ سَيِّئَهَا إِلَّا أَنْتَ .

Wahai Allah, tunjukilah aku kepada akhlak yang paling baik, tidak ada yang dapat menunjukinya kecuali Engkau. Jauhkanlah diriku dari akhlak yang jelek, tidak ada yang dapat menjauhkannya kecuali Engkau. (HR. Muslim: 771)

Diringkas dari majalah Al-Furqon, edisi 5 Zulhijjah 1434 H halaman 47-51

Disusun oleh: Heri Setiawan

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.