13 Macam-Macam Ahlak Yang Tercela

ahlak tercela

  Masalah akhlak adalah perkara yang agung dan kedudukanya sangat tinggi dalam agama islam, karena agama ini adalah agama yang menuntun manusia pada akhlak yang mulia. Para ulama membagi akhlak menjadi dua bagian , yaitu:

  1. Al-Akhlak Al-Mahmudah (akhlak yang terpuji )
  2. Al-Akhlak Al-Mazmumah (akhlak yang tercela ).

Imam An-nawawi rohimallah menyebutkan dalam kitab RIYADHUS SHOLIHIIN. Membuat Sebuah bab berjudul BAB husnil khuluq (bab akhlak yang baik). Syeikh Salim Al-Hilali menjelaskan,” yang dimaksud dengan khusnul khuluq (akhlak yang baik) adalah kumpulan perkara-perkara dan amalan-amalan yang baik menurut syariat. Jika sifat-sifat yang baik itu sudah melekat pada diri seseorang, maka tidak keluar darinya kecuali perkataan-perkataan yang bagus dan perbuatan-perbuatan yang baik. Oleh karena itu, ada yang mengatakan bahwa husnul khuluq (ahklak yang baik) itu adalah memilih perkara yang baik-baik dan meninggalkan yang hina.”

Akhak yang mulia adalah sifat para Nabi dan Rasul. Allah memuji akhlak Nabi Muhammad shallallahu’ alaihi wasallam di dalam Al-Qur’an:

وَإِنَّكَ لَعَلَى خُلُقٍ عَظِيمٍ

Artinya :, “ Dan sesungguhnya engkau benar-benar memiliki budi pekerti yang agung” (QS : AL-Qolam :4 )

Diantara akhlak mulia yang disebutkan oleh para ulama adalah jujur, sabar ketika menghadapi cobaan, berlaku dermawan, berkata baik dan berwajah ceriah saat berjumpa, memuliakan tamu, bertaubat ketika melakukan kesalahan, mema’afkan ketika ada orang yang berbuat salah, menyambung silaturahim yang terputus, kros cek terhadap setiap berita yang sampai padanya, kasih sayang, lemah lembut terhadap sesama muslim, dan lain sebagainya.

Adapun di antara ahklak yang buruk adalah kebalikan dari akhlak-akhlak yang mulia di atas, yaitu dusta, berbohong, tidak sabar di dalam menghadapi musibah, bakhil (pelit), mengingkari janji, dengki, iri, suka mengadu domba, memfitnah sesama muslim, suka meminta-minta untuk pribadinya, memutuskan tali silahturahim, dan sebagianya.

AKHLAK BURUK

  Defenisi ahklak yang buruk yaitu.

  1. Menuruti keburukan dan mencegah kebaikan.
  2. Menghiasi diri dengan hal-hal yang hina dan menjauhkan dari segala hal yang utama.

Akhlak yang buruk adalah perbuatan yang rendah serta jalan yang hina. Allah dan Rasul-Nya membenci hal tersebut. Bahkan pada hakikatnya, manusia membenci akhlak yang buruk dan menjauhi pelakunya. Akhlak yang buruk menjadi sebab dijauhi oleh orang banyak, memecah belah persatuan, mencegah kebaikan, dan menghalangi pelakunya dari hidayah. Dia juga sebagai penyebab kesedihan dan kegundahan, mendatangkan kesusahan dan hati sesak, bagi pelakunya juga orang-orang yang bergaul dengan mereka.

Nabi shallallahu’alaihiwasallam bersabda :

إِنَّ اللهَ كَرِيمٌ يُحِبُّ الكَرَمَ وَ مَعَالِيَ اْلأَخْلاَق وَ يُبْغِضُ سَفْسَافَهَا

Artinya: “ Sesungguhnya Allah itu Karim ( Maha Dermawan),lagi mencintai sifat dermawan dan mencintai akhlak-akhlak yang mulia, dan Allah membenci perkara-perkara yang hina. (Hasan, HR: Hakim dalam Mustadrok:152)

DI ANTARA BENTUK AKHLAK BURUK YAITU:

1. SOMBONG

Sombong merupakan sifat yang di benci oleh syariat, fitrah dan akal. Orang yang sombong dibenci oleh Allah dan dibenci pula oleh mahkluk yang lain. Nabi shallallahu ’alaihi wasallam bersabda:

لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ رَجُلٌ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ

Artinya: ‘ Tidak masuk surga orang yang di dalam hatinya ada kibr ( sombong) walaupun hanya seberat dzarrah. (HR. Muslim)

Nabi telah menafsirkan makna kibr (sombong) dengan penafsiran yang amat jelas dan luas. Beliau bersabda :

الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ، وَغَمْصُ النَّاسِ

Artinya: “ Sombong adalah menolak kebenaran dan merendahkan (meremehkan) manusia”. (HR. Muslim)

Termasuk sikap sombong yaitu membantah orang yang mengajarimu, merasa lebih tinggi, dan beradab yang jelek terhadapnya. Juga termasuk sombong yaitu menganggap rendah orang rendahan yang memberikan faidah kepadamu. Hal ini banyak menimpa para penutut ilmu.

2. BERDUSTA

Nabi melarang dari perbuatan dusta. Ini mencakup dusta dalam segala sesuatu. Jadi tidak benar, orang yang mengatakan, “Berdusta itu jika tidak menimbulkan bahaya untuk orang lain maka tidak mengapa.” ini adalah perkataan yang batil, karena tidak ada nash yang menunjukan perkataan tersebut. Tetapi yang ada adalah nash yang mengharamkan perbuatan dusta secara mutlak.

Oleh karena itu, berdusta adalah pangkal kejahatan, sebagaimana sabda Nabi shallallahu ’alaihi wasallam:

وإنَّ الكَذِبَ يَهْدِي إِلَى الفُجُورِ، وإنَّ الفُجُورَ يَهْدِي إِلَى النَّار وإنَّ الرَّجُلَ لَيَكْذِبُ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللهِ كَذَّابًا

Artinya: “Dusta membawa seseorang kepada kejahatan, dan kejahatan mengantarkan seseorang ke neraka dan jika seseorang senantiasa berdusta dan memilih kedustaan maka akan di catat di sisi Allah sebagai pendusta (pembohong)” (Muttafaqun’alaihi)

3. RASA MALU YANG TIPIS BAHKAN TIDAK ADA RASA MALU.

Malu adalah akhlak (perangai) yang mendorong seseorang untuk meninggalkan perbuatan-perbuatan yang buruk dan tercela. Ahklak ini menghalangi seseorang dari melakukan dosa dan maksiat dan mencegah dari sikap melalaikan hak orang lain.

Buah dari rasa malu adalah iffah (menjaga kehormatan). Siapa saja yang memiliki rasa malu hingga mewarnai seluruh amalnya, niscaya ia akan berlaku iffah. Dan dari buahnya pula adalah bersifat wafa (setia atau menepati janji).

4. HASAD ( DENGKI )

Artinya membenci datangnya nikmat Allah kepada orang lain. Jadi, hasad bukan mengharapkan hilangnya nikmat Allah dari orang lain, namun hasad adalah semata-mata ketidak senangan seseorang terhadap nikmat yang yang Allah berikan kepada orang lain. Ini adalah hasad, baik ia mengharapkan hilangnya nikmat itu dari orang lain ataupun tidak.

Pengertian ini sebagaimana yang di tetapkan oleh Syaikh Islam Ibnu Taimiyyah, beliau mengatakan: Hasad adalah kebencian seseorang terhadap nikmat yang Allah berikan kepada orang lain.

Allah berfirman, :

وَلَا تَتَمَنَّوْا مَا فَضَّلَ اللَّهُ بِهِ بَعْضَكُمْ عَلَى بَعْضٍ لِلرِّجَالِ نَصِيبٌ مِمَّا اكْتَسَبُوا وَلِلنِّسَاءِ نَصِيبٌ مِمَّا اكْتَسَبْنَ وَاسْأَلُوا اللَّهَ مِنْ فَضْلِهِ إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمًا

Artinya: ” Dan janganlah kamu iri hati terhadap karunia yang dilebihkan Allah kepada sebagian kamu atas sebagian yang lain. Karena bagi laki-laki ada bagian dari apa yang mereka usahakan, dan bagi perempuan pun ada bagian dari apa yang mereka usahakan. Mohonlah kepada Allah sebagian dari karuniahnya. Sungguh Allah maha mengetauhi segala sesuaatu”. ( QS: An-Nisa’ : 32 ).

Sifat hasad ini menjangkiti banyak orang, jarang yang selamat darinya. Syeikhul Islam Ibnu Taimiyyah mengatakan : Karenanya dikatakan tidak ada jiwa yang terbebas dari hasad. Namun orang yang tercela menampakanya, sedangkan orang yang mulia menyembunyikanya.

5. BAKHIL (PELIT)

Allah dan Rasul-Nya mencela dan mengencam sifat bakhil, kikir, pelit. Bakhil, kikir, pelit, adalah sifat yang tercela, tabiat yang hina dan perangai yang jelek serta termasuk salah satu penyakit di tengah-tengah umat Islam. Rasulullah selalu berlindung kepada Allah dari sifat ini. Bagaiman tidak, karena penyakit ini telah membinasakan banyak ummat, selain itu sifat ini juga menyebabkan pelakunya diseret ke dalam nereka jahannam.

Karena itulah terdapat ancaman yang keras dalan Al-Qur’an dan sunnah yang shahih bagi orang yang mempunyai sifat dan pengidap penyakit bakhil, kikir, dan pelit ini.

Allah berfirman :

وَأَمَّا مَنْ بَخِلَ وَاسْتَغْنَى  وَكَذَّبَ بِالْحُسْنَى فَسَنُيَسِّرُهُ لِلْعُسْرَى وَمَا يُغْنِي عَنْهُ مَالُهُ إِذَا تَرَدَّى

Artinya: “ Dan adapun orang-orang yang kikir dan merasa dirinya cukup (tidak perlu pertolongan Allah), serta mendustakan (pahala) yang terbaik, maka akan kami mudahkan baginya jalan menuju kesukaran (kesengsaraan). Dan hartanya tidak bermanfaat baginya apabila ia telah binasa. (QS.Al-Lail :8-11).

6. PENAKUT

Sifat penakut merupakan lawan dari berani. Sifat penakut pada diri seseorang yaitu lemah hatinya, takut kepada segala sesuatu yang tidak berani. Ibnu Maskawaih berkata : Pengertian Al-jubn yaitu rasa takut pada sesuatu yang seharusnya tidak perlu ditakuti.

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda.:

 “ sejelek-jelek sifat yang ada pada diri seseorang yaitu sifat pelit yang membawa kepada ketamakan dan sifat penakut (pengecut). (Shahih, HR Abu Dawud dalam Sunannya (2511))

Pengaruh buruk dari sifat penakut.

  1. Menghinakan diri.
  2. Tidak memiliki ketetapan hati dan tidak sabar.
  3. Masuknya segala keburukan dalam jiwa, keluarga dan harta.
  4. Orang yang penakut berarti telah berburuk sangka kepada Allah.
  5. Sifat penakut dapat membuat seseorang lari dari medan perang, dan ini merupakan dosa besar yang menyebabkan pelakunya terseret kedalam nereka.

7. MUDAH MARAH.

Orang yang mudah marah, bahkan setiap hari, istri, anak-anak, pembantu tidak luput dari amarahnya. Terkadang masalah sepele, yang bukan prinsip menjadi pemicunya. Padahal menurut syariat Islam bahwa orang yang kuat adalah yang dapat menahan amarahnya.

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda :

لَيْسَ الشَّدِيدُ بالصُّرَعَةِ، إنَّمَا الشَدِيدُ الَّذِي يَملكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الغَضَبِ

Artinya: “ Orang yang kuat bukanlah yang pandai bergulat, tetapi (orang yang kuat itu) adalah yang mampu menahan amarahnya ketika marah.” (Muttafaqun ’alaihi)

8. KASAR DALAM BERTUTUR KATA, SUKA BERKATA KEJI DAN KOTOR.

Sifat ini dapat menyebabkan perpecahan dan permusuhan.

Rasulallah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda.:

مَا مِنْ شَيْءٍ أثْقَلُ في مِيزَانِ العبدِ المُؤْمِنِ يَوْمَ القِيَامَةِ مِنْ حُسْنِ الخُلُقِ، وَإنَّ الله يُبْغِضُ الفَاحِشَ البَذِيَّ

Artinya: “pada hari kiamat, tidak ada sesuatu pun yang yang lebih berat dalam timbangan seseorang mukmin melebihi ahklak yang baik, dan sesungguhnya Allah sangat membenci orang yang suka berbicara kotor. (Shahih, HR.Tirmidzi dalam Musnadnya).

9. BERMUKA MASAM.

Orang yang suka bermuka masam, tidak senyum kepada sesama muslim adalah orang buruk ahklaknya,. Perangai ini timbul dari kesombongan dan tabiat yang keras. Karena jarang senyum merupakan penghinaan terhadap manusia, sementarapenghinaan kepada manusia itu timbul dari sikap ujub (bangga diri) dan sombong.

10. NAMIMAH (MENGADU DOMBA).

NAMIMAH yaitu menyebarkan suatu pembicaraan di antara manusia dengan tujuan merusak hubungan mereka. Namimah ini seperti ghibah, bukan bersumber dari orang yang mulia, melainka dari orang yang hina dan rendah.

Rasullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda. :

لا يَدْخُلُ الجَنَّةَ نَمَّامٌ

Artinya: “ Tidak masuk surga orang yang suka mengadu domba. (Shahih, HR Ahmad dalam Musnadnya).

11. BERMUKA DUA.

Terkadang, anda dapati ada orang yang menampakkan rasa cinta dan cocok kepada temannya, dia menemuinya dengan wajah berseri-seri dan sambutan hangat, tetapi ketika berbalik dari temannya, saat tidak lagi berhadapan, ia menusuknya dengan lisannya yang tajam dan mencelanya.

Sifat ini merupakan sifat yang paling rendah dan hina, Pelakunya adalah orang yang paling buruk dan hina.

Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:

وتَجِدُونَ خِيَارَ النَّاسِ في هَذَا الشَّأنِ أَشَدَّهُمْ كَرَاهِيَةً لَهُ، وَتَجِدُونَ شَرَّ النَّاسِ ذَا الوَجْهَينِ، الَّذِي يَأتِي هؤُلاءِ بِوَجْهٍ، وَهَؤُلاءِ بِوَجْهٍ

Artinya: “Engkau mendapati orang yang paling jelek ialah orang yang bermuka dua, yaitu orang yang menemui sekelompok orang dengan satu wajah, dan kepada kelompok lain dengan wajah berbeda. )Muttafaqun’alaihi)

12. BERBURUK SANGKA.

Allah telah melarang kita dari berburuk sangka. Allah Subhanahu Wata’ala berfirman:

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ

Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman jauhilah dari banyak berperasangka, sesungguhnya sebagian dari prasangka itu termasuk dosa. (QS. AL-Hujurat.:12).

Contoh perbuatan buruk sangka adalah :

  1. Jika melihat dua orang saling berbisik, maka ia berprasangka (buruk) bahwa ialah yang di bicarakan.
  2. Jika mendengar celaan yang bersifat umum dalam suatu ceramah atau kajian celaan, maka ia menyangka bahwa maksud celaan itu adalah untuk dirinya.

13. MENYEBARKAN RAHASIA YANG SEHARUSNYA DITUTUPI.

Sebagian orang, jika mendengar sebuah rahasia, ia merasa kesusahan dan berat karenanya, akhirnya ia mencari orang tempat menceritakan rahasia itu, padahal bisa jadi, akibat tersebarnya rahaisa itu adalah timbul permusuhan, kerusuhan dan tuduhan.

Amr bin Al ash berkata: Aku tidak meletakan rahasiaku kepada seorang pun, lalu aku mencela orang tersebut karena telah menyebarkanya. Bagaimana aku mencela nya sedangkan aku sendiri merasa sumpek denganya.

 Inilah sebagian dari ahklak yang buruk, atau perilaku dan perangai yang jelek yang wajib dijauhkan oleh kaum muslimin dan muslimah, terutama oleh penuntut ilmu,para da’I, para ustad, dan lainy. Kita wajib berusaha dan berdoa kepada Allah agar ahklak dan perangai kita yang jelek berubah menjadi baik. Semoga Allah menunjuki kita kepada ahklak yang mulia dan menjauhkan dari ahklak dan perangai yang jelek.

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam pernah berdoa:

اللَّهُمَّ اهْدِنِي لأَحْسَنِ الأَخْلاقِ لاَ يَهْدِي لأَحْسَنِهَا إِلاَّ أَنْتَ ، اصْرِفْ عَنِّي سَيِّئَهَا لاَ يَصْرِفُ عَنِّي سَيِّئَهَا إِلاَّ أَنْتَ

Artinya: “ Tunjukkan aku kepada ahklak yang terbaik, tida ada yang bisa menunjukan padanya kecuali engkau. Hindarkanlah aku dari ahklak yang buruk, dan tiada yang bisa menjauhkanku darinya kecuali engkau…)Shahih, HR. Ahmad dalam Musnadnya).

WABILLAHITTAUFIQ.

 

Diringkas dari majalah : AS-SUNNAH

Cetakan : Sya’ban -Ramadhan 1436/Juni-Juli 2015.

Karangan : Ustad Yazid Bin Abdul Qadir Jawas.

Diringkas Oleh: ABDUL HADI ( ABU HIZAM )

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*